
Matahari menyapa melalui sela sela tirai kamar Sheyna. Sheyna masih berlabuh di alam mimpinya merasa terganggu dengan cahaya yang memaksa masuk ke retinanya.
" Nana... ayo bangun " Nani menggoyangkan tubuh Sheyna perlahan.
" Eeuuggghhh... " Sheyna menggeliat.
" Ayo sayang bangun, tumben kamu bangunnya siang " ucap Nani mengelus surai hitam Sheyna lembut.
Ya Sheyna selalu bangun pagi sekalipun di hari libur, seperti hari ini. Namun entah apa yang membuatnya tertidur sangat pulas hingga bangun kesiangan.
" Eeeuuummm... Mama gak pergi ? " Sheyna mengubah posisinya menjadi duduk.
" Enggak, hari ini mama mau ngajakin kalian piknik" ucap Nani, membuat mata Sheyna berbinar.
" Seriusan ma " ucap Sheyna antusias.
" Iya...seribu rius malah " Nani mencubit gemas pipi Sheyna.
Semenjak papanya meninggal Nani memang selalu di sibukkan dengan urusan perusahaan. Jadi waktunya bersama Sheyna harus sedikit di korbankan.
Nani harus mengatur jadwalnya untuk mencari celah agar dirinya bisa libur sehari, dan bisa menghabiskan waktu seharian bersama sang buah hati tercinta.
" Ya sudah mandi gih sana, mama tunggu di bawah ya " ucap Nani.
Sheyna pun langsung menuju kamar mandi guna membersihkan tubuhnya. Setelah siap barulah ia menemui sang mama.
" Ma.. " panggil Sheyna pada Nani yang sedang duduk di sofa.
" Wah anak mama sudah cantik " Nani memuji Sheyna yang memang selalu terlihat cantik di matanya.
" Aa mama bisa aja " ucap Sheyna malu malu.
" Bu ini sudah semua " Seru Siti berteriak dari arah dapur berjalan menuju ruang TV sambil membawa sebuah tikar lipat dan keranjang yang berisi banyak makanan.
" Wedehh... semangat amat mbak " ledek Sheyna pada Siti yang terlihat begitu semangat membawa barang barang tersebut.
" Iya dong harus semangat, kapan lagi bisa piknik kek gini " ucap Siti penuh semangat.
Ya memang sulit bagi Nani membagi waktu semenjak kepergian Seno baru hari ini ia bisa menyempatkan diri mengajak Sheyna dan Siti berpiknik.
Tin... tin... tin...
" Siapa lagi tuh? " tanya Sheyna heran.
" Coba lihat kedepan " ujar Nani, Sheyna langsung berlari menuju pintu keluar untuk melihat siapa yang membunyikan klakson tadi.
" Wah... PDKT nya mulai berjalan nih " ledek Siti pada Nani.
Nani hanya tersenyum, senyum yang sulit di artikan.
" Apa sih Ti, sudah bawa keluar semuanya " titah Nani langsung menyusul Sheyna.
" Ya Ampun ini berat loh, tega banget di suruh bawa sendirian " omel Siti.
Tanpa Siti sadari pak Udin sejak tadi menahan tawa melihat Siti yang bersusah payah membawa barang barang mereka.
" Mbak gak mau saya bantuin? " tawar pak udin.
" Eeeh bapak sejak kapan di sana " ucap Siti kaget saat pak udin berdiri di hadapannya.
" Sejak tadi, mbak nya aja yang gak liat " jawab pak udin mengambil tas milik Sheyna dan Nani.
" Kenapa gak di bantuin dari tadi pak " ucap Siti kesal.
" Mbak Siti gak minta bantuan sih, saya pikir mbak Siti sanggup bawa semuanya sendiri karena terlalu semangat " ucap pak udin santai.
" Ya salam, terserah deh pak, ini bawa juga " mbak Siti menyerahkan tikar dan keresek yang berisi camilan kepada pak udin.
Disisi lain Sheyna di buat terkejut dengan kehadiran keempat sahabatnya.
" Sensen.... " teriak Rania dan Billa berlari keluar mobil dan memeluk Sheyna.
" Loh kalian... kok bisa di sini? " heran Sheyna.
" Mama yang ngajakin mereka " ucap Nani.
" Aaa mama sweet banget " Sheyna memeluk Nani sayang.
" Haii tante... " Billa dan Rania menyapa Nani.
" Pagi tante " Iqbal dan Alvaro ikut menyapa.
" Loh... kok kalian sih " ucap Siti heran bukannya Nevan yang ia lihat malah Alvaro dkk.
Siti sempat berpikir bahwa yang membunyikan kelakson tadi adalah Nevan, karena tadi malam saat Nani mengajaknya untuk piknik Nani sempat menanyakan tentang mengajak Nevan atau tidak.
" Haloo mbak... " sapa Alvaro.
" Berat ya mbak sini kita bantuin " ucap Iqbal menarik Alvaro untuk mengambil barang yang Siti bawa.
" Dari tadi kek " ucap Siti sambil tersenyum.
" Nana kamu mau bareng temen kamu atau sama mama? " tanya Nani.
" Nana bareng temen Nana aja ya ma " Nani hanya mengangguk.
Mereka pun berpisah Sheyna, Rania, Billa, Iqbal dan Alvaro naik di mobil Alvaro. Sedangkan Nani, mbak Siti dan pak Udin di mobil Nani dan pak Udin sebagai sopir.
" Bu... Ibu... kok om Nevan gak jadi ikut sih, kok malah empat kerucil sih yang ikut " protes Siti saat di perjalanan.
" Iih berisik deh Ti, Nevan hari ini ada kerjaan gak bisa ikut " jelas Nani.
" Yahh gak asik dong " ucap Siti kecewa.
Padahal Siti berharap Nevan bisa ikut bersama mereka, selain baik Nevan juga tipikal orang yang asik dan friendly.
...***...
Hamparan rumput hijau,langit biru cerah, berhadapan dengan bebukitan dan persawahan, ditambah dengan pepohonan yang menjulang tinggi ke awan.
Membuat mata siapapun akan terpanah, Sheyna tidak mampu berucap dengan kata kata pemandangan ini sangat indah.
" Gimana? suka? " tanya Nani.
" Ya ampun tante ini pemandangannya bagus banget " teriak Rania heboh.
" Asli tante pinter banget milih tempat piknik " puji Billa.
" Mama ku memang ter the best lah " puji Sheyna sambil memeluk Nani.
Mereka membentangkan tikar dan menyusun makanan, buah buahan dan cemilan yang mbak Siti sudah siapkan.
Waktu masih menunjukkan pk. 10.30,sementara mbak Siti dan pak udin menyiapkan alat pemanggang untuk acara barbecque kecil kecilan nanti.
Nani, Sheyna, Billa, Rania, Iqbal dan Alvaro sibuk menyiapkan game yang akan mereka mainkan nanti. Nani sudah menyiapkan semuanya, dia akan membuat hari ini hari yang paling menyenangkan untuk Sheyna.
Selain mereka ada juga pemandu yang berkerja disana untuk membantu mereka menyiapkan segala sesuatunya.
" Om om... kalau main ke sawah sana boleh gak om? " tanya Sheyna kepada salah satu pemandu yang bernama Tono.
" Boleh, sawah itu juga sering di jadiin jalur outbound " jelas Tono.
" Guys...guys... kita bikin challenge mau gak? " ucap Sheyna membuat semuanya melihat ke arah Sheyna.
" Challenge apa? " tanya Iqbal.
" Tuh disana ada sawah " Sheyna menunjuk sawah yang tidak jauh dari mereka.
" Gue punya ide kalau gamenya di sana aja, kan jalan di lumpur tuh susah jadi challenge nya siapa yang bisa menyelesaikan game dan paling cepat sampai finish dia yang menang, gimana? " usul Sheyna.
" Oke siapa takut " ucap Rania, Iqbal dan Alvaro bersemangat.
" Lo Bill? " tanya Sheyna.
" Gue takut Sen, ntar ada cacing, terus kuku gue kotor, iiihhh gak deh " Billa merasa jijik karena mungkin dia belum pernah bermain di lumpur.
" Ayolah... berani kotor itu baik, gak seru kalau Lo gak ikutan " Iqbal merangkul Billa seraya membujuknya.
" Iya Bill, cacing gak tinggal di lumpur Bill (bohong Rania), kuku Lo kotor salon di kamar Lo kan ada " Rania ikut membujuk Billa.
" Ayolah Bill, kali ini aja kok demi gue plisss " Sheyna memasang puppy eyes nya.
Billa masih tampak ragu, jujur dia takut karena seumur hidup dia belum perna menginjakkan kaki di sawah.
" Udah kalau Billa gak mau kita kita aja " ucap Alvaro akhirnya.
" Tapi Al... " Sheyna berniat ingin protes namun langsung di sela oleh Nani.
" Sayang gak boleh memaksa orang, kalau Billa gak mau ya sudah, kasihan Billa nya nanti " Nani memcoba memberi pengertian, yang akhirnya mereka hanya menurut.Dan kembali melanjutkan kegiatan masing masing.
...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...