Breath Of Love

Breath Of Love
29. Kekhawatiran bu Tania



Tak biasanya bu Tania begitu cemas, ia mondar-mandir kesana-kemari sembari menggenggam kuat telfon genggam miliknya.


Pak Burhan yang sedang duduk membaca koranpun sedikit terganggu dengan aktivitas istrinya.


"Bun..., kenapa sih mondar-mandir terus ayah jadi gak fokus baca korannya".


"Yah, gimana ini".


"Apanya yang gimana, tiba-tiba kok gimana? Bunda tu kenapa, ada apa jelasin ke ayah biar ayah mengerti".


"Tadi, dokter Nadira telfon bunda yah".


"Lalu....???".


"Emmmm....keadaan Bianka lagi gak stabil yah malah bisa dibilang makin parah dibanding sebelumnya. Ayah apa kita pulang aja ke indo???".


"Bun...ayah rasa kita perlu untuk mempertemukan Bianka dengan Saki. Siapa tau dengan bertemunya mereka bisa sedikit mengobati Bianka".


"Tapi yah, bunda takut kalau Saki tau kebenarannya dia akan marah sama kita yah, bunda juga gak mau kehilangan Saki yah. Dari kecil Saki bunda yang rawat pake tangan bunda, bunda gak siap yah jika harus kehilangan Saki".


"Bun, kita gak akan kehilangan Saki. Saki anak kita sampai kapan pun. Saki pasti mengerti bun".


"Tapi yahhh...., bunda gak tega pasti sangat kecewa dan marah walaupun Saki tidak lahir dari rahim bunda tapi......"


Saki yang baru datang terkejut mendengar percakapan ayah dan bundanya.


"Maksud bunda Saki tidak lahir dari rahim bunda apa bun...???".


Pak Burhan dan bu Tania tercengang mendengar suara lantang, dan suara itu adalah suara Saki putranya.


"Jawab bun, apa maksud percakapan ayah dan bunda??? Maksud bunda Saki bukan anak kandung ayah dan bunda.....IYAAAAAA.....".


Bu Tania hanya bisa menangis, hatinya hancur mendengar pertanyaan yang dilontarkan putra kesayangannya.


"Saki, tenanglah nak kita bicarakan ini baik-baik. Kamu duduk dulu ayah akan ceritakan semuanya sama kamu".


Saki menuruti permintaan ayahnya.


Bu Tania yang sejak tadi hanya bisa menangis tak kuasa memandang wajah putranya.


"Saki, maafkan ayah dan bunda. Kami harus berkata yang sejujurnya. Kenyataan yang pastinya membuat hatimu terluka, dan mungkin kenyataan itu membuatmu membenci ayah dan bundamu ini. Dua puluh tahun yang lalu kami hampir menabrak perempuan hamil ketika kami hendak pulang kerumah. Dan wanita itu adalah ibu kandungmu yang bernama Bianka. Pada saat kami akan membawa ibumu kerumah sakit, ia tidak berkenan. Ia meminta kami untuk membawanya pergi jauh, entah apa yang sedang ibumu alami kami juga tidak tau. Akhirnya ayah dan bunda sepakat untuk membawa ibumu kerumah kami. Kami merawat ibumu dengan baik, hingga akhirnya waktu dimana kamu lahir. Ibumu mengalami komplikasi ketika akan melahirkanmu. Kamu lahir dengan selamat, tetapi ibumu mengalami koma. Dan sayangnya disaat ibumu masih terbaring koma dirumah sakit ayah dan bunda harus pindah ke Jerman. Akhirnya kami memutuskan untuk membawamu ikut serta bersama kami. Meski begitu ayah sudah meminta dokter Nadira untuk merawat ibumu dengan sebaik mungkin, tapi takdir berkata lain. Setelah ibumu sadar, psikisnya terganggu ibumu mengalami depresi.Dokter meminta untuk mempertemukan ibumu dengan anggota keluarganya, tapi ayah dan bunda serta dokter Nadira tidak dapat menemukan satupun orang yang mengenal ibumu. Bahkan ayah sudah mengerahkan anak buah ayah untuk mencari orang-orang dimasalalu atau keluarga ibumu, tapi hasilnya nihil. Ayah rasa cuma kamu satu-satunya orang yang memiliki hubungan darah dengannya nak....ayah rasa kamu cukup dewasa untuk mengerti semua ini. Semua yang ayah dan bunda lakukan semua demi kebaikanmu. Ayah dan bunda sangat menyayangimu".


Saki yang mendengar penjelasan dari ayahnya seketika merasanya tubuhnya lemas dan dadanya begitu sesak. Ia pun duduk bersimpu dihadapan ayah dan bundanya. Untuk pertama kalinya setelah dewasa ia menangis seperti anak kecil yang tak dibelikan mainan dihadapan ayah dan bundanya. Bu Tania memeluk erat tubuh Saki begitupun dengan pak Burhan.


"Saki...dengerin bunda nak...sampai kapanpun Saki tetap anak bunda, Saki tetap kesayangan bunda".


***


"Kepalaku begitu pening, jika benar ia adalah ibuku aku harus menemuinya. Tapi apa yang harus aku lakukan jika sudah bertemu dengannya, bahkan wajahnya saja aku belum pernah melihatnya.


Apa yang sebenarnya terjadi pada ibuku sehingga ia harus mengalami depresi????"


Beribu-ribu pertanyaan muncul di kepala Saki, ia mengecek jadwal penerbangan pagi ke Indonesia. Sebelumnya ia menelfon Johan untuk ikut serta dengannya. Dan menyerahnya tugas kantor sementara kepada Danish. Danish juga merupakan salah satu orang kepercayaan Saki. Telfon Saki sudah terhubung dengan Johan.


"Halllo...Jo loe dimana?".


"Jo...loe besok pagi ikut gue pulang ke Indo?".


"Whattt......???? Gue gak salah denger???".


"Iya gue ada urusan yang harus gue selesaikan di Indo".


" Tetus kantor???".


"Semua urusan kantor udah gue serahin ke danish. Johan ini perintah".


"****......bisa apa gue kalo bos udah merintah".


"Oke loe siapin tiket penerbangan besok"


tuttttt....tuttt......tutttttt.


Dengan sepihak Saki menutup telfonnya ,yang membuat Johan semakin menggerutu kesal.


***


Keesokan paginya bu Tania yang tengah menyiapkan sarapan seperti biasanya dan sang suami yang menikmati kopi buatan istrinya terkejut melihat putranya sudah rapih. Memang setiap pagi Saki selalu berdandan rapih untuk pergi ke kantor tapi pagi ini Saki membawa koper bajunya. Dan seketika membuat bu Tania menangis. Saki yang melihat bundanya menangis langsung menghampiri dan memeluk bundanya.


"Bun...bunda kenapa menangis???".


"Saki mau tinggalin bunda".


"Enggak bun, Saki gak akan pernah ninggalin bunda. Bun Saki ijin ya untuk pulang ke Indo nemuin ibu Bianka, boleh ya bunda boleh ya yah".


Bu Tania yang mendengar ucapan anaknya langsung menyeka air matanya dan mengecup kening anaknya.


"Saki ayah bangga nak, memiliki anak sepertimu. Terimakasih untuk tidak membenci kami".


Mereka bertiga saling berpelukan hangat. Johan yang sudah datang untuk menjemput Saki, terharu melihat drama keluarga ini.


"Wahhhh...wahhh....wahhhh Johan juga pengen dipeluk".


"Ngapain loe".


"Ehhhh nak Johan ikut juga?".


"Biasa om perintah Bos".


"Hahahaha baguslah kalau begitu om jadi tidak terlalu khawatir karena Saki tidak sendirian".


"Nak Johan sarapan dulu".


"Dengan senang hati tante".


Mereka menikmati sarapan dengan lahap, sebelum berangkat ke bandara Saki dan Johan berpamitan dengan bu Tania dan pak Burhan.


Sekali lagi dengan berat hati bu Tania memeluk putra kesayangannya yang selama ini tidak pernah pergi jauh darinya. Tapi ini demi kebaikan Bianka ibu Saki. Tak lupa pak Burhan memberikan alamat rumahnya yang berada di Indonesia agar Saki dan Johan bisa tinggal di sana.