
Semakin hari Saki semakin terbiasa dengan adanya Vera sebagai sekertarisnya, bahkan Saki mungkin telah lupa dengan Johan. Baru kali ini Saki begitu dekat dan merasa nyaman dengan wanita selain ibu dan bundanya. Mau secantik apapun wanita tersebut pasti Saki menolak, lain halnya dengan Vera. Bahkan jika dipandangannya tak tampak seorang Vera, ia akan kelabakan mencarinya.
"Dari mana saja kamu Vera, dari tadi saya mencari kamu!!!".Tanya Saki dengan nada kesal.
"Maaf, pak saya tadi habis ke toilet. Perut saya sakit bangettt".
"Kamu, kenapa??Saya antar kamu kerumah sakit sekarang".
"Tidak usah pak, saya hanya salah makan saja tadi pagi".
"Pokoknya saya antar kamu kerumah sakit".
"Apaan sih, dikit-dikit rumah sakit. Kan aku cuma diare aja hhhhfffthhhh" Gerutu Vera yang ternyata didengar oleh Saki.
"Baiklah, nikmati saja sakitmu". Saki membalas Vera dengan ketus lalu pergi begitu saja.
"Jika dia bukan boss ku sudah ku hajar dia dengan tanganku, dasar manusia robot....manusia es hhhhhuuuufffttthhh". Vera kembali menggurutu.
Saki yang mendengar ocehan Vera ,menyeringai geli.
***
Di dalam ruangan Saki duduk termenung, memikirkan soal ibu kandungnya yang belum menemui jalan keluar. Vera yang melihat wajah Saki begitu murung dan lesu mencoba menghiburnya dengan membuatkan segelas coklat panas.
"Tokkk...tokkk...tokkk".
"Masuk".
"Ini saya buatkan coklat panas untuk bapak".
"Saya tidak memintanya".
"Maaf pak, saya lihat bapak sedang murung seperti banyak sekali yang bapak pikirkan. Jadi saya berinisiatif membuatkan bapak coklat. Karena coklat dapat menenangkan hati saya ketika saya sedang gundah".
"Apakah muka saya terlihat sedang gundah?".
"Iya ,muka bapak terlihat jelek ehhh maksud saya bukan......".
"Apaaa...... jadi selama ini saya jelek".
"Ti-tidak pak maksud saya.....".
Saki menarik tangan Vera hingga tak sengaja Vera jatuh ketubuh Saki, dan wajah mereka saling bertatapan. Tanpa disadari bibir Saki telah ******* bibir ranum Vera.
Vera hanya memejamkan mata, dan sesekali membuka bibirnya, memberi celah untuk bibir Saki semakin mengeksplore bibirnya.
Saki yang kala itu tersadar atas kegiatannya itu, seketika berhenti dan membuat Vera sedikit kecewa.
Untuk beberapa detik mereka saling canggung dan merapikan diri masing-masing.
"Ekhemmmm ...Vera ,terimakasih coklatnya".
"Oh iya pak, kalau begitu saya permisi".
"Veraa, apakah perutmu sudah sembuh???".
"Kalau begitu malam ini kamu temani saya lembur!!!".
"Ta-tapi pak".
"Vera ini perintah".
"Ba-baik pak".
Vera menggerutu dalam hati"Dasar aneh sebentar baik, sebentar galak, sebentar perhatian ,sebentar jadi monster uhhhhhh sabar Vera".
***
Saki mencoba berkonsentrasi, agar pekerjaannya cepat selesai kasihan jika Vera harus pulang larut malam, pasti ayahnya khawatir.
Karena pekerjaan Vera sudah selesai Vera hanya bertugas menemani Saki yang tengah asik dengan laptopnya tanpa menghiraukan Vera.
Rasa kantuk mulai menghampiri Vera ,yang terduduk di sofa sambil memainkan ponsel miliknya. Vera mencari posisi ternyamannya untuk melepas kantuknya sembari menunggu Saki selesai.
Saki yang melihat Vera sudah terlelap disofa, merasa kasihan. Karena menemani dirinya ia harus pulang larut malam. Saki menggendong tubuh mungil Vera ketempat tidur milik Saki. Kebetulan didalam ruang kantor Saki terdapat ruang tidur yang digunakan Saki untuk beristirahat ataupun sekedar melepas penat.
Setelah selesai mengurus Vera, Saki kembali ke tempat duduknya dan sesegera mungkin menyelesaikan pekerjaannya karena jam sudah menunjukkan pukul 22.45 WIB.
Rasa kantuk pun mulai menghampiri Saki, tapi ia tetap berusaha menyelesaikan pekerjaannya. Setelah semua pekerjaannya selesai, Saki menengok kearah jam yang ternyata sudah menunjukkan pukul 00.37 WIB. Ia bergegas menemui Vera yang masih tertidur, tapi ketika Saki melihat wajah Vera yang tertidur pulas ia merasa kasihan jika harus membangunkannya. Mata Saki juga sudah terasa berat sekali, tak kuat rasanya jika ia harus menyetir dibawah kantuknya. Saki memutuskan untuk berbaring disebelah tubuh Vera. Saki dan Vera sama-sama terlelap.
***
Pagi harinya ketika terik matahari mulai memancarkan cahayanya, Vera mulai membuka matanya. Betapa ia terkejut dan bingung tubuhnya berada dipelukan tubuh Saki. Vera memandangi wajah Saki yang masih tertidur, dalam hatinya Vera berkata" Tidur aja ganteng banget, sayang galaknya gak ketulungan". Ia mencoba melepaskan diri dari pelukan Saki, tapi semakin ia meronta Saki semakin mengeratkan pelukannya.
"Emmmm jangan pergi guling ternyamanku".
"Pak ,Saki ini Vera".
Saki yang merasa aneh karena gulingnya bisa berbicara segera membuka matanya. Ia memang benar Vera yang ada dipelukkannya, tapi ia merasa begitu nyaman berada disamping Vera.
"Pak, boleh lepasin???".
Saki merasa canggung dan gugup terhadap Vera.
"Maaf Vera, saya tidak bermaksud kurang ajar padamu. Semalam saya selesai sangat larut dan saya tidak tega membangunkan kamu yang sangat pulas".
Vera hanya terdiam tak menjawab apapun.
"Tapi percayalah aku tidak melakukan apapun terhadapmu".
"Iya pak".
"Kalau begitu kamu mandilah dulu".
"Tapi Vera tidak bawa baju ganti pak".
"Tenanglah aku sudah menyuruh orangku untik membelikan pakaian untukmu dan membawakan sarapan untukmu".
Vera mengangguk dan segera menuju ke dalam kamar mandi. Dalam hati Vera "Emmm enak ya, jadi istri pak Saki, walaupun dia manusia robot tapi ternyata dia begitu baik....emmmm Vera-Vera , kamu itu bukan Cinderella".