
Ddrrrrtttt... drrrrtttt....
Ponsel Sheyna berdering.
" Sensen mama Lo telpon! " teriak Rania ketika melihat nama My mom tertera di layar ponsel Sheyna.
Sheyna yang baru saja keluar dari toilet, buru buru mengambil ponselnya, dan menjawab telpon tersebut.
π " Hallo ma "
π " Kamu dimana? kenapa belum pulang " tanya Nani dari sebrang sana.
π " Kan Nana udah izin mama mau main kerumah Billa tadi " jelas Sheyna.
π " Oh gitu, mama lupa hehehh " terdengar suara kekehan dari sebrang membuat Sheyna geleng geleng kepala tidak habis pikir.
π " Nana sebentar lagi pulang kok, tadi udah minta jemput pak Udin ma "
π " Ya udah hati hati ya "
π " Iya ma " Sheyna langsung mematikan ponselnya.
Tanpa Sheyna sadari Rania dan Billa sejak tadi memperhatikan dirinya.
" Enak banget Lo Sen baru juga jam 5 belum pulang udah di cariin " ucap Rania iri.
" Iyaa, kalau gue mah mau pulang gak pulang terserah yang penting kalau pulang utuh " tambah Billa.
" Apaan deh kalian, mama gue juga jarang nelpon kayak tadi, paling ada sesuatu di rumah " jelas Sheyna. Rania dan Billa hanya mengangguk.
Ya Nani memang jarang menanyakan keberadaan Sheyna, terlebih jika Sheyna sudah meminta izin. Sheyna yakin ada sesuatu di rumah atau ada yang ingin ia bahas.
Tok... tok... tok...
" Permisi non, ada supir temen non yang sudah menunggu di bawah " ucap salah satu maid Billa.
" Iya kita turun " jawab Billa.
" Supir Lo Sen? " tanya Billa.
" Iya kayak nya " jawab Sheyna sambil mengemas barangnya.
" Lo gak balik? " tanya Sheyna pada Rania.
" Balik lah, nebeng ya " ucap Rania bergelayut di tangan Sheyna.
" Biar gue anter aja Ran " tawar Billa.
" Gak usah Bill, biar bareng gue aja lagian kita satu arah " jelas Sheyna, Billa hanya mengangguk.
Mereka pun turun ke lantai satu.
" Bill kita pamit ya, salam ke mama Lo " ucap Sheyna berpamitan, memeluk Billa lalu masuk kedalam mobil.
"See you " Rania memeluk Billa lalu ikut masuk ke dalam mobil Sheyna.
" Kapan kapan main lagi ya " Billa melambaikan tangannya.
Setelah berpamitan mobil Sheyna pun berjalan menuju gerbang rumah Billa.
" Sensen itu mama Billa kan? " tunjuk Rania pada seorang wanita yang tampaknya sedang cekcok dengan wanita lain di tempat keluarnya mobil mobil pengangkut barang.
" Iya kenapa ya? " ujar Sheyna bertanya tanya.
" Berantem sama istri keduanya kali ya "
" Husss udah gak usah ikut campur anggap kita gak lihat apa apa Ran " saran Sheyna.
Lebih baik mereka pura pura tidak melihat, jika Billa tahu dia pasti sangat sedih.
...***...
Setibanya di rumah Sheyna sudah di sambut dengan kehadiran Nevan. Sheyna bertanya tanya mengapa Nevan berada di rumahnya, mungkinkah ini tentang penyakitnya.
Entahlah Sheyna menepis semua pikiran buruknya, dan langsung menyalimi Nevan dan Nani.
" Om Nevan ngapain di sini? " tanya Sheyna, duduk di samping Nani.
Mendengar pertanyaan Sheyna, Nani dan Nevan saling tatap.
" Masalah penyakit Nana ya om? " tanya Sheyna lagi.
" Oh..bukan bukan Na " bantah Nevan.
" Gak sayang, kita berdua sedang membahas tentang pesan terakhir alm. papa " jelas Nani.
Sheyna hanya mengangguk, dirinya tahu Nevan adalah sahabat papanya sekaligus dokternya saat itu, tapi mengenai pesan terakhir Sheyna tidak tahu apa apa, dan lebih baik dia tidak tahu toh itu urusan orang dewasa.
" Oh ya udah, Nana ke atas dulu ya ma, Om " pamit Sheyna.
Sepeninggal Sheyna, Nani dan Nevan melanjutkan pembicaraan mereka.
Ngomong ngomong tentang Alvaro, Sheyna jadi teringat dengan pesan Alvaro beberapa jam lalu. Sheyna mengambil ponselnya dan membuka room chat.
Alvaro
Sensen besok pulang sekolah ikut gue ya
Ada yang mau gue bicarain
Plissss....
^^^Me^^^
^^^Ok^^^
Singkat padat jelas, hanya itu yang Sheyna jawab. Dia tidak ingin memberikan peluang Alvaro untuk kembali ke sisinya, dia hanya belum siap terluka kembali. Walaupun dalam hati kecilnya ia sangat ingin kembali kepada Alvaro.
Hatinya masih untuk Alvaro, pikiran masih di penuhi dengan Alvaro, tapi ia belum siap untuk kembali terluka.
...***...
Keesokan harinya Sheyna dan Alvaro pergi ke suatu tempat yang cukup jauh dari rumahnya.
Awan putih berpadu dengan langit biru yang cerah, rumput hijau yang terhampar indah, di tambah dengan pemandangan kota yang membuatnya terpesona.
" Waaahhhh.... bagus banget !" ucap Sheyna bersemangat.
" Suka? " tanya Alvaro.
" Banget " mereka pun duduk di sebuah batu besar yang langsung menghadap pemandangan kota.
Mereka sedang berada di sebuah bukit, bukit yang jarang orang kunjungi terlihat dari semak belukar yang hidup liar.
" Sensen " panggil Alvaro, Sheyna hanya berdeham karena ia sibuk mengabadikan pemandangan tersebut.
" Hubungan kita beneran gak bisa di perbaiki ya? " ucap Alvaro to the poin.
Mendengar ucapan Alvaro, Sheyna mendudukkan dirinya di samping Alvaro.
" Kenapa? " Sheyna menjawab dengan pertanyaan pula.
" Sen, rasa sayang gue ke Lo lebih dari sekedar sahabat " Alvaro berusaha meraih tangan Sheyna, namun Sheyna yang menyadari langsung menghindar.
Logika dan batin Sheyna beradu, Sheyna belum siap terluka kembali, tapi hatinya menginginkan untuk menerima Alvaro kembali.
" Gue belum siap terluka lagi Al " jawab Sheyna menatap Alvaro, membuat Alvaro merasa bersalah.
" Sen, tapi apa yang kamu lihat waktu itu gak seperti yang kamu bayangkan " Alvaro berusaha menjelaskan kembali kejadian saat itu.
" Sen plisss kasih gue kesempatan satu kali lagi " mohon Alvaro.
"Gue udah pernah kasih Lo kesempatan Al, dan jujurly gue kecewa saat ngeliat Lo bareng Inggit di Rooftop hari itu" Sheyna menundukkan pandanganny untuk menyembunyikan rasa sakitnya.
"Sen gue berani sumpah hari itu gue sama terkejutnya kayak Lo, gue gak tau kenapa Inggit bisa ada di sekolah kita, karena penasaran gue nanya langsung ke dia di rooftop" Alvaro mencoba memberi penjelasan.
Sheyna menatap bola mata Alvaro, mencoba mencari kebohongan namun hanya ketulusan yang ia lihat.
"Ok, hari itu gue emang chat Inggit, kita ketemuan di rooftop, dan gue nuntut janji dia yang gak bakal pindah, tapi dengan santai nya dia jawab kalau dia sudah terlanjur bilang ke bokapnya Sen, dan saat itu gue marah sama dia reflek megang bahu dia, dan tiba tiba Lo datang, sumpah Sen semuanya gak seperti yang ada di pikiran Lo" Alvaro menceritakan semuanya, tentang apa yang terjadi di rooftop saat itu. Alvaro berharap ia bisa di beri kesempatan lagi oleh Sheyna.
" Apa buktinya kalau kalian gak ada hubungan lagi ? " Sheyna meminta bukti, jelas dia tidak akan mudah percaya begitu saja, terlebih reputasi Alvaro sebagai playboy sudah mendarah daging.
" Lo bisa tanya langsung ke Inggit deh " ucap Alvaro tidak tahu harus membuktikan bagaimana.
" Oke kalau memang hubungan kalian sudah berakhir, tapi kan bisa aja sekarang Lo lagi deket sama cewek lain yang gue gak tau "
Alvaro di buat bingung dengan sikap Sheyna, mengapa sekarang dia sulit sekali untuk di dekati kembali.
" Ya udah nih HP gue, Lo pegang deh " Alvaro menyerahkan ponselnya.
" Gak aah bisa aja Lo punya dua HP, kan playboy suka gitu "
Alvaro meraup wajahnya frustasi, lalu menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.
" Ya udah Lo mau gue buktiin gimana Sen? " akhirnya Alvaro menyerah.
Sheyna tampak memikirkan sesuatu dengan mengetukkan jari telunjuknya ke dagu.
" Gue juga gak tau harus gimana, gini aja gue kasih waktu Lo 2 minggu untuk buktiin ke gue kalau Lo bener bener udah gak deket sama cewek lain " putus Sheyna akhirnya.
" Oke deal " ucap Alvaro tersenyum sangat lebar.
Tidak ada salahnya memberikan kesempatan kepada Alvaro, toh juga hati Sheyna masih terpaut pada Alvaro. Memang benar kata orang orang bahwa cinta pertama itu sulit untuk di lupakan, dan terlalu berharga untuk di buang jauh jauh.
Pemandangan yang indah dan cuaca yang cerah seakan menjadi saksi kebahagiaan Alvaro. Walaupun belum resmi balikan,tapi Alvaro cukup lega karena Sheyna mau memberikan dia kesempatan. Dia hanya butuh waktu 2 minggu untuk membuktikan semuanya dan setelah itu dia akan kembali bersama Sheyna.
Alvaro berharap setelah mereka balikan, dia akan mengumungkan pada semua orang bahwa Sheyna telah menjadi miliknya dan tidak akan ada lagi Backstreet setelah ini.
...β¦β’βββΏHappy ReadingβΏβββ’β¦...