
Berkali-kali mbok niti mencoba menghubungi Pino tapi nomor telfon Pino tidak bisa tersambung, aku sudah tidak sanggup lagi bertahan di rumah ini. Aku meminta mbok Niti membantuku kabur dari rumah ini, aku sangat-sangat memohon kepada mbok Niti. Aku tahu apa yang ada di benak mbok Niti disatu sisi mbok Niti takut jika dimarahi Marvel atau ibunya , tapi di sisi lain mbok niti tidak tega melihatku terus-terusan disiksa oleh mereka. Akhirnya dengan berat hati mbok niti membantuku kabur dari rumah Marvel.
***
Dengan susah payah aku berlari dan mengendap-ngendap agar tidak ada yang melihatku. Karena ketakutanku aku tidak melihat kearah jalan ,hingga mobil berwarana hitam dari arah sepan menabrakku. Brakkkkkkk.
Pemilik mobil itu keluar dan menghampiriku.
"Mbak gak apa-apa?".
"Sa-saya gak apa-apa bu, pak".
"Atau mau dibawa kerumah sakit saja, takutnya ada yang terluka".
"Gak-gak usah bu, saya gak apa-apa".
"Beneran mbak, gak apa-apa saya khawatir lho takut kenapa-kenapa , apalagi mbak sedang mengandung".
"Kalau boleh saya minta tolong bawa saya pergi jauh dari sini, tolong saya".
Pasangan suami itu tampak kebingungan, mendengar permohonanku. Karena rasa iba akhirnya sang istri mengindahkan permohonanku. Mereka memintaku masuk kedalam mobil mereka. Walaupun begitu aku masih kebingungan dan cemas aku takut Marvel berhasil menemukanku. Sesekali aku menoleh kebelakang , untuk memastikan apakah Marvel mengikutiku. Yahhhh benar firasatku Marvel mencariku, kulihat mobil Marvel dibelakang. Saat mobil Marvel menyalio mobil yang aku tumpangi aku menunduk, dan syukurlah Marvel tidak melihat keberadaanku. Tapi tiba-tiba saja mobil yang aku tumpangi ngerem mendadak sampai-sampai keningku terbentur kursi yang berada di depanku. Ada apa ini (aku bergumam dalam hati) apakah Marvel menyadari jika keberadaanku?. Matilah aku. Aku mencoba mengintip, dan memastikam apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata mobil yang aku tumpangi hampir saja menabrak penyebrang jalan, untung saja. Terimakasih ya allah atas pertolonganmu.
Kami kembali melanjutkan perjalanan hingga akhirnya sampai di sebuah rumah yang cukup besar dan nampak asri, suasananya begitu nyaman hingga hatiku merasa bahagia.
"Mari masuk". (Ajakan bu Tania membuyarkan lamunanku).
Sebelumnya kami sudah saling berkenalan di dalam mobil dan sedikit bercerita-cerita.
Aku mengangguk dan mengikuti ajakan bu Tania.
"Bianka, kamu boleh tinggal dirumah kami".
"Bianka, kami tidak pernah berfikir buruk sedikitpun dengan orang lain apalagi dengan kamu. Emmmm kamu mau ya tinggal disini bersama kami".
"Whhhhh, terimakasih bu pak. Saya senang sekali".
"Kami juga senang Bianka, dengan adanya kamu disini saya gak akan ngerasa kesepian lagi kalau suami saya kerja keluar kota".
Aku beruntung sekali bertemu dengan mereka, mereka menerimaku dengan begitu baik.
***
Bu Tania dan Pak Burhan memperlakukanku dengan baik seperti layaknya adik kandung mereka. Bahkan secara rutin bu Tania memanggil dokter specialis kandungan kerumah untuk mengecek kandunganku. Nutrisiku dan bayiku sangat-sangat dijaga. Bu Tania begitu paham dan mengerti sekali tentang hal-hal mengenai kehamilan tapi sudah hampir seminggu aku disini aku tidak melihat anak kecil disini. Dengan ragu-ragu aku bertanya kepada bu Tania.
"Bu, maaf kalau Bianka lancang. Bolehkah Bianka bertanya bu?".
"Boleh dong Bianka, kamu mau tanya apa?".
"Bu, apakah dirumah ini hanya ada bu Tania dan pak Burhan saja?".
Mendengar pertanyaanku tiba-tiba raut wajah bu Tania terlihat murung, sehingga membuatku tidak enak hati.
"Bu, maafin Bianka jika kata-kata Bianka membuat ibu sedih".
"Gak apa-apa Bianka, ibu dan pak Burhan sudah menikah selama 7 tahun tapi kami berdua belum dikarunia seorang anak. Kami sudah berusaha kesana kemari tapi allah belum mempercayakan bidadari kecil untuk kami".
"Bu, ibu yang sabar ya. Orang sebaik ibu pasti doanya akan dikabulkan sama allah".
"Amin, makanya ibu senang dengan keberadaan kamu disini Bianka. Akhirnya hal yang kami nantikan selama 7 tahun akan terwujud, kami akan mendengar suara tangisan bayi dirumah ini".
Aku terharu mendengar ucapan bu Tania, aku ikut bahagia jika kehadiranku dan kehadiran bayiku bisa membuat orang lain bahagia.