
Karena desakan kedua orangtuanya akhirnya Saki menyetujui perjodohan itu. Hari itu juga Saki dan Hana melangsungkan pertunangan. Sintia mengabari Vera soal ini.
“Hy…bestie, gimana kondisi loe?” Sapa Sintia yang menjenguk Vera dirumah Sakit
“Baik, loe belum balik?”
“Belum, gw masih ada yang harus diselesain disini. Ya mungkin dua hari lagi gw balik ke Jakarta”
“Emmmm, loe sendiri kan kesini?”
“Santai gw sendiri kok. Ver, ada yang pengen gw omongin sama loe?”
“ngomong aja”
“Hari ini pak Saki tunangan sama Hana, Loe gak apa-apa?”
“Gak apa-apa, loe udah tahu kan kalo gw sama pak Saki ada hubungan sodara. Jadi buat apa gw pertahanin rasa gw”
“Mau digimanain juga gw sama Saki gak akan pernah bersatu”
“Loe yang sabar ya, Ver”
Sintia memeluk tubuh sahabatnya mencoba membuat sahabatnya setenang mungkin.
Tiba-tiba ada tiga orang pria tak dikenal masuk keruangan Vera, memukul Sintia hingga pingsan dan membawa paksa Vera.
“Aduh kepala gw sakit banget” Sintia menyadari jika Vera tidak ada ditempatnya. Dalam kepanikannya Sintia menghubungi Johan.
“Hallo pak Johan, tolong saya pak”
“Iya sin, ada apa”
“Tolong pak, Vera , Vera gak ada “
“Gak ada gimana maksud kamu?”
“Waktu saya jenguk vera tiba-tiba ada orang yang masuk, terus mukul saya pas saya sadar Vera udah gak ada”
“Oke kamu tenang ya, kita cari Vera sama-sama”
Saki, Sintia dan Johan mencari keberadaan Vera. Karena taka da petunjuk apapun soal orang yang membawa kabur Vera akhirnya mereka meminta bantuan polisi. Ponsel Saki bordering, Saki mendapat telfon dari Aldi.
“Brengsek, loe bawa kemana Vera?” Teriak Aldi dari balik telfon
“Loe bisa tenang, gw gak tau sama sekali keberadaan Vera. Dan gw lagi nyari dimana Vera sekarang”
“Gw jelasin nanti, kita ketemu dirumah sakit”
Saki meminta pihak rumah sakit untuk membuka CCTV, untuk mengetahui siapa yang sudah membawa Vera. Saki mencurigai Hana sebagai dalang dibalik hilangnya Vera.
“Hana, loe kemanain Vera. Apa yang loe mau udah gw lakuin, sekarang kasih tau gw dimana loe sembunyiin Vera”
“Apa sih Saki, gw gak tau”
“Gak usah boong loe, loe kan yang nyuruh orang-orang itu buat nyulik Vera?”
“HAHHHH, VERA DICULIK?”
“Gak usah drama Hana gw muak sama tingkah loe, dimana Vera ?”
“Gw gak tau apa-apa Saki, jangan karena gw gak suka sama Vera apapun yang terjadi sama Vera itu gara-gara gw”
“Udah Ki, mungkin emang bukan Hana pelakunya” Johan mencoba menengahi
“Terus siapa????kalo bukan ni cewek. Gw gak akan pernah maafin diri gw kalo sampe Vera kenapa-kenapa”
“Ini semua gara-gara loe, BRENGSEK” Aldi memukul wajah Saki
“Udah, Stop. Kita gak akan bisa nemuin Vera kalau kalian ribut terus” Johan melerai Saki dan Aldi
Vera terduduk lemas saat menyadari dirinya sudah ada diruangan yang berbeda.
“Kamu sudah sadar” Terdengar suara Bariton dari seseorang yang sedang duduk diatas sofa membelakangi Vera sembari menyesap cerutu.
Pria setengah tua itu mendekati Vera, tubuh Vera gemetar menahan takut, Vera terpojok tak ada lagi celah untuk dirinya menghindar dari pria tua itu.
"siapa kamu? apa mau mu? " Vera menepis tangan pria tua itu
"ckckckck" pria itu tertawa melihat Vera ketakutan
"lepaskan aku, jauhkan tanganmu , jangan sentuh aku"
"waw....." pria itu bertepuk tangan seperti keasikan melihat Vera yang semakin ketakutan
" Tenanglah sayang aku tak akan menyakitimu"
Vera terisak, ia tak kuat lagi menahan ketakutannya.