Breath Of Love

Breath Of Love
47. Marvel meninggal



Vera sudah bangun dari tadi namun ia tak berani bergerak, takut jika mengusik saki yang masih tertidur, lagipula berada dipelukan saki rasanya sangat nyaman itu lah yang diucapkan Vera dalam hatinya, padahal si empunya sudah bangun dari tadi , karena melihat Vera yang yang tak bergerak walaupun saki tahu Vera sudah bangun saki memutuskan untuk pura-pura masih tidur, padahal tangannya sudah mati rasa.


"segitu nyamannya Ampe loe gak bangun"


Vera kaget, ternyata saki sudah bangun,


"gimana mau bangun kalo tangan bapak gak ngelepasin saya"


Vera berontak dari pelukan saki


saki dan Vera bersiap untuk kembali pulang


"brengsek si saki, kek bocah aja ngilang-ngilanv, dompet gak dibawa, ponsel gak dibawa, bikin orang khawatir aja" gerutu Johan


ponsel Johan berdering, panggilan masuk dari bundanya saki


"halo johan"


"halo Tante, ada apa ya Tan?"


"kamu lagi sama saki? dari tadi nomornya Tante telfonin gak diangkat, Tante telfon ke kantor juga kata resepsionisnya saki belum berangkat ke kantor"


"emmmm...itu Tan...."


"itu..itu apa Jo"


"saki ponselnya ketinggalan Tan dirumah soalnya tadi buru-buru"


"ouhhh, gitu kalo gitu bisa kan Jo Hp kamu kasihin saki sebentar Tante mau ngomong"


"itu dia masalahnya Tante saya gak lagi sama saki sekarang"


"kamu itu ya Jo, kenapa gak bilang dari tadi"


"maaf Tan, hehe"


"tapi kamu gak lagi bohong kan Jo"


"mana mungkin Johan bohong Tan ,Johan ini anak baik ,jujur dan anti sombong"


"yasudah nanti sampein ke saki suruh telfon Tante"


"oke siap Tante"


"hhhhh gini nih, punya temen yang tingkahnya suka ngilang bikin pusing aja huffft"


saki dan Vera melanjutkan perjalanan pulang, diperjalanan wajah Vera nampak tegang.


"Vera ,kamu kenapa muka kamu tegang banget, kamu sakit?" sembari menempelkan punggung tang ke dahi Vera


"enggk pak, perasaan saya tiba-tiba gak enak pak, saya kepikiran ayah"


saki menghela nafas panjang setelah mendengar kata ayah dari mulut Vera.


"pak, boleh gak saya minta diantar ke rumah sakit?"


"Iyah"


"terimakasih"


"pak, apa pak saki belum bisa menerima ayah saya sebagai ayah bapak juga?"


saki tiba-tiba menginjak pedal rem mobilnya mendadak membuat Vera terkejut, karena Vera sedang tak menggunakan seat belt dahi Vera memar terbentur bagian mobil yang ada didepannya.


"awww...."Vera memegang dahinya yang terbentur sembari meringis kesakitan


"bapak mau bunuh saya"


"makanya kalau naik mobil itu pake seat belt, benjol kan jadinya"


"kok jadi bapak yang marah sih, harusnya saya yang marah" kesal Vera


"mengingatkan kok setelah kejadian, gak berguna tau"


saki malas membalas ocehan Vera,


sesampainya dirumah sakit, Vera dan saki tertegun melihat om Pino dan mamah Vera disana.


"mah.., papah...papah dimana mah?"


"papahmu udah mati" jawab mamah Vera


"gak ...gak mungkin gak mungkin mah" Vera menangis sejadi-jadinya


tiba-tiba jantung saki seolah berhenti berdetak, seperti semua organ ditubuhnya berhenti berdetak, saki jatuh tersungkur ke lantai.


om Pino dan suster segera membantu saki,


setelah hampir setengah jam saki tak sadarkan diri.


"kamu sudah enakan?" tanya om Pino


saki masih terdiam , seolah semua yang terjadi berlalu begitu cepat bahkan sangat cepat.


om Pino memberikan sebuah surat kepada Saki.


"saki, ini surat terakhir dari ayahmu"


saki menerima surat itu dan membaca setiap kata yang ditulis ayahnya disana, hatinya sakit.


"om, saki mau lihat ayah untuk yang terakhir"


"baiklah"


om pino mengajak saki keruang jenazah, dilihatnya wajah ayahnya untuk yang terakhir kalinya, ada penyesalan dihati saki.


"sudahlah saki semuanya sudah terjadi, doakan saja ayahmu"


"iya om"


PEMAKAMAN


Dihari pemakaman Marvel, semua hadir termasuk bianka. Vera tak henti-hentinya meratapi kepergian ayahnya. Di pemakaman bianka bertemu Milka dan mamah Marvel.


Usia pemakaman Milka dan mamah Marvel menemui bianka.


"untuk apa kamu datang kesini" ketua Milka


"dasar wanita gila" tambah mamah Marvel


Vera mencoba menenangkan mamahnya.


"bagaimanapun saya pernah menjadi istri mas Marvel, jadi saya rasa saya berhak untuk menghadiri pemakamannya"


"denger ya bianka ini semua kamu penyebabnya"


"jaga ya mulut Tante" bentak saki


bianka menarik tangan saki,


"sudah... apakah kalian tidak bisa tenang sehari saja kita ini sedang berduka" sambung om Pino


mamah Marvel dan Milka memandang sengit bianka.


"kalau begitu saya dan mamah pamit dulu om"


"hati-hati dijalan saki"


saki memandang wajah Vera, ingin rasanya memeluk tubuh gadis itu, saki tahu Vera pasti sangat sedih dan terpukul.