
"Sorry” Sintia gak sengaja menabrak karyawan resort
“Iya mba gak apa-apa” Vera terkejut saat orang yang menabrak dirinya ternyata Sintia.
“Vera!!!!! Loe vera kan??” Sintia tak kalah kagetnya
Vera menarik tangan Sintia ke ruang ganti. Mereka saling memeluk satu sama lain.
“Loe ngapain disini, Sin??? Jangan bilang loe kesini sama pak Johan dan pak Saki?”
“iya”
“hhhhh…gawat”
“Loe kemana aja, sih. Loe tau gak kalo pak Saki udah kayak orang gila tau gak. Sejak loe pergi tiap hari kerjaannya uring-uringan”
“ya terus???salah gw gitu??? Kan emang dari lahir orangnya udah begitu. Eh tapi loe jangan kasih tau ya kalo gw disini…please” vera memohon.
“mmmmm gimana ya ver” Sintia tampak ragu
“please sin, gw mohon”
“ok…ok”
“aaaa thanks ya sin”
Tanpa sepengetahuan Saki, ayah saki mengadakan acara di resort tempat Saki menginap. Saki dengan terpaksa menghadiri pesta tersebut karena desakan dari bundanya.
“oke, terimakasih semua tamu undangan yang sudah hadir di hari pertunangan anak saya Saki dan Hana” ayah Saki menyambut tamu yang datang.
“Papah” Saki terkejut
Vera yang saat itu bertugas di pesta tersebut tak sengaja menjatuhkan nampan ditangannya. Sontak Vera menjadi pusat perhatian tamu yang datang. Saki melihat kearah pelayan itu, yang ternyata itu adalah vera gadis yang selama ini ia cari.Saki berlari kearah vera.
“ini loe” saki memeluk tubuh vera
“Pah, ini gadis yang saki cintai bukan Hana”
Ucapan Saki membuat kedua orangtuanya shock.
“Kamu tidak bisa menikahinya saki” sesorang bicara dari kejauhan yang ternyata orang itu adalah om pino.
“Vera adik mu saki, mana mungkin kalian menikah?”
“Gak om, saki akan tetap menikahi vera apapun yang terjadi”
Hana menghampiri vera yang tiba-tiba menampar pipi vera. Tak tahu lagi apa yang harus vera lakukan situasinya membuat vera semakin tersudut. “Maaf pak, sekarang adalah kekasih saya jadi bapak gak bisa menikahi vera begitu saja”
“Cukup” teriak vera
Teriakan vera membuat semua orang menatap kearahnya.
“Vera udah gak tahan lagi” Vera mengambil pecahan gelas, menggores pergelangan tangannya dan menceburkan tubuhnya ke kolam. Aldi yang berniat menahan tubuh vera ikut jatuh.
Keadaan vera semakin kritis, vera kehilangan banyak darah. Hanya darah Aldi yang cocok dengan vera.
“ok gw akan donorin darah gw buat vera , asal loe jauhin vera” pinta aldi kepada saki
“Brengsek” saki mencengkeram kerah baju aldi
“maaf, apakah pendonor sudah siap” kata suster
Aldi mengikuti langkah suster keruangan dimana vera berada. Donor yang dilakukan Aldi berjalan dengan lancar, vera dapat melewati masa kritisnya.
Keadaan vera semakin hari semakin membaik, setiap hari aldi senantiasa menemani vera tak ada celah sedikitpun untuk saki mendekati vera. Saki hanya bisa melihat vera dari kejauhan. Wanita yang ia sayangi semakin hari semakin jauh untuk dirinya gapai.
“mau apa loe kesini?” tanya aldi
“gw mau liat kondisi vera”
“vera baik-baik aja, gw rasa loe gak perlu lagi datang kesini karena kehadiran loe hanya bikin vera tertekan”
“maksud loe?”
“vera udah cerita semuanya sama gw,kalo loe pengen liat vera bahagia lebih baik loe jauhin vera”
“tapi gw sayang sama vera”
“sayang loe itu ngancurin hidup vera”
“gw pengen ketemu vera” saki memaksa masuk
Vera yang melihat Saki langsung membuang muka
“vera” panggil saki
“lebih baik pak saki lupain vera, vera gak pernah cinta sama bapak”
“gak loe cinta sama gw, gw tau itu”
“pergi” usir vera sembari terisak
Aldi menarik paksa tangan saki keluar dari ruang kamar vera dirawat.