BASRI

BASRI
Mimpi



Sheyna berjalan di lorong sekolah sendirian, ia datang kepagian karena ia ingin di antar oleh Nani. Wajahnya yang pucat semakin terlihat pucat karena kurang tidur.


Setelah pulang dari acara bercamping kemarin Sheyna tidak bisa tidur kembali karena memimpikan papanya. Sheyna mendudukkan dirinya di sebuah bangku taman dan menatap langit. Kilasan mimpi bertemu ayahnya tampak seperti nyata.


Flashback On


Sheyna yang kelelahan langsung berbaring di atas kasur kesayangannya. Ia menarik nafas lalu memejamkan matanya.


Tak berselang lama ia terbangun karena merasa ada yang mengelus kepalanya. Perlahan Sheyna membuka matanya.


" Papa? " batin Sheyna.


Tanpa sadar air matanya mengalir, ia langsung bangun dan memeluk tubuh yang sangat ia rindukan.


" Papa... hiks... " Sheyna menangis di dalam pelukan sang papa.


Sheyna sadar bahwa papanya sudah meninggal, namun ia merasakan bahwa papanya benar benar berada di hadapannya,


" Nana sayang kenapa nangis? " ucap Seno mengusap air mata Sheyna.


Sheyna tidak mampu berkata kata lagi, bibirnya seakan keluh dia tau ini tidak nyata tapi dia ingin waktu berhenti saat ini. Ia masih ingin merasakan pelukan hangat yang sangat ia rindukan dari papanya.


" Nana jangan sedih, kalau Nana sedih papa juga ikut sedih " Seno mengelus surai hitam Sheyna.


" Sayang, jika nanti mama kamu ingin menikah lagi Nana harus mengizinkan nya ya " ucap Seno lembut.


Sheyna mengalihkan pandangannya ke Seno, ia ingin membantah namun bibirnya keluh untuk berucap. Seno tersenyum, senyum yang selalu membuatnya tenang.


" Kelak yang akan bersama mama adalah orang baik, Nana harus Terima ya, anggap ini permintaan Papa ke Nana " ucap Seno lagi.


" Sekarang Nana tidur lagi ya, papa selalu ada di hati Nana, kalau Nana kangen Nana boleh kirim do'a buat papa " Seno membaringkan Sheyna kembali ke kasurnya.


Hati Sheyna menolak tapi tubuhnya hanya bisa menurut, Sheyna sadar setelah ini Seno akan pergi meninggalkannya lagi, dan Sheyna masih ingin melepas rindu bersama Seno.


Seno mengelus surai hitam Sheyna, hingga Sheyna kembali tertidur. Dan saat ia membuka matanya Seno sudah tidak berada di kamarnya.


Sheyna tahu itu hanya mimpi tapi ruangan, piyama yang ia pakai sama persis dengan yang ada di mimpinya barusan. Setelah itu Sheyna terus berpikir apakah itu nyata atau hanya mimpi, ia terus berpikir hingga tidak bisa tertidur lagi sampai pagi.


Flashback Off


Sheyna menghela nafasnya, dia sudah menceritakan mimpinya kepada Nani. Awalnya Nani tampak terkejut, dan setelah itu dia menasehati Sheyna bahwa itu hanya sebuah mimpi.


Tapi Sheyna masih tidak percaya itu mimpi, seakan Seno sengaja mendatanginya untuk meminta Sheyna mengizinkan Nani jika ingin menikah lagi.


" Hufffffttttt.... " lagi lagi Sheyna menghela nafas.


" Berat amat beban hidup Lo kayaknya " ucap seseorang tepat berdiri di samping Sheyna.


" Eeehh... Iqbal sejak kapan Lo di situ? " tanya Sheyna.


" Sejak Lo jalan sendirian di Koridor kayak anak hilang " ucap Iqbal lalu duduk di sebelahnya.


" Kenapa? ada masalah? " tanya Iqbal.


" Hufffttt... gue mimpi ketemu bokap semalam "


" Bagus dong, itu tandanya dia kangen Lo " ucap Iqbal.


" Iya tadinya gue mikir gitu, tapi di mimpi itu dia minta gue buat ngizinin nyokap nikah lagi, aneh kan? " tanya Sheyna pada Iqbal.


Iqbal tampak berpikir, dia merasa dejavu.


" Hm...iya sih aneh, tapi ya siapa tahu itu tanda nyokap Lo mau nikah lagi " ucap Iqbal asal.


Sheyna menatap Iqbal dengan tatapan yang sulit di artikan, membuat Iqbal jadi salah tingkah.


" Eeehh... ngapain Lo ngeliatin gue kayak gitu " Iqbal mendorong kening Sheyna menggunakan jari telunjuk nya.


" Bal... kalau misal... misal nih ya, Lo di posisi gue apa yang Lo lakuin? " tanya Sheyna.


" Gini ya Sensen...terkadang mimpi itu cuma bunga tidur, jadi saran gue Lo gak perlu pusing pusing, kalau memang nanti apa yang di bilang bokap Lo beneran terjadi, lebih baik Lo pertimbangin mungkin itu pesan terakhir dia " Jelas Iqbal sambil menepuk bahu Sheyna.


Sheyna tersenyum, baru kali ini melihat sisi bijaksana Iqbal.


" Kenapa Lo senyum senyum? ntar naksir " ucap Iqbal membuat Sheyna lagi lagi tersenyum.


" Dih...Lo bukan tipe gue jangan ngimpi bleee " Iqbal mencibir Sheyna lalu berdiri.


" Resek Lo ya " Sheyna memanyunkan bibirnya.


" Hahahh... udah ayo ke kelas " ajak Iqbal.


Sheyna pun mengikuti Iqbal, mereka berjalan beriringan di Koridor sambil bercanda. Iqbal yang memang humoris membuat Sheyna terus tertawa sampai tiba di kelas.


Namun tawanya seketika sirna ketika melihat pemandangan yang menyesakkan hati. Sheyna melihat Alvaro dan Billa yang sedang bersenda gurau berduaan, membuat Sheyna enggan masuk ke kelas.


" Woiii.... Kenapa lagi Lo " sentak Iqbal saat melihat Sheyna yang tiba tiba terdiam.


Iqbal mengikuti arah pandangan Sheyna, lalu Iqbal tersenyum jahil.


" Oooouuuuhhhh.... ada yang cemburu nihhhh... " ledek Iqbal.


Plakkkk....


Sheyna memukul bahu Iqbal dan berkata " Apaan sih Bal "


" Apaan... siapa yang cemburu... " sambung seseorang lagi.


" Rania... Lo kayak hantu aja tiba tiba nongol " omel Sheyna.


" Dia kan memang hantu bleee " ledek Iqbal memeletkan lidahnya sedangkan Rania sudah mengepalkan tangannya bersiap meninju Iqbal.


" Sudah sudah, malah mau berantem ayo masuk " Sheyna menengahi mereka dan menarik mereka untuk masuk ke kelas.


Tak berselang lama bel masuk pun berbunyi, dan guru yang mengajar pun datang.


...***...


Di lain tempat Nani sedang menunggu seseorang di sebuah restauran yang tidak jauh dari kantornya.


" Haiii... " sapa orang tersebut setelah tiba.


" Ohh... Haiii... " sapa Nani balik.


" Sudah lama nunggunya? " tanya orang tersebut lalu duduk berhadapan dengan Nani.


" Gak aku juga baru nyampe, habis nganterin Nana " jelas Nani.


" Oh begitu, jadi bagaimana? "


" Aku sudah memikirkan nya Van, dan malam ini aku akan memberitahu Nana " jelas Nani.


Ya orang tersebut adalah Nevan, laki laki pilihan Seno yang akan menggantikan posisi Seno.


" Jadi kamu setuju? " tanya Nevan.


" Iya aku setuju, aku tahu ini sulit tapi ini pesan terakhir mas Seno " Nani menghela nafas sejenak.


" Tapi Van semuanya tergantung dengan anak anak, aku gak mau memaksakan kalau Nana dan anak kamu tidak setuju " jelas Nani lagi.


" Iya aku mengerti, aku sudah memberi tahu Arsen dan dia setuju, keputusan tinggal ada di Nana " ucap Nevan lembut.


" Aku tidak yakin Nana akan setuju semudah itu, tapi aku akan berusaha meyakinkan nya, Nana dan Arsen saat kecil mereka akrab bukan? " ucap Nani sambil mengingat masa kecil anak Nana saat mereka masih tinggal berdekatan.


Ya dulu mereka pernah tinggal berdampingan,Sheyna dan Arsen sangat akrab. Mereka selalu bermain bersama, namun tak jarang mereka bertengkar karena Arsen yang sangat suka menjahili Sheyna.


" Iya dulu mereka sangat akrab, bahkan Arsen selalu meminta Nana menjadi adiknya, dan Nana selalu menolak karena kata Nana umur mereka sama, hahhahh " Nevan tertawa mengingat bagaimana kedekatan anak mereka.


" Tapi Nana mungkin sudah lupa Van, itu sudah lama sekali, aku saja sudah lupa bagaimana wajah anak kamu Van, hehehh " Nani terkekeh.


" Bagaimana kalau kita ajak mereka makan bersama? " tawar Nevan.


" Ide yang bagus, tapi aku rasa mereka sudah pernah bertemu Van, anak kamu bersekolah di sekolah X juga kan? " tanya Nani.


" Oh iya aku hampir lupa, jangan jangan mereka berteman " mereka pun tertawa bersama sambil bernostalgia.


...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...