Breath Of Love

Breath Of Love
32. Pertemuan Saki dengan Pino



Hari ini Johan memberi agenda pekerjaan yang harus dikerjakan Saki. Sudah hampir sepekan Saki absen dengan urusan kantornya. Karena proyek kali ini sangat penting Johan tidak berani untuk mengambil resiko sehingga Saki harus ikut turun tangan.


"Saki, semua dokumen yang lu butuhin udah gue siapin. Ohhhh ya...dari informasi yang gue dapat investor kali ini bukan orang sembarangan, namanya pak Pino Sandywo. Beliau juga berhasil kerjasama dengan perusahan besar di Jepang".


"Hmmmmm....oke thanks Johan infonya. Jam berapa pertemuannya".


"Sejam lagi, kita gak boleh sampe telat beliau benar-benar tepat waktu orangnya".


"Oke, kalau begitu kita berangkat sekarang".


Saki dan Johan bergegas ke kantor, kali ini Saki memilih menyetir sendiri karena ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk bekerja sama dengan perusahaan milik Pino.


***


"Selamat siang pak".Sapa Vera pegawai baru dengan santun. Vera merupakan karyawan baru dikantor Saki. Tanpa sepengetahuan Saki, Johan diam-diam merekrut karyawan baru dikarenakan Johan kewalahan mengurus sendiri pekerjaannya yang begitu banyak, belum lagi persoalan tentang ibu Saki, Bianka.


"Siapa kamu, seingat saya....saya tidak memiliki pegawai baru?".


"Saa...saya Vera pak. Saya baru dua hari bekerja disini".


"Johaannnn...".


"Iya...ada apa Bosss".


"Kamu ......".


"Sorryyy bos, aku kuwalahan karena pekerjaan akhir-akhir ini banyak banget dan sering aku tinggal-tinggal jadi Vera ini ngebantu banget dipekerjaan aku".


"Terserah kamu Johan".


Saki berlalu meninggalkan Johan, menuju keruangan kerjanya.


"Vera, kamu bisa lanjutin pekerjaan kamu. Ohhh ya nanti jam 10 saya dan pak Saki ada meeting dengan client penting, kamu sekalian antar berkasnya keruang meeting".


"Baik pak,Johan"


"Terimakasih Vera".


***


Pino dan asistennya sudah sampai di kantor Saki. Pino dan asistennya langsung diarahkan keruang meeting. Pino begitu menikmati suasana kantor Saki yang begitu epic dipandang mata. Design interior yang kekinian tetapi terlihat elegant menghiasi setiap ruangan. Tak heran jika nama Saki di dunia bisnis cukup terkenal, meskipun usianya masih begitu muda.


Saki dan Johan masuk kedalam ruang meeting diikuti oleh Vera.


Betapa terkejutnya Pino saat melihat Vera keponakannya bekerja di perusahaan Saki.


"Vera????".


"Om Pino!!!!".Vera permisi dulu ya om ..pak".


Bergegas Vera keluar dari ruangan meeting tersebut.


"Maaf pak, saya Saki dan ini Johan"


Mereka saling berjabat tangan satu sama lain.


"Saya sangat tersanjung dengan keputusan bapak untuk memilih perusahaan saya di proyek kali ini".


"Wahhh...wahhh nak ,harusnya saya yang merasa beruntung bisa bekerja sama dengan kamu. Saya begitu kagum dengan desain perusahaan kamu ini. Jadi rencana apa saja yang akan kita lakukan setelah ini".


"Baik pak, kami sudah menyiapkan semuanya bapak bisa menganalisanya barangkali jika ada yang perlu ditambahkan atau dikurangi bisa beri tahu kami".


"Baiklah".


Setelah hampir tiga jam mereka berbincang-bincang, akhirnya pak Pino memutuskan untuk pamit.


"Sayang sekali waktu begitu cepat, semoga kalian berdua tidak bosan mendengar ocehan orang tua seperti saya....hahaha".


"Perbincangan kali ini sangat berharga untuk saya pak, karena tidak ada satu dosen pun yang menjelaskan persoalan bisnis seperti bapak".


"Hahahaha,, saya pebisnis tau nak."


"Baik pak, senang berbisnis dengan bapak".


"Saya antar sampai depan ya pak!". Johan menawarkan diri untuk mengantar pak Pino sampai depan dan permintaannya diindahkan oleh pak Pino.


Johan hanya mengantar pak Pino sampai loby saja, saat Johan ingin kembali ke ruang kerjanya ia tak sengaja melihat pak Pino sedang bertanya kepada receptionis. Karena jarak Johan dan receptionis agak jauh Johan tidak bisa mendengar pembicaraan mereka.


Setelah pak Pino keluar dari kantornya, Johan menuju receptionis dan bertanya, tentang yang ditanyakan pak Pino. Benar saja pak Pino menanyakan soal Vera.


Johan bergegas kembali keruang kerjanya dan menemui Vera.


"Vera".


"Iya pak?".


Vera begitu gugup dan takut dirinya dipanggil Johan, dan Johan menyadari ketakutan Vera sehingga ia tidak jadi menanyai perihal hubungan Vera dan Pak Pino.


"Bisa minta tolong buatkan saya coffe?".


"Tapi pak, dimeja bapak sudah tersedia coffe pak?".


"Coffe itu sudah dingin Vera , saya tidak ingin meminumnya lagi".


"Baik pak, apa ada lagi pak?".


"Sudah itu saja"


Raut wajah Vera yang tadinya tegang seketika berubah , mendengar Johan yang hanya menyuruhnya membuat coffe.


Melihat hal itu Johan semakin penasaran terhadap Vera.