BASRI

BASRI
Kafe



Cuaca panas terik tidak mengurungkan niat Rania untuk bertemu Sheyna dan Billa di sebuah kafe.


Sejak kejadian malam tadi di mana saat Iqbal menyatakan jika dirinya milik Iqbal, hatinya di buat gelisah tak menentu, di tambah saat dia akan mengkonfirmasi kepada Iqbal, saat ia terbangun Iqbal sudah tidak ada di rumahnya.


Ia bingung apakah itu nyata atau sekedar khayalannya semata karena ia yang sangat berharap Iqbal datang malam itu. Jadi dia ingin meminta pendapat dengan kedua sahabatnya, dan apa yang harus ia lakukan selanjutnya.


Rania melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kafe tempat mereka janjian, sebelumnya Rania sudah menghubungi Billa untuk menjemput Sheyna.


***


Sheyna yang baru saja tiba di rumahnya langsung mendapat telpon dari Billa jika ia sedang dalam perjalanan menuju rumah Sheyna.


"Mau kemana ?" tanya Iqbal posesif.


"Gak tau nih sih Billa " jawab Sheyna seadanya.


"Lo itu harus istirahat, gak boleh capek capek, noh kepala Lo belum sembuh " omel Iqbal seperti ibu ibu komplek yang tengah memarahi anaknya.


Tin...tin...tin..


Baru saja Sheyna akan menjawab omelan Iqbal, tiba tiba suara klakson mobil terdengar di depan rumahnya.


"Siapa lagi tuh " sarkas Iqbal langsung beranjak berniat memarahi orang yang baru saja membunyikan klakson.


"Lo jadi cowok posesif banget elah, paling juga Billa, udah biar gue aja " Sheyna menarik tangan Iqbal.


"Kalau Lo mau pergi gue ikut, titik " Putus Iqbal berjalan mendahului Sheyna, Sheyna hanya menghela nafas pasrah.


Beginilah nasib jika memiliki kakak posesif, eiiitttsss calon kakak ya guys, karena Nani dan Nevan belum resmi menikah.


"Ngapain Lo di sini An***g" suara teriakan Iqbal membuat Sheyna panik seketika dan mempercepat langkahnya.


Benar saja ketika ia tiba di depan rumah Sheyna melihat Julian membawa bucket bunga. Sheyna mencoba mendekati mereka namun tangannya di tahan oleh Iqbal.


"Gue kan udah bilang jangan deket deket nih cowok " sentak Iqbal dengan tatapan tajam.


Terlihat jelas jika ia tengah marah, wajah Iqbal yang jahil sekarang berubah menakutkan.


"Tapi Bal..."Sheyna menatap Julian dengan tatapan tidak enak hati.


"Sekarang Lo pergi, jangan coba coba deketin Sheyna atau pun Rania !" Iqbal mendorong tubuh Julian hingga terbentur pintu mobil, namun Julian hanya tersenyum.


Sheyna sedikit terkejut ketika Iqbal menyebutkan nama Rania, dan ia ingin bertanya ada apa dengan Rania, apa itu ada hubungannya dengan kebencian Iqbal kepada Julian, namun ia urungkan karena kondisi yang tidak memungkinkan.


"Santai elah, gue ke sini cuma mau jenguk sahabat lama gue, ya kan Na " Sheyna hanya tersenyum canggung.


"Bal, please di dalam ada mbak Siti dan mbak Siti tau Julian sahabat gue, So please kali ini biar gue bicara sama Julian "


Sheyna mencoba untuk mencegah keributan, dan beruntungnya Iqbal mengerti dan membiarkan Sheyna berbicara dengan Julian, namun ia terus mengawasi di dengan jarak 3 meter.


"Jul sorry ya, gue gak tau ada masalah apa di antara kalian, tapi gue harap kalian bisa nyelesain masalah kalian baik baik, gue tau Lo bukan orang jahat Jul " Sheyna mencoba berbicara kepada Julian.


"It's oke Na, nih buat Lo gue seneng liat Lo baik baik aja " Julian memberikan bucket bunga tersebut kepada Sheyna dan mengelus pucuk kepala Sheyna membuat Iqbal refleks mencekal tangan Julian.


"Jangan pernah sentuh adik gue !" Ancam Iqbal penuh penekanan.


"Hahahh, woles bro" Julian hanya terkekeh melihat tingkah Iqbal.


"Iqbal..." tegur Sheyna.


"Balik Lo sebelum gue tonjok " ancam Iqbal lagi.


"Oke oke...gue pulang ya Na, jaga kesehatan baik baik,see you next time " pamit Julian tersenyum manis Sheyna hanya membalas tersenyum canggung.


Setelah mobil Julian keluar pekarangan rumah Sheyna, barulah Sheyna mendekati Iqbal.


"Dia bilang apa, kok ekspresi Lo kayak nahan emosi gitu ? " tanya Sheyna takut takut.


"Mulai sekarang Lo gak boleh pergi sendirian " Sarkas Iqbal langsung masuk ke dalam rumah.


Tin...tin...tin...


Mendengar suara klakson lagi membuat Iqbal mengurungkan niatnya untuk masuk dan berbalik arah.


"Woooiiissss kenapa tuh muka serem amat "Ujar Billa dari dalam mobil.


"Sensen gak boleh pergi tanpa gue " ucap Iqbal tiba tiba membuat Billa dan Sheyna cengo.


"Apaan deh Bal, orang dia sama gue Alvaro aja gak masalah, ini tu urusan ciwi ciwi ya, tapi kalau Lo tetep mau ikut gak apa apa, biar di sangka lekong " Ujar Billa santai.


Sheyna tersenyum smirk setelah kembali dari mengambil tas kecilnya di ruang tamu.


"Jadi mau ikut ? Kita mau nyalon, belanja keliling mall..." belum selesai Sheyna berucap, Iqbal langsung menyela.


"Ya udah sana pergi, gue juga ada urusan sama Alvaro, tapi inget Bil, balikin Sheyna tanpa lecet " peringat Iqbal langsung berlalu masuk ke dalam rumah.


"Gila ya betah Lo tinggal sama Iqbal, dih adik nya aja di gituin gimana pacar ya, kasihan pacar Iqbal kalau kek gini, pantes dia awet menjomblo " Oceh Billa ketika Sheyna memasuki mobilnya.


"Ya begitulah Bil, tapi aslinya di penyayang dan perhatian kok "


"Iya penyayang, perhatian sama posesif beda tipis Sen " Sheyna hanya terkekeh lalu mereka langsung menuju kafe yang Rania beritahu tadi.


Ya Billa sudah memberitahu Sheyna kemana tujuan mereka, jadi Sheyna hanya menurut, dia tidak lupa mengirimi pesan kepada Alvaro bahwa dia akan pergi bersama Billa dan Rania.


***


Rania tiba duluan di kafe jadi dia memesan minuman duluan. Sambil menunggu kedua sahabatnya Rania memainkan ponselnya. Namun tiba tiba notifikasi panggilan, tanpa pikir panjang Rania langsung mengangkat telpon tersebut.


"Hallo...." sapa Rania namun hening tidak ada jawaban di sebrang sana.


Rania melihat layar ponselnya, karena nomor baru akhirnya Rania memutuskan panggilannya, namun saat panggilannya terputus, tanpa sengaja Rania menatap ke arah pintu masuk dan melihat seorang pria baru saja menurunkan ponselnya dan melambaikan tangan ke arah Rania dengan senyuman mengerikan.


Tubuh Rania menegang, jantungnya berdetak tak menentu, nafasnya tercekat, Rania memejamkan matanya karena takut, namun tiba tiba seseorang menepuk pundaknya membuat Rania spontan berteriak.


"Arrrggghhhhh...."


Sheyna dan Billa yang baru tiba langsung di buat terkejut.


"Heiii...ini kita Lo kenapa Ran ?"Tanya Sheyna langsung memeluk tubuh Rania khawatir.


"Iya, sorry gue buat Lo kaget ya " sambung Billa merasa bersalah karena telah menepuk pundak Rania.


Rania membuka matanya dan melihat sekeliling kafe, dan sosok yang ia takuti sudah tidak berada di sana.


"Itu hanya ilusi Rania, buktinya sekarang dia gak ada, itu hanya ilusi, Lo gak perlu takut" Batin Rania, lalu ia menarik nafas untuk menetralkan emosinya.


"Gue gak apa apa kok, cuma kaget aja soalnya tadi gue ngelihat kecoa, gue kira dia nemplok di pundak gue, hehehh" Rania tertawa getir.


"Lo beneran gak apa apa kan ? Lo bisa cerita ke kita ya kan Bil " Ujar Sheyna sambil mengelus bahu Rania.


"Iya ini gue mau cerita, kalian duduk dong " Sheyna dan Billa memasang raut khawatir, pasalnya tadi mereka melihat jelas wajah takut Rania dan sekarang ia mencoba memasang raut ceria seperti biasanya.


Sheyna yakin ada sesuatu hal yang sangat penting dan bersifat pribadi sehingga Rania hanya ingin bercerita kepadanya dan Billa, karena biasanya Rania akan bercerita ketika mereka berkumpul berlima.


Namun Rania bukan tipikal gadis yang suka bercerita semua hal, namun sebaliknya ia lebih tertutup dan terlihat seperti gadis tangguh yang tidak pernah memiliki masalah padahal sebenarnya ia sangat rapuh dan memendam masalahnya sendiri.