
Pak pino mengungkap semua kebenaran tentang yang terjadi diantara mereka dua puluh tahun silam, tatapan mata pak pino bergantian memandang saki dan vera.
“om rasa kalian berhak tau tentang apa yang sebenarnya terjadi, om harap kalian bisa mengerti”
Saki dan vera memandang pak pino dengan rasa penasaran pak pino.
“saki, perlu kamu ketahui jika marvel ayah vera adalah ayahmu yang selama ini kamu cari”
“APA????” saki terkejut mendengar pernyataan pak pino
“gak pak, pak pino pasti bercanda ini gak mungkin gak…aku gak percaya kalian semua pasti sedang mengada-ngada…yak an buk…ini gak benar kan???” saki meracau tak karuan
“ jadi maksud om aku dan pak saki , bersaudara” tanya vera
“iya kalian satu bapak namum berbeda ibu” jawab pino
Vera terduduk lemas mendengar semua kenyataan ini, ada rasa sakit dihatinya bahwa selama ini orang yang ia cintai adalah kakaknya sendiri
“aku tidak sudi memili ayah seperti dia, dia yang udah bikin aku sama ibu terpisah dan dia juga yang udah bikin ibu bertahun-tahun berada dirumah sakit jiwa”
“saki, ibu mengerti nak tapi bagaimanapun juga dia itu ayahmu”
“sampai kapanpun aku tidak akan mengakuinya sebagai ayahku”
Saki pergi meninggalkan mereka semua, kekecewaan menyelimuti hatinya seolah takdir sedang mempermainkannya, saki baru saja merasakan yang namanya cinta tapi cinta itu juga yang menghancurkannya. Mengapa harus vera yang menjadi adik tirinya, dari ribuan bahkan jutaan wanita didunia ini kenapa harus vera.
Ponsel saki terus menerus bordering, entah berapa puluh kali johan melakukan panggilan tak satupun yang terjawab oleh saki.
Johan mengambil kunci mobilnya, dia tahu kemana harus mencari sahabatnya. Sebelumnya johan telah diberitahu oleh vera apa yang tengah terjadi antara dirinya dan saki.
Benar saja dimeja bar saki tengah duduk dihadapannya sudah tersedia vodka, entah berapa banyak yang sudah saki teguk yang pasti saki sudah mabuk berat. Johan menghempas tangan saki yang akan kembali menenggak segelas vodka hingga gelas terjatuh dilantai.
“bangsat loe mau mapus hah “
“hhhhh biarin gw minum, gw gak pelu”
“bego loe,”
Didalam mobil saki terus meracau menyebut nama vera, baru kali ini johan melihat sahabatnya mabuk sampai kayak gini, biasanya johan yang teler dan saki yang selalu ngurusin johan kalo lagi mabok tapi sekarang seperti dunia terbalik.
“uwwwwekkkk”
“brengsek loe anj*** gak bisa nanti apa muntahnya, mabok sekali aja nyusahin banget loe”
Saki menertawai johan yang marah-marah.
“emang percuma ngomong sama orang yang lagi mabok, dah kayak ngomong sama orang gila”
Saki berjalan sempoyongan, kepalanya masih pening karena mabuk semalam, saki membasuh wajahnya, kembali kekasurnya menjatuhkan tubuhnya malas.
“pagiiii saki, nih gw bawain sarapan buat loe kurang baik apa gw setelah kejadian semalam” johan menyodorkan sarapan kedepan saki
“emang gw ngapain loe” tanya saki penasaran
“loe gak inget semalam loe…”tangan johan meperagakan gerakan (sedang menggere**)
“hah …sinting loe gw mabok tapi gw masih waras batangan kayak loe gak biking w nafsu”
“wkwkkwkwk”johan tertawa puas
“loe mau rebahan aja gak ngantor”
“gw males , gw pengen dirumah aja”
“okedeh pak bos saki, dari pada loe bengong dirumah kayak orang bego mending loe cuciin mobil gw yang loe muntahin semalem”
“brengsek loe, kayak loe gak pernah aja”
“gw pake mobil loe….” Johan mengambil kunci mobil saki tanpa persetujuan pemiliknya
“jangan lupa tuh nasi goring dimakan ntar loe mati lagi” teriak johan seraya berjalan
Keheningan membuat saki kembali teringat dengan apa yang terjadi kemarin, sosok vera terus saja mengganggunya. Saki menarik laci didepannya mengambil sebuah kotak yang didalamnya terdapat sebuah cincin, ternyata dalam waktu dekat ini saki berniat melamar vera. Ia tak ingin seperti orang-orang kebanyakan menjalin hubungan yang dilandasi embel-embel pacaran, ia ingin gadis yang ia cintai menjadi pendampingnya. Namun semua sirna setelah saki tahu bahwa vera adalah adiknya. Saki melempar cincin itu dari jendela.