
Tanpa aku dan Marvel sadari, aku tidur berada di pelukan Marvel. Sebenarnya aku sudah bangun sejak tadi tapi ketika aku ingin beranjak pergi Marvel makin mempererat pelukannya bahkan Marvel mendaratkan satu ciuman manis di keningku. Entahlah aku merasa nyaman untuk saat ini, tapi entahlah apa yang akan terjadi jika Marvel tau kalau wanita yang berada dalam dekapannya adalah aku.
"Vel....lepasin aku".
Aku sedikit menggerakkan tubuhku mencoba melepaskan diri dari pelukan Marvel. Perlahan-lahan Marvel mulai membuka matanya dan mengembalikan kesadarnnya. Ketika matanya mulai jelas melihat kearahku Marvel agak terkejut jika wanita yang ia peluk adalah aku sontak saja ia langsung melepaskan pelukannya. Marvel mencoba mengingat kejadian semalam dan sikapnya menjadi salah tingkah dan kikuk. Aku hanya diam melihat kelakuan Marvel.
"Emmmm aku mau mandi". Spontan Marvel sembari beranjak dari tempat tidur.
Aku masih terduduk di tempat tidur sembari menutupi tubuhku dengan bedcover, setelah Marvel memasuki kamar mandi aku mulai memunguti satu persatu pakaianku dan mengenakannya kembali. Sebelum aku kembali ke kamarku aku merapikan tempat tidur Marvel serapi mungkin lalu kembali ke kamarku untuk membersihkan diri.
***
Selesai membersihkan diri aku segera menuju kedapur untuk bantu-bantu mbok Niti. Tapi tiba-tiba perutku terasa kram dan sakit sekali sehingga tubuhku jatuh ke lantai. Mbok Niti yang panik segera memanggil Marvel di kamarnya. Marvel turun dan melihat keadaanku. Spontan ia menggendongku ke kamar dan membaringkan tubuhku keranjang.
"Kamu kenapa?".
"Perutku tiba-tiba sakit".
"Ehhhh nyusahin banget sih, aku bawa ke dokter ya".
"Gak usah biasanya ntar ilang sendiri".
Mbok Niti membawakan minyak gosok dan memberikannya kepada Marvel.
"Den, ini minyak gosok coba di olesin ke perutya non Bianka".
"Makasih ya mbok".
"Iya den, kalau begitu saya kembali ke dapur ya den".
"Oiya mbok nanti bawain Bianka sarapan anterin kekamarnya dan pastiin kalau dia makan makanannya".
"Baik den".
"Bawa sini minyaknya aku bisa lakuin sendiri".
"Udah kamu diem aja".
"Ta-tapi".
"Udah nurut aja, jangan bikin aku marah".
Entah kenapa tiba-tiba aja Marvel bersikap baik padaku tidak seperti biasanya dan anehnya sentuhan tangan Marvel membuat perutku baikan dengan cepat. Aku lihat sorot mata Marvel dan ekspresi mukanya ketika mengelus minyak gosok ke perutku ia tersenyum-senyum kecil. Aku tidak pernah meliha Marvel bersikap semanis ini.
"Beneran? ntar kamu jatuh lagi".
"Kenapa emangnya kamu khawatir?".
" Gak lah aku cuma gak mau kalau kamu terus-terusan nyusahin aku".
Di tengah-tengah aku dan Marvel yang sedang berdebat mbok Niti datang membawakanku sarapan.
"Tuhhh makan jangan sakit lagi".
"Vel... aku boleh minta sesuatu?".
"Apa?".
"Vel...aku pengen kerumah bu Lastri ijinin aku ya".
"Gak...aku bilang gak ya gak".
"Vel, aku mohon!!!".
Sayangnya telfon Marvel berdering dan ia mengangkat telfonnya. Aku tidak sengaja mendengar obrolan Marvel yang sedang menelfon dan ia menyebut nama Husein. Jadi selama ini Marvel masih berhubungan dengan om Husein apa om Husein tau keberadaanku.
"Vel.... apa om Husein yang melfonmu?".
"Kamu menguping?".
"Jawab vel!".
"Bukan urusanmu, bukankah sudah kukatakan aku tidak suka kamu ikut campur urusanku".
"Aku berhak vel, aku ini istrimu".
"Kamu cuma istri sirihku dan kalau bukan karena anak ini dan janjiku pada Pino aku gak sudi nikahin kamu".
"Hahhhh Pino?".
" Kenapa kamu kaget denger nama Pino?, udahlah aku mau pergi".
"Kamu mau kemana vel,?".
"Sudah kubilang jangan ikut campur urusanku dan ingat jangan pernah coba-coba keluar dari rumah ini atau kamu tau akibatnya.