BASRI

BASRI
Berdebat



Rania menceritakan semua kejadian dimana Iqbal yang mengklaim bahwa Rania adalah miliknya, dan tiba tiba menghilang ketika ia ingin mengkonfirmasinya.


Mendengar cerita Rania membuat Sheyna dan Billa menahan tawa, sebab baru saja mereka menertawakan nasib pacar Iqbal sebelum pergi ke kafe dan sekarang mereka mendapati fakta bahwa Rania lah yang menjadi pacar Iqbal.


"Kalian berdua kenapa ? Emang ada yang lucu ya ?" tanya Rania heran.


Sheyna dan Billa saling tatap lalu mereka tidak mampu lagi menahan tawanya, mereka tertawa membuat Rania semakin bingung.


"Iiihh kalian kok nyebelin sih, gue lagi bingung ini " rajuk Rania.


"Hahahh...sorry Ran gak gitu, tapi bwahahahah " Billa semakin tertawa.


"Jangan salah paham Ran, kita gak nertawain Lo tapi nasib Lo hehehehh " tambah Sheyna sambil terkekeh.


"Iya sih nasib gue emang selucu itu, dan miris ya, ketika cowok yang gue suka mengklaim gue milikinya tapi gue ragu karena dia tiba tiba menghilang gitu aja, huffftttt" Ujar Rania lesu.


Sheyna dan Billa yang melihat raut sedih di wajah Rania langsung menghentikan tawanya.


"Sorry Ran maksud kita gak gitu " ujar Sheyna.


"Tapi emang gue semenyedihkan itu Sen, gue gak seberuntung Lo yang bisa jadi adik nya Iqbal dan jadi pacarnya Alvaro, gue gak seberuntung Lo Bil yang punya mama yang baik, gue...hikksss..."


Rania tiba tiba menangis, membuat Sheyna dan Billa merasa bersalah.


"Ran maaf kita gak maksud gitu, maafin kita ya " Billa dan Sheyna memeluk Rania.


Sheyna tahu betapa rapuhnya Rania, namun kita tidak bisa menilai seseorang dari apa yang kita lihat saja, karena setiap manusia memiliki rahasia dan masalahnya masing masing.


"Maafin kita ya, nanti gue coba tanyain Iqbal, Lo tenang aja kita pasti bantuin Lo kok Ran, kalau sampai Iqbal nyakitin Lo bakal gue pecat dia calon kakak gue " Ujar Sheyna berhasil membuat Rania terkekeh.


"Aaa...Bisa aja si Sensen heheh" lalu suasana kembali normal, mereka saling bercerita seperti biasa.


Sheyna sedikit merasa bersalah karena dirinyalah penyebab Iqbal meninggalkan Rania sendirian di rumahnya,andai Sheyna tahu ia akan menolak Iqbal untuk menjemputnya di rumah sakit tadi pagi.


"Oh iya Sen itu kepala kamu kenapa ?" tanya Rania.


"Iya Sen gue dari tadi mau nanya itu tapi lupa mulu " tambah Billa.


"Oh ini cuma luka biasa, kemarin gue gak sengaja kepleset di toilet, mangkanya kemarin gue pulang duluan " bohong Sheyna, namun Rania dan Billa hanya percaya saja.


Lalu Sheyna menanyakan bagaimana bisa Iqbal menyatakan cintanya kepada Rania, secara Iqbal itu cowok terpayah yang Sheyna kenal, dia payah dalam hal percintaan.


Rania pun menceritakan semuanya mulai dari orang yang menerornya beberapa tahun terakhir kembali, hingga kejadian yang membuatnya sangat trauma.


Sheyna dan Billa ikut prihatin dengan apa yang Rania ceritakan, namun Rania tidak menyebutkan nama pelakunya sehingga membuat Sheyna sangat penasaran namun ia tahan karena setelah pulang dari sini dia akan bertanya kepada Iqbal, karena di cerita Rania Iqbal banyak terlibat.


Mereka terus mendengarkan cerita Rania sambil menguatkannya.


***


Langit jingga menyapa, Sheyna baru selesai dengan rutinitas sorenya. Setelah selesai Rania langsung menuju lantai bawah berniat menanyakan perkara Rania.


Namun saat tiba di lantai bawah Sheyna tidak melihat tanda tanda keberadaan Iqbal. Sheyna langsung berbelok arah menuju dapur untuk mengambil beberapa cemilan untuk teman nontonnya nanti.


"Hehehh...kamu bisa aja deh, aku kan jadi malu "


Saat akan membuka lemari penyimpanan Sheyna mendengar suara seseorang yang tengah bermanja manja, karena penasaran Sheyna lagi lagi mengurungkan niatnya untuk mengambil cemilan, dan langsung mengintip ke arah sumber suara.


"Iiiiihhh...kamu sih jauh, aku kan kangen "


Sheyna melihat mbak Siti tengah vidio call dengan teman cowoknya atau mungkin pacarnya, tiba tiba ide jahil terlintas di otak Sheyna, ia tersenyum licik.


"Doooorrrrr...." Sheyna mengagetkan mbak Siti sehingga ponsel mbak Siti terjatuh, dengan sigap Sheyna langsung mengambil ponsel mbak Siti.


"Nana kamu apaan deh " rajuk mbak Siti namun tidak di hiraukan oleh Sheyna.


Sheyna malah menatap layar ponsel dan menyapa orang tersebut.


"Haiii kak, kakak pacarnya mbak Siti ya ?" tanya Sheyna sambil terus menghindar dari mbak Siti yang berusaha merebut ponselnya, sedangkan orang di sebrang sana hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Waaahhhh mbak Siti punya pacar" Ledek Sheyna pada mbak Siti yang sudah cemberut.


"Nama kakak siapa, kenal mbak Siti dimana, kok gak pernah main ke rumah " tanya Sheyna beruntun membuat pria tersebut terkekeh.


Namun saat Sheyna akan melontarkan pertanyaan lagi, mbak Siti langsung merebut ponselnya dari tangan Sheyna, dan memutuskan panggilannya.


"Iiihhh...mbak orang Nana mau kenalan sama calon kakak Ipar "


"Udah deh sana gak usah usil " ambek mbak Siti langsung masuk ke dalam rumah.


"Diiihhh ngambek..." Sheyna berusaha membujuk mbak Siti dengan menoel pipi tembem mbak Siti.


"Apa sih Na, males mbak " Mbak Siti langsung masuk ke kamarnya dan menutup pintunya.


Sheyna melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda tadi, ia mengambil cemilan dan membawanya ke depan tv.


Saat asik menikmati film kesukaannya, tiba tiba suara bel rumahnya berbunyi.


"Siapa sih ganggu aja" dumel Sheyna namun ia tetap melangkah menuju pintu depan.


"Haiii..." Sapa Julian yang tengah berdiri di depan pintu rumahnya.


Sheyna tampak terkejut, bukan nya tadi siang mereka sudah bertemu, dan untuk apa lagi Julian kembali ke rumahnya.


Sheyna celingak celinguk memastikan bahwa tidak ada Iqbal.


"Jul, Lo ngapain ke sini lagi ? Lo tau Iqbal gak suka banget ada Lo di sini " Ujar Sheyna.


"Lo gak mau ngizinin gue masuk ?" tanya Julian. Sheyna tampak berpikir.


"Emmm...di sini aja ya, di dalam gak ada orang " bohong Sheyna.


"Ok...gak masalah" Merekapun duduk di kursi teras Sheyna.


Beberapa menit tidak ada perbincangan, Sheyna bingung harus bersikap seperti apa, di satu sisi ia merindukan sahabatnya di satu sisi ia takut ini akan menjadi masalah lagi dengan Iqbal.


"Na...Lo gak kangen gue ?" tanya Julian.


Sheyna menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan berucap "Eeemmm...gue kangen tapi kondisinya sekarang beda Jul " jawab Sheyna jujur, ia tidak ingin Julian salah faham.


"Karena sekarang Lo udah punya pacar, dan punya kakak tiri ?" Sheyna hanya mengangguk.


"Oke gue paham, tapi bukan berarti kita gak bisa temenan lagi kan Na, gue balik ke sini demi Lo " ujar Julian membuat Sheyna shok.


"Maksud Lo demi gue apa Jul ? Gue gak pernah minta Lo buat balik ke sini, gue seneng punya temen yang bisa sekolah di luar negeri " Julian terkekeh.


"Na...Lo sepolos itu atau emang pura pura polos " Sheyna mengernyitkan dahinya pertanda ia tidak mengerti dengan maksud Julian.


"Kita kenal udah lama banget Na, dan Lo gak pernah sadar kalau sebenarnya gue suka sama Lo " Julian menggenggam tangan Sheyna yang berada di atas meja.


"Maksud Lo Jul, gue bener bener gak paham " Sheyna benar benar bingung dengan situasi sekarang.


Ia dan Julian emang dekat sejak SD tapi Sheyna tidak pernah berpikir jika Julian akan menyukainya, Sheyna juga tidak pernah merasakan hal aneh jika bersama Julian ia tidak memiliki rasa apapun, dan selama mereka kenal Sheyna nyaman dengan status mereka sebagai sahabat, Sheyna berpikir Julian juga sependapat dengannya.


"Sorry gue harus jujur ke Lo Na, gue tau Lo udah punya pacar gue gak bermaksud merebut Lo, tapi gue beneran udah lama suka sama Lo, gue cinta sama Lo Na " Sheyna langsung melepaskan tangannya dari genggaman Julian.


"Terimakasih Lo udah mau jujur, tapi sorry seperti yang Lo tau gue udah punya pacar sekarang, dan gue selama ini cuma anggap Lo sahabat dan gak lebih Jul " Jelas Sheyna, Sheyna menatap raut Julian matanya memerah, wajahnya juga memerah seperti tengah menahan emosi, namun ia berusaha tersenyum.


"Iya gue paham Na, tapi please jangan jauhin gue ya, gue gak bisa jauh dari Lo, dan besok gue bakal pindah ke sekolah Lo " ujar Julian membuat Sheyna lagi lagi terkejut.


" Kenapa harus sekolah gue Jul ? Sorry bukan gue gak mau lo sekolah di sana tapi, gue gak mau Lo dan Iqbal berantem terus"


"Gue bisa ngadepin dia, tenang aja "


Sheyna tidak tahu harus bereaksi seperti apa.


"Na gue pamit pulang ya, sebelum singa Lo ngamuk " Ujar Julian melirik ke arah belakang Sheyna.


Sheyna terperanjat dengan kehadiran Iqbal yang sudah mengepalkan tangannya.


"Eeehhh...Bal udah pulang " sapa Sheyna canggung.


"Ngapain si A***n* ke sini lagi huhh " Sheyna langsung menahan tubuh Iqbal.


"Bal, please " mohon Sheyna.


"Byeee gue balik ya Na, byee singa Nana see you tomorrow " Julian menaiki mobilnya dan melaju keluar gerbang rumah Sheyna.


Iqbal langsung mendorong tubuh Sheyna dan masuk ke dalam rumah dengan penuh emosi.


"Lo gak ngerti bahasa indonesia atau Lo emang budek !" sarkas Iqbal sambil membanting jaketnya ke lantai.


"Bal, dia gak seperti yang Lo pikirkan " Sheyna berusaha membujuk Iqbal.


"LO GAK KENAL DIA Sheyna ! Dia itu bajingan !" sentak Iqbal membuat Sheyna terperanjat.


"GUE KENAL DIA, DIA COWOK YANG BAIK, SELAMA GUE KENAL DIA, DIA GAK PERNAH JAHAT KE GUE !" balas Sheyna berteriak.


"DIA BAIK KE LO KARENA DIA ADA MAUNYA, LO JADI CEWEK JANGAN BEGO !" mendengar kata kata Iqbal yang begitu tajam tanpa sengaja Sheyna meneteskan air mata.


"Lo cowok terjahat yang pernah gue kenal " Sheyna menghapus air matanya dan langsung berlalu menuju kamarnya.


Melihat Sheyna menangis membuat Iqbal sadar jika dirinya keterlaluan, tapi ia bersikap seperti itu demi melindungi Sheyna dari Julian.


Mbak Siti yang mendengarkan keributan mereka tidak berani ikut campur, ia hanya menghela nafas berharap masalah mereka cepat selesai.