
"Kenapa kamu gak pernah cerita masalah ini? " Tanya Alvaro dengan nada tinggi.
Alvaro benar benar di buat kesal, karena Sheyna jarang sekali ingin bercerita kepadanya padahal dirinya adalah pacar Sheyna.
Jujur sebelum ia mengetahui kebenaran tentang hubungan Sheyna dan Iqbal, Alvaro sempat merasa iri kepada Iqbal yang selalu mengetahui apa yang ia tidak ketahui tentang Sheyna.
"Maaf... " Sheyna hanya bisa meminta maaf sambil menundukkan pandangannya.
"Lihat aku " Alvaro mengangkat kepala Sheyna agar melihatnya.
"Kenapa kamu gak pernah cerita? Aku pikir kamu sakit waktu Iqbal nyuruh aku ke rumah sakit buru buru, di tambah aku melihat kamu menangis sendirian di taman "
Sheyna menatap mata Alvaro dalam dan membayangkan bagaimana sikap Alvaro ketika mengetahui kebenaran tentang dirinya.
"Iitu... a.. aku pikir ini tidak penting buat kamu tahu, karena kamu dan Henny juga tidak dekat " jelas Sheyna gugup.
Sheyna merasa bersalah karena masih harus menyembunyikan penyakitnya dari Alvaro.Sheyna tidak mau Alvaro mengasihani nya, dan dia juga belum siap jika Alvaro akan menjauhinya karena dia penyakitan.
"Ya sudah gak apa apa, lagi pula sekarang aku sudah tahu semuanya kan" Alvaro tersenyum dan memeluk Sheyna sejenak.
"Ayo kita lihat kondisinya, mungkin sekarang sudah membaik " Ajak Alvaro, Sheyna memaksakan senyumnya dan mengikuti langkah Alvaro menuju ruangan ICU.
Sepanjang perjalanan menuju ruang ICU Alvaro dengan antusiasnya menceritakan tentang persiapan pernikahan ayahnya yang akan di gelar besok.
Sesekali Sheyna tersenyum melihat ekspresi Alvaro yang tampak sangat bahagia. Hingga tanpa sadar mereka sudah tiba di ruang ICU, mereka langsung menghampiri Iqbal dan Henny.
"Gimana keadaan Cahaya? " Tanya Sheyna duduk di samping Henny.
"Sudah membaik, tapi belum sadarkan diri " Jawab Henny berusaha tegar.
"Sabar ya Hen, Cahaya kuat kok" Ucap Sheyna memeluk Henny, Henny mengangguk.
"Gue harap Lo juga kuat nanti Sen" Ucap Henny penuh harap. Henny tidak mengetahui keberadaan Alvaro karena tadi mereka datang dari arah belakang Henny.
Alvaro menaikkan sebelah alisnya bingung, perkataan Henny barusan sedikit ambigu di telinganya.
"Kuat? Kenapa? " Tanya Alvaro. Henny langsung membalikkan badannya dan betapa terkejutnya ia saat melihat Alvaro.
Henny menatap Sheyna merasa bersalah, ia benar benar tidak tahu jika ada Alvaro di sana.
"Eeee... k...kok ada Alvaro? " Tanya Henny terbata.
"Tuh biang kerok, manggil dia ke sini katanya buat ngehibur gue " Sambung Sheyna sambil menunjuk Iqbal.
"Yeee lagian Lo main pergi pergi aja, entar ilang gue juga yang repot mending minta bantuan Alvaro, ya kan Al" Iqbal meminta persetujuan Alvaro.
"I... iya, Hen tadi maksud kata kata Lo apa? " tanya Alvaro menatap penuh tanya ke arah tiga remaja di hadapannya.
Tiba tiba tubuh Sheyna menegang, mereka bertiga pun saling tatap.
"Apa sih bro, sensi amat jelas jawaban nya kuat ngadepin gue yang sebentar lagi jadi kakak tirinya, ya kan, hahahhahh" Iqbal langsung menghampiri Alvaro dan merangkul nya sambil tertawa hambar.
Alvaro menatap curiga ke arah Iqbal, jelas jawaban Iqbal tidak masuk akal di tambah dengan suasana barusan, Alvaro semakin yakin ada sesuatu yang mereka sembunyikan.
Namun Alvaro tidak ingin memaksa Sheyna untuk bercerita karena menurutnya suatu saat Sheyna pasti akan bercerita, sama halnya tentang hubungannya dan Iqbal.
"Bro... Lo antar Sensen pulang ya, gue masih mau nemenin Henny " pinta Iqbal.
"Eee...ii... ya nih, gue sekalian mau izin ngajak Sensen milih baju buat acara besok " Ucap Alvaro.
"Oh, boleh aja tapi di pulanginya sebelum jam 10 ya " Ucap Iqbal tegas.
"Ok siap bro, thank's ya "
"Ayo Sen" ajak Alvaro mengulurkan tangannya.
Sheyna menerima uluran tangannya dan tersenyum, karena Henny yang menggoda nya.
"Hati hati ya, btw sorry besok gue gak bisa hadir di acara pernikahan bokap Lo, gue harus jagain adik gue " ucap Henny.
"Iya gue paham, besok selesai acara gue ajak Sensen kesini lagi kok" jawab Alvaro.
Memang Alvaro mengundang semua murid seangkatannya untuk memeriahkan acara pernikahan Ayahnya.
Setelah berbasa basi Alvaro dan Sheyna pun pergi keluar rumah sakit, barulah Henny dan Iqbal bisa bernafas lega.
"Lo bener bener ya buat gue jantungan, kenapa Lo gak bilang ada Alvaro! " Omel Henny.
"Eehh curut Lo kira gue gak jantungan apa tiba tiba Lo ngomong gitu! " balas Iqbal tidak mau kalah.
"Lo tuh ya, ngapain coba manggil Alvaro ke sini, untung dia gak curiga "
"Ya gue gak ada pilihan lain, gue cuma takut dia kenapa kenapa tadi, dan Lo masih butuhin gue " ucap Iqbal dengan PD nya.
"Tuh kan tuh kan... gini nih gimana mau gue tinggalin coba " ucap Iqbal beralih duduk di samping Henny dan berniat memeluk Henny.
"Apaan sih Lo, modus banget! " Ucap Henny langsung mendorong tubuh Iqbal hingga terjatuh dari kursi.
Bruuugggghhhh...
Iqbal merasa di permalukan, sekarang banyak pasang mata yang melihat dirinya terjengkang. Henny hanya bisa menertawakan Iqbal yang sedang menahan malu.
"Rasain mangkanya jangan modus !" Henny terus menertawakan Iqbal, hingga seorang suster menegur mereka agar tidak berisik, dan sekarang Iqbal lah yang menertawakan Henny.
...***...
Di lain tempat Sheyna dan Alvaro sudah tiba di sebuah butique. Alvaro sudah menyiapkan beberapa gaun yang menurutnya akan manis jika di kenakan oleh Sheyna.
"Ini semua kamu yang pilih? Lucu lucu banget " Ucap Sheyna antusias.
"Iya sekarang giliran kamu yang milih mau pakai yang mana " jawab Alvaro sambil tersenyum.
"Aku cobain ya " Alvaro hanya mengangguk.
Dengan di bantu pelayan boutique Sheyna mencoba satu persatu gaunnya.
"Waahhh semua gaunnya cocok kalau mbak yang pakai " puji pelayan tersebut.
"Aaaah mbak bisa aja, mbak saya mau coba yang warna putih dong " ucap Sheyna.
Pelayan tersebut pun memberikan gaun yang Sheyna maksud, dan membantu Sheyna mengenakannya.
"Tuhkan apa saya bilang, cocok banget mbak "
"Lebay deh mbak " Sheyna tersipu malu.
Sheyna memperhatikan gaun yang ia kenakan, benar dirinya tampak sangat cantik dengan gaun tersebut. Gaun putih panjang, dengan atasan yang tidak terlalu terbuka, di tambah sentuhan blink blink dari manik manik bajunya membuat nya tampak simple namun elegant.
"Beneran cocok ya mbak? " Tanya Sheyna pada pelayan.
"Iya mbak cocok banget, pasti pacar mbak semakin kesemsem " jawab pelayan.
Sheyna hanya tersenyum, lalu dengan semangatnya ia berjalan keluar ruang ganti dan menunjukkan penampilan nya kepada Alvaro.
"Al... " panggil Sheyna.
Alvaro yang tadinya sibuk dengan ponselnya langsung terkesima ketika melihat Sheyna yang berdiri di hadapanny
"Gimana? " tanya Sheyna.
"Bungkus " jawab Alvaro sepontan membuat Sheyna mengernyitkan dahinya.
"Eee... itu maksud aku ya udah pilih itu aja kalau kamu suka " Sheyna tersenyum saat melihat Alvaro salah tingkah.
"Aku ambil yang ini ya" Alvaro hanya mengangguk.
Sheyna berbalik badan dan kembali ke ruang ganti.
"Mbak saya ambil yang ini yah " ucap Sheyna, mbak pelayan hanya mengangguk.
Namun saat ingin melepaskan gaun tiba tiba kepala Sheyna terasa pusing hingga hampir hilang keseimbangan.
"Mbak... gak apa apa? " tanya pelayan tersebut sambil membantu Sheyna.
"Mau saya panggilin pacarnya mbak? " tawar Pelayan, tapi Sheyna memberi Isyarat tidak.
"Mbak itu berdarah " ucap pelayan tersebut saat melihat Sheyna mimisan.
"Mbak tolong obat di tas saya " ucap Sheyna lemah.
Pelayan tersebut langsung mencari obat yang Sheyna maksud. Setelah menemukan obat tersebut, pelayan tersebut langsung memberikan obat tersebut kepada Sheyna, lalu ia mengambil tisu yang tersedia di ruang ganti. Sheyna langsung mengelap darahnya dengan tisu di bantu pelayan tersebut dan tanpa mereka sadari darahnya mengenai gaun yang Sheyna gunakan.
Setelah di rasa darahnya berhenti mengalir, Sheyna langsung melepaskan gaun yang ia kenakan dan memohon kepada pelayan tersebut untuk tidak menceritakan hal ini kepada Alvaro.
"Mbak pliisss jangan bilang ke pacar saya ya " mohon Sheyna.
"Tapi mbak... "
Sheyna mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya, dan memberikannya kepada pelayan tersebut.
"Saya mohon mbak " Karena Sheyna yang terus memohon akhirnya Pelayan tersebut pun mau membantunya.
Setelah berganti pakaian, Sheyna langsung keluar ruang ganti sambil menjinjing paper bag yang berisi gaun tadi, dan tak lupa berterima kasih kepada pelayan tersebut karena mau membantunya merahasiakan kejadian tadi.