BASRI

BASRI
Weekend



Beberapa bulan kemudian


" Sensen... sini lagi dong " teriak Rania memanggil Sheyna yang sudah berlari menjauh.


" Stop... udah cukup Ran, gue gak mau jadi badut....!!! " teriak Sheyna sambil berlari.


Hari ini adalah weekend, jadi mereka berempat berkumpul di rumah Rania kebetulan keluarga Rania sedang tidak ada di rumah.


Beberapa bulan berteman dengan Rania membuat Sheyna tahu sifat asli Rania. Bisa di katakan selain barbar Rania juga centil, coba kalian bayangkan hampir setiap hari Sheyna menjadi kelinci percobaan Rania. Mulai dari make up menor sampai make up ondel ondel semuanya sudah pernah Sheyna Terima.


" Sensen balik sini, gue ngambek ya " ancam Rania.


" Udah deh Ran jangan suka maksa " ucap Alvaro membela Sheyna.


" Tahu nih, ntar Sheyna gak mau lagi temenan sama Lo baru tau rasa " ancam Iqbal balik.


" Dih... main ngancem " ambek Rania, duduk di sofa tempat Alvaro dan Iqbal duduk.


" Bener kata Iqbal, kasihan Sheyna jadi kelinci percobaan mulu " tambah Alvaro lagi.


" Iya deh iya maaf, gue salah " Rania mengalah akhirnya. Lalu mereka pun mengobrol ringan, sambil bercanda.


" Eeee Sheyna tadi kemana kok gak balik ke sini " tanya Iqbal menyadari Sheyna tidak kembali ke tempat mereka.


" Hayooo Lo jangan jangan Sheyna beneran ngambek " ucap Alvaro menakut nakuti Rania.


" Iiihhh Al apaan deh, coba gue cari " Rania berdiri, lalu berjalan ke arah lari Sheyna tadi.


Rania mencari ke taman belakang, karena seingatnya Sheyna tadi berlari ke arah sana.


" Sensen... Lo dimana? " teriak Rania.


" Jangan ngambek dong, kan gue becanda, janji deh gak lagi dandani Lo " ucap Rania mulai khawatir.


Rania sudah memperhatikan sekeliling taman tapi tidak ada tanda tanda Sheyna berada. Rania berjalan lagi menuju dapur.


" Sen....aaaaaaaa.... " teriak Rania saat tiba tiba Sheyna berdiri di hadapannya. Sheyna langsung membekap mulut Rania.


" Apaan sih Ran teriak teriak "


" Lo sih ngagetin gue "


" Lagian ngapain Lo nyariin gue, gue ke toilet tadi cuci muka " jelas Sheyna.


" Lo sih ngilang, gak bilang bilang lagi, gue kira di culik banci komplek " ledek Rania.


" Sialan Lo" Sheyna menoyor kepala Rania pelan.


" Hehehhh canda Sen "


" Udah yok balik ke dalam " Sheyna menarik pergelangan tangan Rania. Tanpa sengaja Rania melihat bercak merah di tangan Sheyna.


" Sen tangan Lo kenapa? " tanya Rania penasaran.


" Kenapa? " Rania menunjuk tangan Sheyna yang ada bercak merahnya.


Sheyna tertegun sejenak, namun dengan cepat dia merubah raut wajahnya seperti biasa.


" Ohh... itu... ini tadi bekas lipstik, belum kehapus " Sheyna mengelap bercak merah tersebut menggunakan tisu yang ada di pantry.


" Perasaan tad... "


" Udah yuk masuk, ntar Alvaro sama Iqbal nyariin lagi " Sheyna langsung mengalihkan perhatian Rania, dia tidak ingin Rania curiga.


Merekapun kembali ke tempat Alvaro dan Iqbal berada.


" Dari mana aja kalian lama banget " tanya Iqbal.


" Iya nih gue juga, udah hampir sore kita belum makan nih " tambah Alvaro.


" Di rumah Lo gak ada makanan Ran? " timpal Iqbal.


Bugghhh...


Rania melempar bantal sofa dan mengenai wajah Iqbal.


" Lo kayak baru sekali ke rumah gue Bal, kalian tahu lah " Raut wajah Rania langsung berubah murung.


Ya mungkin sekilas Rania anak yang sempurna, memiliki keluarga yang utuh, rumah mewah, semua yang dia inginkan bisa ia dapat, tapi itu hanya terlihat sekilas. Namun jika kalian melihat secara keseluruhan, Rania adalah anak yang kesepian, orang tuanya sibuk bekerja, dia anak tunggal, dan tidak ada pembantu seperti mbak Siti di rumahnya yang bisa menemaninya. Pembantunya hanya melakukan pekerjaan rumah setelah itu dia pulang, jadi Rania selalu sendirian.


" Udah kita cari makan di luar aja yuk, sekalian cari udara segar " ucap Alvaro mencairkan suasana yang mulai canggung.


...***...


Setelah seharian menghabiskan waktu bersama sahabatnya Sheyna kembali ke kamar tercintanya dan berkutat dengan buku pelajarannya.


Hari yang sungguh melelahkan dan menyenangkan. Setelah menghabiskan banyak waktu di rumah Raina, berlanjut mencari makan di tepi pantai, dan berakhir dengan melihat matahari terbenam.


Flashback On


" Mau makan dimana? " tanya Iqbal sambil fokus menyetir mobil.


" Kemana ya enaknya " Rania tampak berpikir.


" Cari makan yang deket aja, perut gue udah keroncongan nih " usul Alvaro.


" Eemmm guys, gue pengen main pantai deh " ucap Sheyna tiba tiba membuat ketiga remaja menatap Sheyna dengan tatapan yang sulit di artikan membuat Sheyna kikuk.


" Emm... gak mesti sek... "


" Bal cari makan pinggir pantai aja gih " ucap Rania membuat Sheyna membelalakan matanya.


" Iya Bal, kita juga udah lama gak ke pantai kan " tambah Alvaro.


" Ok Siaaapp... " Iqbal menambah kecepatan mobilnya.


" Eee guys... maksud gue gak hari ini juga " ucap Sheyna bingung.


Jika jarang mereka kepantai hanya beberapa menit masih bisa di maklumi, tapi butuh waktu 1 jam untuk kesana, dan mereka dengan entengnya setuju.


" Udah terlanjur di Terima usul Lo " ucap Rania tersenyum.


Ya apa boleh buat, sebenarnya memang Sheyna sangat ingin ke pantai, entahlah tiba tiba saja bayangan suara ombak, di tambah angin pantai terlintas di pikirannya.


Satu jam berlalu mereka sudah tiba di pantai, suasana yang tenang mampu menyejukkan hati Sheyna.


" Udah nyampe nih, yookkk makan dulu selesai makan baru main pantai " usul Alvaro yang di setujui oleh mereka.


Selesai makan mereka langsung berlarian di tepi pantai, bermain air,berfoto ria dan berakhir duduk di tepi pantai sambil menantikan Sunset tiba.Keindahan langit di sore hari membuat mereka seakan terbius, dan tanpa sadar hari sudah mulai gelap.


Flashback Off


Sheyna tersenyum sambil melihat layar handphone nya yang menampilkan wajah ceria mereka.Sebuah kenangan yang mungkin tidak akan terulang lagi, walaupun itu akan terulang maka kesannya tidak akan sama lagi.


Saat asik menscroll layar handphone nya tiba tiba cairan merah menetes ke handphone nya, Sheyna langsung mengambil tisu untuk mengelap hidungnya yang di aliri darah.


Sheyna sudah terbiasa, jadi dia tidak akan panik ketika dia mimisan. Dengan santainya Sheyna mengambil kotak obat di laci meja belajarnya dan meminumnnya. Setelah meminum obatnya Sheyna membereskan buku bukunya, lalu menyumbat hidungnya dengan tisu agar darahnya berhenti mengalir.


Sheyna membaringkan tubuhnya ke atas kasur, dan menyelimuti tubuhnya, karena kepalanya mulai terasa sakit. Sheyna memejamkan matanya namun kepalanya masih terasa sakit. Sheyna tahu ia akan berakhir hilang kesadaran jadi dia mengambil posisi seperti tertidur, agar Mama dan mbak Siti tidak khawatir dengannya.


" Ya Allah Nana gak berharap banyak, Nana cuma mau bisa terus kuat melawan penyakit Nana, agar keluarga dan sahabat Nana gak khawatir. " Doa Sheyna dalam hati, sebelum akhirnya ia hilang kesadaran.


...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...