BASRI

BASRI
Motivasi



Cinta memang tidak harus memiliki, cukup bahagia ketika bisa menghabiskan waktu bersama, tertawa bersama, bercanda bersama, dan sedih bersama.


Memang tidak di pungkiri terkadang hati ingin memaksa untuk memilikinya, tapi logika terus bekerja dan memilih jalan tengah agar tidak ada yang saling menyakiti.


Sheyna tidak melupakan kalau dia mencintai Alvaro dan mereka pernah memiliki hubungan, namun semua itu cukup ia kenang sendiri.


Bisa melihat Alvaro memperlakukannya seperti pertama kali mereka bertemu saja sudah membuat Sheyna bahagia. Sheyna menatap Alvaro yang sedang bercengkrama dengan teman teman kelasnya.


" Tatapannya, senyumannya, tawanya membuat hati ini selalu berdetak " batin Sheyna.


" Sensen! " panggil Rania dengan nada cukup tinggi.


" Apa sih Ran? " tanya Sheyna menatap Rania.


" Lo ngeliatin apa sih dari tadi gue panggil panggil gak nyaut ! " omel Rania.


" Gak ngeliatin apa apa kok, kenapa? "


" Ini si Billa mau ngenalin kita ke keluarganya Lo ikut? " tanya Rania.


" Hari ini? "


" Gak satu dekade lagi, ya hari ini Sensen ku sayang " Rania menangkup wajah Sheyna gemas.


" Iya Sen, kemarin gue ceritain kalian ke keluarga gue, dan mama gue mau kenal kalian " sambung Billa.


Sheyna tampak berpikir, bukannya dia tidak ingin namun hari ini adalah jadwal dia cek up.


" Kalau gak hari ini bisa gak? soalnya gue udah janji sama mbak Siti mau nemenin dia " bohong Sheyna.


" Ya udah besok gimana? " tanya Billa.


" Oke deh " jawab Sheyna.


" Nah gitu dong, entar kapan kapan main ke rumah gue ya " ucap Rania.


" Ogah yang ada gue kelaperan lagi di rumah Lo " sungut Sheyna.


Sheyna ingat saat mereka berada di rumah Rania, mereka akan selalu kelaparan karena tidak ada makanan karena tidak ada yang memasak.


" Yeee maklum lah, lain kali gue prepare deh " bujuk Rania.


" Terserah La U deh " ucap Sheyna.Lalu mereka terlarut dalam obrolan.


...***...


Di rumah Sheyna tengah bersiap siap untuk pergi ke rumah sakit. Ia dan mbak Siti sedang menunggu Nani menjemput mereka.


" Mbak kenapa gak sama pak Udin aja? " tanya Sheyna.


" Ibu gak ngizinin, katanya biar dia aja yang nganter dek " jelas mbak Siti. Sheyna hanya mengangguk.


Tak berselang lama mobil Nani memasuki pekarangan rumah.


" Ayo naik entar telat " ujar Nani, Sheyna dan mbak Siti pun menaiki mobil Nani.


Nani langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Di dalam perjalanan mereka hanya berbincang seputaran sekolah Sheyna. Sheyna yang bercerita kalau dia memiliki teman baru lagi, dan ke seruan ke seruan mereka.


Setelah tiba di rumah sakit mereka langsung menuju ruang pemeriksaan di temani Dr. Nevan.


" Nana jangan takut ya " Seru Nevan saat bersiap mengambil darah Sheyna untuk di uji.


" Nana gak takut om " bohong Sheyna padahal jelas terlihat di wajahnya bahwa ia takut. Nevan tersenyum dan mengelus pucuk kepala Sheyna.


" Nana di sekolah punya banyak teman gak? " tanya Nevan mengalihkan perhatian Sheyna.


Sheyna yang selalu bersemangat jika membahas sahabatnya langsung menceritakan tentang pertemanan mereka, tentang bagaimana bahagianya Sheyna memiliki teman seperti Rania dkk.


Nevan yang berhasil membuat Sheyna teralihkan langsung mengambil sampel darah, dan menyuntikkan beberapa vitamin ke tubuh Sheyna.


" Sudah selesai " ucap Nevan tersenyum.


" Eeehhh... kapan Om ngambil darahnya? " heran Sheyna.


" Tadi waktu kamu asik cerita " timpal Nani.


" Beeeeuuuhhh... Dr. Nevan paling topcer mengelabuhi Nana " Mbak Siti mengacungkan jempolnya.


Ya Sheyna itu paling takut dengan jarum suntik, pernah kejadian dimana saat mereka cek up Nevan harus beberapa kali menyuntik Sheyna karena darah Sheyna tidak keluar karena sangat takut.


Tapi semenjak kejadian itu, Nevan terus mencari cara bagaimana agar bisa mengalihkan perhatian Sheyna. Salah satunya dengan cara meminta Sheyna menceritakan keseharian nya.


" Ya sudah, sekarang kalian boleh tunggu di ruang tunggu ya, om mau ke lab dulu " pamit Nevan dan keluar dari ruang pemeriksaan.


" Ma Nana sama mbak Siti ke taman ya " izin Sheyna yang di setujui oleh Nani.


Merekapun berjalan menuju taman rumah sakit. Tampak beberapa pasien yang sedang menghirup udara segar di sana. Mata Sheyna tidak sengaja bertatapan dengan seorang gadis kecil yang duduk di atas kursi roda tepat di sampingnya.


" Haiii kakak cantik " sapa adik kecil tersebut.


" Haii... " Sheyna menyapa balik dan sedikit berjongkok.


" Kamu di sini sendirian? " tanya Sheyna.


" Enggak, itu bareng suster kak " tunjuk gadis tersebut pada seorang suster yang berdiri di dekat tiang rumah sakit. Sheyna hanya mengangguk.


Sheyna tersenyum sambil mengelus pucuk kepala gadis tersebut.


" Kakak gak sakit kok, oh iya nama kamu siapa? " tanya Sheyna berusaha mengalihkan pembicaraan.


" Nama ku Cahaya, nama kakak siapa? " tanya cahaya.


" Panggil aja kakak Nana, dan ini mbak Siti " Sheyna memperkenalkan dirinya dan mbak Siti.


Merekapun saling berbagi cerita, Sheyna berusaha menghibur Cahaya yang ternyata mengidap kanker otak. Melihat dia tertawa dan kuat menjalani pengobatan membuat Sheyna merasa termotivasi. Sheyna akan lebih bersemangat lagi untuk sembuh dari penyakitnya.


Di sisi lain Nani masih menunggu hasil cek up Sheyna.


" Nan.. ini hasil pemeriksaan nya " Nevan memberikan sebuah amplop coklat kepada Nani.


" Bagaimana hasilnya? " tanya Nani sambil berjalan beriringan menuju taman rumah sakit.


" Cukup baik, namun kita harus tetap mengawasi Sheyna karena kankernya terus berkembang, tapi sejauh ini masih belum membutuhkan kemoterapi " jelas Nevan.


" Apa ada cara lain lagi Van? aku tidak tega jika Nana harus di kemo nantinya " khawatir Nani.


" Kalau di Negara kita belum ada Nan, tapi aku akan berusaha membuat Sheyna sembuh " Nevan berusaha menenangkan Nani.


" Oh iya Nan, bagaimana dengan pesan terakhir Seno sudah kamu pertimbangkan? " tanya Nevan.


" Maaf Van, aku masih butuh waktu " jawab Nani seadanya.


Ya sebelum meninggal Seno sempat menitipkan pesan terakhir kepada Nevan, namun pesan terakhir nya cukup membuat Nani kesulitan.


" Iya aku ngerti Nan " Nevan tersenyum.


Tak terasa mereka sudah tiba di taman rumah sakit. Nani tersenyum melihat Sheyna yang sedang bersenda gurau dengan seorang pasien.


" Nana.... " panggil Nani membuat ketiga gadis yang berada di sana menoleh.


" Cahaya kakak pulang dulu ya, mama kakak udah manggil tuh " tunjuk Sheyna kepada Nani yang melambaikan tangan.


" Iya kak, kapan kapan kita main bareng ya kak " ucap Cahaya.


" Iya adik manis nanti mbak Siti bawain mainan yang banyak buat kalian main " ucap mbak Siti mengelus pucuk kepala Cahaya sayang.


" Siap mbak Siti "


Merekapun saling berpamitan, dan langsung menghampiri Nani dan Nevan.


" Siapa itu? " tanya Nani.


" Temen baru " jawab Sheyna seadanya.


" Ya udah, pulang yuk " ajak Nani.


" Mama sama mbak Siti duluan ya, Nana mau ke toilet sebentar, kebelet " bisik Sheyna pada Nani.


" Ya sudah sana " jawab Nani.


" Bye om Nevan, thank's buat semuanya " ucap Sheyna langsung berlari menuju toilet.


Setelah selesai dengan panggilan alamnya, Sheyna mencuci tangan dan mencuci mukanya. Ia menatap wajahnya yang pucat di cermin.


" Gue akan baik baik aja, dan bisa sem.... "


Braaakkk...


Sheyna terkaget saat tiba tiba seseorang meletakkan tas nya di atas wastafel cukup kencang.


" Haiii... " sapa seseorang berdiri di sampingnya.


" Fenty... " ucap gugup.


" Ngapain Lo di sini? " tanya Fenty sambil mendorong bahu Sheyna.


" B.. bukan urusan Lo " Sheyna berusaha menghindar.


" Benerkan tebakan gue Lo itu penyakitan! sakit apa Lo " Sheyna terus mundur karena Fenty menghalangi jalannya.


Suasa toilet juga sepi membuat Sheyna sedikit takut, tubuhnya juga sedang tidak fit.


" Bukan urusan Lo gue ngapain di sini, minggir " Sheyna mencoba melawan dengan mendorong tubuh Fenty.


Fenty tersenyum iblis melihat Sheyna yang tidak bisa berbuat apa apa.


Braaakkk...


Fenty mendorong Sheyna hingga menabrak kotak sampah toilet.


Fenty mencengkram dagu Sheyna cukup kuat.


" Heehhh gue bakal buktiin kalau Lo cewek penyakitan, dan cewek penyakitan gak layak temenan sama Alvaro dkk " melepaskan cengkaramannya lalu beranjak pergi.


Sheyna meringis, sikunya berdarah karena tidak sengaja terkena pinggiran kotak sampah yang tajam. Ia membersihkan lukanya lalu langsung menuju parkiran karena ia takut mamanya khawatir.


......◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦......