BASRI

BASRI
Cemburu



Bruuuugggghhhh...


Semuanya terdiam saat tiba tiba Sheyna terjerembab ke lumpur. Sheyna mengangkat wajahnya, sontak semuanya menahan tawa.


Bagaimana tidak wajah Sheyna yang cantik sekarang berubah menjadi orang orangan sawah, di tambah sebuah rumput yang nyangkut di rambutnya.


" Apa? pada mau ngetawain ketawain aja " ucap Sheyna melihat ekspresi mereka yang sedang menahan tawa.


" Eehhemmm... Dih siapa yang mau ketawa " ucap Rania, padahal jelas sekali sekarang Rania sedang menahan tawanya.


" Oh gak mau ketawa ya.... " Sheyna mengerlingkan matanya dan langsung menabrak tubuh Rania yang tepat berada di sampingnya sehingga berakhir lah mereka di lumpur.


Sontak semuanya tertawa karena sudah tidak tahan lagi menahan tawa yang akan meledak, melihat Rania dan Sheyna yang sudah penuh lumpur.


" Sensen....!!!! " teriak Rania kesal.


" Bleeee.... kita kan sahabat gue jatuh Lo juga dong " Sheyna memeletkan lidahnya seraya meledek Rania.


" Ooohh sahabat ya... " ucap Rania, seketika Rania dan Sheyna menyeringai bersamaan membuat Alvaro, Iqbal, Billa dan Siti merasa takut.


" Oke... " teriak mereka kompak lalu berlari mengejar Alvaro, Billa, Iqbal dan Siti.


Dan terjadilah aksi gulat di atas lumpur, mood Sheyna yang tadinya sedikit memburuk sekarang kembali membaik. Mereka tertawa bersama menikmati keseruan bermain lumpur.


Billa yang tadi juga takut kotor sekarang juga menikmati berkubang di lumpur sawah.


Tak terasa hari sudah sore, awan yang tadinya cerah sekarang berubah mendung.


" Anak anak ayo udahan, udah mendung nanti kita kehujanan " Ucap Nani memberi peringatan kepada semuanya.


Siti selaku yang paling tua di antara mereka, membantu Nani untuk menghentikan Sheyna dkk yang masih asik bergulat.


" Nana ayo...kita bersih bersih di sungai di bawah sana, nanti kehujanan jalannya licin " ucap Siti.


Dengan susah payah akhirnya Siti berhasil menghentikan mereka, Siti tidak menyangka anak kota seperti mereka yang biasanya hanya sibuk dengan handphone, mall, nongki, dan hal hal mewah ternyata sangat suka bermain di lumpur.


Mereka pun menuju sungai yang Siti sebutkan tadi, secara perlahan mereka menuruni anak tangga yang berupa tanah yang di bentuk tangga dan di lapis papan.


" Waaahhh sungainya bagus banget " teriak Sheyna ketika tiba di sungai tersebut.


Sungai yang di penuhi bebatuan alam, air yang jernih serta air terjun kecil yang berada di ujung sungai membuat Sheyna dan yang lain antusias untuk berenang di sana.


" Adik adik, hari sudah sore di mohon untuk mempercepat proses bersih bersihnya ya " ucap Tomo memperingatkan.


" Yaaaahhh padahal mau lama lama berenang nya " ucap Billa kecewa.


" Anak anak ayo cepetan hari juga sudah mau hujan, ayo " ucap Nani.


Dengan perasaan kecewa akhirnya mereka pun hanya membersihkan badan, dan setelah itu berganti pakaian di tempat yang sudah di sediakan.


Hari semakin gelap, awan hitam mulai menutupi langit,setetes air mulai berjatuhan dari langit, membuat Sheyna dan yang lainnya bergegas meninggalkan sungai tersebut.


Tangga yang hanya beralaskan papan menjadi licin karena basar terkena lumpur dan tetesan air hujan membuat mereka harus berhati hati.


Perlahan demi perlahan akhirnya mereka tiba di tangga terakhir. Hanya Alvaro, Iqbal, dan Billa yang masih tertinggal beberapa langkah.


" Al ayo buruan sebentar lagi hujan nih " teriak Sheyna.


" Iya sabar ini Billa kakinya sakit lagi " jawab Alvaro sambil membantu Billa menaiki tangga.


" Ayo biar gue gendong, biar cepat " Iqbal menawarkan diri sambil memberikan punggungnya, agar mereka tidak kehujanan.


" Eeehh... Gak usah Makasih " tolak Billa.


" Ya udah gue duluan " ujar Iqbal berdiri dan berjalan mendahului mereka.


Sheyna yang melihat kejadian tersebut merasa heran.


" Loh kok gak jadi di gendong Billanya? " tanya Rania yang ternyata juga menyaksikan kejadian tadi.


" Dianya gak mau, ayo kita duluan aja entar kehujanan " ajak Iqbal, berjalan menyusul Nani dan yang lain yang sudah berjalan lebih dulu.


Sheyna masih memandang Alvaro dan Billa, ia rasa enggan meninggalkan mereka berduaan, hatinya merasa tidak rela, entahlah katakan Sheyna sedang cemburu.


" Sensen ayo ! " Rania menarik tangan Sheyna karena hujan mulai turun.


Mereka pun berlari, menuju sebuah pondong yang memang di sediakan untuk menyimpan barang barang mereka. Mereka berteduh di sana.


Namun tak berselang lama tampak sosok Alvaro yang sedang menggendong tubuh Billa berlari ke arah mereka, membuat hati Sheyna semakin terbakar cemburu.


Bagaimana tidak jelas jelas sebelum hujan Iqbal sudah menawarkan diri untuk menggendong Billa agar mereka tidak kehujanan tapi Billa menolak nya.


Dan sekarang Billa malah di gendong oleh Alvaro, membuat Sheyna semakin cemburu.


" Katanya gak mau di gendong, bilang aja kalau gak mau di gendong gue, mau sama Alvaro aja " sindir Iqbal saat Alvaro dan Billa tiba di pondok.


" Eeh... gak gitu Bal.... " Billa berusaha menyangkal.


Sheyna menatap Alvaro dengan tatapan yang sulit di artikan, bertepatan dengan Alvaro yang juga sedang menatapnya dengan tatapan yang sama.


Sheyna membuang pandangan dan duduk di samping Nani dengan perasaan yang campur aduk.


" Nana kenapa sayang? " tanya Nani khawatir melihat Sheyna yang tiba tiba duduk di sampingnya dan bersandar di bahunya.


" Capek ma " bohong Sheyna.


" Ya sudah sebentar lagi kita pulang, pak udin sama mbak Siti lagi masukin barang barang ke bagasi " jelas Nani mengelus kepala Sheyna.


Entah mungkin karena kecapekan di tambah melihat kedekatan Alvaro dan Billa membuat Sheyna mudah baper, rasanya saat ini ia ingin menangis, namun ia malu takut orang berpikir yang tidak tidak tentang dirinya.


" Bu sudah selesai " ucap Pak Udin, setelah memasukkan semua barang barang ke mobilnya.


" Anak anak ayo kita pulang sebelum malam " ajak Nani yang di setujui oleh yang lainnya.


Mereka pun berpamitan dan mengucapkan terimakasih kepada Tomo dan Dini yang sudah membantu mereka.


" Anak anak nanti kita makan malam dulu ya, tante yang traktir " Tawar Nani.


" Wedeh asik traktir " ucap Iqbal girang.


" Eee tante maaf, kayaknya kita langsung pulang aja deh tan, ya kan guys " ucap Billa meminta persetujuan dari Rania dan Alvaro, membuat Iqbal kecewa.


Rania dan Alvaro saling tatap tidak tahu harus bagaimana.


" Kenapa? " tanya Nani.


" Eee soalnya Billa sudah di suruh pulang tan " bohong Billa.


" Oh begitu, ya sudah Alvaro bawa mobilnya hati hati ya, Sheyna biar pulang bareng tante " ucap Nani.


" Iya tan " ucap Alvaro.


Mereka pun masuk ke mobil masing masing setelah saling berpamitan. Alvaro melihat Sheyna yang terlihat lemas,langsung menghampiri nya.


" Sensen... " panggil Alvaro, membuat Sheyna menoleh.


" Lo kenapa pucat banget, sakit? " tanya Alvaro khawatir.


'Iya sakit hati ' Batin Sheyna.


" Eeehh... gak... kecapekan kayaknya " alibi Sheyna.


Alvaro mengelus pucuk kepala Sheyna dan berkata " Ya sudah, nanti sampai rumah Istirahat ya, sampai ketemu besok di sekolah "Alvaro tersenyum, yang di balas senyuman oleh Alvaro.


Lalu mereka pun masuk ke dalam mobil masing masing.


" Eekhemm... oh jadi Nana nya mama ceritanya lagi deket sama Alvaro " ucap Nani menoleh ke kursi belakang, sejak tadi memperhatikan putrinya.


" Bener bu, lihat aja wajahnya masam karena Alvaro ngebantuin Billa dari tadi " ucap Siti dengan ember nya.


" Mbak... " rajuk Sheyna memelototi Siti.


" Oh jadi kamu sudah tahu, dan diem aja selama ini heemmm.. " ucap Nani menatap Siti.


Siti yang tidak sadar di tatap Nani dengan polosnya menjawab.


" Iya bahkan saya tahu kalau Nana sama Alvaro sudah Pccc...... awwwssss" Siti meringis saat Sheyna mencubit perut Siti kesal.


" Mbak Siti.... Nana ngambek ya " ancam Sheyna membuat Siti terdiam.


" Ya sudah dekat tidak apa apa tapi ingat jaga kesehatan ya sayang" ucap Nani tersenyum hangat, Sheyna hanya mengangguk.


Merekapun menuju jalan pulang ke rumah, Sheyna yang kelelahan akhirnya tertidur.