Breath Of Love

Breath Of Love
23. Koma



Bu Tania Pov


"Dok, bagaimana keadaan Bianka??? apakah ada kemajuan dok?".


"Maaf bu, untuk saat ini belum ada pasien masih belum mau merespon ketika diajak berinteraksi. Seperti ada trauma yang mendalam di hatinya, yang memberikan tekanan pada saraf-saraf otaknya. Sehingga pasien sulit untuk merasakan rangsangan yang kami berikan".


"Lalu bagaimana dok, apakah tidak ada cara lain untuk menyembuhkan Bianka dok?".


"Kita hanya bisa menunggu bu, sampai pasien mau untuk membuka matanya".


Aku benar-benar tidak menyangka jika kondisi Bianka sungguh-sungguh memprihatinkan. Aku hanya bisa berdoa semoga Tuhan masih melindungi Bianka.


"Dok, kedatangan saya menemui dokter selain menanyakan mengenai perkembangan Bianka saya juga ingin minta tolong dok".


"Apa bu, sebisa mungkin kami disini akan membantu".


"Saya dan suami saya akan pindah untuk sementara waktu ke Jerman bu, karena bisnis suami saya yang mengharuskan kami pindah kesana, maka dari itu saya dan suami saya meminta bantuan pihak rumah sakit untuk menjaga Bianka hingga Bianka pulih kembali".


"Lalu bagaimana dengan bayi yang dilahirkan pasien bu?".


"Bayinya akan ikut kami Dok. Dokter tidak usah khawatir untuk biaya rumah sakit kami akan menanggung sepenuhnya hingga Bianka benar-benar pulih kembali. Ini kartu nama suami saya dok, disana tertera nomor suami saya jika ada apa-apa dengan Bianka dokter bisa menghubungi nomor tersebut".


"Baik bu, kami akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan pasien".


"Terimakasih banyak dok. Oh.. ya dok jika nanti Biaka sudah sadar dari komanya tolong berikan amplop ini untuk Bianka ya dok".


"Baik bu, nanti akan saya sampaikan jika pasien sudah sadar bu".


"Sama-sama bu".


Setelqh cukup lama berbincang dengan dokter Nadira, aku memutuskan untuk menemui Bianka dan berpamitan. Walaupun Bianka tidak merespon kehadiranku, tapi aku yakin Bianka bisa mendengarku.


"Bianka, maafin ibu ya nak bukan ibu bermaksud meninggalkanmu disaat kondisimu seperti sekarang. Ibu juga tidak bermaksud memisahkanmu dengan putramu. Tapi untuk sementara waktu biarkan putramu ikut dengan kami, kami akan merawatnya dengan sebaik-baiknya. Kami akan menyayangi putramu selayaknya anak kandung kami sendiri. Semoga ketika kamu sadar nanti kamu bisa mengerti keadaan ini Bianka".


Bianka Pov


Walaupun aku tidak bisa merespon ucapan bu Tania, tapi sesungguhnya aku bisa merasakan betapa sedihnya aku. Bahkan belum sekalipun aku melihat wajah putraku. Tapi aku yakin ini sudah jalan takdirku, dan aku percaya bu Tania dan pak Burhan akan menjaga dan merawat putraku dengan sebaik mungkin. Setidaknya aku lega karena putraku dirawat oleh orang tua yang baik.


Hari-hari ku lalui entah berapa lama aku terbaring dirumah sakit ini, sampai suatu hari aku melihat cahaya yang begitu indah menghampiriku. Dari cahaya itu aku bisa melihat wajah-wajah dari masa laluku tak terkecuali wajah Marvel pun ada disana. Hingga akhirnya aku tersadar dari komaku.


Suster yang berada disebelahkupun terkejut melihatku membuka mata, ia segera memanggil dokter untuk memeriksa keadaanku. Dengan seksama dokter memeriksa keadaanku.


"Ibu, apa yang ibu rasakan saat ini".


"Pusing dok".


" Tidak apa-apa rasa pusing dikepala ibu akan hilang dengan sendirinya. Sekarang ibu istirahat dulu jangan terlalu banyak bergerak".


"Baik dok".


Tiba-tiba kepalaku terasa begitu sakit, sakit yang sungguh sakit hingga aku tak tahan lagi untuk menahannya. Aku berteriak sehebat-hebatnya aku tidak dapat mengontrol emosiku aku meracau tak karuan. Hingga akhirnya dokter menyuntikkanku obat penenang.