
Sepulang sekolah Iqbal langsung menuju salah satu pusat berbelanja. Setiba di sana Iqbal langsung memarkirkan mobilnya di basement, dan naik menggunakan lift menuju loby.
Setibanya di loby Iqbal langsung menghampiri Siti yang sudah sejak tadi menunggunya.
"Lama banget sih! " Sarkas Siti saat Iqbal tiba di hadapannya.
"Maklum lah anak sekolahan mbak, belum bunyi bel belum boleh pulang" Jawab Iqbal cengengesan.
"Ya udah ayo, langsung aja" Ajak Siti.
Merekapun berkeliling mencari semua bahan yang di perlukan. Hingga mereka tiba di toko terakhir.
"Mbak ngapain ke sini?" Tanya Iqbal, sambil menatap isi toko.
"Udah Lo nurut aja, mau di maafin Nana gak?" Dengan cepat Iqbal langsung mengangguk, dan mengikuti Siti masuk ke dalam toko tersebut.
...***...
Langit mulai gelap, semua persiapan suprise untuk Sheyna di taman rumah Sheyna sudah siap. Iqbal menghela nafas, dan tak lupa merapalkan do'a agar Sheyna bisa memaafkannya.
"Akhirnya selesai, sekarang tinggal Lo pake itu " tunjuk Siti pada sebuah paper bag, sambil tersenyum jahil.
"Emang harus pake gituan ya mbak? " tanya Iqbal sedikit keberatan.
"Ya terserah Lo sih, kan gue cuma ngasih saran, kalau mau di maafin Nana ya harus pake itu " Ucap Siti lagi.
"Hufffttt... demi Nana gak apa apa deh " gumam Iqbal langsung mengambil paper bag tersebut dan langsung masuk ke dalam rumah untuk berganti kostum.
Lima belas menit Iqbal sudah siap dengan kostumnya.
" Wahhh... cocok banget sama Lo hahhah " ledek Siti melihat Iqbal yang tampak lucu dengan kostum princess.
" Ketawa aja terus mbak, puas lihat gue kayak gini " ucap Iqbal kesal.
"Puas banget gue, hahhahh... " Siti terus menertawakan Iqbal. Sedang Iqbal hanya bisa memasang wajah masamnya.
Iqbal tidak keberatan harus menggunakan kostum apapun tapi,ini dia harus memakai kostum princess,lengkap dengan rambut palsu dan riasannya, belum lagi di tambah dengan aksesoris yang membuat Iqbal semakin risih.
Tapi apapun akan ia lakukan demi mendapatkan maaf dari Sheyna. Bagaimana pun Iqbal akui kalau dirinya bersalah, kata katanya sudah kelewat batas, dan menyakiti hati Sheyna.
" Ya udah Lo tunggu di sini, gue panggil Nana dulu " Ujar Siti.
Iqbal hanya bisa pasrah, ia menunggu Sheyna dengan buket bunga di tangannya. Tak lama Sheyna pun keluar dari rumah. Mata sembab, hidung merah,wajah pucat, dan masih mengenakan pakaian tadi pagi membuat Iqbal semakin merasa bersalah.
"Waaahhh... ada princess... " mata Sheyna langsung berbinar saat melihat seorang princess berdiri di hadapannya, serta dekorasi ala ala negeri dongeng.
Ya Sheyna memang sangat menyukai Princess, namun karena umurnya yang sudah bukan anak anak lagi, Sheyna sedikit malu untuk mengekspos kesukaannya.
Iqbal tersenyum ketika melihat Sheyna begitu bahagia, sedang Sheyna belum menyadari kalau princess tersebut adalah jelmaan Iqbal. Siti hanya senyum senyum geli melihat Sheyna yang mulai memeluk meluk princess terus, sedang Iqbal hanya bisa pasrah.
"Buat kamu " Iqbal memberikan buket bunga tadi kepada Sheyna, Dengan senang hati Sheyna menerima bunga tersebut.
"Mbak yang nyewa princess ini? " tanya Sheyna dengan raut bahagianya.
"Iya tentu, gratis pula " ucap Siti menaikkan sebelah alisnya dengan menatap Iqbal. Iqbal hanya bisa mendengus.
"Aaa mbak sweet banget, tahu aja kalau Nana masih suka banget sama princess " Sheyna memeluk tubuh Siti erat, Siti membalas pelukan Sheyna dan mencibir Iqbal yang tampak kesal karena kehadirannya tak di anggap.
"Mbak minta maaf yang tadi pagi ya, mbak cuma gak mau Nana sakit lagi, mangkanya mbak ngelarang Nana ke sekolah " Siti meminta maaf kepada Sheyna, sebenarnya dia juga merasa bersalah, andai saja dia mengizinkan Sheyna ke sekolah pasti Iqbal tidak akan mengeluarkan kata kata yang akan menyakiti hati Sheyna.
"Mbak gak salah, yang harusnya minta maaf itu Iqbal, tega banget ngomong gitu ke Nana, kan Nana sedih " Adu Sheyna kepada Siti sambil meneteskan air matanya karena teringat ucapan Iqbal tadi.
"Sensen... " panggil Iqbal dengan wajah sedihnya.
Sheyna pun menoleh, Sheyna tampak heran kenapa princess nya bisa memanggil dirinya 'Sensen' sedang yang memanggilnya 'Sensen' hanyalah sahabatnya.
Sheyna mendekatinya dan memperhatikan princess tersebut dari atas sampai ke bawah. Sheyna menarik rambut palsunya dan ia terbelalak saat menyadari siapa princess tersebut.
" Iqbal! ngapain Lo pake beginian? " tanya Sheyna berubah garang.
"Semua ini gue lakuin demi Lo, plisss maafin gue " Iqbal memegang tangan Sheyna sambil berjongkok. Sheyna membuang mukanya tidak ingin melihat wajah Iqbal karena masih kesal.
"Plisss Sen, gue tahu gue kelewatan gak seharusnya gue ngomong gitu ke Lo, Pliiissss maafin gue " mohon Iqbal, Sheyna tidak bergeming.
Siti yang melihat itu juga merasa kasihan dengan Iqbal, dia sudah menyiapkan semua ini hanya demi Sheyna. Siti mendekati kedua remaja tersebut.
"Nana gak minta" Sheyna menghempaskan tangan Iqbal, membuat Iqbal dan Siti terdiam.
"Sen plisss maafin gue " mata Iqbal mulai berkaca kaca kali ini dia benar benar menyesal, setelah ini dia berjanji tidak akan menyakiti Sheyna lagi.
Plakkk...
Sheyna menampar pipi Iqbal, dan berkata " Cengeng banget gitu doang nangis " sarkas Sheyna.
"Bodo amat, Lo mau ngatain gue, gue beneran sedih ini " Ucap Iqbal sambil mengelap air matanya.
Siti yang melihat Iqbal menangis berusaha menahan tawanya, pasalnya Iqbal yang terkenal jahil dan nyebelin bisa nangis juga.
"Berdiri!! " Titah Sheyna.
" Gak sebelum Lo maafin gue "
"Gue bilang berdiri, Berdiri... "
"Gak mau... "
" Ya udah terserah"
" Eee iya iya gue berdiri " ucap Iqbal langsung berdiri dari jongkoknya.
" Ambil tisu basah " perintah Sheyna lagi membuat Siti dan Iqbal saling tatap.
"Cepetan! "
"I... iya.. iya" Iqbal pun langsung bergegas masuk ke dalam rumah dan mencari tisu basah, setelah menemukannya dia langsung memberikannya kepada Sheyna.
Sheyna mengambil sehelai tisu, dan mengusap kan di wajah Iqbal.
"Lo itu bakal jadi kakak gue,ngapain dandan kayak gini, emang Lo mau jadi banci " ucap Sheyna sambil mengelap wajah Iqbal dengan lembut.
"Mbak Siti yang nyuruh " Adu Iqbal.
"Terus kenapa mau? " tanya Sheyna lagi.
"Apapun gue lakuin demi dapat maaf dari Lo Sen " ucap Iqbal terisak.
Sheyna memeluk Iqbal, sebenarnya dirinya sudah tidak marah dengan Iqbal, hanya saja ia menyalahkan dirinya sendiri yang terlalu terbawa perasaan. Iqbal pun membalas pelukkan Sheyna.
"Ya udah gue maafin, tapi jangan di ulangi lagi, gue cuma gak mau Alvaro dan yang lainnya tahu... "
" Tahu kalau kalian punya hubungan! " ucap seseorang membuat Siti, Sheyna dan Iqbal langsung menoleh ke arah sumber suara.
Iqbal dan Sheyna langsung melepaskan pelukkan nya, mereka saling tatap seakan berkata "Bagaimana ini" Iqbal mengedikkan bahunya.
"Al ini gak seperti yang kalian lihat " ucap Iqbal berusaha menjelaskan.
"Eee... iya...Al aku bisa jelasin " Sheyna mencoba untuk menggapai tangan Alvaro namun Alvaro langsung menghindar. Tampak sekali raut kecewa di wajahnya.
"Ternyata semua gosip di sekolah itu bener, gak nyangka Lo bisa kayak gini Sen " timpal Rania yang juga menyaksikan.
"Ran gue bisa jelasin, gue sama Iqbal emang punya hubungan tapi... "
Plaaakkk...
Rania menampar Sheyna, Siti membekap mulutnya syok, dan langsung mendekati Sheyna.
"Berani banget Lo ngakuin hubungan kalian di depan gue dan Alvaro " Sarkas Rania, Sheyna sudah tidak mampu berkata kata lagi,
"Bisa gak kalian dengerin penjelasan mereka dulu? " ucap mbak Siti yang mulai terpancing emosi.
"Mbak gak usah ikut campur, gue kira selama ini mbak selalu mendukung hubungan gue sama Sheyna tapi ternyata ... " Alvaro sengaja menggantungkan ucapannya.
"Gak usah di ladenin mbak, percuma di jelasin kalau mereka lebih percaya dengan apa yang mereka lihat" Ucap Iqbal menatap tajam Alvaro, dan langsung membawa Sheyna dan Siti masuk ke dalam rumah.
Sepeninggal Iqbal, Sheyna dan Siti, Rania menangis dalam dekapan Alvaro. Dia merasa di khianati oleh Sheyna dan Iqbal.
...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...