BASRI

BASRI
Jadi kenyataan



" Gak ya mbak tuh yang lemes " ucap Sheyna tidak Terima terus diejek karena cemburu saat acara camping kemarin.


" Dih... mbak mah bilang kenyataan emang Nana cemburu kan kemarin " mbak Siti terus mengejek membuat Sheyna memanyunkan bibirnya.


Ya pada dasarnya memang Sheyna cemburu tapi dia hanya gengsi.


" Sudah sudah ayo makan lagi " lerai Nani.


Mereka pun melanjutkan makan malam bersama dengan khidmat. Setelah selesai mereka pun membereskan bekas makan malam. Sheyna kebagian untuk membersihkan meja makan.


" Ma kemarin Nana lihat handphone mbak ada notif cowok" adu Sheyna.


" Siapa? " tanya Nani penasaran sambil mencuci piring.


" Gak tahu, nama kontak nya 'Gaje' " ucap Sheyna dengan menekankan kata Gaje.


" Nana mulai deh " protes Siti.


" Mbak nya sok jual mahal tahu ma, masa chating nya di anggurin aja kan jahat " adu Sheyna lagi membuat Siti semakin geram.


" Wah... gak boleh gitu mbak, ntar susah jodoh " nasehat Nani sambil meledek.


" Ibu... " rajuk Siti membuat Nani dan Sheyna tertawa.


Siti mendekati Nana, " Ohhh jadi sekarang main buka buka kartu oke, mbak siap bongkar kalau Nana udah pacar pacaran " bisik Siti dengan senyum evil nya.


" Iiihhh... mbak!!! " teriak Sheyna membuat Siti langsung ngacir berlari menjauhi Sheyna yang akan mengamuk.


" Hahah...Nana takut... Nana takut... Bleee " Siti meledek Sheyna sambil berlari.


Sedangkan Sheyna langsung mengejar Siti dan kebetulan tugas mereka sudah selesai. Nani yang melihat kedua gadis kesayangan nya hanya tersenyum.


" Siti sudah, nanti Nana kecapekan " teriak Nani menyudahi aksi kejar kejaran mereka.


" Sini duduk sini, mama mau bicara " pinta Nani. Sheyna dan Siti pun duduk di samping Nani dengan nafas yang masih terengah - engah.


" Huhh..huhh... mau ngomong apa ma.. hhh... " Tanya Sheyna.


Nani mengeluarkan selembar kertas dari laci ruang keluarga. Dengan menghela nafas Nani memberanikan diri untuk memberitahu Sheyna.


Sheyna yang melihat se lembaran itu mengernyitkan dahinya, dan membenarkan posisi duduknya.


" Apa itu ma? " tanya Sheyna.


" Ini... "


" Jangan bilang surat wasiat papa " sela Sheyna, membuat Nani dan Siti terkejut.


Mereka pun saling bertatapan, bagaimana Sheyna bisa tahu mengenai surat wasiat tersebut, padahal mereka belum ada yang memberitahu Sheyna.


" Hahhah... jangan bilang iya" ucap Sheyna tertawa hambar.


" Sayang... " Nani memegang tangan Sheyna.


" Jangan bilang juga isinya nyuruh mama nikah lagi? " tanya Sheyna lagi sambil tersenyum sinis, membuat Nani dan Siti merasa bersalah.


Nani sampai tidak bisa berkata kata melihat ekspresi Sheyna yang sangat tidak mengenakkan.


" Sayang... " lagi lagi Nani berusaha menjelaskan namun, Sheyna tiba tiba berdiri membuat Nani dan Siti semakin cemas.


" Hahhah... Jangan bilang dugaan Nana benar, ekspresi kalian mengatakan 'Iya' " ucap Sheyna menatap Nani dan Siti sinis.


" Mama bisa jelasin sayang " ucap Nani lagi.


" Gak perlu di jelaskan, pokoknya Nana gak setuju !!! " ucap Sheyna dengan nada tinggi dan langsung merampas kertas tersebut dan merobeknya.


Nani menggelengkan kepalanya, seakan tersadar dari lamunannya.


" Ma...ma..." panggil Sheyna sambil menatap Nani yang sejak tadi menatapnya.


" Mama kenapa? mama sakit? " tanya Sheyna khawatir.


Nani menatap Sheyna intens, ternyata yang tadi hanyalah khayalan Nani. Dirinya sudah takut setengah mati jika Nana akan sangat marah.


" Ibu... ibu Baik baik aja? " tanya Siti ikut khawatir karena wajah Nani yang tiba tiba pucat.


" Eeehh... iya gak apa apa " ucap Nani.


" Nana sayang, ini surat wasiat dari Papa buat Nana, apapun isinya mama gak maksa Nana buat setuju " tambah Nani memberikan se lembaran itu kepada Sheyna.


Sheyna pun menerimanya dan membuka se lembaran tersebut dan mulai membaca isinya.


Dear Nana


Hallo sayangnya papa...


Anak kebanggaan papa...


Nana jangan nangis ya saat baca surat ini, papa gak mau lihat air mata sedih dari anak kesayangan papa...


Sheyna menengadahkan kepalanya, agar air matanya tidak terjatuh karena perintah papanya dia tidak boleh menangis saat membaca surat tersebut. Sheyna menghela nafas dan kembali membaca surat tersebut.


Papa tahu Nana sangat menyayangi papa dan mama...


Papa juga tahu kalau tidak ada yang bisa menggantikan posisi papa...


Karena papa adalah yang paling terbaik...


Iya kan... Nana setuju kan...


Sheyna tersenyum saat membaca kalimat tersebut, ia bisa membayangkan bagaimana ekspresi narsis papanya saat mengatakan bahwa tidak ada yang bisa menggantikan dirinya.


Tapi Nana harus tahu papa sudah tidak bisa menjaga mama, Nana dan mbak Siti lagi...


Papa selalu ingin yang terbaik untuk Nana, mama dan mbak Siti...


Papa ingin kalian selalu bahagia walaupun tanpa papa di sisi kalian...


Sheyna kembali menengadahkan kepalanya, agar air matanya tidak terjatuh.


Nana sayang...


Sekarang Nana sudah besar, Nana sudah bisa menentukan pilihan yang terbaik untuk Nana...


Selama ini papa tidak pernah meminta apapun dari Nana, dan tidak pernah memaksa Nana...


Tapi kali ini papa mau minta satu permintaan, papa ingin Nana menyetujui mama untuk menikah lagi...


Sheyna menatap Nani dan Siti bergantian,dan kembali membaca surat tersebut.


Papa sudah menemukan calon yang pas untuk menggantikan posisi papa...


Nanti Nana tanya mama ya sayang siapa calonnya...


Papa tahu ini berat buat Nana, tapi papa hanya ingin ada yang melindungi kalian setelah papa pergi...


Sekali lagi papa minta tolong Nana izinin mama nikah lagi ya...


Pliiiissss....


Ini permintaan terakhir papa...


Maaf papa cuma bisa nulis surat sampai di sini...


Tangan papa sudah mulai keram karena menulis surat buat Nana, mama, dan si calon papa baru kamu...


hehehh...


Sudah dulu ya sayang...


Selamat tinggal...


Papa sayang kalian,papa harap kalian selalu bahagia...


Love you forever...


^^^Salam hangat Papa 😘^^^


Sheyna menghela nafas,dadanya terasa sesak karena menahan air mata. Dia tidak akan menangis karena itu permintaan papanya.


Ternyata benar apa yang di katakan Iqbal tadi saat di sekolah, kalau mama nya akan menikah lagi. Dan kemarin malam Papa nya benar benar mendatanginya demi menyampaikan permintaan terakhirnya secara langsung.


Lagi lagi Sheyna menghela nafasnya berusaha melepaskan sesak di dadanya. Nani dan Siti yang sadar akan kesedihan Sheyna langsung memeluknya.


" Semalam Nani ketemu papa... " ucap Sheyna tiba tiba membuat Nani dan Siti terkejut.


" Papa minta Nana buat ngizinin mama nikah lagi, sama kayak isi surat ini " ucap Sheyna lagi sambil memegang erat surat tersebut.


" Sayang mama gak memaksa, semua keputusan ada di kamu " Nani mengelus surai hitam Sheyna.


" Nana tahu di hati Nana, papa gak akan pernah terganti, tapi karena papa sudah menyampaikan secara langsung tadi malam, Nana akan coba pertimbangkan. " ucap Sheyna berusaha tetap tegar.


Nani dan Siti mengelus bahu Sheyna berusaha menenangkan.


" Tapi Nana minta waktu untuk menilai orang itu, Nana gak mau mama sembarangan menikah, Nana mau mengenal orang itu lebih dalam dulu " ucap Sheyna menatap Nani dan Siti bergantian.


" Huuufffttt...Ma... mbak... Nana juga sadar umur Nana gak tahu sampai kapan, Nana juga takut gak bisa jagain Mama dan mbak, jadi kalau orang yang papa pilih itu lulus penilaian Nana, Nana akan setuju " ucap Sheyna berusaha tersenyum.


" Aaa sayang jangan bilang gitu, Nana pasti sembuh " ucap Nani sedih lalu memeluk Sheyna.


" Iya mbak yakin Nana pasti sembuh " Siti ikutan memeluk Sheyna, berusaha menyalurkan kekuatan.


" Semoga " ucap Sheyna berharap, lalu mereka pun saling berpelukan satu sama lain, mencoba saling menguatkan.