
Tanpa mengabari sebelumnya bunda dan ayahnya saki pulang ke Indonesia.
“Bunda, kok ada disini?” saki terkejut saat pulang kerumah bundanya sedang duduk di sofa.
“Bunda sengaja gak ngasih kabar, ya biar kamu terkejut”
“Ayah dimana bun?”
“Ayahmu sedang pergi ada urusan katanya, ibumu bagaimana kabarnya”
“Sudah lebih baik bun”
“Syukurlah”
“Nanti malam kamu jangan pergi kemana-kemana karena ayah dan bunda mau mengadakan acara penting buat kamu”
“Acara???? Acara apa?”
“Nanti malam kamu pasti tahu, yasudah bunda kekamar dulu”
Orang tua saki mengundang orang tua Hana untuk makan malam bersama. Semua orang makan bersama dengan tenang tanpa ada yang mengeluarkan suara. Saaat semua sudah selesai dengan makanannya, ayah Hana membuka omongan terlebih dahulu perihal pertunangan Saki dan Hana. Seketika Saki menolak pertunangan itu.
“Maaf om, Saki belum berfikiran untuk menikah, Saki masih ingin berkarir. Lagi pula saki baru memulai usaha saki sendiri dan kalaupun saki sudah harus menikah, saki tidak akan menikah dengan hana” Saki pergi meninggalkan meja makan. Kedua orang tua hana yang mendengar ucapan saki merasa terhina, ayah hana mengajak anak dan istrinya pulang kerumahnya.
“maaf ya jeng” ucap ibunda saki kepada bundanya hana,namun ucapan itu tak digubris, ia menarik anak gadisnya untuk keluar dari rumah saki.
Bunda saki mengetuk pintu kamar anaknya.
“buka nak, ini bunda. Ayah mau bicara sama kamu” saki membuka pintu kamarnya.
Saki mengekor dibelakang bundanya, diruang tengah ayahnya sudah menunggu dengan wajah tegasnya.
“saki tak sepantasnya kamu berbicara seperti itu”
Saki hanya diam tak berani menjawab, ia tahu ayahnya sedang marah.
“ayah tidak pernah mendidikmu untuk bersikap seperti itu”
“ayah tidak pernah meminta apapun padamu, ayah hanya minta kamu menjaga nama baik ayah”
“dengan menikahi wanita murahan seperti hana?”
“plakkkk” tamparan mendarat dipipi saki
“Hana bukan wanita baik seperti yang ayah kira, apa ayah ingin saki menikah dengan wanita yang tidak saki cintai?”
Saki pergi kekamarnya tak ingin berlama-lama berdebat dengan ayahnya, karena saki tahu itu akan membuat bundanya sedih.
Keesokan paginya saki sudah siap untuk pergi ke bandung, untuk merilis proyek barunya. Dimeja makan sudah ada ayah dan bundanya.
“kamu mau kemana, nak?” tanya bundanya
“saki ada pekerjaan bun, diluar kota”
“tidak bisa ditunda dulu?”
“tidak bisa bun, ini proyek yang sangat penting bagi perusahaan saki, saki pamit ya bun”
“hati-hati ya nak”
Saki melihat ke ayahnya yang sikapnya masih dingin, saki memilih tak berpamitan dengan ayahnya kali ini, lagi pula dia mengejar pesawatnya. Sintia dan johan sudah menunggunya di bandara.
“Lama banget sih, udah hampir telat nih”
“sorry”
35 menit perjalan, saki sudah sampai di Bandara Husein Sastranegara Bandung. Aldi sudah menunggu Saki disana.
“Selamat datang pak saki, pak johan” ramah aldi
Yang dibalas oleh saki dan johan juga sintia. Mereka menempuh 30 menit untuk sampai ke resort.
“apa semua pesanan saya sudah disiapkan?” tanya saki
“sudah pak, kami sudah menyiapkan semuanya sesuai dengan pesanan bapak”
“baiklah”
Saki melempar tas bawaannya serampangan dikasur, ia buka jendela kamarnya. Melihat hamparan kebun teh yang hijau membuat hati dan pikirannya tenang. Akhir-akhir ini hidupnya dipenuhi dengan konflik yang membuat hati dan pikirannya lelah. Saat pandangannya tertuju pada seorang wanita yang tengah mengobrol dengan aldi, wanita itu mirip sekali dengan Vera.
“apakah aku sedang merindukan vera sampai aku harus berhalusinasi seperti ini?” gumamnya dalam hati
Semua lamunan saki buyar saat johan datang
“saki, siang ini gw sama sintia mau ke area proyek loe mau ikut?”
“ya” jawab saki malas