BASRI

BASRI
Surat Wasiat



Langit malam yang di penuhi bintang bintang menjadi saksi kebahagiaan Sheyna, beberapa hari ini dia selalu di bahagiakan oleh semesta, hingga dia lupa akan penyakitnya dan melupakan obatnya.


Tapi setidaknya semesta juga berbaik hati, sekarang dia tidak merasakan sakitnya, dia benar benar merasa seperti orang sehat.


Mungkin benar kata orang jika kebahagiaan mampu menambah imun seseorang.


" Dek ngapain di luar " tegur Siti ketika melihat Sheyna duduk di balkon kamarnya.


" Eeh mbak, hehheh " Sheyna terkekeh ketika melihat kehadiran Siti yang tiba tiba.


" Ngapain senyum senyum sendiri, kesambet baru tau rasa " ucap Siti.


" Iiih mbak siapa yang senyum senyum, orang Nana cuma mau lihat bintang " Sheyna mencoba beralibi.


Ya kebiasaan Sheyna jika ia merasa bahagia dia akan melihat bintang. Bahkan terkadang dia akan berbagi cerita kepada bintang.


Sejak kecil Sheyna memang sangat menyukai bintang, bahkan saat papanya masih hidup dia sering sekali melihat bintang bersama sang papa di halaman belakang.


" He.. ehh liat bintang sambil mikirin Alvaro, pantes senyum senyum " ledek Siti mampu membuat Sheyna tersipu.


" Mbak... " rengek Sheyna manja sambil memukul bahu Siti pelan.


" Mangkanya kalau sayang bilang sayang, jangan sok jual mahal " Siti mencubit gemas pipi Sheyna.


" Dih siapa yang sok jual mahal " protes Sheyna.


" Udah jadi gimana? udah balikan? " Tanya Siti.


Ya Sheyna selalu menceritakan apapun kepada Siti, jadi hampir tidak ada rahasia di antara mereka,hampir ya walaupun ada beberapa hal yang tidak Sheyna ceritakan kepada Siti, begitupun sebaliknya.


" Belum, Nana mau Alvaro buktiin dulu kalau dia udah gak deket sama cewek manapun. Kalau Alvaro berhasil membuktikan itu dalam waktu 2 minggu Nana akan nerima Alvaro lagi " jelas Sheyna, Siti tampak mengangguk.


" Ya terserah Nana, Mbak cuma mau Nana bahagia " Siti tersenyum sambil mengelus surai hitam Sheyna.


" Nana juga mau mbak bahagia " Mereka pun saling berpelukan sebagai ungkapan rasa sayang di antara keduanya.


" Masuk yuk, badan kamu udah dingin banget entar sakit lagi " ajak Siti Sheyna hanya menurut.


Ia juga merasakan dingin mulai menusuk tulangnya.


" Dek tangan kamu kenapa? " tanya Siti saat melihat siku Sheyna yang memerah.


Sheyna buru buru menutupi lukanya, dia lupa bahwa sikunya terluka karena terjatuh di toilet rumah sakit.


" Liat sini " Siti langsung menarik tangan paksa Sheyna jelas dari raut wajahnya bahwa dia khawatir.


" Ini luka kapan? kenapa gak bilang ke mbak " omel Siti.


" Ini kemarin jatuh di rumah sakit " jawab Sheyna.


" Sudah hampir seminggu yang lalu loh dek, kok belum kering lukanya " heran Siti langsung mengambil kotak P3k di laci kamar Sheyna untuk mengobati lukanya.


" Nana gak apa apa kok Mbak, cuma luka kecil juga " ucap Sheyna.


Walaupun Sheyna tahu mengapa lukanya belum juga mengering padahal sudah hampir satu minggu, ya apa lagi jika bukan karena penyakitnya.


" Nanti Mbak bilang ke Ibu, biar di periksa lagi takut ada infeksi " ucap Siti sambil membersihkan luka Sheyna.


" Mbak gak usah, Nana baik baik aja kok, Mbak bisa lihat sendiri Nana baik baik aja " Sheyna memegang bahu Siti berusaha menenangkannya.


Sheyna sengaja tidak memberitahu mereka insiden di rumah sakit kemarin, melihat lukanya saja Mbak Siti sudah sekhawatir ini, apa lagi jika Sheyna menceritakan yang sebenarnya bisa bisa Nani mengamuk di sekolah.


" Mbak janji jangan bilang mama ya, Nana gak mau mama khawatir "


" Iya, tapi kamu juga janji kalau ada apa apa kasih tahu mbak " Sheyna hanya mengangguk kan kepalanya.


Setelah itu mbak Siti keluar dari kamar Sheyna, perlahan Sheyna memejamkan matanya, kantuk sudah menyerang hingga akhirnya ia berada di alam mimipi.


Sementara di lantai satu, Nani sibuk mondar mandir membuat Siti pusing.


" Bu... Ibu kenapa mondar mandir kayak setrikaan? " tanya Siti yang mulai jengah melihat Nani yang sudah mondar mandir selama 20 menit.


" Siti bagaimana menurut kamu jika saya menikah lagi? " ucap Nani tiba tiba sambil menatap Siti dengan tatapan yang sulit di artikan.


" Ibu gak lagi becanda? " tanya Siti mencoba menahan tawa.


" Saya serius " Siti tidak mampu menahan tawanya saat melihat wajah Nani yang memaksa dirinya untuk percaya.


" Hahhah... Ibu becandanya gak lucu bu "


" Siapa yang lagi becanda Siti, ini kamu baca " Nani duduk di samping Siti, dan menyerahkan sebuah kertas yang berisikan surat wasiat Alm. Seno.


Siti membaca kata perkata yang berada di selembaran kertas tersebut.


" Waduh... Bu, ini bapak becanda kali " Siti tidak percaya dengan isi suratnya, karena setahu Siti, Seno sangat menyayangi Nani.


" Awalnya juga saya tidak percaya Ti, tapi ini wasiatnya, saya khawatir Nana tidak bisa menerima ini " curhat Nani.


" Jadi ini beneran bu? " tanya Siti lagi mencoba memastikan.


" Iya Siti! buat apa saya bercanda "


" Tapi bu, bapak pasti sudah mempertimbangkan semuanya sebelum mengambil keputusan ini, dan Om Nevan juga orang yang baik, saya yakin Nana pasti setuju walaupun mungkin butuh waktu " ucap Siti berusaha menghilangkan kekhawatiran Nani.


" Saya tahu Nevan orang yang baik Ti, tapi ini belum satu tahun papanya pergi pasti dia bakal marah Ti " rengek Nani seperti anak remaja yang tengah di landa dilema.


Di balik, wajah cantik, sikap tegas, dan keibuannya Nani juga sangat manja, hanya Seno, Siti dan Sheyna yang mengetahui hal itu.


" Cup... cup... cup... nanti coba ibu bicarain dulu sama Nana bu, siapa tahu dia langsung setuju kan? kalau saya mah setuju setuju saja apalagi ini permintaan terakhir bapak " Siti memeluk Nani.


" Nantilah Ti saya belum siap cerita ini ke Nana "


" Lebih cepat lebih baik bu, sebelum Nana tahu sendiri dia bisa lebih marah lagi " peringat Siti.


" Huuufffttt... ya saya usahakan minggu ini sudah menceritakan semuanya sama Nana " ucap Nani akhirnya.


" Sudah istirahat sana Ti, saya juga mau Istirahat, besok sebelum kamu berangkat kuliah tolong bersihin ruang kerja saya ya " pinta Nani.


" Baik bu " ucap Siti. Setelah itu Siti mengecek semua pintu agar tidak ada yang lupa terkunci,dan memeriksa dapur dan barulah ia kembali ke kamarnya.


Ya walaupun Siti menjadi pembantu di rumah ini, tapi dia tetap berkuliah. Keluarga Sheyna ingin Siti juga menjadi orang yang berpendidikan dan sukses kelak.


Selain baik hati, rajin, dan cantik Siti juga cerdas. Saat Sma banyak prestasi yang ia Terima sehingga ia bisa di Terima di Universitas terbaik dan mendapatkan beasiswa.


Siti sangat berhutang budi dengan keluarga Sheyna, jika bukan karena mereka Siti tidak akan bisa merasakan hidup senyaman ini, dan mungkin dia tidak akan bisa mengenyam pendidikan seperti saat ini.


Siti selalu berjanji pada dirinya, dia tidak akan melupakan keluarga ini. Dia akan selalu melakukan yang terbaik untuk menjaga Nani dan Sheyna.


...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...