BASRI

BASRI
Ancaman



Benar kata pepatah "Tak kenal maka tak sayang". Awalnya Sheyna merasa takut dan canggung saat di perkenalkan kepada keluarga Alvaro, namun saat mereka saling sapa dan mencoba saling mengenal, semua rasa takut dan canggung menghilang terbawa angin.


Sheyna sudah bisa menyesuaikan diri, ia tampak asik mengobrol dengan omah Monik dan saudara saudara Alvaro, sedang Alvaro pergi entah kemana.


"Ternyata kamu lucu juga, pantes aja cucu omah bisa suka sama kamu " puji Omah Monik pada Sheyna.


"Aaa Omah bisa aja " jawab Sheyna malu malu.


Mereka terus mengobrol, namun tiba tiba tante Fanya adik Alfian melihat sesuatu yang aneh di gaun Sheyna.


"Eeeh...Sen ini apa ?" tanya Fanya sambil mengambil tisu mencoba membersihkan noda di gaun Sheyna.


Fanya merasa aneh ketika melihat gaun Sheyna yang ada noda merah, Fanya berpikir jika itu terkena tumpahan air jadi dia berinisiatif untuk mengelapnya dengan tisu, namun Fanya merasa heran karena ketika di usap tidak hilang terlihat seperti sesuatu yang telah mengering.


"Eeehh...biar Sheyna aja tante " Sheyna juga mencoba membersihkan gaunnya, namun seketika ia teringat jika itu bisa saja bekas darah saat ia mimisan di boutique kemarin.


"Eee tante, oma Sheyna ke toilet dulu ya mau bersihin ini " pamit Sheyna yang di angguki oleh mereka.


Sheyna berjalan sendirian menuju toilet, sekilas Sheyna melirik ke arah panggung ternyata Alvaro tengah bergabung dengan Iqbal dan Rania yang asik bernyanyi dan berjoget, Sheyna tersenyum dia berniat akan bergabung nanti setelah membersihkan gaunnya.


Di dalam toilet Sheyna hanya sendiri, ia mencoba membersihkan gaun nya, namun noda tersebut tidak kunjung hilang hanya memudar sedikit.


"Huffftttt...kenapa sih harus kena gaun nya " dumel Sheyna sambil terus menggosok gaunnya dengan tisu basah.


Lalu tiba tiba Sheyna teringat jika ia lupa meminum obatnya tadi pagi, karena takut kambuh Sheyna berniat meminum obatnya sebelum mengacaukan semuanya,ia mengeluatkan botol obat dari dalam tas kecil yang ia bawa.


Namun saat Sheyna berhasil mengeluarkan obatnya tiba tiba terdengar suara pintu toilet terbuka, karena kaget Sheyna menjatuhkan botol obatnya.


Yang lebih membuat Sheyna kaget ia mengenali gadis tersebut yang tengah memegangi botol obatnya. Sheyna meneguk Salivanya saat gadis tersebut mendekatinya.


"Jadi dugaan gue bener " Ujarnya tersenyum miring.


"Balikin " Sheyna mencoba merampas kembali obatnya namun gadis tersebut menyembunyikannya di balik tubuhnya.


"Kalau gue gak mau gimana " ledeknya lagi.


"Fenty balikin, gue gak pernah punya salah sama Lo ya kenapa Lo selalu gangguin gue"


Ya gadis tersebut adalah Fenty.


"Salah Lo ? Hahahah " Fenty tertawa mengerikan membuat Sheyna bergidik ngeri.


"Lo itu benalu tau gak " Fenty mendorong tubuh Sheyna hingga terjatuh ke lantai.


"Awsss..." ringis Sheyna merasakan perih di tangannya.


" Jauhin Alvaro, atau gue akan buat seluruh sekolah tau tentang penyakit Lo " ancam Fenty.


Sheyna yang keras kepala mencoba berdiri dan melawan Fenty.


"Lo gak ada hak ngatur ngatur hubungan gue, Lo suka sama Alvaro ?" tanya Sheyna mencoba mengintimidasi Fenty, bukannya terintimidasi Fenty malah tersenyum smirk.


"Kalau iya kenapa "


Plaaakkkk....


Sheyna menampar wajah Fenty, ia benar benar tidak tahu dengan reaksi tubuhnya yang tiba tiba, Sheyna menatap tangannya.


"Anj**g, berani Lo nampar gue " Mata Fenty memerah tanda marah, lalu menjambak rambut Sheyna kuat.


"Awwsss sakit lepasin, yg harus ny marah tu gue karena Lo suka sama pacar gue " Sheyna masih berusaha melawan namun tenaganya tidak sekuat dulu, ia lemah.


" Diam nj**g, gue peringatin Lo lagi ya jauhin Alvaro dkk, atau semua orang tau tentang penyakit Lo " Fenty mendorong kepala Sheyna hingga terbentur wastafel.


Sheyna merasa nyeri dan pening di kepalanya.


"Dan satu hal lagi, gue bisa buat Cahaya dan Henny menderita " Ujar Fenty sebelum pergi meninggalkan Sheyna yang kesakitan.


Sheyna memegangi kepalanya yang ternyata mengeluarkan darah, tubuhnya sudah lemas karena pening yang menyerang di tambah penyakitnya.


Sebelum hilang kesadaran Sheyna mencoba menghubungi Iqbal. Namun Iqbal tidak kunjung mengangkat telponnya. Sheyna mencoba menghubungi Nani dan Nevan namun sama saja, sepertinya mereka tengah asik dengan pestanya.


Sheyna memegangi kepalanya yang semakin terasa sakit, ia mencoba menguatkan dirinya dan untuk berjalan keluar toilet, ia berniat menuju rumah sakit melalui pintu belakang gedung agar tidak ada yang melihat kondisinya.


Namun saat akan menyetop taksi, Sheyna merasa kesadarannya semakin menipis hingga seseorang berhasil menopang tubuhnya.


"Nana..." Ujar orang tersebut. Sheyna masih memiliki kesadaran sedikit ia mencoba melihat orang yang memanggilnya dengan sebutan Nana.


Sheyna mengenal orang tersebut namun ia tidak memiliki banyak tenaga, ia hanya mampu mengucapkan tujuannya.


"Rumah sakit " setelah itu Sheyna benar benar hilang kesadaran, semuanya menggelap Sheyna tidak merasakan apapun lagi.


***


Di lain tempat, Alvaro, Rania dan Iqbal puas bernyanyi dan berjoget Ria, Alvaro berniat menghampiri Sheyna di meja para keluarganya.


"Haiii Oma, Sheyna kemana ?" tanya Alvaro pada Omah monik ketika menyadari jika Sheyna tidak ada di sana.


"Oh tadi ke toilet" timpal Fanya, Alvaro hanya mengangguk.


Iqbal dan Rania asik menikmati kudapan yang tersedia, hingga Rania menyadari sejak tadi mereka tidak mengajak Sheyna.


"Eeeh...Bal Sensen dimana ya kok dari tadi gue gak liat, malah tadi Alvaro sendirian gak ngajakin dia" Ujar Rania.


"Paling lagi perkenalan sama keluarga Alvaro di so...no" Ucapan Iqbal terjeda ketika melihat Alvaro yang beranjak dan Sheyna tidak berada di meja tersebut.


"Kok gak ada ya " heran Iqbal.


"Coba gue hubungi ya " Iqbal mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.


Hal pertama yang ia lihat 5 panggilan tak terjawab dari Sheyna membuat Iqbal mendadak khawatir.


"Bal...Lo kenapa tiba tiba pucat, sakit ?" tanya Rania khawatir melihat ekspresi Iqbal yang tiba tiba pias.


Ran kalau Lo liat Sensen kabarin gue ya, gue mau coba cari dia dulu.


"Gue ikut bal " ujar Rania namun Iqbal sudah berlari duluan.


Sheyna dan Iqbal memiliki kode, jika Sheyna sedang dalam keadaan darurat atau penyakitnya kambuh ia akan menelpon Iqbal lebih dari 3 kali, dan jika hanya ingin menelpon atau sekedar memberi info cukup 1 kali, atau cukup mengirim pesan.


Karena Sheyna sudah mencoba menelponya lebih dari 3 kali, Iqbal merasa Sheyna sedang dalam keadaan darurat seperti penyakitnya kambuh.


Dengan panik ia mencari Sheyna, hingga ia bertabrakan dengan Alvaro.


"Liat Sensen ?" tanya mereka kompak.


"Harusnya gue tanya Lo, Lo kan pacarnya " sarkas Iqbal.


"Ya Lo kan calon kakak nya " Timpal alvaro tidak mau kalah.


"Nyet serius gue " geram Iqbal.


"Serius serius amat elah, tadi kata tante gue dia ke toilet " ujar Alvaro.


Setelah mendengar itu, Iqbal langsung menuju toilet tanpa menunggu Alvaro yang menatap Iqbal heran.


Iqbal langsung membuka toilet namun tidak ada siapapun di sana, ia melihat botol obat Sheyna tergeletak di bawah wastafel dan mengambilnya. Iqbal juga melihat bercak darah membuat Iqbal semakin khawatir.


Iqbal mencoba membersihkan bercak darah tersebut sebelum ada yang melihatnya, karena ia berpikiran jika Sheyna mimisan dan sekarang dia akan menuju rumah sakit.


"Bal Lo kenapa kayak orang di kejar setan deh " tegur Alvaro yang baru tiba di depan toilet.


"Gak apa apa, gue balik duluan ya ada urusan, Sensen udah pulang duluan kayaknya, jadi gak usah nganterin dia, lo disini aja temenin ayah Lo, gue pamit ya, salam sama om Alfian" tutur Iqbal langsung berlari menuju luar gedung.


Saat akan menaiki mobilnya tiba tiba ia melihat Nani dan Nevan yang juga akan menaiki mobil, tanpa pikir panjang Iqbal langsung masuk mobil dan mengikuti Mobil Nevan.


Iqbal yakin sesuatu telah terjadi kepada Sheyna, karena ia melihat Nani meneteskan air mata sebelum memasuki mobil.


Setibanya di rumah sakit, Iqbal memarkirkan mobilnya tepat di samping mobil Nevan dan menghampiri mereka.


"Ma Sensen kenapa ?" tanya Iqbal penasaran, karena Nani terus menangis.


"Bawa tante Nani kedalam, ayah mau ke ruang dokter dulu" ujar Nevan mengelus bahu Nani mencoba menguatkan.


Iqbal semakin merasa khawatir, namun ia berusaha tegar. Merekapun berjalan masuk menuju ruangan Sheyna biasa di rawat.


"Ma ayo kita masuk, Sensen baik baik aja " ujar Iqbal.


"Sensen gak baik baik aja Bal, kata suster Nana pingsan " Iqbal mencoba menghela nafas mencoba mengurangi rasa sesak di dadanya.


"Iqbal yakin nana baik baik aja, Ayo ma " Iqbal terus menemani Nani hingga mereka tiba di depan ruangan Sheyna.


Iqbal di buat emosi ketika melihat seseorang yang sangat ia benci berada di depan ruangan Sheyna.


"Ma mama masuk duluan ya " Ujar Iqbal lalu menghampiri orang tersebut.


"Ngapain Lo disini" Iqbal mencengkram kerah baju pria tersebut.


"Wait santai bro, gue cuma bantuin temen gue " ujar pria tersebut.


"Temen Lo yang mana ? ngapain di depan ruangan adik gue !" ucap Iqbal dengan gigi yang menyatu karena emosi.


"Oh jadi Nana itu adik Lo sekarang " jawab pria tersebut santai.


"Dari mana Lo tau nama itu " membuat Iqbal semakin tersulut emosi, setahu Iqbal yang memanggil Sheyna dengan sebutan Nana hanya keluarganya saja, dan setahu Iqbal Sheyna tidak memiliki sepupu laki laki.


"Hahahh, kenapa Lo marah karena gue lebih dekat sama Nana "


"Bre****k jangan coba coba deketin Sheyna, karena Sheyna pacar Alvaro, Lo tau akibatnya kalau berurusan sama kita berdua " ancam Iqbal.


"Santai bro, gue hanya nolongin Nana " ia tersenyum miring, membuat Iqbal tidak tahan ingin meninju wajahnya yang sok ganteng itu.


Namun saat Iqbal ingin melaksanakan niatnya, Nevan memanggil Iqbal dan memberitahu jika Sheyna sudah sadar.


"Jangan berani berani deketin adik gue !" ancam Iqbal lagi sebelum akhirnya memasuki ruangan Sheyna.