BASRI

BASRI
Harapan



Alvaro Pov


Alvaro tengah bersiap untuk menghadiri acara makan malam bersama calon istri ayahnya.


" Al ayah duluan ya, soalnya mau jemput calon mama kamu, nanti kamu nyusul ya " ucap Ayah Alvaro.


" Iya yah "


Sepeninggal ayahnya Alvaro langsung mengambil kunci motornya dan menuju restauran yang telah ayahnya boking.


Di perjalan Alvaro terus merapalkan do'a semoga calon istri ayahnya bukan lah Mama nya Sheyna.


" Gue harus yakin, ini cuma kebetulan dan gue yakin pasti beda orang " Alvaro berusaha mensugesti dirinya.


Alvaro pun tiba di restauran tersebut, Alvaro memarkirkan motornya dan masuk ke dalam Restauran dan menuju meja yang sudah ayahnya boking.


Alvaro memainkan ponselnya, dan tidak sengaja dia melihat tanggal, Alvaro teringat sesuatu.


" Hari ini tepat dua minggu, berarti hari ini harusnya Sensen kasih jawaban " ucap Alvaro pada dirinya sendiri.


Alvaro berniat mengirimkan pesan kepada Sheyna namun ia urungkan, karena ayahnya sudah tiba.


" Haii kamu sudah sampai " sapa ayahnya membuat Alvaro membalikkan tubuhnya.


Alvaro di buat terkejut saat melihat sosok gadis yang berhadapan dengannya.


" Lo... " ucap mereka bersamaan.


" Kalian sudah saling kenal? " tanya ayah Alvaro.


" Iya om kita teman sekelas " jawab gadis tersebut.


" Kok Lo di sini ? " tanya Alvaro heran.


" Dia keponakan nya tante Dewi " jelas Ayah Alvaro.


" Haii Alvaro. . . kenalin saya Dewi pacar mas Alfian " Dewi memperkenalkan dirinya.


Alvaro sempat terpesona dengan kecantikan Dewi, dia masih tampak muda, wajar saja jika ayahnya jatuh cinta dengan perempuan ini.


Mereka pun saling berkenalan, tapi Alvaro teringat sesuatu kata ayahnya pacarnya ini punya anak yang satu sekolah dengannya, dan sekarang yang ia bawa bukan anaknya melainkan keponakannya.


" Berarti dia belum punya anak dong " Batin Alvaro.


Alvaro menatap Dewi, Alfian, dan Billa secara bergantian. Ya keponakan Dewi adalah Billa, Billa teman sekelasnya sekaligus sahabatnya.


" Kalian mau pesan apa " tanya Alfian sambil melihat menu.


" Aku ini aja om " Tunjuk Billa pada salah satu menu.


Mereka pun memesan makanan, selagi menunggu pesanan datang Alvaro menanyakan keganjalan yang ia rasakan.


" Tante Dewi sorry nih, Jadi tante bukan janda? " tanya Alvaro to the poin.


Membuat Alfian menendang tulang kering Alvaro, karena menurutnya pertanyaan Alvaro tidak sopan, Alvaro meringis, sambil menatap balik ayahnya. Dewi hanya tersenyum mendengar penuturan Alvaro.


" Sekata kata Lo ya, Tante gue masih ting ting ya " jawab Billa kesal, Dewi langsung memegang tangan Billa untuk tidak marah pada Alvaro.


" Bukan Alvaro, tante belum pernah menikah, tapi memang tante akui tante sudah berumur,dan kemarin tante memang sempat bilang ke mas Alfian kalau tante punya anak tapi itu hanya untuk mengetes keseriusan mas Alfian, dan ternyata mas Alfian tetap serius dengan tante " jelas Dewi kepada Alvaro.


" Sudah berumur? semuda ini? " Batin Alvaro menilai.


Dari cara bicaranya Alvaro menyadari bahwa Dewi selain cantik juga dia sangat lembut.


" Kenapa ayah gak cerita ke Al? " tanya Alvaro kepada Alfian.


" Buat apa ayah cerita, lagi pula Billa memang anak nya tante Dewi hanya saja bukan tante Dewi yang melahirkan " jawab Alfian tanpa dosa.


Namun yang di katakan ayahnya ada benarnya juga, tante Dewi tidak salah mengatakan Billa anaknya.


" Oh oke kalau begitu, mari makan " ucap Alvaro mengalah, bertepatan dengan pesanan mereka yang sudah tiba.


Hingga tibalah mereka di sebuah taman belakang Restauran. Mereka duduk di sebuah bangku taman. Lampu lampu taman menghiasi sekeliling taman, tidak banyak orang disana.


" Jadi gimana? " tanya Billa.


" Apanya? " Alvaro bertanya balik karena dia tidak mengerti maksud Billa.


" Lo restuin gak tante gue nikah sama bokap Lo " ucap Billa.


Alvaro tampak berpikir " Hm... gimana ya "


" Tante gue itu udah gue anggap kayak nyokap gue sendiri, dia selalu ada buat gue, dia selalu nemenin gue kalau nyokap gue lagi pergi, selain cantik dia juga penyayang banget Al, sayang orang kayak gitu sering di sakitin" Billa menjeda ceritanya.


" Dia itu takut banget sama yang namanya nikah, karena terlalu sering di kecewakan sama pria, di tambah kasus nyokap dan bokap gue, tapi ketika dia ketemu bokap Lo dia akhirnya berani buat ke jenjang itu " jelas Billa, Alvaro hanya menyimak.


" Gue berharap Lo bisa ngasih izin ya Al " ucap Billa sedikit memohon.


Alvaro tampak berpikir, sebenarnya dia tidak masalah jika ayahnya akan menikah. Hanya saja kemarin dia takut kalau yang akan menjadi calon Istrinya adalah mamanya Sheyna yang kebetulan juga akan menikah.


" Sebenarnya gini Bill, gue kemarin sempat berpikiran kalau yang bakal di nikahi bokap gue itu nyokapnya Sheyna, Lo ingat waktu Sheyna cerita di kantin?" Tanya Alvaro, Billa hanya mengangguk.


" Gue sama Sheyna sempat pacaran, tapi karena salah paham kita putus, dan gue sekarang lagi berjuang buat dapetin cintanya lagi " Alvaro menceritakan tentang hubungannya dan Sheyna sambil tersenyum miris.


" Kalian pacaran? kapan? " tanya Billa penasaran.


" Pas tahun baru, dan gue putus pas hari pertama kita masuk sekolah " jelas Alvaro lagi.


" Hehh... gue cuma takut aja kemarin,gue takut kalau gue gak bisa lagi memperjuangkan Sheyna, karena sempat berpikir kalau calon bokap gue nyokapnya Sheyna,dan gue sempat ngelarang bokap gue buat nikah,hahahh " ucap Alvaro tertawa hambar.


" Tapi setidaknya Tuhan masih baik sama gue, ternyata calonnya tante Lo Bill, Thankyou " ucap Alvaro tersenyum.


" Se cinta itu Lo sama Sheyna? " tanya Billa.


" Iya, dia cewek pertama yang bisa buat gue benar benar jatuh cinta " ucap Alvaro.


Billa hanya tersenyum, dia tahu bahwa Alvaro dan Sheyna memang dekat, dan dia tidak menyangka ternyata di antara mereka ada hubungan yang sahabat nya sendiri tidak tahu.


" Perjuangin cinta Lo, dan gue akan selalu suport Lo " ucap Billa.


" Thank's ya Bill " Alvaro memeluk Billa erat dan mengembangkan senyumnya.


Alvaro benar benar bersyukur karena doanya terkabul, dan masih bisa memperjuangkan cintanya.


" Sama sama, gue juga tahu Sheyna gadis yang baik dan cocok buat Lo " tambah Billa membuat Alvaro semakin mempererat pelukannya.


" Al... uhukk... gue gak bisa nafas " Sontak Alvaro langsung melepaskan pelukannya.


" Hehhehh sorry terlalu seneng gue " ucap Alvaro lalu mereka pun tertawa bersama.


...***...


Setibanya di rumah Alvaro kembali teringat dengan Sheyna, dia akan meminta jawaban Sheyna.


Alvaro mendial nomor Sheyna, namun bukan Sheyna yang menjawab panggilannya melainkan mbak mbak operator yang menjawabnya.


" Sensen kemana tumben HP nya mati " heran Alvaro.


Alvaro terus mencoba menelpon Sheyna namun tetap tidak ada jawaban. Alvaro juga sudah beberapa kali mengeirimi Sheyna pesan tapi tidak di baca.


Hal itu membuat Alvaro gelisah, ia khawatir terjadi sesuatu kepada Sheyna. Alvaro melirik jam dindingnya pk. 21.35.


" Apa mungkin Sensen sudah tidur? " tanya Alvaro pada dirinya sendiri.


" Mungkin ya, sudah malam juga " Akhirnya Alvaro menyerah menghubungi Sheyna.


Alvaro meletakkan ponselnya di atas nakas, lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur kesayangannya. Dia kan menanyakan jawaban Sheyna besok saat di sekolah.


Alvaro tidak sabar menunggu besok, dia tidak sabar menjalin hubungan lagi dengan Sheyna. Dia yakin Sheyna akan kembali menerimanya karena selama dua minggu ini dia yakin sudah berhasil membuktikan bahwa dirinya tidak sedang dekat dengan gadis lain.


...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...