
"Gue gak mau tau ya, Lo gak boleh deket deket lagi sama cowok br*****k itu " omel Iqbal pada Sheyna setelah di tinggal Nani dan Nevan pulang.
"Lo kenapa sih Bal, siapa yang Lo maksud gue gak paham ?" tanya Sheyna yang memang tidak mengerti maksud Iqbal.
" Cowok yang nolongin Lo tadi itu bukan cowok baik " Sheyna mencoba mengingat siapa yang menolongnya tadi.
"Ooh maksud Lo Julian ? Dia itu sahabat gue dari SD Bal, dia baik kok sama gue, kayaknya dia baru pulang dari Amrik karena dia lanjut sekolah di sana" jelas Sheyna.
"Gue gak mau tau, pokoknya Lo gak boleh lagi deket deket sama dia, titik" putus Iqbal.
"Sorry ya ni Bal, tapi gue sama Julian udah sahabatan sebelum gue sahabatan sama Kalian "
"Gue gak perduli, Julian itu bejat karena dia hampir melllcc_" Iqbal menghentikan ucapannya.
"Aaaa terserah pokoknya Lo harus jauh jauh dari dia " putus Iqbal langsung keluar maninggalkan Sheyna yang kebingungan dengan sikap Iqbal.
" Kok gue gak tau ya kalau mereka saling kenal, Julian juga gak pernah cerita "
Ya Saat SD Sheyna memiliki sahabat bernama Julian, dia tampan, baik hati, dan penyayang dia dan Iqbal memiliki sifat yang mirip.
Namun saat lulus SMP Julian ikut orang tuanya pindah ke Amrik, dan melanjutkan sekolah disana, dan Sheyna juga merasa bingung ketika Julian membantunya kerumah sakit, Ya Sheyna sempat mengingatnya sebelum ia hilang kesadaran.
Tapi Sheyna tidak mengerti mengapa Iqbal sangat membenci Julian, sampai mengatai Julian seperti itu.
"Tau aa pusing" Sheyna kembali merebahkan tubuhnya di kasur rumah sakit karena Nevan belum mengizinkannya pulang hari ini, dan nanti dia akan di temani Iqbal dan Siti karena Nani tiba tiba ada meeting.
***
Di lain sisi Iqbal duduk di taman rumah sakit, ia memikirkan kenapa Sheyna bisa dekat dengan musuhnya.
Julian adalah musuhnya dan Alvaro, semuanya terjadi sebelum mereka mengenal Rania.
Flashback on
Dua orang anak muda mengenakan seragam putih biru tengah asik nongkrong di kantin belakang sekolah mereka, Jam sekolah telah berakhir namun beberapa murid masih betah nongki nongki di basecamp masing masing dan basecamp mereka di warung belakang tersebut.
Mereka asik berbincang dan bercanda, namun saat asik bercanda tanpa sengaja Iqbal mendengar seseorang meminta tolong.
"Al Lo denger gak ?" ujar Iqbal tiba tiba.
"Apaan ?"
"Ada yang minta tolong" ujar Iqbal, Alvaro langsung menajamkan pendengarannya.
"Gue denger, Bal tembok samping " Iqbal mengangguk dan mengikuti langkah Alvaro.
Mereka berdua menuju sumber suara, dan mereka di buat terkejut ketika melihat siswi sekolah mereka tengah di geromboli siswa dari sekolah lain.
"Tolong....lepasin gue, gue gak punya urusan sama kalian " teriak gadis tersebut terpojok ke tembok.
"Lo cantik, tapi sok jual mahal, kenapa Lo nolak gue " siswa tersebut mendekatkan tubuhnya ke tubuh gadis tersebut sedang kedua tangan gadis tersebut di pegangi oleh dua temannya.
"Bal itu Rania yang Lo taksir itu kan ?" tanya Alvaro memastikan.
Iqbal tidak menjawab pertanyaan Alvaro ia sudah mengepalkan tangannya, tanda dia benar benar marah.
"Kalau gue cium Lo masih mau nolak gue gak ? " ujar Siswa tersebut semakin mendekatkan wajahnya.
"Baj****n, lepasin gue ini alasan kenapa gue gak mau nerima Lo, Lo itu mesum An***g, Lo gak tulus suka sama gue"
"Hahahh bawa dia ke mobil " titah Siswa tersebut memerintah temannya untuk menyeret siswa yang bernama Rania tersebut.
"Woiii...kemana Lo bawa temen gue " teriak Iqbal, membuat siswa tersebut menoleh.
"An***g, cepet bawa dia "
Namun belum sempat mereka memasuki mobil, Iqbal langsung menyerang siswa tersebut Iqbal bisa melihat name tagnya yang bertuliskan Julian P.S.
Bughhh....
Dan terjadilah perkelahian antara Iqbal, Alvaro melawan Julian dkk.
Bughhh...
"Lepasin dia, atau Lo gue habisin " sentak Iqbal ketika berhasil mengalahkan Julian.
Alvaro menarik tangan Rania dan mengajaknya menjauhi Julian dkk.
Setelah berhasil memberikan Julian dkk pelajaran barulah Iqbal menemui Alvaro dan Rania. Sejak saat itu mereka saling mengenal dan menjadi dekat.
Semenjak kejadian itu, Rania sering di teror, setiap Rania memiliki pacar pasti teror akan terus berdatangan hingga Rania putus dengan pacarnya. Rania sama halnya dengan Alvaro ia juga sering bergonta ganti pacar hanya saja Rania lebih pemilih, ia memiliki standar khusus, berbeda dengan Alvaro yang memang bertujuan mempermainkan hati para gadis*.
Flashback off.
"Huffftttt gue gak bayangin apa yang terjadi kalau gue dan Alvaro telat saat itu " Iqbal meraup wajahnya frustasi.
"Gue harus lindungi Rania " gumam Iqbal langsung beranjak.
***
Di rumah yang sepi sunyi, Rania baru saja membersihkan tubuhnya setelah pulang dari pesta pernikahan Alfian. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil memainkan ponselnya.
Namun tiba tiba Iqbal mengiriminya pesan untuk mengajaknya bertemu, Rania hanya tersenyum ia teringat saat di pesta Iqbal menyuruhnya untuk pulang bersama namun, Iqbal malah meninggalkan dan berakhir ia pulang di antar Billa.
Walaupun sedikit kesal namun Rania menerima ajakannya. Rania langsung mengganti bajunya dengan jeans panjang dan menggunakan hoodie.
Ia berjalan menuruni tangga berniat menunggu Iqbal di ruang Tv. Namun saat memijakkan kaki di tangga terakhir suara ketukan pintu terdengar.
"Aaah Iqbal cepat banget katanya baru otw" ujar Rania sendiri sambil tersenyum, ia berlari menuju pintu dan membukanya tidak sabar.
Namun seketika raut wajahnya berubah pias ketika melihat siapa yang berdiri di depan pintu.
"Haii..."Sapanya membuat tubuh Rania gemetar.
Sekuat kuatnya wanita ketika di hadapkan dengan traumanya dia akan menjadi sangat lemah, begitupun Rania walaupun ia di segani di sekolahnya namun ia juga memiliki sisi lemah.
"Mau apa Lo di sini, pergi !" teriak Rania berusaha menutup pintu kembali namun berhasil di tahan oleh Julian.
"Ran gue datang kesini cuma mau minta maaf, gue tau gue salah, gue benar benar ngerasa bersalah Ran" jelas Julian.
"Gak ! Gue gak mau lihat muka Lo pergi !" teriak Rania berusaha sekuat tenaga mendorong pintu agar tertutup, dan berhasil.
Duar...duar...duar....
"Ran buka pintunya, please kasih gue kesempatan buat jelasin semuanya " mohon Julian sambil menggedor gero pintu keras.
"Gak...gue bilang pergi pergi !!" teriak Rania frustasi dia benar benar takut, kejadian dulu di mana dia yang hampir di lecehkan dan di teror hampir setiap memiliki pacar, baru setahun ia hidup tenang tanpa teror dan bertemu Julian, dan sekarang ia kembali mengusik Rania.
Rania menangis di belakang pintu rumahnya, dia benar benar ketakutan, namun tidak ada seorang pun berada disisinya, orang tuanya selalu sibuk bahkan bulan ini mereka belum pulang mengunjungi Rania, pembantu di rumahnya sudah pulang kerja, Alvaro masih sibuk dengan urusannya dan Iqbal entah ia berharap Iqbal cepat tiba di sana dan menemaninya.
Namun tiba tiba ia kembali di kejutkan dengan suara ketukan pintu, Rania langsung berlari menuju kamarnya dan bersembunyi di dalam kamarnya, kilasan kejadian kejadian tentang Julian kembali berputar di kepalanya.
***
Iqbal baru tiba di rumah Rania, dan ia langsung mengetuk pintu.
Tok...tok...tok...
Tidak ada jawaban, membuat Iqbal khawatir "*Jangan jangan Julian menemui*n dia" batin Iqbal.
"Ran buka ini gue Iqbal" teriak Iqbal namun tetap tidak ada jawaban.
Iqbal mengeluarkan kunci belakang rumah Rania, yang dulu sering mereka gunakan ketika menginap di rumah Rania.
Iqbal berjalan mengitari rumah Rania dan membuka pintu belakang. Iqbal masuk dan mencari keberadaan Rania.
"Ran Lo dimana ?" teriak Iqbal mencari keberadaan Rania.
Iqbal menaiki anak tangga menuju kamar Rania.
Tok...tok...tok...
"Ran buka ini gue Iqbal, Lo di dalam kan ?" teriak Iqbal, Rania tetap tidak menjawab namun Iqbal mendengar suara isakan dari dalam kamarnya.
Iqbal tidak ada pilihan lain selain mendobrak pintu kamar Rania yang terkunci, pikirannya telah melalang buana, ia takut Julian berbuat sesuatu kepada Rania.
Braaakkkk....
"Pergi...pergi gue gak mau ketemu Lo pergi !!!!" teriak Rania histeris sambil bersembunyi di balik boneka besarnya.
Iqbal mencoba mendekatinya, ekspresi Rania saat ini persis dengan ekspresinya beberapa tahun lalu, ini yang Iqbal takutkan, hatinya seakan teriris melihat kondisi Rania sekarang.
Bagaimana tidak, Rania satu satunya wanita yang ia sayangi setelah alm. Ibunya, Sheyna dan mama Nani. Walaupun ia sering di katakan playboy tapi Iqbal belum pernah berpacaran namun banyak yang mengaku ngaku pernah berpacaran dengannya karena mereka pernah dekat.
Iqbal terlalu pengecut untuk menyatakan cinta kepada Rania, ia belum siap kelak akan di jauhi oleh Rania karena masalah asmara mereka, tapi melihat kondisi Rania sekarang membuat dia ingin memiliki Rania agar bisa melindunginya.
"Ran ini gue Iqbal " ucap Iqbal lembut mendekati Rania perlahan.
"Pergi...jangan ganggu gue ! Gue cuma mau hidup tenang! Please !" lirih Rania.
Iqbal langsung membawa Rania kedalam pelukkannya, Rania sempat memberontak namun Iqbal terus memeluknya dan terus mengatakan bahwa dirinya Iqbal.
"Bal...gue takut " lirih Rania akhirnya dengan air mata yang mengalir.
"It's oke, ada gue yang jagain Lo, sekarang Lo milik gue, gue gak akan biarin siapapun nyakitin Lo " Ujar Iqbal mengelus pucuk kepala Rania.
Rania merasa nyaman ketika bersama Iqbal, terlebih dengan posisi seperti sekarang, ia benar benar merasa aman, semua ketakutannya menghilang.Sejak awal pertemuan mereka Rania sudah menjatuhkan hatinya kepada Iqbal, jadi hal wajar jika ia benar benar nyaman berada di dalam pelukkan Iqbal.
Cukup lama mereka dengan posisi seperti itu hingga akhirnya rania tertidur, barulah Iqbal membaringkan tubuh Rania di kasur, dan ia memilih menunggu di luar, walau bagaimana pun Iqbal tahu batasan antara pria dan wanita.