BASRI

BASRI
Taman Belakang



Di taman belakang rumah Rania sudah terhampar sebuah tikar dan masakan mereka tadi yang sudah tertata rapi di atasnya, tak lupa berbagai macam camilan dan buah buahan.


" Apaan nih? Piknik kok malam " Ujar Iqbal saat tiba di taman belakang dan melihat Rania dan Billa yang sibuk menata.


" Kenapa?! masalah buat Lo! " Sinis Rania.


" Tau gak suka, pergi aja sono " Tambah Billa.


" Ya ampun pada baperan banget sih " Langsung duduk di atas tikar dan mencomot buah apel dari tempat buah.


Rania dan Billa memutar bola matanya malas.


" Dua sejoli mana? " tanya Billa.


" Noh masih jalan romantis, serasa jalan di red karpet kali " tunjuk Iqbal pada Sheyna dan Alvaro yang berjalan menuju mereka sambil bergandengan tangan.


" Woiii... serasa numpang gue di bumi ini " Teriak Rania membuat Sheyna langsung meninggalkan Alvaro dan menghampiri mereka karena malu.


" Loh.. loh... loh... malah di tinggalin " Ucap Billa saat Sheyna menghampiri mereka.


" Kalian sih pada gibahin gue, kan malu " Jawab Sheyna dengan pipi yang merona.


" Tau nih, kan jadi kepiting rebus nih pipi " Alvaro mencubit gemas pipi Sheyna.


" Aaaa... sialan besok gue pindah ke mars aja " Ucap Iqbal.


Rania dan Billa hanya terkekeh melihat wajah mupeng Iqbal.


" Cup cup cup... mangkanya punya pacar juga dong, jomblo mulu " ledek Alvaro.


" Iya tau yang udah punya pacar, apalah daya ku yang hanya bisa mencintai dalam diam " jawab Iqbal mendramatisir.


Tukkk....


" Alay njis... " Rania bergidik lalu melempar Iqbal dengan buah anggur. Lalu mereka tertawa bersama.


Niat hati ingin meledek Sheyna dan Alvaro, malah berbalik kepada Iqbal yang sekarang terpojok.


" Udah yok ayo makan " ajak Rania.


Akhirnya mereka pun melanjutkan kegiatan makan malam, walaupun sempat terjeda karena Iqbal yang kembali meledek hasil masakan mereka.


" Aaarreeeggghhhh.... nikmat" Iqbal bersendawa lalu merebahkan tubuhnya di atas rumput.


" Nikmat kan? mangkanya jangan menghina penampilan, terkadang penampilan tidak menjamin " Ujar Billa yang di setujui oleh Rania dan Sheyna.


" Iya iya sorry elah " akhirnya Iqbal meminta maaf kepada ketiga gadis tersebut.


Hari sudah menunjukkan pukul 21.15, mereka masih nyaman untuk duduk dan berbincang di taman belakang rumah Rania. Mereka berbaring di atas rumput sambil menatap bintang yang bertaburan di gelapnya malam.


" Gue baru kali ini ngeliat bintang sambil rebahan di atas rumput " ucap Billa.


" Bagus kan? " tanya Sheyna sambil menatap Billa.


" Bagus banget, di tambah ngeliatnya bareng kalian " ucap Billa menatap Rania dan Sheyna bergantian.


" Aaaa... sweet banget " Rania memeluk Billa di ikuti oleh Sheyna.


" Woiii pelukan kok gak ngajak ngajak " protes Iqbal langsung duduk dari rebahannya.


" Lo mau ikutan? " tanya Alvaro, Iqbal pun mengangguk.


" Noh pelukan ama pohon " tunjuk Alvaro pada pohon yang ada di belakang Iqbal.


Sontak ketiga gadis tersebut menertawakan Iqbal, yang ternyata benar benar berpelukan dengan pohon tersebut, sedang Alvaro mencoba melepaskan Iqbal dari pohon.


Padahal niat Alvaro hanya ingin bercanda tapi malah di tanggapi serius oleh Iqbal.


" Woii Bal tau gue Lo mau punya pacar tapi gak sama pohon juga kali " ledek Sheyna.


" Tau nih Bal, malu maluin tau " tambah Rania.


" Woii Ball... lepas elah, besok kita cari cewek deh " bujuk Alvaro.


" Ogah mau malam ini "


" Gila Lo Bal, Lo kebelet pacaran kayak orang kebelet kawin, gila " omel Alvaro terus mencoba melepaskan Iqbal dari pohon.


" Bodo " jawab Iqbal tidak perduli.


" Kemana sih nyari cewek jauh jauh, disini kita masih punya stok dua kali Bal " Ucap Sheyna.


" Maksud Lo kita berdua ? " tanya Rania.


" Ya iyalah siapa lagi, kalian berdua kan juga jomblo akut " Ucap Sheyna dengan senyum meledeknya.


" Nah bener tuh, gimana kalian berdua aja jadi pacar gue " tawar Iqbal langsung membuat Rania dan Billa bergidik ngeri.


"Ogah!! " Timpal kedua gadis tersebut berbarengan.


" Aaaa ayolah " Iqbal mendekati mereka.


" Ran kabur " Teriak Billa saat Iqbal akan mengejar mereka.


Dan terjadilah aksi kejar kejaran di antara mereka, sedang Alvaro dan Sheyna hanya menonton sambil Alvaro merangkul pundak Sheyna.


" Ternyata pacar aku pinter juga ya " Ucap Alvaro tersenyum kepada Sheyna.


" Iya dong Sensen " ucap Sheyna membanggakan dirinya sendiri.


" Woiii...tolong!!! " teriak Rania dan Billa, tapi Sheyna dan Alvaro hanya tersenyum dan melambaikan tangan mereka membuat Rania dan Billa frustasi.


...***...


Keesokan paginya Sheyna terbangun dari tidurnya, ia sungguh di buat takjub dengan pemandangan yang ia lihat.


Pacar dan ketiga sahabat nya tertidur seperti terdampar, Iqbal tidur di pinggiran Sofa, Rania tidur di lantai dengan alas bantal Sofa, Billa tidur di atas karpet dekat meja, dan Alvaro tertidur di bawah kaki Iqbal, lalu Sheyna melihat dirinya yang terduduk di bawah anak tangga itu artinya ia tertidur di bawah tangga.


Sheyna mengingat kejadian malam tadi dimana setelah aksi kejar kejaran antara Iqbal, Rania dan Billa. Rania dan Billa langsung membalas dendam dengan perang bantal, karena kelelahan Sheyna akhirnya bersembunyi di bawah tangga.


Sheyna berniat membangunkan mereka, namun tiba tiba kepalanya terasa berat, sehingga membuat dia kembali terduduk.


" Sssstttt... jangan sekarang " ringis Sheyna sambil memegangi kepalanya, Sheyna teringat kalau dia lupa meminum obatnya tadi malam.


Iqbal mulai terbangun dari tidurnya karena mendengar suara ringisan, Iqbal mengedarkan pandangannya dan dia melihat Sheyna yang terduduk di bawah tangga sambil memegangi kepalanya.


Melihat wajah Sheyna yang memucat Iqbal tahu apa yang akan terjadi setelah ini, dengan sekejap nyawanya langsung terkumpul, Iqbal langsung berdiri dan menghampiri Sheyna.


" Kenapa? Kambuh? " tanya Iqbal lembut, Sheyna hanya mengangguk lemah.


Tanpa berpikir panjang Iqbal langsung membawa tubuh Sheyna keluar dari rumah Rania, dengan lemah Sheyna hanya menurut di gendong oleh Iqbal karena dirinya sudah tidak sanggup untuk berdiri karena sakit yang amat sangat di kepalanya.


Rania yang juga baru terbangun, merasa heran melihat Iqbal dengan wajah cemas menggendong tubuh Sheyna yang terkulai lemah di atas gendongan Iqbal, di tambah Rania tidak sengaja melihat hidung Sheyna yang mengeluarkan darah. Rania langsung mengejar Iqbal.


" Bal... mau kemana? " Teriak Rania namun tidak di dengar oleh Iqbal karena terlalu panik.


" Iqbal... Sheyna kenapa? " Teriak Rania lagi terus mengejar Iqbal namun tetap tidak mendapat jawaban.


Saat berada di luar rumah Rania, Iqbal langsung membawa Sheyna masuk kedalam mobilnya, dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Sedang Rania di buat bertanya tanya dengan kejadian tersebut, akhirnya Rania memutuskan untuk membangunkan Alvaro dan Billa.


" Al.... Bill... bangun " Rania mencoba membangunkan mereka.


Alvaro yang memang mudah di bangunkan langsung mengerjapkan matanya.


" Kenapa? " tanya Alvaro.


" Sensen... " ucap Rania dengan panik. Seketika Alvaro langsung mencari keberadaan Sheyna.


" Sensen kemana? Iqbal juga kemana? " tanya Alvaro saat menyadari bahwa Iqbal juga tidak ada.


" Itu... anu... " bukannya menjelaskan Rania malah menangis membuat Alvaro semakin khawatir dengan keadaan pacarnya.


Alvaro yang melihat Rania menangis mencoba menenangkan Rania terlebih dahulu, baru kelak dia akan bertanya apa yang sebenarnya terjadi.


" Ssstttt...jangan nangis, kalau Lo nangis gue gak tahu harus ngapain Ran " Alvaro mencoba menenangkan Rania padahal dalam hatinya ikut penasaran sekaligus khawatir dengan Sheyna dan Iqbal.


Rania menangis dalam pelukkan Alvaro, Billa yang merasa terusik dengan suara tangisan Rania ikut terbangun.


" Loh Rania kenapa? " tanya Billa, namun Alvaro mengisyaratkan untuk tidak bertanya.


Rania meredakan tangisnya dan berucap " Sensen di bawa pergi sama Iqbal, gak tahu kemana, tapi gue liat Sensen lemes di gendongan Iqbal di tambah gue liat hidungnya berdarah, gue khawatir, gue takut Sensen kenapa kenapa hiksss... " Rania kembali menangis.


Alvaro dan Billa di buat terkejut dengan penjelasan Rania, namun mereka tidak boleh ikutan panik. Mereka pun menenangkan Rania, Alvaro yakin sebentar lagi Iqbal akan mengabari dirinya.


Benar saja, 15 menit setelah itu Iqbal langsung menghubungi Alvaro, dan memberikan sebuah alamat rumah sakit.


" Ini Iqbal udah ngasih alamat, ayo kita kesana " ucap Alvaro langsung mengambil jaket dan kunci mobilnya. Mereka pun bergegas menuju alamat yang telah Iqbal berikan tadi.


...◦•●◉✿Happy Reading ✿◉●•◦...