BASRI

BASRI
Rahasia



Rania menatap Sheyna dengan tatapan yang mematikan,sedangkan Sheyna hanya bisa terkekeh, dan menatap Iqbal ganas karena telah membawa Rania ke sana.


" Ada yang mau Lo sampein ke gue? "


Deghhh...


Jantung Sheyna langsung berdetak dan langsung gelagapan mendengar pertanyaan Rania.


Sheyna menggigit bibir bawahnya sambil menatap Iqbal cemas, Sheyna belum siap menceritakan penyakitnya kepada Rania, dia tidak ingin Rania mengasihani nya kelak.


Iqbal yang melihat wajah cemas Sheyna hanya menyunggingkan senyumamnya. Sheyna semakin gelisah dia bingung harus berkata apa.


" Oh jadi sampai detik ini Lo masih ingin tetap merahasiakannya dari gue! " ucap Rania dengan nada yang cukup tinggi.


" Eee... gak gitu Ran... gue.. gak maksud... untuk.. " Rania langsung memotong ucapan Sheyna.


" Gak maksud nyembunyiin kalau Lo pernah pacaran sama Alvaro huuhh " sarkas Rania membuat Sheyna menatap Iqbal bingung.


" Gue cuma bilang Lo kecapekan dan ceritain tentang hubungan Lo sama Alvaro " bisik Iqbal pada Sheyna membuat Sheyna sedikit lega.


" Lo bener bener ya, tega Lo bohongin gue " Rajuk Rania sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


" Eee... gak gitu Ran... "


" Ceritain... " Titah Rania langsung duduk di kursi samping ranjangnya.


Mau tidak mau Sheyna harus menceritakan tentang hubungannya kepada Rania, tapi setidaknya Sheyna tetap bersyukur karena Iqbal tidak memberitahu kan tentang penyakitnya kepada Rania.


Bukan bermaksud membohonginya namun Sheyna tidak ingin Rania berteman dengannya karena kasihan.


" Ya udah gue ceritain... " Sheyna pun menceritakan semuanya, dan Iqbal hanya diam mendengarkan Sheyna bercerita.


Di dalam hati kecilnya dia masih sangat marah kepada Alvaro, yang telah mempermainkan Sheyna. Namun sebaliknya dengan Sheyna dia tidak merasa di permainkan hanya saja dia merasa kalau Alvaro tidak mencintainya.


" Waahhh... parah sih... kalau gue tahu dari kemarin permasalahan ini gue bakal belain Lo Bal " ucap Rania.


" Sebenarnya gue udah mau ngasih tau Lo tapi noh gak ngijinin" ucap Iqbal sambil menunjuk Sheyna.


" Lo juga ngapain main rahasia rahasiaan, mulai besok gue harus buat perhitungan sama Alvaro, biar jera tuh anak " ucap Rania mengepalkan tangannya.


" Eeehh... Gak... "


" Ayo Ran gue setuju, gue dukung Lo, demi membela keadilan buat Sensen!!! " Ucap Iqbal heboh mengompori Rania.


Sheyna langsung melempar Iqbal dengan jeruk yang ada di tempat buah. Namun bukan nya kena jeruk tersebut malah di tangkap oleh Iqbal dan di makannya.


" Kompor banget sih Bal " kesal Sheyna.


" Makasih jeruknya Sensen " ucap Iqbal membuat Sheyna menatap Iqbal kesal, dan memanyunkan bibirnya.


" Uluh uluh cabat aku kalau melajuk gemesin banget " ucap Rania sambil mencubit gemas pipi Sheyna, membuat Iqbal menertawakan ekspresi Sheyna yang menahan sakit, malu, dan kesal kepada Iqbal.


...***...


Dua hari kemudian akhirnya Sheyna di perbolehkan untuk pulang kerumah. Kondisinya mulai membaik walaupun tubuhnya masih terasa lemas.


Mulai malam ini Iqbal akan tinggal di rumahnya, semua itu atas permintaan Iqbal dengan alasan dirinya bosan sendirian di rumah karena Nevan sibuk di rumah sakit, dan di tambah mereka sebentar lagi akan menjadi saudara.


Ya Sheyna sudah menerima Nevan, dia mengizinkan Nani untuk menikah lagi. Dia sadar bahwa maksud papa menjodohkan mereka agar ada yang selalu menjaga Nani.


Setidaknya kelak Nani tidak akan sendirian jika dirinya pergi, dia masih punya Nevan, Iqbal, dan Siti, pikir Sheyna.


" Sensen...!!! " teriak Iqbal dari depan pintu kamar Sheyna.


" Hmmmm.... " Sheyna hanya berdeham.


Tanpa babibu setelah mendengar respon Sheyna Iqbal langsung masuk kedalam kamar Sheyna dengan membawa nampa yang berisi bubur, segelas air, dan sebotol obat.


" Waktunya makan adik kesayangan " ucap Iqbal dengan gaya alay nya.


Sheyna menahan tawa saat melihat Iqbal masuk ke kamarnya. Bagaimana tidak,Iqbal masuk ke kamarnya menggunakan daster yang entah ia dapat darimana, dan berakting seolah dirinya seorang pelayan kerajaan dengan suara yang di lembutkan.


" Gimana penampilan gue, udah cocok belum jadi pelayan Lo " ucap Iqbal meletakkan namanya di atas meja.


" Hahahh...Pelayan apaan, Lo mirip banci yang suka mangkal di perempatan jalan tau gak sih " Sheyna sudah tidak mampu lagi menahan tawanya.


" Dih masa mirip banci, badan gue atletis gini " protes Iqbal di katai banci oleh Sheyna.


" Lagian siapa suruh dandan kayak begini? Huhhh " Iqbal hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Sheyna menggelengkan kepalanya, dia tidak habis pikir dengan Iqbal, semakin hari sikapnya semakin absurt.


" Udah aa ayo makan dulu habis itu minum obat " ucap Iqbal mengambil mangkuk buburnya.


" Bal... " panggil Sheyna sambil memasang puppy eyes nya.


" Hmm...jangan bilang gak mau makan, gue masukin daster Lo " ancam Iqbal, membuat Sheyna memajukan bibirnya.


" Iiiihhh... apaan deh, gue bosen tahu seminggu ini makan yang hambar hambar mulu " protes Sheyna.


" Terus Lo mau makan apa maimunah, Lo belum sembuh Lo gak inget apa kata bokap gue huhh " omel Iqbal membuat Sheyna semakin memanyunkan bibirnya.


Sheyna melirik sekitar, dan mengode Iqbal untuk mendekat dan membisikkan sesuatu.


" Gak... ogah gak mau gue, entar gue yang di salahin " tolak Iqbal.


" Ayolah... plisss.... sekali ini aja demi adik Lo tercinta ini " Sheyna menarik tangan Iqbal dengan puppy eyes nya, yang akhirnya membuat Iqbal luluh.


" Ok fine tapi kali ini aja ya " Sheyna mengangguk bersemangat dan memeluk Iqbal.


" Makasih brother nya akuh " Iqbal hanya tersenyum melihat sikap manja Sheyna.


Akhirnya setelah sekian lama Iqbal bisa melihat sikap manja Sheyna kembali, ia mengelus surai hitam Sheyna. Iqbal benar benar menyayangi Sheyna dan menganggap Sheyna adiknya sejak mereka pertama kali bertemu.


Setelah memakai jaket, Sheyna dan Iqbal turun ke lantai bawah untuk meminta izin Nani.


" Loh... pada mau kemana? " tanya Nani saat melihat Sheyna dan Iqbal mengenakan jaket.


" Ma, Iqbal izin bawa Sensen jalan jalan keluar, katanya dia bosan " pamit Iqbal.


Ya semenjak Sheyna menyatakan setuju dengan pernikahan kedua orang tua mereka, Iqbal langsung mengubah panggilannya ke Nani menjadi mama dan Nani tidak keberatan dengan itu.


" Sudah makan? Sudah minum obat? " tanya Nani sambil menaikkan sebelah alisnya membuat Sheyna dan Iqbal gelagapan.


" Ohhh... tentu sudah dong mama sayang " bohong Sheyna sambil merangkul Nani manja.


Padahal sebenarnya Sheyna sama sekali belum makan dan minum obat, demi melancarkan rencana mereka Sheyna meminta Iqbal untuk membuang buburnya ke wastafel kamar Sheyna, dan membawa obat Sheyna di dalam saku jaketnya.


" Ya sudah jangan lama lama ya " Sheyna tersenyum dan menaik turunkan alisnya, Iqbal yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya.


Setelah mendapat izin merekapun keluar rumah, dan pergi ketempat tujuan menggunakan mobil Iqbal. Tak butuh waktu lama merekapun tiba di sebuah warung pecel lele langganan Sheyna. Dengan mata berbinar Sheyna turun dari mobil.


" Ayo Bal buruan... " Sheyna menarik tangan Iqbal, sedangkan Iqbal hanya bisa pasrah.


Merekapun memesan pecel lele.


" Amang...Nana dateng lagi " sapa Sheyna pada Suep penjual pecel lele.


" Eehh...neng Nana udah lama banget gak makan disini, kemana aja neng?" tanya Suep.


" Ada mang, biasa anak sekolahan sebookk " jawab Sheyna.


" Ini siapa neng? pacar?" tanya Suep sambil melirik Iqbal.


" Perkenalkan mang, saya Iqbal dan mulai sekarang saya kakaknya Nana " Iqbal memperkenalkan dirinya.


" Oke Den, boleh di tunggu, saya siapkan dulu ya den " ucap Asep mempersilahkan mereka duduk.


Tak butuh waktu lama pesanan merekapun tiba, merekapun menyantapnya. Sesekali mereka tampak bercanda tawa saat Iqbal melemparkan beberapa lelucon. Sheyna tampak sangat bahagia dengan tawa lebarnya. Namun tanpa mereka sadari sejak tadi ada yang melihat mereka dengan tatapan penuh amarah.