
Aku buru-buru pulang kerumah, bahkan aku tidak menghiraukan pino manggil-manggil aku.
Aku tidak ingin bertemu pria mesum itu, bahkan aku tidak ingin bertemu siapapun hari itu.
Sesampainya dirumah aku melihat ibu berdebat dengan laki-laki itu, laki-laki yang datang kepemakaman ayah. Dalam perdebatan itu aku mendengar jika ibu mengatakan aku anak dari laki-laki itu, aku bukan darah daging ayah.
Seketika tubuhku lemas, aku tidak lagi bisa merasakan tulang di kakiku.
Ibu menyadari kehadiranku, dan berlari kearahku. Aku mendorong tubuh ibu sambil berteriak.
"Bi, Bi ,Bianka dengerin ibu? Apa kamu mendengar pembicaraan ibu?".
Aku mengangguk ,mulutku seakan-akan tidak bisa lagi berbicara.
"Bi, maafin ibu kamu sudah dewasa ibu harap kamu bisa mengerti situasi ini nak. Bahwa om Husein adalah ayah kandungmu".
Aku menangis sejadi-jadinya. Aku gak tau lagi harus berbuat apa.
"Engggak, enggakkkkkkk".
"Dia bukan ayahku,bu. Ayahku cuma satu Ahmad Sundari dan sampai kapanpun dia tetap ayahku, bukan orang itu".
"Plakkkkkkk,"(ibu menampar pipiku).
Aku terdiam sesaat. Kupandangi wajah ibu.
"Bianka kecewa sama ibu, selama ini ibu udah khianati ayah. Bianka gak nyangka ibu tega ngelakuin ini sama ayah dan Bian bu".
Aku berjalan meninggalkan ibu, dan om Husein mencoba menghadangku dan menarik tanganku.
"Lepaskan aku".( aku berteriak padanya).
Dia melepaskan tanganku.
"Bianka, kamu harus belajar menerima kenyataan jika akulah ayah kandungmu".
"Bianka, jaga sikapmu jangan kurang ajar".( bentak ibu padaku).
Aku tak menghiraukan mereka aku pergi kekamarku dan menangis sejadinya disana.
Aku tidak menyalahkan tuhan dengan semua keadaan ini. Orang patut disalahkan adalah ibu, kenapa ibu tega mengkhianati aku dan ayah.
Semalaman aku menangis hingga aku tertidur.
Paginya aku merasa tidak enak badan, badanku serasa demam tubuhku lemas. Tapi aku harus bersiap berangkat ke kampus. Selesai bersiap aku berniat untuk sarapan tapi kenapa om Husein duduk dimeja makan?. Hahhh.... apa yang dia lakukan disini?. Seketika kemarahanku muncul,kuluapkan saja emosiku tidak perduli dia ayah kandungku sekalipun.
"Ini rumah ayahku, ngapain anda disini? saya tidak suka melihat anda duduk dikursi ayahku?".
"Plakkkkkkkk".
Lagi-lagi ibu menamparku, kenapa ibu jadi sekasar ini. Niatku untuk makan tidak ada lagi aku berlari keluar rumah. Sekarang rumah itu terasa seperti neraka buatku.
Aku duduk di taman sekolah, aku menangis memikirkan nasibku yang kian hari semakin menyebalkan. Aku menggurutu dalam hati (bukan hidup seperti ini yang aku mau Tuhan, tolong Bianka Tuhan, Bianka ingin bertemu ayah).
"Cengeng".(Terdengar suara sesorang sambil mengulurkan sapu tangan).
Aku menoleh kearahnya dan langsung pergi dari hadapannya. Tapi tangannya menahan tanganku menarikku kedalam pelukannya. Aku memberontak tapi ada titik hangat yang aku rasakan ketika aku ada didekapnya. Entah kenapa rasa amarah dihatiku yang tadinya membara jadi sedikit padam. Tapi gak gak boleh orang yang sedang memelukku adalah kak Marvel pasti dia berniat mesum lagi.
Aku mendorong tubuhnya dan langsung berlari menjauh darinya. Karena aku lapar aku pergi ke kantin dan memesan kopi hitam (karena aku rindu ayah) dan semangkuk soup jagung. Untung saja ibu kantin menjual soup jagung kesukaanku.
"Hayyyy, boleh duduk".(tanya pino)
Aku hanya mengangguk.
"Kamu bolos ya, sendirian disini".
"Aku lapar".
Tiba-tiba pandanganku kabur, kepalaku pusing dan berat sekali.