
Keberadaan Johan di Jerman membuat Saki mau tak mau harus berdekatan dengan Vera, karena Vera yang menghandle semua pekerjaan Johan.
Hari ini Saki mendapat undangan makan siang bersama pak Pino, rekan bisnis barunya. Saki meminta Vera untuk menemani dirinya, tetapi Vera menolak permintaan Saki dengan alasan tidak enak badan. Saki mencoba mengecek kening Vera dengan menempelkan punggung telapak tangannya kekening Vera.
"Aku rasa kamu cukup sehat untuk berbohong".
"Ma-maaf pak Saki tapi saya benar-benar tidak fit untuk bertemu client".
"Aku hanya memintamu untuk duduk saja Vera, ini perintah dan siapapun tidak ada yang bisa menolak perintahku, mengerti!!!!".
Dengan terpaksa Vera ikut dengan Saki, karena ia taku Saki memecat dirinya.
Vera memang enggan sekali bertemu dengan Pino, walaupun sebenarnya Vera adalah keponakannya. Vera ingin memulai karirnya sendiri tanpa bantuan dari siapapun termasuk Pino. Lagian ayah Vera melarang Vera untuk terlalu dekat dengan Pino, walaupun ia tak mengetahui apalasan ayahnya melarangnya dekat dengan keluarganya bahkan untuk memberitahu keadaan Marvel yang sedang sakit keras.
***
Setelah kepergian Bianka, Marvel dan Milka menikah dan memiliki seorang anak yaitu Vera. Tapi setelah menikah tabiat buruk Milka semakin menjadi apalagi sejak Marvel mengalami kecelakaan dan sering sakit-sakitan, Milka tak pernah sekalipun mengurusnya. Bahkan dengan bebasnya Milka membawa pacar-pacarnya yang berbeda-beda setiap hari kerumahnya. Marvel tidak pernah bisa berbuat apa-apa karena Milka selalu mengancam minta cerai, Marvel merasa ini adalah balasan atas apa yang pernah ia lakukan terhadap Bianka.
Wajah Vera berubah panik ketika ia berada satu meja dengan Pino, ia takut jika Pino memberitahu Saki jika ia adalah keponakannya.
"Halo nak Saki, apa kabar".
"Baik pak, terimakasih atas undangan makan siangnya saya sangat tersanjung".
"Hahahaha , santai saja nak. Ini...????".
"Ini Vera pak salah satu asisten saya, untuk sementara ia menggantikan Johan".
"Ohhh...begitu, mari-mari silahkan duduk. Pelayan!!!!".
Setelah memesan beberapa hidangan ,pak Pino dan Saki serta asisten pak Pino menghabiskan makanan mereka tanpa berbicara. Sedangkan
Vera yang sedari tadi hanya menundukan kepalanya, tak sepatah katapun ia keluarkan bahkan hidangan dipiringnya pun masih utuh.
Membuat yang lain merasa aneh dan khawatir dengan sikap Vera tak terkecuali Saki.
"Vera..., kenapa makananmu kamu biarkan saja?".
"Gak apa-apa om...ehhh pak, Vera sudah makan tadi".
"Oh yasudah".
Saki merasa ada yang aneh dengan sikap Vera, tanpa banyak kata Saki pun memohon untuk pamit kepada pak Pino. Didalam mobil Vera masih tertunduk diam, sikap Vera benar-benar membuat Saki bingung.
"Apa kamu sedang benar-benar sakit???"
"Bukankah tadi saya sudah mengatakan hal itu kepada bapak".
"Baiklah kuantar kamu kerumah sakit, pakai sabuk pengamanmu!!!".
"Emmmm....tidak perlu pak. Saya......"
Terdengar bunyi ponsel Vera berdering dan ia segera mengangkatnya.
"Iya hallo pak Johan"
"Vera apa kamu baik-baik saja?".
"Iya pak, saya baik-baik saja".
"Apa Saki merepotkan mu???"
"Ok lah Vera".
Tuttttt....tuttt....tutttt......
"Siapa yang menelfonmu". Saki bertanya kepada Vera dengan nada ketus.
"Pak Johan pak??".
"Mau apa dia......". Saki berkecoh sendiri ,entah mengapa ia kesal mendengar Johan mengkhawatirkan Vera.
Saki melajukan kendaraannya, menuju rumah sakit.
"Maaf pak, bukannya jalan menuju kantor kesana??? mengapa kita kesini??? Bapak mau bawa saya kemana???".
"Rumah sakit".
"Mau apa pak kerumah sakit???".
"Cek kesehatanmu, saya tidak mau penyakitmu menular ke saya".
Vera meraih tangan kiri Saki dan meletakkannya ke dahinya" Saya tidak apa-apa pak???nih...nihh....gak apa-apa kan?".
Seketika Saki menjadi salah tingkah.
"Ma-maaf pak, saya tidak bermaksud".
"Vera, bisa tidak kamu bertanggungjawab dengan apa yang kamu ucapkan, saya kita mau berangkat dan selama acara makan siang tadi kamu sakit, sekarang kamu tiba-tiba sembuh".
"Yahh kenyataannya sudah sembuh kok".
"Jika ada seribu orang sepertimu didunia ini, gak ada lagi yang namanya rumah sakit".
Saki menarik paksa Vera untuk turun dan memeriksakan kesehatannya.
Tak biasanya Saki seperhatian ini terhadap orang lain apalagi ia baru mengenalnya.
Setelah beberapa lama Vera berada diruang pemeriksaan, seorang perawat menghampiri Saki meminta Saki untuk menyelesaikan administrasi dan menebus beberapa obat untuk Vera yang telah ditulis oleh dokter. Saki pun bergegas menuju tempat administrasi dan apotik.
Didalam ruang pemeriksaan dokter memberi sedikit penjelasan mengenai kesehatan Vera. Sebenarnya Vera baik-baik saja dirinya hanya mengalami radang ditenggorokannya yang menyebabkan sakit jika menelan makanan.
Dokter juga memberitahu jika temannya telah menebuskannya obat untuk Vera minum. Teman yang dimaksud dokter adalah Saki.
Vera teringat jika Saki menebus obat miliknya, ia akan mengetahui nama panjang Vera dan itu artinya jati dirinya akan diketahui oleh Saki.
Vera bergegas mencari Saki, ia berharap dirinya tidak terlambat.
Sayangnya obat itu telah ditebus oleh Saki, saat Saki ingin membuka resep tersebut Vera segera merampasnya dari tangan Saki.
"Apa-apaan kamu Vera!!!!!" . Saki benar-benar dibikin kesal dengan perilaku Vera.
"Hehehe...maaf pak, saya malu jika bapak tahu saya sakit apa ini sakitnya perempuan pak".
"Maaf-maaf kamu bisa tidak bersikap layaknya perempuan".
"Maaf pak".
Vera merasa bersalah atas sikapnya terhadap Saki, tapi apa boleh buat ia tak ada pilihan lain.
Mereka berdua melanjutkan perjalannya menuju kantor.