BASRI

BASRI
Angin Pagi



Semerbak angin pagi, berpadu dengan cahaya matahari yang masih malu malu memancarkan cahayanya. Sheyna duduk di atas kursi roda, sambil menghirup udara pagi yang menyegarkan dan menikmati cahaya matahari yang menghangatkan.


Setelah menjalani kemoterapi beberapa hari lalu, Sheyna merasa bersyukur karena masih di beri kesempatan untuk menikmati hari ini, mulai saat ini dia tidak akan lagi menyia nyiakan hidupnya. Dia akan membuat hidupnya lebih baik lagi.


" Jangan melamun " tegur Iqbal yang berdiri di belakangnya.


" Gak melamun hanya menikmati suasana alam semesta hari ini " ucap Sheyna tersenyum dengan bibir pucatnya.


Iqbal terenyuh melihat Sheyna yang masih tetap tersenyum dalam keadaannya yang sekarang,Iqbal sedikit menyesal terlambat mengetahui kondisi Sheyna.


" Lo bolos lagi hari ini? " tanya Sheyna, Iqbal langsung duduk di bangku yang bersebelahan dengan Sheyna.


" Rencananya sih gitu "


" Bal... Lo udah bolos berapa hari, Lo bakal ketinggalan banyak pelajaran " Sheyna berusaha menasehati Iqbal.


Semenjak perkelahian kemarin, Iqbal enggan masuk sekolah karena dia takut tidak bisa mengontrol emosinya ketika melihat Alvaro.


Di tambah dengan kondisi Sheyna yang menurun, Iqbal rasa enggan untuk jauh dari Sheyna.


" Apa kabar Lo yang udah hampir seminggu gak masuk " Iqbal menyentil hidung Sheyna.


" Nah justru itu, kalau Lo sekolah kan setidaknya gue bisa liat catatan Lo nanti, jadi gak ketinggalan banget "


" Gue udah pinter gak perlu belajar " jawab Iqbal menyenderkan tubuhnya ke sandaran bangku.


Sheyna menggelengkan kepalanya, entah dia tidak tahu apa yang ada di pikiran Iqbal, dan yang lebih membuat ia tidak habis pikir Nevan juga tidak menegur Iqbal yang sudah bolos beberapa hari.


" Lo masih kesel sama Alvaro? " tanya Sheyna menatap Iqbal, Iqbal menatap Sheyna dengan tatapan yang sulit di artikan.


" Gak usah bahas dia "


" Bal... " Sheyna memegang tangan Iqbal.


" Kalian sahabatan udah lama, bahkan lebih lama dari gue, masa cuma gara gara gue kalian berantem " Iqbal menatap Sheyna.


Jujur dia masih kesal dengan Alvaro, tapi yang di katakan Sheyna ada benarnya mereka sudah bersahabat sejak SMP.


" Bal gue gak apa apa,gue kayak gini juga bukan karena mereka, ya Lo tau sendiri lah kondisi gue gimana kan, Lo gak bisa terus nyalahin mereka " Tampak Iqbal menghela nafasnya.


" Bawel banget sih adek gue " Iqbal mencubit gemas pipi Sheyna.


" Iiihhh sakit tahu, lagian kita belum resmi jadi adek kakak ya " protes Sheyna dengan bibir yang maju.


" Hahahha... masih gemes aja sih walaupun udah 10 tahun gak ketemu " Sheyna memukul bahu Iqbal.


" Buruan gih siap siap sana sekolah ntar telat" Omel Sheyna membuat Iqbal kembali terkekeh.


" Iya iya, ayo balik ke ruangan " ajak Iqbal.


Sheyna melihat sekeliling belum banyak pasien yang keluar, tapi dalam hatinya dia masih ingin berada di taman itu.


" Ya udah ayo " jawab Sheyna lesu. Dengan terpaksa Iqbal mendorong kursi roda Sheyna.


Namun baru beberapa langkah tiba tiba ada seseorang yang memanggil Sheyna.


" Kak Nana... " panggil seseorang dari arah belakangnya,Sheyna meminta Iqbal memutar balik kursi rodanya, seketika Sheyna mengembangkan senyumnya ketika melihat gadis kecil yang juga duduk di kursi rodanya.


" Cahaya... " Panggil Sheyna tersenyum lebar.


" Bal anterin ke sana ya " Mohon Sheyna pada Iqbal sambil menunjuk tempat Cahaya.


" Tapi tadi Lo nyuruh gue sekolah " protes Iqbal.


" Anterin dulu gih, habis itu Lo siap siap, entar minta mbak Siti jemput gue di sini " jelas Sheyna. Iqbal akhirnya menuruti permintaan Sheyna, karena ia melihat wajah Sheyna yang bersemangat ketika melihat gadis kecil tersebut.


Sepeninggal Iqbal, Sheyna berbincang dengan cahaya yang ternyata juga baru selesai kemoterapi.


" Kata kak Nana, kak Nana gak sakit? " tanya Cahaya.


" Kakak gak sakit kok cuma kecapekan doang " bohong Sheyna.


Cahaya menatap Sheyna dengan tatapan yang sulit di artikan membuat Sheyna merasa gugup.


" Eee... Cahaya bareng siapa? kok sendirian? " tanya Sheyna mengalihkan perhatiannya.


Cahaya tampak mencari seseorang, lalu tersenyum setelah menemukan orang tersebut.


" Bareng kakak, itu dia " tunjuk Cahaya pada seorang gadis yang baru saja keluar dari toilet.


Gadis tersebut semakin mendekat,Sheyna menundukkan pandangannya, jantung Sheyna berdetak kencang, ia takut ketahuan bahwa dirinya sakit, dan ingin menghindar dirinya terlalu lemah untuk berdiri.


" Lagi sama siapa dek? " ucap gadis tersebut pada cahaya.


" Ini kak, kak Nana yang waktu itu Cahaya ceritain " ucap Cahaya menunjuk Sheyna yang menunduk.


" Oh jadi ini yang namanya kak Nana, tapi kok kayak kenal? " tanya gadis tersebut membuat Sheyna semakin gelagapan.


Akhirnya Sheyna memberanikan diri untuk menatap gadis tersebut.


" Eeehh...Haiii... Hen " sapa Sheyna cengengesan.


Henny juga tampak terkejut saat Sheyna menatapnya, dan dugaan Henny benar mereka saling kenal.


" Lo ngapain di sini? " tanya Henny, Sheyna bingung harus menjawab apa.


" Sensen gue berangkat ya, entar mbak Siti kesini katanya, kalau ada apa apa hubungi gue " Pamit Iqbal yang tiba tiba datang, lalu mencium kening Sheyna lalu pergi meninggalkan mereka.


Lagi lagi Henny di kejutkan dengan kehadiran Iqbal, Henny menatap Sheyna bingung. Sheyna hanya terkekeh dan memaksakan senyuman.


" Sen...Lo sakit apa? dan kenapa ada Iqbal? Lo pacaran sama Iqbal? " tanya Henny beruntun.


Sheyna sudah tidak bisa mengelak lagi, lagi pula Henny bukanlah orang jahat seperti Fenty. Teman pertama dia di kelas dulu juga Henny, jadi tidak masalah jika ia jujur kepada Henny bukan, lagi pula mereka akan lebih sering bertemu.


" Jadi.... " Sheyna menceritakan semuanya kepada Henny, mulai tentang penyakitnya, hingga hubungannya dengan Iqbal.


Sheyna tak lupa meminta Henny untuk merahasiakan semuanya. Dan Henny setuju untuk merahasiakan semuanya.


...***...


Di sisi lain Iqbal sudah tiba di sekolahnya,dengan santainya Iqbal duduk di bangku Sheyna, tanpa memperdulikan tatapan mematikan dari Alvaro.


" Bal Lo dari mana aja? kenapa baru masuk? " tanya Rania.


" Ada urusan gue " jawab Iqbal seadanya.


" Lo ngapain duduk di bangku Sensen " ucap Alvaro sambil menendang kursi Iqbal dari belakang.


" Bukan urusan Lo, urusin aja cemceman Lo " ucap Iqbal sambil melirik Billa dengan tatapan sinis. Billa yang melihat Iqbal melirik nya merasa bingung.


Alvaro berdiri dan menghampiri Iqbal.


" Lo tahukan di mana Sensen? " tanya Alvaro.


" Iya gue tahu di mana dia " jawab Iqbal santai, membuat Alvaro mengepalkan tangannya.


Bisa bisanya Iqbal tidak memberitahu mereka, sedang ia tahu keberadaan Sheyna.


" Beberapa hari ini gue bareng dia " sambung Iqbal membuat Alvaro mengeraskan rahangnya.


" Bal, di mana Sensen? dia baik baik aja kan? " tanya Rania.


" Baik baik aja "


" Syukurlah,kita khawatir banget " timpal Billa.


" Hehh... Khawatir...Bulshit" ucap Iqbal membuat Alvaro tidak Terima Billa di katai seperti itu.


Bugghhhh....


" Kenapa Lo marah? gak Terima gue ngatain Billa? " ucap Iqbal mengusap bibirnya yang mengeluarkan darah.


" Mau Lo apa sih Bal, kita salah apa sama Lo? " tanya Alvaro dengan emosinya, dan bersiap memukul Iqbal lagi.


Namun tiba tiba Alvaro langsung menghentikan niatnya saat Iqbal berkata " Sorry gue gak mau berantem lagi, karena pesan dari Sheyna gue gak boleh berantem sama Lo lagi " ucap Iqbal dan kembali duduk dengan santainya.


Alvaro yang masih terdiam mendengar ucapan Iqbal tadi.


" Al... udah duduk gih sebentar lagi guru masuk " peringat Billa pada Alvaro. Alvaro pun menurut, ia kembali ke bangkunya dengan berbagai pertanyaan memenuhi kepalanya.


" Kenapa Iqbal tahu dimana Sheyna? apa hubungan mereka sampai sampai Sheyna melarangnya bertengkar? sebenarnya apa yang terjadi pada Sheyna ? " batin Alvaro.


Dan tak lama guru yang mengajar pun memasuki kelas, kegiatan belajar mengajar pun di mulai.


" Kalau mau ketemu Sensen pulang sekolah ikut gue, gak usah ajak yang lain " bisik Iqbal pada Rania, Rania hanya mengangguk tanda ia setuju, lalu Iqbal tersenyum.


...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...