
Untuk kedua kalinya aku tersadar dirumah sakit, badanku terasa lemas sekali. Kubuka mataku perlahan aku tidak meliahat siapa-siapa, aku memencet tombol darurat. Lalu suster mendatangi ruanganku.
"Ada yang bisa saya bantu, nona?".
"Sus, siapa yang bawa saya kesini?".
"Ada nona teman nona yang bawa nona kesini".
"Lalu dimana dia sekarang sus?".
"Dia tadi keluar sebentar nona, ada lagi yang bisa saya bantu nona?, atau nona mau saya suapin makannya?".
"Tidak sus, saya bisa makan sendiri".
"Kalau begitu saya permisi dulu ya nona".
"Baik sus, terimakasih".
Tidak berapa lama, terdengar seseorang membuka pintu.
"Hyyy...." (sapa pino sambil mengelus kepalaku).
"Hyyyy".
"Ehhhh tumben dijawab, emang harus sakit dulu ya biar jawab sapaanku".
"Apasih pino ihhhh".
"Emmm gimana keadaanmu sudah baikan?".
"Udah"
"Aku bawain soup jagung kesukaanmu, mau makan?".
"Mau".
"Aku suapin atau makan sendiri?".(memandangku genit).
"ihhhh aku bisa makan sendiri pino, kayak bayi ajah disuapin".(jawabku kesal).
"oke deh oke jangan ngambek dong, abisin ya".
Aku hanya terdiam menikmati perlakuan pino, aku gak nyangka ada orang yang mau bersikap sebaik ini padaku. Terimakasih tuhan.
"Bi, aku telfon orangtuamu ya biar mereka gak khawatir".
"Gak usah".
"Kenapa Bi, emang kamu gak dicariin nanti?".
Aku menghentikan aktivitas makanku dan terdiam, melihat ekspresiku pino meminta maaf padaku.
"Ehhh kok sedih, oke aku minta maaf kalau pertanyaanku bikin kamu gak suka. Abisin dong makannya".
Aku hanya terdiam dan melanjutkan makanku. Sayang juga kalau soup jagung seenak ini gak diabisin euhhhh mubadzir bangettt.
"Bi, kata dokter sementara kamu harus dirawat disini beberapa hari".
"Emmm, gak ahh Pin aku mau pulang aja".
Aku hanya terdiam
"Bi, bukannya apa-apa ya Bi kamu itu kecil tapi berat tau, susah payah aku gendong kamu bawa kesini".(Sambil tertawa kecil).
"Jadi kamu gak ikhlas bawa aku kesini?".( jawabku kesal).
"Ehhh ehhh aku becanda".
Tapi entah kenapa aku ingin menangis, aku merasa sedih karena ibu tidak ada disini , dari aku kecil kalau aku sakit selalu ibu yang merawat dan menemani aku.
"Bi, aku minta maaf aku cuma becanda jangan nangis".
Aku tetap menangis, pino mendekapku dan mengelus kepalaku.
Pino menjagaku semalaman, bahkan ia tak meninggalkanku barang semenit. Ia hanya meninggalkanku ketika sholat.
Aku mengecek handphone ku ,dan benar saja ibu menelfonku berkali-laki dan ada 10 pesan masuk dari ibu.
Aku tahu ibu pasti khawatir tapi biarlah, aku sedang tak ingin membahas soal ibu.
Tiga hari sudah aku disini, dokter sudah memperbolehkan aku pulang.
"Nona Bianka sudah boleh pulang, obatnya diminum sampai habis dan jangan sampai telat makan".
"Baik,dok".
"Kalau begitu saya permisi".
"Terimakasih,dok".
Dokter meninggalkan, ruanganku dan aku mulai beres-beres bersiap untuk pulang.
"Bi, aku ke administrasi sebentar ya sekalian nebus resep kamu".
"Pin, nih...."(aku menyodorkan kartu ATM ku pada Pino).
"Apa nih".
"Yaa, meskipun gak banyak aku rasa cukup Pin buat bayar administrasi dan obat aku".
"Gak, usah Bi simpen aja buat kamu. Kamu gak usah mikirin biaya rumah sakit ini semuanya biar aku aja, itung-itung aku belajar buat jadi pacar kamu".
Aku kaget dengan ucapan Pino, aku jadi kikuk dan gak bisa ngomong apa-apa.
"Gak usah seneng gitu dong mukanya sampe merah pipinya".
"Apaan sih Pin". (Aku menutupi mukaku dari pandangan Pino).
"Yaudah aku keluar bentar ya".
Kalau kalian pengen tau Pino itu orangnya seperti apa, tingginya kira-kira 170, dia gak kurus juga gak gemuk pas aja sama tingginya. Kulitnya bersih yang bikin gemes dia punya lesung di pipinya. Ehhh kok aku jadi senyum-senyum mikirin Pino.
Setelah selesai semuanya, Pino mengantarku pulang kerumah. Sesampainya dirumah ibu terkejut melihatku pulang bersama laki-laki setelah tiga hari tidak pulang kerumah. Sontak ibu marah dan ingin menamparku.
Sebelum ibu berhasil menamparku ku tepis tangan ibu. Pino turun dari motor dan mencoba menjelaskan pada ibukku. Tapi aku menghentikan penjelasan Pino ke ibu. Aku rasa ibu gak perlu tau apa yang terjadi sama aku tiga hari ini. Aku meminta Pino untuk pulang dan beristirahat aku tahu Pino pasti lelah tiga hari Pino menjagaku di rumah sakit. Pino mengiyakan permintaanku. Lalu aku pergi kekamarku tanpa menjelaskan apa-apa pada ibu.
Seorang ibu adalah rumah bagi anaknya, ketika ibu menampar anaknya bukan fisiknya yang terluka, tapi hatinya.