
"Gue gak nyangka mereka setega itu hikss... " Rania terisak di dalam pelukkan Billa.
Sepulangnya dari rumah Sheyna, Alvaro langsung melajukan mobilnya menuju rumah Billa, dan membiarkan Rania menginap di sana, sedangkan dirinya butuh waktu sendiri untuk mencerna kejadian di rumah Sheyna.
"Lo salah paham kali Ran, gak mungkin Sheyna kayak gitu" Billa mencoba menyangkal.
"Gue sama Alvaro lihat dengan mata dan kepala kami sendiri Bil, gue lihat Iqbal ngasih bunga ke Sheyna, gue lihat juga Sheyna dan Iqbal pelukkan, Lo gak ngerti perasaan gue! " ucap Rania penuh amarah dengan air mata yang berlinang, membuat Billa terdiam.
"Ya udah sekarang istirahat,besok kita sekolah " ajak Billa.
Bukannya Billa tidak ingin mendengarkan curhatan Rania, hanya saja dia tidak ingin Rania berpikir terlalu jauh karena Billa yakin Sheyna bukan tipikal wanita seperti itu.
...***...
Pagi harinya Rania dan Billa berangkat ke sekolah bersama sama. Saat di lorong kelas X mereka tidak sengaja bertemu dengan Sheyna dan Iqbal.
"Ran... " panggil Sheyna, namun Rania pura pura tidak mendengar panggilan Sheyna.
"Ran... dengerin penjelasan gue dulu" Sheyna berhasil menggapai tangan Rania, namun Rania langsung menepis tangan Sheyna.
"Gak ada yang perlu di jelasin, mata gue saksinya!" Sarkas Rania sambil menatap tajam Sheyna.
"Tapi apa yang Lo lihat... "
Braaakkk....
Rania mendorong Sheyna, tubuh Sheyna terhuyung ke samping kiri, dan mengenai pot bunga yang tertata rapih di pinggir koridor.
"Sensen... " ucap Iqbal dan Billa bersamaan, Iqbal dan Billa di buat tercengang dengan sikap Rania barusan, mereka tidak menyangga Rania akan bersikap begitu.
Iqbal membantu Sheyna untuk berdiri.
"Rania! " Sentak Iqbal marah dan menatap tajam ke arah Rania,sentakkanya mampu membuat mereka menjadi pusat perhatian.
"Kenapa? Lo gak suka gue ngedorong selingkuhan Lo! " Sarkas Rania.
"Jaga ucapan Lo ya, kalau Lo gak tahu apa apa gak usah sok tahu! " bentak Iqbal.
"Ran... udah yuk ke kelas aja, gak usah di tanggepin" Ajak Billa berusaha melerai mereka, tapi Rania terus menatap tajam ke arah Sheyna sedangkan Sheyna hanya bisa tertunduk.
"Terserah kalian mau percaya atau gak sama kita, dan terserah Lo mau berpikiran apa tentang gue dan Sensen, tapi gue harap kalian gak akan nyesal setelah tahu yang sebenarnya" Ucap Iqbal sambil merangkul Sheyna dan berjalan menuju kelas.
Banyak berbisik bisik menggosipkan hubungan persahabatan mereka yang tengah retak.
"Lo lihat sendiri kan Bill gimana sikap Iqbal ke Sheyna? " Ucap Rania dengan emosi yang menggebu gebu.
Jelas ia sangat cemburu dengan Sheyna, bertahun tahun dia memendam rasa terhadap Iqbal, namun sekarang Iqbal sangat perhatian kepada Sheyna yang merupakan sahabatnya.
"Iya gue ngerti, udah dong jangan sedih lagi entar gue ikut sedih " Billa memeluk Rania mencoba menenangkan.
Tak berselang lama bel masuk pun berbunyi mereka pun masuk ke kelas, Rania berpindah tempat duduk di sebelah Billa, dan Alvaro membolos sekolah.
...***...
Di dalam kamar Sheyna menangis sendirian, dia tidak menyangka persahabatan nya akan menjadi serumit ini. Ia menyesal telah berprasangka bahwa Iqbal sudah menceritakan tentang hubungan mereka kepada Rania, begitupun sebaliknya.
Jika dari awal mereka menceritakan tentang hubungan mereka yang akan menjadi saudara tiri, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini.
Rania benar benar marah kepada Sheyna, hingga kontaknya pun di blokir, begitupun dengan Alvaro. Hanya Billa yang tidak memblokir kontaknya, namun Billa tetap tidak membalas pesan maupun mengangkat telpon dari Sheyna.
Sheyna berpikir jika Billa juga marah dan kecewa terhadap dirinya.
"Masih nangis " Iqbal masuk ke kamar Sheyna dan duduk di sofa kamarnya.
"Gue harus gimana Bal " Lirih Sheyna.
"Tapi Bal, mereka salah paham... hiksss" Iqbal berjalan mendekati Sheyna.
"Udah, gak usah dipikirin lagi, ingat kondisi Lo, gue gak mau Lo sakit lagi " ucap Iqbal sambil membawa Sheyna kedalam dekapannya.
"Gue nyusahin Lo ya hikksss... "
"Gak, gue cuma suka sedih aja kalau Lo sakit lagi" jawab Iqbal sambil mengelus surai hitam Sheyna.
Jujur hati Iqbal terasa diiris oleh silet melihat Sheyna yang menangis seperti ini. Sejak kecil Iqbal selalu ingin membuat Sheyna tertawa walaupun pada akhirnya Sheyna menangis karena ulahnya.
Sheyna masih terisak dalam pelukkan Iqbal, dengan sabar Iqbal mendengar kan semua uneg-uneg Sheyna, hingga tiba tiba Sheyna berhenti bersuara membuat Iqbal mendadak panik.
Iqbal membalikkan wajah Sheyna, detik berikutnya Iqbal tersenyum melihat Sheyna ternyata sudah tertidur. Iqbal mendengar dengkuran halus dari Sheyna, yang berarti dia benar benar terlelap.
Dengan perlahan Iqbal membaringkan tubuh Sheyna di atas kasur. Namun saat Iqbal ingin beranjak, Sheyna menggapai tangan Iqbal.
"Makasih udah mau jadi kakak gue " Lalu Sheyna kembali memejamkan matanya.
"Ternyata kalau ngigo bisa sweet juga" Ucap Iqbal sambil tersenyum, dan kembali mengelus surai hitam Sheyna.
"Gue harap ini terakhir kalinya gue ngeliat Lo nangis kayak gini" ucap Iqbal mencium kening Sheyna lalu keluar dari kamar Sheyna dan tak lupa mematikan lampu kamar Sheyna.
Disisi lain Alvaro termenung duduk di gazebo rumahnya,Dia masih memikirkan tentang kejadian malam itu. Dia masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
"Apa ini yang namanya karma? " Gumam Alvaro. Tanpa Alvaro sadari sejak tadi Alfian memperhatikan nya.
"Galau mulu" Ucap Alfian mengagetkan Alvaro.
"Ayah... Sudah pulang" Tanya Alvaro dengan raut terkejutnya.
"Iyalah, kenapa kamu gak suka ayah pulang? "
"Eee... gak gitu Yah"
"Galau terus kenapa? " Alfian merangkul Alvaro.
"Iqbal Yah... " Alvaro menceritakan semua kejadian yang ia lihat malam itu, dan tak lupa gosip gosip yang beredar di sekolahnya.
Alfian mendengarkan Alvaro yang curhat dengan seksama,
"Kamu yakin pacar kamu selingkuh sama Iqbal? " Alvaro mengangguk.
"Kamu kenal Iqbal berapa tahun ? " Tanya Alfian lagi membuat Alvaro berpikir sejenak.
"Tiga atau empat tahunan Yah" Alfian mengangguk.
"Selama ini apa pernah Iqbal mendekati cewek cewek gebetan kamu yang banyak itu? " tanya Alfian, Alvaro menggelengkan kepalanya.
"Apa pacar kamu terlihat seperti gadis yang suka berselingkuh? " Tanya Alfian lagi, Alvaro menyandarkan tubuh nya ke sandaran kursi seakan berpikir.
Alfian tersenyum dan berkata "Berarti selama ini kamu belum terlalu mengenal Iqbal, dan kamu belum mempercayai pacar kamu "Alvaro mengernyitkan dahinya.
"Coba kamu cari tahu, atau kamu minta penjelasan dari mereka, ayah yakin kalian hanya salah paham " Ucap Alfian menepuk bahu Alvaro lalu beranjak.
"Oh iya jangan lupa minggu depan ayah akan menikah dengan tante Dewi,undangan yang ayah berikan sudah kamu antar kan?" ucap Alfian sebelum masuk ke dalam rumahnya,membuat Alvaro tersentak.
"Aaaa itu... sudah kok Yah" bohong Alvaro. Alfian mengangguk dan masuk ke dalam rumah.
Ia benar benar lupa dengan acara pernikahan ayahnya yang akan di laksanakan minggu depan, dan Alvaro belum menyiapkan apa apa. Bahkan undangan yang untuk di bagikan masih tersimpan rapih di kamarnya.
"Aiiiissshhh... kenapa bisa lupa sih" Geram Alvaro, lalu ikut menyusul ayahnya masuk kedalam rumah.
...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...