
Sejak Vera menggantikan Johan, Saki mulai melupakan Johan. Karena hari-harinya dilaluinya bersama Vera.
Hingga ia lupa jika Johan akan kembali ke Indonesia siang ini. Handphone Saki sejak tadi berdering, ia tak ingin mengangkatnya tapi Johan tak henti-hentinya menelfon.
"Saki, lu kenapa lama banget angkatnya???".
"Sorry ,gw lagi fokus kerja. Lagian Lu kenapa sih nelfonin Mulu???".
"Lu, gak lupa kan kalo hari ini gw balik ke Indonesia???".
"Iya".
"Lagian gw udah kangen banget sama Vera, hehehehe".
"Terus maksud lu telfon gw apa???cuma mau ngoceh gak jelas???gak penting banget !!!".
"Sewot amat sih lu Sak!!!! Gini gw pulang ke Indonesia gak sendirian".
"ohhh....bokap gw ikut balik???".
"Enggak ,pokoknya ada deh lu pasti bakalan seneng. Dah ya gw tutup dulu, pesawat gw udah mau berangkat".
Selepas Johan mengakhiri panggilannya, Saki menjadi gelisah memikirkan perkataan Johan disatu sisi Saki juga memikirkan perkataan Johan jika ia merindukan Vera. Hatinya sangat tidak suka mendengar hal itu.
Saki berbicara sendiri di dalam ruang kerjanya
" Kenapaaaa, kenapa aku merasa tidak suka Johan bersikap seperti itu terhadap Vera. Apa mungkin aku menyukai Vera??? Aaaaakkkhhh ini tidak benar. Lagi pula Vera bukan seleraku".
Aktivitas Saki dihentikan oleh suara ketukan pintu, yang ternyata berasal dari Vera.
"Tok...tokkk...tokkk".
"Masuk".
"Permisi pak, hmmm kenapa pak Saki tampak gugup dan berkeringat??? Padahal AC nya tidak sedang mati".
Vera mencoba mengotak-atik remot AC.
Tiba-tiba Saki menarik tangan Vera dan meletakkannya di dadanya, benar saja detak jantung Saki berdetak lebih cepat.
Dengan lugunya Vera bertanya.
"Bapak deg-degan???".
"Ada perlu apa Vera, saya sedang sibuk jangan mengganggu saya".
"Tadi pak Johan menelfon pak, kalau ia akan sudah sampai di bandara, ia sedang menuju ke mari".
"Kenapa cepat sekali???".
"Saya tidak tahu pak".
"Saya tidak tanya kamu".
Vera merasakan ada yang aneh dengan bosnya, daripada ia kena amarahnya mending ia cepat-cepat ijin keluar ruangan.
"Baiklah pak kalau begitu, Vera kembali bekerja dan ini berkas yang harus bapak tanda tangani".
"Ya, letakkan disitu".
Vera bergegas meninggalkan ruang kerja Saki. Baru beberapa hari Saki bersikap baik padanya, tapi hari ini sudah berbeda lagi sikapnya. Bahkan bibir Saki belum bisa Vera lupakan, setiap akan tidur Vera selalu terbayang-bayang hari itu. Hatinya bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi dengan bossnya itu. Tapi Vera tak terlalu ambil pusing ,karena tabiat bossnya memang seperti itu.
***
Tepat pukul 13:00 jam makan siang kantor, Johan telah sampai dikantor. Ia langsung menuju ruang kerja Saki.
" Hyyy brotherrr, gw punya kejutan buat lu".
"Apa???".
"Santai dong, lu pasti suka. Lu liat kearah pintu jangan berkedip sedikitpun".
(Apasih yang sebenarnya Johan lakukan)
"Taraaaaaaaaa".
Dari balik pintu muncul, sesosok wanita cantik dan sexy wanita itu tak lain adalah Hana. Wanita yang mengejar-ngejar Saki ketika Saki berada di Jerman.
Langkah Hana, langsung tertuju kepada Saki dengan penuh rindu Hana memeluk dan mencium pipi Saki.
Saki tak memberi penolakan terhadap apa yang Hana lakukan karena ia menghargai kedatangan Hana ,tapi dalam hatinya ia akan memukul, menendang bahkan membunuh Johan.
Saki tak sedikitpun mengharapkan kehadiran Hana disini, malah ia takut kehadiran Hana akan merusak hubungan baik yang telah ia jalin dengan Vera.