BASRI

BASRI
Penyesalan Alvaro



Sinar cahaya lampu mengganggu penglihatan Sheyna, secara perlahan ia membuka matanya. Langit langit berwarna putih dan bau obat obatan menyambut kesadarannya.


Kepalanya terasa pusing, tubuhnya terasa seperti tak bertulang.


" Mbak " panggil Sheyna lirih.


" Na udah bangun ? " Tanya mbak Siti yang selalu setia menunggunya.


" Haus mbak "


Mbak Siti langsung mengambil segelas air yang berada di atas nakasnakas dan membantu Sheyna duduk untuk memudahkannya untuk minum


" Mbak Mama mana? " tanya Sheyna setelah minum beberapa tegukan.


" Ada di ruang om Nevan " ucap Mbak Siti kembali membantu Sheyna untuk berbaring.


" Mbak gak cerita ke mama kan? " ucap Sheyna tiba tiba.


" Tenang mbak cerita kok " mbak Siti mengelus pucuk kepala Sheyna sayang.


" Mbak tolong matiin ponsel Nana ya, dan kalau ada yang nanya Nana kemana bilang aja liburan " ucap Sheyna, mbak Siti hanya mengangguk seakan paham bahwa Sheyna butuh waktu sendiri sekarang.


Sheyna kembali memejamkan matanya, kilasan ketika Inggit mengakui Alvaro sebagai pacarnya membuat hati Sheyna kembali sakit.


Entahlah mungkin hatinya terlalu lembut sehingga mudah terluka, harusnya ia bisa bersikap biasa saja toh mereka juga baru beberapa hari menjalin hubungan. Tapi Sheyna tidak bisa mengabaikan semuanya hatinya terlalu sakit untuk berkata dirinya baik baik saja.


Sementara ia di rawat, dia akan mencoba mendamaikan hatinya dahulu. Ia juga harus fokus dengan kesehatannya, ia tidak ingin mamanya bersedih karena kesehatan nya menurun.


Di sisi lain Nani terus menangis di ruangan Dr. Nevan. Dia sangat khawatir dengan keadaan Sheyna. Jelas ia khawatir Ibu mana yang tidak panik ketika melihat anaknya tiba tiba pingsan dan mimisan.


" Sudahlah Nan, Sheyna baik baik saja dia hanya kecapekan " Nevan mendekati Nani setelah meletakkan segelas teh di atas meja.


Nani dan Nevan memang cukup dekat,karena Nevan adalah sahabat mendiang Seno. Dan kebetulan Nevan jugalah yang menangani Seno selama ia sakit dan sekarang menangani Sheyna.


" Tapi Van, aku khawatir, aku gak mau kehilangan Nana seperti aku ke hilangan mas Seno hiksss... " Nani terisak.


" Sudahlah kalau Sheyna melihat kamu seperti ini dia pasti akan sedih, dan itu akan memperburuk keadaannya " bujuk Nevan.


" Tapi Van... "


" Kondisi Sheyna tidak seburuk itu, asal bisa menjaga pola hidup sehat, mengkonsumsi makanan sehat, istirahat cukup dan minum obat tepat waktu kondisinya akan membaik " Nevan terus berusaha menenangkan Nani.


" Bagaimana bisa aku tenang suami ku sudah meninggal karena penyakit ini Van "


" Aku mengerti tapi Sheyna masih tahap awal kita akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyembuhkannya ".


Nevan terus menenangkan Nani di ruangannya. Nevan tahu bagaimana perasaan Nani, pasti berat baginya menjalani semua ini. Nevan juga merasakan hal yang sama, Istrinya juga meninggal ketika melahirkan anaknya dan itu berat bagi Nevan karena harus membesarkan anak seorang diri.


...***...


" Al dari pulang dari pesta Inggit semalem nomor Sensen gak bisa di hubungi, dia ada ngabarin Lo gak? " Tanya Rania khawatir kepada Alvaro yang sedang menatap kosong ke arah aquarium nya.


" Emang semalem Rania ke pesta Inggit? " tanya Iqbal. Iqbal tidak tahu akan kejadian malam itu.


Saat ini mereka sedang berada di rumah Rania, hari ini mereka berencana akan jalan jalan keliling kota, tapi karena Sheyna menghilang mungkin mereka akan membatalkannya.


" Apa kita cancel aja ya, gak seru kalau gak ada Sensen " ucap Rania.


" Iya juga sih, lagian kalau gak ada Sheyna gak yang bantuin gue sama Alvaro kalau di omelin Lo " ucap Iqbal.


" Apa kata Lo?! " sarkas Rania.


" Eee... apa Ran, gak Lo cantik banget deh hari ini "


Tukkk...


" Aiisss jadi cewek kasar banget elah " gerutu Iqbal ketika Rania menyentil jidadnya.


" Apa?! mau bales bales aja, gak suka " ucap Rania dengan tatapan mematikannya.


" Ampun salah aja terus gue " pasrah Iqbal.


Sementara Rania dan Iqbal bercekcok Ria, Alvaro sibuk dengan pikirannya yang terus tertuju kepada kejadian malam itu. Dia merasa bersalah, dia takut Sheyna akan membencinya, dia takut Sheyna akan menjauhinya.


" Bego... bego... bego... " ucap Alvaro tiba tiba sambil memukul kepalanya.


Rania dan Iqbal menatap aneh kearah Alvaro.


" Siapa maksud Lo bego?! " sentak Rania membuat Alvaro tersadar dari lamunannya.


" Woooiiii Lo kenapa? " tanya Iqbal sambil menepuk bahu Alvaro.


" Aaa... itu gak apa apa " gugup Alvaro.


Dia tidak mungkin menceritakan semuanya, yang ada akan menambah masalah, terlebih jika mereka tahu saat ini dirinya juga memacari Sheyna, sahabat mereka sendiri.


" Ada masalah? " tanya Rania.


" Ee... egak.. guys gue pamit duluan ya " Alvaro mengambil jaket yang ia letakkan di sofa.


" Mau kemana? " teriak Iqbal.


" Ada urusan " ucap Alvaro langsung berlari keluar rumah Rania.


Alvaro tidak mau Sheyna menjauhinya, dia akan minta maaf kepada Sheyna, dia harus menjelaskan semuanya, dia rela jika Sheyna menyuruhnya untuk bersujud jika itu bisa membuat Sheyna memaafkan nya.


Alvaro mengendarai motornya menuju rumah Sheyna dengan kecepatan tinggi, tanpa memperdulikan caci maki dari pengguna jalan lainnya yang terganggu dengan cara mengemudi Alvaro.


Setibanya di rumah Sheyna, tampak suasana sepi, tapi Alvaro pantang menyerah ia langsung menekan bel beberapa kali tapi tidak ada yang membukakan pintu untuknua. Alvaro terus memanggil Sheyna tapi tetap tidak ada jawaban.


Alvaro mencoba menghubungi Sheyna lagi, namun lagi lagi operator yang menjawab panggilannya.


Alvaro semakin di buat frustasi, dia memang bersalah tapi dia tidak ingin kehilangan Sheyna. Memang terdengar egois tapi Alvaro benar benar menyukai Sheyna, perasaannya tidak bohong. Andai kemarin dia tidak menyetujui permintaan Inggit semua ini tidak akan terjadi.


Flashback On


Alvaro menemui Inggit di kafe tempat terakhir mereka bertemu. Sejak saat itu Alvaro benar benar menjauh dari Inggit. Tapi Inggit terus mengganggunya dengan cara meneror Iqbal.


" Mau apa lagi, kita sudah putus! " bentak Alvaro.


" Al bisa gak kita ngomong baik baik " pinta Inggit.


Alvaro hanya diam.


" Al aku cuma mau kita pacaran sampai hari ulang tahun aku, aku udah terlanjur cerita ke teman teman aku kalau aku bakal bawa pacar di acara ulang tahun aku nanti Al " ucap Inggit menjelaskan tujuannya.


" Kita udah putus, dan itu bukan urusan gue " Sarkas Alvaro hendak beranjak tapi di tahan oleh Inggit.


" Ayolah Al ini terakhir kali " ucap Inggit memohon kepada Alvaro.


" Gak gue gak mau " tolak Alvaro lagi.


" Plisss gue mohon anggap ini hadiah ulang tahun buat gue Al " Inggit terus memohon kepada Alvaro.


Alvaro tampak berpikir, permintaan Inggit bisa ia tukar dengan kepindahan Inggit ke sekolahnya karena itu lebih berbahaya bagi Alvaro. Lagi pula ini hanya di malam ulang tahunnya, Sheyna juga tidak kenal dengan Inggit tidak mungkin Sheyna akan datang ke ulang tahun Inggit.


" Oke gue bakal turutin, tapi dengan syarat Lo gak usah pindah ke sekolah gue, dan setelah ini lupain kita pernah ada hubungan! " tegas Alvaro.


" Ok setuju " merekapun saling sepakat.


Flashback Off


" Aaaarrrrgggghhh.... " teriak Alvaro.


" Sensen gue minta maaf gue gak tahu bakal jadi kayak gini, plisss jangan jauhin gue, gue nyesel" teriak Alvaro frustasi.


" Woiii mas ngapain teriak teriak? " tanya seorang satpam komplek.


Buru buru Alvaro menghampiri satpam tersebut.


" Eee... pak orang rumahnya kemana ya? " tanya Alvaro.


" Gak tahu dari semalam pergi dan belum pulang, liburan kali " ucap Satpam tersebut cuek.


" Liburan kemana pak? " tanya Alvaro lagi.


" Mas pikir saya supirnya, ya mana saya tahu, mas pacarnya? " Alvaro mengangguk.


" Masa pacar sendiri gak tahu, hahahh kasian deh di tinggalin pacar liburan " ledek Satpam tersebut sambil tertawa mengejek.


" Sialan malah di ledekin " batin Alvaro.


" Dah mas biarin pacarnya liburan, kali kali butuh refreshing hahhahhh " ledek satpam itu lagi lalu meninggalkan Alvaro dengan raut kesal karena di ledek oleh satpan tersebut.


......◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦......