
" Kalian bener bener ya, kelewatan buat orang khawatir, Lo juga... " Rania menunjuk Iqbal dengan jari telunjuknya.
" Gue teriak teriak manggil Lo, Lo malah nyelonong aja kayak gue setan aja " Rania terus mengomeli Iqbal dan Sheyna.
Sheyna menatap tajam Iqbal, karena lagi lagi Iqbal memberitahu Rania dan lebih membuat Sheyna kesal Iqbal juga memberitahu Alvaro, dan jadilah mereka semua berkumpul di rumah sakit.
" Ran, sabar ini rumah sakit loh " Billa berusaha menenangkan Rania.
" Ran, gue gak apa apa kok gue cuma pusing karena kepeleset aja tadi " bohong Sheyna.
Sheyna terpaksa membohongi Rania lagi, sebelum mereka tiba ke rumah sakit Sheyna dan Iqbal sudah sepakat untuk mengatakan jika dirinya terpeleset, yang membuat hidungnya berdarah. Karena tadi saat Iqbal menggendong tubuhnya Sheyna juga melihat Rania yang tampak khawatir dan terus meneriaki Iqbal.
Lagi pula kondisinya tidak memburuk, itu hanya efek karena dia lupa meminum obatnya kemarin. Kata Nevan Sheyna hanya butuh istirahat dan meminum obatnya secara teratur.
" Tahu aaa pokoknya gue marah sama kalian " Ambek Rania.
" Tapi kamu beneran gak apa apa? terus apa kata dokter tadi? " Tanya Alvaro sambil menggenggam tangan Sheyna.
Sheyna mengulas senyumnya dan berkata " Aku beneran gak apa apa kok, katanya sore ini udah boleh pulang kok" jelas Sheyna.
Beruntungnya Sheyna tidak perlu di rawat lama lama seperti biasanya,jadi dia bisa meyakinkan pacar dan sahabatnya bahwa dirinya baik baik saja.
...***...
Walaupun sudah di perbolehkan pulang, tapi Sheyna belum di perbolehkan untuk masuk ke sekolah. Namun karena Sheyna yang tidak betah berdiam diri di rumah di tambah dia tidak ingin teman temannya curiga, jadilah Sheyna membujuk Siti dan Iqbal untuk memperbolehkan dirinya pergi sekolah tanpa sepengetahuan Nani dan Nevan.
" Ayolah mbak tolongin Nana, kan mama juga gak di rumah, Om Nevan juga di rumah sakit " Mohon Sheyna pada Siti.
" Justru Ibu gak di rumah mbak gak berani kasih izin Nana " tolak Siti.
" Tahu nih ngeyel banget jadi anak,Lo itu harus istirahat, entar kambuh lagi siapa yang repot, siapa yang khawatir, pacaran mulu yang di pikirin bukannya mikirin kesehatan, " Timpal Iqbal ikut mengomeli Sheyna.
Sheyna memanyunkan bibirnya, matanya mulai berkaca kaca. Kata kata Iqbal barusan sangat menyakiti nya, dalam hati Sheyna sama sekali dia tidak terpikirkan untuk pacaran dengan Alvaro. Dia hanya tidak ingin Rania, Billa dan Alvaro curiga dengan kondisinya.
" Loh... kok malah nangis " Ucap mbak Siti yang melihat air mata Sheyna yang mulai mengalir.
" Lo gak tahu rasanya jadi gue Bal, sama sekali gak ada pikiran gue buat pacaran terus, gue cuma gak mau Rania dan yang lainnya curiga sama kondisi gue hikksss... " ucap Sheyna terisak sambil menatap Iqbal.
" Ya terus kenapa kalau mereka tahu, bagus dong kalau mereka tahu pasti mereka juga... " Sheyna langsung menyela ucapan Iqbal.
" Mereka bakal jauhin gue, Lo mau mereka temenan sama gue karena kasihan?! Lo mau gue di kasihan kayak gini! " Teriak Sheyna membuat Siti dan Iqbal tertegun, karena baru kali ini mereka melihat Sheyna benar benar marah.
" Lo gak tahu rasanya jadi orang penyakitan kayak gue hiksss, Lo gak tahu rasanya di hantui oleh kematian hikkksss, Lo gak bakal ngerti karena kondisi Lo sama kondisi gue beda hiksss.... " Sheyna langsung berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Iqbal menatap kepergian Sheyna dengan perasaan campur aduk, hatinya ikut terasa nyeri, Iqbal sadar bahwa dirinya sudah kelewatan.
" Mbak emang gue salah ngomong ya? kan gue cuma gak mau dia mengabaikan kesehatannya " Ucap Iqbal lirih.
Siti merangkul Iqbal dan berkata, " Gak seharusnya Lo bilang kayak tadi,Lo harus nya tahu kalau orang orang seperti Nana akan lebih sensitif, jadi sekarang mending Lo minta maaf " saran Siti, lalu pergi ke dapur untuk membuat sarapan.
Dengan perasaan bersalah Iqbal sudah berdiri di depan kamar Sheyna. Hati Iqbal terasa tersayat mendengar suara isakan dari dalam kamar Sheyna.
" Sensen.... " Panggil Iqbal sambil mengetuk pintu kamar Sheyna.
" Pergi... gue gak mau ketemu Lo hiksss... " teriak Sheyna dari dalam, membuat Iqbal semakin merasa bersalah.
" Sensen... maafin gue... gue gak maksud... "
Duggghhh...
Sheyna melempar bonekanya ke arah pintu.
Iqbal benar benar merasa bersalah, dia sungguh tidak bermaksud untuk membuat Sheyna sedih. Dia hanya tidak ingin Sheyna mengabaikan kesehatan nya.
...***...
Di sekolah Iqbal tampak tidak bersemangat, selama jam pelajaran Iqbal hanya menelungkupkan wajahnya di atas meja. Rania, Billa dan Alvaro di buat heran olehnya.
" Bal... Lo kenapa sih? " tanya Alvaro yang mulai jengah dengan sikap Iqbal.
" Tahu nih Bal, lagi ada masalah? " Rania ikut bertanya.
" Bal... " Billa mencoba menggoyangkan tubuh Iqbal.
" Kalian mending pergi deh, gue lagi gak mood " Timpal Iqbal tidak bersemangat membuat semuanya mengernyitkan dahinya.
Rania, Billa dan Alvaro saling tatap seakan bertanya " Kenapa dia? " .
Alvaro mengedikkan bahunya, dan Billa menggelengkan kepalanya sebagai jawaban kalau dia tidak tahu.
" Ya udah kita ke kantin ya, ada apa apa kabarin " Ucap Alvaro,lalu mereka pun pergi meninggalkan Iqbal sendirian.
Iqbal hanya melirik sekilas, lalu ia mengeluarkan ponselnya di lihatnya room chatnya dengan Sheyna, belum ada tanda pesannya di baca oleh Sheyna.
Iqbal semakin di buat frustasi, namun tiba tiba sebuah notifikasi pesan masuk. Iqbal menyunggingkan senyumnya saat mendapat pesan dari Siti.
Siti memberitahu Iqbal bagaimana cara membuat Sheyna berhenti marah kepadanya. Dengan perasaan sedikit lega Iqbal akhirnya kembali menelungkupkan wajahnya, kali ini ia akan tidur sejenak untuk merefresh pikiran nya.
Di lain tempat Alvaro, Rania dan Billa duduk di salah satu meja kantin.
" Eeeh kalian udah tahu gak kalau Iqbal hampir setiap hari ada di rumah Sheyna " Ucap seorang gadis kepada teman temannya.
" Iya gue denger si Sonya setiap pagi ngeliat Iqbal keluar dari rumah Sheyna " Tambah gadis yang satunya.
" Iiih... parah banget masa Iqbal nikung sahabatnya sendiri " sambung gadis berambut pirang.
" Iya parah banget, tapi masa iya Alvaro gak tahu ya? terus terus masa Rania gak cemburu kan Rania udah lama suka sama Iqbal " Seru gadis yang berdandan menor.
Braaakkk....
Rania yang mendengar itu langsung menggebrak meja, dan menatap sinis ke arah orang yang menggosipkan Sheyna dan Iqbal tadi.
" Lo tahu dari mana gue suka sama Iqbal?! " Sarkas Rania sambil mencekal kerah baju gadis berdandan menor.
Rania benar benar marah, pasalnya tidak ada yang tahu tentang dirinya yang menyukai Iqbal selain Alvaro dan teman SMP nya dulu.
" Santai dong, semua murid juga sudah tahu kok kalau Lo suka sama Iqbal, tapi Iqbalnya malah gak peka " cibir gadis tersebut membuat Rania semakin emosi.
Rania berniat melayangkan tinjunya namun di tahan oleh Alvaro.
" Gak usah meladeni orang rendahan kayak mereka " ujar Alvaro membuat gadis tadi menatap remeh Alvaro.
Sedangkan yang di tatap hanya memasang wajah datarnya. Rania pun menurunkan tangannya dan melepaskan cecekalannya.
Billa yang sejak tadi diam, ternyata sedang memperhatikan seorang gadis yang sedang menatap mereka sambil memegang ponselnya.
" Ada yang gak beres nih " gumam Billa, Billa berniat mengejar gadis tersebut namun lagi lagi Alvaro memperingatkan mereka untuk tidak memulai kekacauan.
...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...