BASRI

BASRI
Berkelahi



Perasaan gelisah dan khawatir menghantui Alvaro, sejak pulang dari acara makan malam Sheyna tidak bisa di hubungi, dan sudah beberapa hari dia tidak masuk sekolah.


" Kalian beneran gak tahu Sensen dimana? " tanya Alvaro kepada Rania dan Billa.


" Beneran Al, kemarin gue udah ngecek ke rumahnya dan gak ada orang " jelas Rania.


" Udah Lo tenang aja, Sensen pasti baik baik aja " Billa mengelus bahu Alvaro mencoba menenangkan.


Iqbal yang baru tiba melihat pemandangan tersebut merasa jengkel dan menatap Alvaro sinis.


" Lo kenapa deh Bal, dari kemarin sinis banget sama gue? gue ada salah apa sama Lo ?! " Sentak Alvaro yang menyadari tatapan Iqbal.


" Hehh pikir aja ndiri, punya otak kan " jawab Iqbal dengan sarkasnya membuat Alvaro terpancing emosi.


Brakkk...


Alvaro mendorong Iqbal hingga punggungnya menabrak meja di belakang nya.


" Mau Lo apa huhh... ada masalah bilang! " ucap Alvaro dengan nada tinggi membuat murid yang menyaksikan ngeri dengan emosi Alvaro,sedangkan Iqbal malah tersenyum sinis.


" Al stop... kalian apa apaan! " Teriak Rania berusaha memisahkan.


" Awas Ran, nih anak dari kemarin nyari masalah sama gue " Alvaro mendorong Rania membuat Rania terjatuh di lantai.


Billa membantu Rania untuk berdiri.


" Al sudah sebentar lagi bel masuk, jangan cari masalah " ucap Billa.


" Kebiasaan Lo gak berubah, hehh berapa cewek lagi yang mau Lo sakitin! " ucap Iqbal tersenyum sinis sengaja memancing emosi Alvaro.


Bughhh...


Satu pukulan berhasil mendarat di wajah Iqbal, Iqbal yang juga ikut tersulut emosi membalas pukulan Alvaro dan terjadilah adu jotos di antara mereka. Semua murid berteriak histeris, Billa, Rania dan beberapa murid pria berusaha memisahkan mereka.


" Maksud Lo apaan? gue nyakitin siapa! "


Bugghhh...


" Lo pikir sendiri! "


Bugghhh...


Braaakkkk....


" Stoooppp!!!!!!!" teriak Rania berhasil menghentikan kedua remaja tersebut.


" Kalian kenapa sih? Pliisss jangan buat gue sedih deh, cukup Sheyna yang ngilang tampa kabar yang buat gue sedih, jangan kalian yang berantem juga!!! " ucap Rania sambil meneteskan air matanya.


Kriiingg.... kriiing...


Bel masuk pun berbunyi, Iqbal berniat keluar kelas sebelum guru masuk ke kelas mereka.


" Coba Lo cari tahu kenapa Sheyna gak masuk beberapa hari ini " bisik Iqbal di telinga Alvaro membuat Alvaro mengepalkan tangannya.


Lalu Iqbal berjalan keluar kelas, Rania yang melihat Iqbal akan bolos berteriak memanggil namanya.


" Iqbal... mau kemana Lo? "


" Iqbal... "


Iqbal tidak menggubris dan terus berjalan keluar kelas dengan perasaan yang bercampur aduk.


...***...


Di sisi lain seorang gadis tengah terbaring lemah di atas berangkar rumah sakit.


" Nana makan dulu ya " bujuk Siti.


Ya gadis tersebut adalah Sheyna, lagi lagi penyakitnya kambuh, dan membuat dia harus di rawat di rumah sakit.


" Nanti aja mbak, Nana belum lapar " tolak Sheyna lemah.


" Dek kamu harus makan,gak boleh gini " Siti terus membujuk Sheyna.


" Iya mbak Nana makan, tapi ntar ya, bentar lagi deh " bujuk Sheyna saat ini dia benar benar belum mau makan.


Perasaan takut,cemas, sedih, bercampur aduk. Hal yang paling ia takut kan sebentar lagi akan dia rasakan. Dirinya akan semakin lemah dan merepotkan orang di sekitarnya.


Tok... tok...


Suara pintu ruang rawat di ketok lalu tak lama seseorang masuk kedalam ruang rawat Sheyna.


" Iqbal ngapain Lo... " ucap Siti terjeda karena melihat kondisi Iqbal yang berantakan.


" Muka Lo kenapa? " tanya Sheyna panik dan langsung berusaha duduk.


" Udah tiduran aja, gue gak apa apa " ucap Iqbal langsung membantu Sheyna tiduran lagi.


" Mbak tolong kotak P3K dong " minta Iqbal, Siti pun langsung keluar untuk mengambilnya sedang Iqbal duduk di samping Sheyna.


Sheyna menatap Iqbal dengan tatapan yang sulit di artikan.


" Udah kali ngeliatinnya, gue gak apa apa "


" Gak apa apa gimana itu berdarah loh " omel Sheyna pada Iqbal, Iqbal hanya tersenyum.


" Berantem sama siapa? " tanya Sheyna.


" Gak usah kepo " ucap Iqbal sambil tersenyum dan mengelus kepala Sheyna.


" Kenapa? ayo makan ini makan terakhir loh besok harus puasa sebelum kemo " sekarang balik Iqbal yang mengomeli Sheyna.


Ya kondisi Sheyna sudah memasuki stadium 3 dan Nevan menyarankan utuk melakukan kemoterapi.


" Gak... gue gak mau makan sebelum Lo cerita itu kenapa "


Iqbal menghela nafas, sebenarnya dia tidak ingin memberitahu Sheyna karena takut Sheyna akan mengingat kejadian malam itu lagi.


Flashback On


Di perjalanan pulang Sheyna terus menangis, dan Iqbal hanya membiarkannya saja. Dia membiarkan Sheyna menangis bukan karena dia tidak perduli tapi dia hanya ingin Sheyna melepas kesedihannya.


" Sensen udah kenapa nangisnya, apa perlu kita mutar balik dan melabrak mereka " ucap Iqbal yang mulai tidak tahan melihat Sheyna yang terus menangis.


Bagaimana pun juga Sheyna akan menjadi saudari tirinya, dan Iqbal juga tahu bahwa sejak kecil dia selalu ingin menjadi kakak Sheyna untuk melindunginya, dan inilah saatnya Iqbal berperan sebagai kakaknya.


" Gak Bal... hiksss... g.. gue... gak hikss.. na... ngis lagi... hiks " ucap Sheyna tersedu sedu, Iqbal pun memberhentikan mobilnya.


" Sen, sebenarnya Lo sama Alvaro ada hubungan apa, kalau cuma suka Lo gak akan sesedih ini " Iqbal berusaha bertanya untuk memahami kondisi Sheyna.


" Sebenarnya... hiksss... Gue sama Alvaro pernah pacaran "


" Apa? Kapan? "


Sheyna menceritakan semuanya kepada Iqbal mulai dari mereka yang jadian di acara tahun baru, mereka putus di hari pertama masuk sekolah, hingga Sheyna memberikan kesempatan lagi kepada Alvaro, dan berakhir seperti ini.


" Wah... gila... gue gak nyangka ternyata Alvaro se b*r*n*s*k itu " ucap Iqbal marah.


Jelas dia sangat marah bagaimana tidak kecurigaannya malam itu benar dan Alvaro tetap menyembunyikan hubungan mereka, dan saat di beri kesempatan Alvaro malah menyia nyiakannya dan lagi lagi menyakiti Sheyna.


" Gak akan gue biarin "


" Bal... udah gue gak apa apa, Alvaro gak salah gue yang terlalu sayang sama dia " ucap Sheyna membuat Iqbal semakin tidak Terima dengan perbuatan Alvaro.


" Tapi Sen... "


" Bal... gue pusing gue mau tidur, entar kalau sudah sampai tolong bangunin ya " pinta Sheyna pada Iqbal, Iqbal hanya mengiyakan dan kembali melajukan mobilnya menuju rumah Sheyna.


Setibanya di rumah Sheyna, Iqbal melihat mobil Ayahnya juga sudah terparkir di sana yang berarti mereka sudah pulang dari restauran.


" Sen... Sen... bangun sudah sampai" Iqbal berusaha membangunkan Sheyna.


Namun sepertinya Sheyna tidur terlalu pulas, membuat Iqbal jadi tidak tega. Iqbal memutuskan untuk turun dan menggendong Sheyna masuk kedalam rumah.


Iqbal membuka pintu mobil tempat Sheyna duduk, namun dia di buat terkejut saat melihat wajah dan bangku Sheyna yang berlumuran darah.


" Sensen...!!! " teriak Iqbal panik.


" Tolong...!!! "


Teriakan Iqbal terdengar hingga kedalam, membuat Nani, Nevan dan Siti buru buru keluar rumah.


" Nana kenapa? " tanya Nani panik.


Sedangkan Nevan langsung memeriksa kondisi Sheyna.


" Kita kerumah sakit " ucap Nevan,dan langsung memindahkan Sheyna ke bangku penumpang di ikuti oleh Nani yang akan menemani Sheyna.


" Ibu saya mau ikut nemenin Nana " pinta Siti yang sudah menangis karena khawatir.


" Arsen kamu bawa mobil papa bareng Mbak Siti " Titah Nevan tak lupa memberikan kunci mobilnya, dan langsung menaiki mobil Iqbal dan melakukannya menuju rumah sakit.


" Ayo mbak " ajak Iqbal langsung menuju mobil Nevan.


" Pak tolong rumah di kunci semua, jagain rumah ya " ucap Siti pada pak Udin, pak Udin hanya menurut, setelah itu mereka menyusul Sheyna ke rumah sakit.


Dan ketika tiba di rumah sakit barulah Siti menceritakan tentang kondisi Sheyna yang sebenarnya. Iqbal semakin merasa kesal kepada Alvaro yang telah membuat kondisi Sheyna memburuk.


Flashback Off


" Bal... Iqbal... " Sheyna menggoyangkan tubuh Iqbal yang sejak tadi melamun.


" Iqbal...!! " teriak Sheyna akhirnya berusaha menyadarkan Iqbal.


" Eeeh... kenapa Sen? ada yang sakit? " tanya Iqbal.


" Otak Lo yang sakit " kesal Sheyna.


Iqbal malah tersenyum, dan kembali mengelus pucuk kepala Sheyna.


" Jangan ngambek dong, makan yuk " bujuk Iqbal lagi sambil mengambil bubur yang ada di atas meja.


" Cerita dulu itu kenapa? " ucap Sheyna lagi.


Akhirnya Iqbal bercerita kalau ia berkelahi dengan Alvaro, karena dia tidak tahan melihat Alvaro yang bersikap seperti tidak ada masalah sedangkan Sheyna terbaring di rumah sakit.


" Apaan deh Bal, kayak anak kecil berantem berantem, gue gak suka ya " omel Sheyna.


" Ya tapi kan dia juga yang ngeselin " bantah Iqbal.


" Pokoknya gue gak suka! " tegas Sheyna membuat Iqbal pasrah.


" Ya udah maaf, sekarang makan ya " Iqbal menyodorkan sesendok bubur, akhirnya Sheyna pun menerimanya.


Ini makan terakhirnya di hari ini, karena setelah ini dia akan berpuasa untuk persiapan kemoterapi besok.


...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...