BASRI

BASRI
Permainan Takdir



Terkadang takdir memang suka bermain main dengan dengan perasaan. Seperti halnya saat ini, takdir sedang mempermainkan perasan Alvaro.


Sejak pulang sekolah tadi hatinya sangat gelisah ketika mendengar cerita Sheyna di sekolah tadi.


Flashback On


Bel Istirahat telah berbunyi beberapa menit lalu, Sheyna dkk sudah berkumpul di kantin. Alvaro yang sejak tadi memperhatikan Sheyna merasa khawatir karena Sheyna tampak tidak bersemangat hari ini, terlebih wajahnya sangat pucat.


" Guys kalian mau pesen apa? " tanya Iqbal.


" Gue mie ayam sama mineral aja" ucap Rania.


" Soto deh, minumnya mau jus jambu " tambah Billa.


" Lo? " tanya Iqbal pada Alvaro.


" Kayak biasa aja "


" Sensen mau makan apa? " tanya Iqbal lagi.


" Apa aja Bal " jawab sheyna tidak bersemangat membuat Iqbal mengernyitkan dahinya namun setelah itu pergi memesan makanan.


" Lo kenapa Sen? " tanya Alvaro sambil memegang tangan Sheyna.


Sheyna menatap Alvaro, lalu menatap Rania dan Billa secara bergantian.


" Iya kenapa Lo lemes banget hari ini? " tanya Rania.


" Lo sakit? " tanya Billa juga.


Sheyna menarik nafas, dan berkata " Nyokap gue mau nikah lagi "


" Haahhh... " Teriak Billa dan Rania kaget, sedangkan tubuh Alvaro menegang.


Pikiran Alvaro kembali saat ayahnya berkata bahwa dia akan menikah lagi, dan calon istri nya memiliki anak yang satu sekolah dengannya.


Alvaro sudah bosan mencari tahu siapa anak calon istri ayahnya, dan sekarang dia di kejutkan dengan penuturan Sheyna. Hatinya bergejolak, jika orang itu benar Sheyna maka cintanya akan bertepuk sebelah tangan.


" Lo serius? sama siapa? " tanya Alvaro penasaran, dia berharap bukan Sheyna yang akan menjadi saudara tirinya.


" Sama sahabat bokap gue, dan yang lebih buat gue bingung itu wasiat terakhir bokap jadi gue gak bisa nolak " cerita Sheyna.


Billa dan Rania langsung memeluk Sheyna.


" Gue tahu perasaan Lo, tapi mungkin itu memang yang terbaik buat Lo dan nyokap Lo " ucap Billa menenangkan Sheyna.


" Iya gue tahu Bil, dan memang sahabat bokap gue itu baik, dan pekerja keras, tapi gue takut nanti setelah menikah dia berubah kayak di novel novel "


Rania mengelus pundak Sheyna dan berkata " Ini bukan novel Sensen, gue yakin bokap Lo sudah memikirkan ini matang matang sebelum dia membuat wasiat itu "


" Hmmm semoga ya " mereka terus berpelukan sampai datanglah Iqbal yang menghancurkan momen mengharukan mereka.


" Woiii pada ngapain peluk pelukan kayak teletubbies" Iqbal meletakkan nampa yang berisi makanan di atas meja.


Ketiga gadis tersebut menatap Iqbal tajam.


" Dih pada serem amat tu mata, Al ni makanan Lo " ucap Iqbal ngeri melihat tatapan mereka bertiga dan membagikan makanan mereka, dan mereka pun mulai makan.


Sedangkan Alvaro masih memikirkan pernyataan Sheyna tadi, bagaimana jika Sheyna benar benar akan menjadi saudari tirinya. Alvaro tidak bisa membayangkan betapa sakit hatinya kelak.


Flashback Off


" Aaaaarrrrggghhhh..... gak gak boleh Sensen harus jadi pacar gue, gue sayang banget sama dia, gue gak mau dia jadi adik gue " ucap Alvaro berteriak di kamar nya.


" Al... " panggil seseorang dari luar kamarnya.


" Gak Al gak mau ayah nikah !!! " teriak Alvaro membuat ayahnya sedikit bingung, dan langsung masuk ke kamar anaknya.


" Kamu kenapa? " tanya ayahnya.


" Yah Al gak mau papa nikah sama tente itu, Al gak mau "


" Iya tapi kenapa? kemarin kamu setuju "


" Pokoknya Al gak mau !! " teriak Alvaro lagi.


" Ya sudah begini saja, dua hari lagi Ayah sudah janji mau makan malam bersamanya sekalian mempertemukan kalian, kalau malam itu kamu benar benar tidak setuju maka ayah gak jadi nikah sama dia " tawar ayahnya membuat Alvaro menatap ayahnya intens.


" Ayah janji kalau Al gak setuju, ayah akan putus sama dia?" Tanya Alvaro memastikan.


Alvaro menghela nafas lega dan memeluk ayahnya sebentar. Setidaknya dia masih punya harapan jika itu benar benar Sheyna maka dia bisa meminta ayahnya untuk memutuskan mama Sheyna.


...***...


Di sisi lain, Sheyna, mbak Siti dan Nani sedang nonton film ke sukaan mereka di TV.


" Ma... mama yakin mau nikah lagi? " tanya Sheyna namun matanya tetap fokus pada filmnya.


" Nana kenapa nanya gitu? " ucap Nani menatap Sheyna.


" Gak Nana cuma takut aja nanti om Nevan berubah jadi monster kalau sudah nikah sama mama, kayak di novel "


" Kebanyakan baca novel nih, jadi pikiran nya kemana mana " sambung mbak Siti.


Nani tersenyum, dan mengelus pucuk kepala Sheyna.


" Nana ingat gak dulu kita pernah tetanggaan sama om Nevan " Sheyna mengangguk.


" Kamu ingat Arsen? " tanya Nani, Sheyna tampak berpikir dan menggelengkan kepalanya tanda bahwa dia tidak ingat.


" Arsenio anak om Nevan, yang dulu selalu maksa Nana buat jadi adiknya " Nani mencoba membantu Sheyna mengingatnya.


" Ouhhh... Nana ingat Arsenio si gendut yang selalu jahili Nana, yang gak tenang kalau Nana pulang gak nangis " Sheyna mengingat betul sosok anak kecil yang selalu menjahilinya tersebut.


" Nah kamu ingat, dia kan anak om Nevan, nanti dia bakal jadi kakak kamu "


" Apa...!!! " ucap Sheyna terkejut.


Sheyna tidak bisa membayangkan bagaimana hari harinya jika bersaudara dengan orang tersebut.


" Dia juga sekolah di sekolah kamu, dan satu angkatan, tapi mama gak tahu dia di kelas mana, mama juga belum pernah lagi ketemu dia " Nani menjelaskan.


" Ma gak bisa di batalin nikahnya " ucap Sheyna tiba tiba membuat Nani dan Siti saling bertatapan.


" Hm... gini gini dulu aja Nana sering nangis di buat Arsenio, apa lagi nanti kalau mama menikah sama om Nevan " ucap Sheyna takut.


Melihat wajah Sheyna yang ketakutan membuat Nani dan Siti tertawa.


" Hahahha... Dek mending Lo berhenti baca novel deh, pikiran Lo udah jauh banget, ya kali tuh anak masih jail kayak dulu udah gengsi kali dek " ucap Siti sambil menertawakan Nana.


" Iya sayang, dia sudah seumuran kamu, pasti dia sudah dewasa dan gak mungkin seperti saat kalian masih kecil " ucap Nani.


Sheyna memanyunkan bibirnya, dia tidak setuju dengan pemikiran mbak Siti dan mamanya. Menurut Sheyna tabiat seseorang itu sulit berubah, kecuali terjadi sesuatu yang buruk terhadap orang tersebut sehingga membuatnya trauma.


Seperti halnya saat ia kehilangan papanya dan tak berselang lama dia di vonis sakit. Sifat Sheyna yang ceria bisa berubah jadi murung.


" Terserah mama deh, lagian kan om Nevan belum lulus dari penilaian Nana, dan mama bilang Mama gak akan maksain Nana kalau Nana gak suka " ucap Sheyna menang dan kembali fokus pada tontonannya.


Lagi lagi Nani mengelus surai hitam Sheyna penuh sayang.


" Anak mama sudah besar, iya keputusan ada di kamu mama tidak akan memaksa " ucap Nani tersenyum hangat.


Melihat senyum Nani membuat Sheyna merasa bersalah karena telah berkata seperti itu.


" Oh iya mama hampir lupa, dua hari lagi om Nevan ngajakin kita makan malam bersama, sekalian dia mau ngenalin Arsen ke kita, kan kita udah lama banget gak ketemu Arsen " ucap Nani lagi.


" Hmm... harus banget ya ma " tanya Sheyna.


" Harus dek, katanya mau nilai om Nevan, coba aja mulai nilainya dari pertemuan malam itu " usul mbak Siti.


" Tumben mbak bijak " ucap Sheyna menjentikkan jarinya.


Siti menaikan sebelah alisnya.


" Tumben? mbak selalu bijak kali " ucapnya sambil memasang wajah mengejek.


" Dih bijak apaan " Sheyna melempar bantal sofa dan memasang wajah menantang.


" Wah... wah... ngajak perang nih " ucap Siti membalas melempar bantal.


Mereka pun berdiri dan terjadilah perang bantal, Nani yang melihat tingkah mereka hanya tersenyum dan menggeleng kepala.


Setidaknya suasana rumah tidak pernah sepi dengan adanya pertengkaran di antara mereka,selain itu Nani tidak akan khawatir kalau mereka bertengkar,toh setelah bertengkar mereka juga akan langsung berbaikan seperti biasanya.


...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...