
Hari ini adalah hari dimana aku akan menikah dengan Marvel, tapi aku gak merasa bahagia hatiku gelisah takut membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Tak pernah terbesit sedikitpun jika jalan hidupku akan sedramatis ini, aku menikah dengan laki-laki yang tidak aku cintai.
" Neng, kenapa ngalamun".
"Enggak apa-apa bu".
"Yuk penghulunya sudah siap".
Andai aku dapat menghentikan waktu, aku ingin menghilang dari bumi ini aku ingin terjun dari tebing yang tinggi dan membiarkan tubuhku tenggelam di dasar lautan dari pada harus menikah dengan lelaki yang tidak aku cintai tapi semua sudah terlambat saksi sudah berkata sah aku resmi jadi istri sirih Marvel.
***
"Tokkk...tokk.tokk".
"Ya bu masuk pintunya gak Bianka kunci".
Tiba-tiba Marvel sudah ada dibelakanku dan memelukku dari belakang.
"Marvel????lepaskan aku....lepaskan aku".
"Bi...kita kan udah sah jadi suami istri jadi aku punya hak atas dirimu hahaha".
"Lepasin aku atau aku teriak". Ancamku terhadap Marvel
"O-oke, Bi aku rasa kamu harus pindah dari tempat ini, tempat ini sempit kumuh ini gak bagus buat perkembangan bayi kamu".
"Bukankah kamu sudah janji jika aku boleh tinggal dengan bu Lastri?".
"Ya...tapi tidak disini".
"Besok kamu harus pindah dari sini, lagi pula apa kata orang seorang Marvel datang ke rumah kumuh kayak gini".
"Jaga mulut kamu Marvel, kalau bu Lastri denger dia akan sakit hati mendengar ucapanmu".
"Aku gak peduli, pokoknya besok kamu harus pindah".
"Gak aku gak mau, aku masih ingin disini".
"Bianka, aku udah sabar ya hadepin kamu mau gak mau suka atau gak suka kamu tetap akan pindah".
Aku hanya bisa terduduk lemas air mataku mengalir, benar firasatku jika hal ini akan terjadi. Marvel melangkahkan kaki keluar meninggalkanku sendiri. Baru hari pertama menikah dia sudah membuatku menangis bagaimana untuk hari-hari berikutnya.
"Neng...kenapa nangis?".
"Hikkk...hikkkk ...hikk bu Bianka gak mau pindah bu, Bianka mau disini sama ibu".
"Iya neng iya".
"Bu, Marvel maksa Bianka buat pindah dari sini Bianka gak mau bu".
"Ya bagus dong neng, itu artinya mas Marvel laki-laki yang bertanggungjawab dia mau menuhin kebutuhan Neng".
"Bu, kalau Bianka pindah ibu ikut Bianka ya bu, Bianka takut sendirian bu. Bianka mohon bu?".
"Aduhhh bagaimana ya neng, ibu jadi bingung".
"Bu Bianka mohon bu".
"Baiklah ibu mau tapi jika tidak diijinkan mas Marvel bagaimana?".
"Ehhhhmmmm pasti boleh bu, nanti Bianka yang ngomong".
***
Benar saja keesokan harinya Marvel memaksaku untuk pindah dari rumah bu Lastri.
"Bianka". Teriak Marvel memanggilku.
"Cepat kemasin barang-barangmu dan ikut aku".
"Aku mau ikut kamu asal bu Lastri ikut serta denganku".
"Gak".
"Pokoknya aku gak mau pergi kalau bu Lastri gak ikut denganku".
"Bi, aku masih sabar ya sama kamu jangan sampai kesabaranku habis dan aku harus pake cara kekerasan sama kamu. Cepat naik".
"Mas Marvel jangan kasar kasihan neng Bianka dia lagi hamil".
"Ibu jangan ikut campur".
"Lepasin vel, sakit. Ijinin aku buat ngomong sebentar sama bu Lastri".
"Ok...waktumu cuma lima menit".
"Bu...terimakasih udah jagain Bianka selama ini udah sayang sama Bianka, maafin Bianka jika selama ini Bianka sering ngerepotin ibu".
"Neng kan udah ibu anggap anak ibu, neng baik-baik ya nanti ibu akan sering-sering nengokin neng ya".
"Bener ya bu, Bianka pamit bu. Assalammualaikum".
"Walaikumsalam, jaga diri baik-baik ya neng".
Aku tak kuasa menahan tangis, berkali-kali aku menyeka air mataku tapi tak bisa membuat air mataku berhenti mengalir. Selama ini bu Lastri merawatku dengan baik, menyiapkan segala kebutuhanku mengurusku seperti anaknya sendiri. Sepanjang perjalanan di dalam mobil aku tak henti-hentinya menangis hingga membuat Marvel semakin kesal dan tiba-tiba Marvel menghentikan laju mobilnya secara mendadak sontak membuatku kaget.
"Bisa gak sih, kamu itu berhenti buat nangis. Aku gak suka tau gak liat wanita cengeng".
Aku memalingkan wajahku dari Marvel.
"Kamu itu harus nurut apa kata suamimu, ngerti".
Aku mencoba menenangkan hatiku dan mencoba berhenti menangis. Aku tidak ingin membuat Marvel semakin marah, karena sikapnya membuatku semakin takut melihatnya.
***
Melihatku sudah tidak menangis Marvel kembali melajukan mobilnya hingga kami sampai disebuah rumah, rumah yang tak asing bagiku. Rumah dimana Marvel menjebakku hingga aku harus berakhir seperti sekarang ini.
"Kamu akan tinggal disini".
"Dengan siapa aku tinggal?".
"Kamu disini sendiri, terserah aku kapan pun aku akan pulang, kamu gak berhak buat ngatur aku".
"Terserah kamu, aku juga gak menginginkan kamu ada disini".
Marvel geram mendengar ucapanku, dirumah ini tidak ada anggota keluarga Marvel yang lain.
"Setiap pagi akan ada mbok Niti yang biasa beresin rumah ini, masakin buat aku dan nyiapin semua kebutuhan aku. Oiya Bianka kamu jangan berfikir kamu bisa jadi ratu dirumah ini, kamu juga harus bantu mbok Niti buat beresin rumah ini, jadilah orang yang berguna".
Setelah menikah sikap Marvel menjadi bengis dan kasar terhadapku.
"Dimana kamar ku".
"Kamarmu diujung sana dikamar pembantu".
"Apa?".
"Meski kita sudah menikah tapi aku gak sudi satu kamar sama kamu".
"Lebih baik aku tidur dikamar pembantu dari pada harus sekamar sama kamu".