BASRI

BASRI
Terungkap



Awan gelap menyambut pagi ini, hujan belum turun namun angin sudah berhembus kencang.


Sheyna melangkah di koridor sekolah sendirian, ia sengaja berangkat lebih awal untuk menghindari Iqbal.


Sheyna memasuki kelasnya yang masih kosong dan menelungkupkan wajahnya di atas meja. Namun tiba tiba seseorang menyentuh bahunya membuat Sheyna mengangkat kepalanya.


"Julian " kaget Sheyna.


"Ngapain Lo sendirian pacar Lo mana ? " tanya Julian.


"Mereka belum nyampe, Lo beneran pindah kesini ?"Tanya Sheyna.


"Menurut Lo " Sheyna hanya terkekeh.


"Lo masih sama"Julian mengacak rambut Sheyna.


"Ya iyalah sama, kalau beda Lo gak bakal kenal gue " timpal Sheyna dengan nada jenaka.


"Hehehh, tapi suasananya sekarang sudah beda Na, Lo udah punya 2 pawang " Julian tersenyum getir.


"Hmmm...Jul gue mau nanya sesuatu boleh ?"ujar Sheyna.


Sepertinya ia perlu tahu permasalahan antara Julian dan Iqbal, sehingga ia bisa membuat mereka berdamai kelak.


"Sebenarnya Lo ada masalah apa sam Iqbal ?" tanya Sheyna.


Julian terkekeh "Biasa masalah wanita" Sheyna mengangguk ia mengerti maksud dari kata tersebut.


"Saran gue sebaiknya Lo selesain masalah kalian, bicarakan baik baik, toh sudah masa lalu kan "


"Iya sebenarnya gue sekolah di sini selain karena Lo tapi juga karena mau memperbaiki semuanya, gue pengen minta maaf sama mereka, dan melihat respon mereka sepertinya akan sulit " lirih Julian membuat Sheyna iba.


"Gue akan bantuin Lo semampu gue Jul, Lo tenang aja " Sheyna tersenyum sangat manis.


"Manis " ujar Julian tanpa sadar.


"Hahh kenapa Jul"


"Ohhh...gak gue pamit ya, mau ketemu kepala sekolah " Sheyna hanya mengangguk lagi pula teman kelasnya mulai berdatangan.


...***...


Bel istirahat berbunyi, Sheyna membereskan buku bukunya.


"Kantin " ujar Alvaro menghampiri Sheyna di mejanya.


"Ayo" Sheyna tersenyum.


"Eghem...kita juga mau ikut kali " timpal Billa dan Rania sewot.


"Eeiiitttsss sorry, kali ini kita mau berduaan " timpal Alvaro.


"Iya nihhh, Lo yang jomblo sendiri dulu ya " tambah Iqbal menarik tangan Rania.


"Ooohhh jadi gini, mentang mentang udah resmi jadian, dan sekarang pada pasang pasangan gue di tinggal, oke...fine " Rajuk Billa langsung keluar kelas dengan menghentakkan kakinya kesal.


"Iiih kalian jahat banget mau gimana pun Billa sahabat kita ya " ujar Sheyna meninggalkan Alvaro dan menyusul Billa.


"Tau dasar cowok " Rania ikutan meninggalkan Iqbal dan menyusul Billa dan Sheyna.


Alvaro yang sejak tadi memperhatikan Iqbal dan Sheyna merasa ada yang janggal.


"Bal Lo sama Sensen kenapa ? " tanya Alvaro.


Iqbal menghela nafas dan duduk di bangku Rania.


"Hufffttt...gue gak tau cara ngasih tau dia untuk jauh jauh dari Julian " ujar Iqbal serius membuat Alvaro duduk di bangku Billa menghadap Iqbal.


"Nanti coba gue yang ngomong sama dia "


"Gue rasa gak segampang itu Al, karena mereka udah sahabatan sejak SD sama kayak kita dan Rania hanya saja mereka lebih lama " Iqbal benar benar merasa frustasi di satu sisi ia ingin menjauhkan Sheyna dari Julian tapi di sisi lain ia tidak tega karena Julian merupakan sahabat Sheyna.


"Menurut gue sebaiknya kita ceritain yang sebenarnya sama Sensen supaya dia bisa ngerti " ujar Alvaro lagi.


Saat ini kelas sudah sepi, sehingga mereka bisa berdiskusi dengan leluasa.


"Gue setuju Al, ayo kita susul mereka" Saat mereka akan beranjak tiba tiba teman kelasnya yang bernama Fajri tergesa gesa menghampiri mereka.


"Bal...Rania...hosss..hosss" ujarnya ngos ngosan.


"Rania kenapa ?" tanya Alvaro.


"Itu...di kantin hosss..."


Tanpa pikir panjang Iqbal langsung berlari menuju kantin.


Di kantin sudah banyak murid yang bergerombol membuat Iqbal semakin panik, ia langsung menerobos gerombolan murid.


"Aarrrggghhhh pergi...." teriak Rania sambil memeluk lututnya Iqbal langsung memeluk tubuh Rania dan menenangkannya.


"Heiii jangan takut ada gue, dia gak ada di sini " bujuk Iqbal.


"Enggak dia di sini Bal, dia pakai seragam kita, dia di sini " histeris Rania, Iqbal menggendong tubuh Rania dan membawanya menjauh dari sana.


"Rania kenapa ?" tanya Alvaro kepada Sheyna dan Billa yang masih shok.


"Gak ngerti Al gue sama Sensen baru balik dari pesen makan waktu balik dia udah histeris" jelas Billa.


"Baj*n**n itu pas di sekitar sini !" Alvaro mengepalkan tangannya sambil melihat sekeliling.


"Al kamu cari siapa ?" tanya Sheyna panik.


"Julian b***s*t " teriak Alvaro saat menemukan sosok Julian yang hanya memasang wajah datar.


Billa yang bingung harus berbuat apa akhirnya mengikuti Sheyna.


"B***s*t "


Buggghhh...


"Ngapain lagi Lo di sini ! Belum puas Lo buat Shabat gue menderita !" Alvaro mencengkram kerah baju Julian berniat memukulnya lagi, namun tangannya di tahan oleh Sheyna.


"Al...stop ini sekolah " peringat Sheyna.


"Lo gak perlu belain cowok b***n**n ini" sarkas Alvaro menghempaskan tangan Sheyna.


"Al gue mohon stop, semuanya bisa di bicarakan baik baik, Julian di sini buat memperbaiki semuanya " Sheyna berusaha menjelaskan namun Alvaro telah di kuasai emosi.


"Ohhh jadi Lo belain dia !"


"Gak gitu Al, tapi gue kenal Julian dan dia udah cerita semuanya, gue rasa kalian hanya salah paham selama ini " tutur Sheyna lagi.


Alvaro terkekeh dan melepaskan cengkraman tangannya di baju Julian.


"Dan Lo percaya dia ? Kalau bukan karena dia Rania gak bakal kayak tadi " sarkas Alvaro meninggalkan Sheyna begitu saja.


Billa yang bingung memilih mengikuti Alvaro, sedangkan Sheyna berniat menyusul namun tangannya di tahan oleh Julian.


"Thank's ya Na udah bantuin gue " Ujar Julian.


"Gue gak bentuin Lo gue cuma berusaha ngejelasin sama mereka, tapi sorry Jul, gue emang gak tau apa masalah kalian tapi ngeliat Alvaro semarah itu kayaknya kesalahan Lo fatal dan itu menyangkut Rania, gue harap kalau niat Lo baik selesain ini secepatnya dan kalau Lo punya niat jahat jangan harap kita saling kenal lagi " Ujar Sheyna panjang lebar dan meninggalkan Julian sendirian.


Setelah kepergian Sheyna dua orang gadis menghampirinya.


"Well sekarang dia udah benar benar berpaling dari Lo " ujar Inggit.


"Dan kayaknya Lo sekarang di buang sama pujaan hati Lo " tambah Fenty.


"Terserah kalian mau bilang apa, tapi gue peringatkan kalian jangan pernah ganggu Nana lagi" sarkas Julian,meninggalkan Fenty dan Inggit.


"Lo pikir Lo siapa bisa ngatur ngatur gue " timpal Inggit sinis.


***


Di UKS Rania sudah tenang, namun Sheyna tidak berani menyapanya dan membuka suara, ia takut akan membuat mereka semakin marah kepadanya.


"Sen, gue tahu Lo sahabat cowok itu, tapi please gue mohon sama Lo untuk jauh jauh dari dia, dia bukan cowok yang baik " ujar Rania tiba tiba.


"Tapi Ran, dia balik ke sini untuk memperbaiki semuanya " sanggah Sheyna.


"Bulshit ! Dia itu jahat ! Dia yang buat gue kayak gini ! Cowok yang gue ceritain kemarin itu dia !"


Sontak Sheyna dan Billa di buat terkejut dengan penuturan Rania.


"What !...No!...gak mungkin Ran, Julian itu cowok yang baik, selama ini dia baik ke gue !" Sheyna tidak terima sahabatnya di jelekkan.


"Iya dia baik sama Lo karena dia terobsesi sama Lo! " Rania berdiri dengan emosi yang menggebu.


"Hahahhh...gue gak ngerti, kenapa kalian semua benci sama dia sampe segitunya, dia baik sama gue selama ini, dan dia ke sini mau memperbaiki semuanya dan minta maaf ke kalian "


Plakkkk...


Semuanya di buat terkejut ketika Rania menampar wajah Sheyna.


"Lo terlalu naif Sen, asal Lo tau dia hampir ngelecehin gue karena gue mirip sama cewek yang dia suka namanya Nana, gue nolak dia karena gue tau dia gak tulus sama gue, dan gue baru sadar ketika Alvaro bilang kalau Lo sahabat dia dari SD, dan gue juga inget nyokap Lo manggil Lo dengan sebutan Nana, dan itu berarti dia terobsesi sama Lo dan Lo penyebab gue hampir di lecehin sama dia !" teriak Rania penuh emosi.


Sheyna berusaha menahan air matanya, dia tidak mengerti dengan situasi ini, ia tidak tahu harus percaya dengan siapa. Alvaro, Billa dan Iqbal tampak enggan untuk membelanya atau bahkan melerai mereka, Sheyna merasa bersalah dengan penuturan Rania.


Ia tidak tahu jika selama ini dirinyalah yang menjadi sumber masalah mereka. Sheyna menarik nafas, mencoba menetralkan nafasnya yang tiba tiba sesak.


"Kalau yang Lo katakan itu benar, gue minta maaf Ran, gue gak bermaksud buat Lo jadi kayak gini Ran, dan Kalian bertiga gue juga minta maaf, harusnya gue gak pernah ada di antara kalian" Air matanya menetes, namun Sheyna langsung menghapusnya dan berbalik arah keluar UKS.


Alvaro berniat menyusulnya namun Rania mencegahnya.


"Jangan kejar dia Al" mohon Rania dengan air mata yang berlinang.


Sheyna berlari menuju kelasnya dan mengambil tasnya, ia langsung menemui guru piket dan meminta izin dengan alasan ia sakit.


"Ran Lo gak keterlaluan sama Sensen walau bagaimanapun dia sahabat kita " ujar Billa, ketika mereka sudah keluar dari UKS.


"Iya gue rasa dia gak tau kejadian yang sebenarnya, tapi dari mana Lo tau kalau Julian terobsesi sama Sheyna " tanya Alvaro.


"Karena Julian dulu sering cerita tentang sahabatnya yang namanya Nana, awalnya gue gak kepikiran itu Sheyna tapi setelah Lo datang dan bilang Sheyna sahabatnya gue baru sadar Al "


"Tapi kayaknya Sheyna, gak tahu sifat asli Julian, sebaiknya kita minta maaf ke dia " Ujar Alvaro.


"Gak ! Bisa aja dia sekongkol sama Julian, dan sengaja deketin kita, buktinya Julian bisa sekolah di sini sekarang!" sarkas Rania.


"Tapi Ran..." Belum sempat Billa menyelesaikan ucapannya, Iqbal langsung menyela.


"Stop Bil, untuk saat ini sebaiknya kita fokus jauhin Rania dari Julian "sela Iqbal.


"Tapi Bal, bisa jadi Sensen dalam bahaya " tambah Alvaro khawatir.


Walau bagaimanapun Alvaro adalah pacar Sheyna dan sangat menyayangi Sheyna.


Mengetahui fakta bahwa Julian terobsesi dengan Sheyna membuat Alvaro berpikir jika Sheyna akan dalam bahaya dan dia selaku pacarnya harus melindungi pujaan hatinya.


"Terserah kalian, kalau kalian lebih milih Sheyna silahkan, gue bisa jaga diri sendiri " Ujar Rania langsung meninggalkan ketiga sahabatnya.


"Gue tau Lo pacar Sensen, tapi Lo juga tau kalau Rania gak punya siapa siapa selain kita " ucap Iqbal sebelum menyusul Rania.


Alvaro tampak frustasi, ia tidak tahu harus berbuat apa.


"Yang di katakan Iqbal benar, sebaiknya kita bantuin Rania dulu, setelah itu baru kita minta maaf ke Sensen, gue ngerti perasaan Lo, tapi Gue yakin Sensen bisa jaga diri, dia punya mbak Siti dan tante Nani yang selalu ada buat dia Al " Billa menepuk bahu Alvaro, dan pergi meninggalkan Alvaro yang masih bimbang.