BASRI

BASRI
Lupa Janji



"Aaaarrrrggghhhh Iqbal laknat, malu gue!!! " teriak Rania di kamarnya kesal.


Rania masih merasa kesal dengan kejadian tadi saat berada di rooftop. Jujur dia sudah berharap jika Iqbal akan menyatakan perasaannya kepada Rania, namun apa yang dia terima sekarang?


Hanya rasa malu bercampur kesal yang ia dapatkan, bagaimana dia akan menghadapi Iqbal besok? Pasti semuanya akan terasa aneh dan canggung, Rania tidak akan bisa menatap Iqbal seperti biasanya lagi.


Sheyna dan Billa hanya menggelengkan kepalanya. Mereka mengerti bagaimana dengan perasaan Rania sekarang, namun mereka juga tidak bisa berbuat apa apa. Di satu sisi mereka juga kesal dengan Iqbal yang terlalu payah.


"Kalian berdua juga ikut ikutan ngerjain gue, mau taro di mana muka gue ! " teriak Rania sambil meraup wajahnya frustasi.


"Dihh... kok kita sih " protes Billa tidak Terima.


Rania langsung mendekati Sheyna dan Billa dengan memicingkan matanya.


" Yang ngasih lipstik sebagai ganti bunga siapa? " Billa hanya cengengesan.


"Yang mendokumentasikan siapa? " ucap Rania lagi menatap tajam ke arah Sheyna.


"Hehehhh sabar bestie, ini ujian " Sheyna menepuk nepuk bahu Rania sambil cengengesan.


"Sabar Lo bilang! " Rania langsung memanyunkan bibirnya.


"Aaa kalian gak tau rasanya berharap lalu di permainkan " Wajah Rania langsung berubah sedih. Sheyna dan Billa langsung memeluknya.


"Sabar Ran gue yakin, pasti ada alasan Iqbal bersikap kayak tadi ke Lo " Ucap Sheyna mencoba menenangkan.


"Sebenarnya dia beneran mau ngungkapin perasaannya ke Lo tadi, tapi ya nyalinya terlalu kecil, jadi salah omong deh" tambah Billa sambil menatap Sheyna.


"Gue harus bersikap gimana nanti kalau ketemu Iqbal? Hiksss... Gue malu banget hiksss... " Rania mulai terisak.


Sheyna dan Billa merasa iba dengan Rania, mereka tahu pasti sekarang Rania benar benar merasa di permainkan dan di permalukan.


Namun mereka juga tahu sekarang pasti Iqbal juga tengah merasa bersalah terhadap Rania.


Di lain tempat Alvaro dan Iqbal sedang berada di kamar rumah Iqbal, sejak pulang sekolah tadi Alvaro tidak habis habis memarahi Iqbal, Iqbal hanya bisa pasrah dan menundukkan pandangannya.


"Gila Lo ya, selama ini Lo gampang gampang aja dapetin cewek, masa cuma ngungkapin perasaan Lo ke Rania aja gak bisa! " Omel Alvaro layaknya seorang ayah.


"Ini beda Al " ucap Iqbal frustasi.


"Apa bedanya? Rania juga wanita sama kayak mantan mantan Lo yang laiiiiinnn... " Geram Alvaro menangkup wajah Iqbal.


Iqbal langsung berdiri menepis tangan Alvaro dan berkata " Rania tuh beda, dia sahabat gue, dia orang yang gue sayang, gue takut menjalin hubungan sama dia, gue takut kehilangan dia, gue gak mau gara gara hubungan gue sama dia persahabatan kita hancur nantinya! "


Alvaro terdiam, yang di katakan Iqbal ada benarnya juga dirinya tidak pernah berpikir sejauh itu. Bagi Alvaro jika dia menyukai seseorang dia harus memilikinya tanpa memikirkan resiko kedepannya.


"Lo gak pernah berpikir sejauh itu kan? Lo gak belajar dari kejadian kemarin kemarin! Persahabatan kita hampir hancur karena masalah percintaan ini Al! "


Sekarang sebaliknya Alvaro yang terdiam seribu bahasa, dia hanya bisa menatap Iqbal dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Sudahlah lupain aja, masalah gue sama Rania biar gue yang urus " putus Iqbal lalu melangkah keluar kamar.


"Gue pikir gue udah dewasa ternyata dia lebih dewasa" Gumam Alvaro pada dirinya sendiri lalu menyusul Iqbal keluar kamar.


...***...


Sepulang dari rumah Rania, Sheyna langsung mengganti pakaiannya dan langsung bergegas menuruni anak tangga. Sheyna mendial nomor Iqbal, sudah tigak kali ia mencoba menghubungi Iqbal namun belum ada jawaban juga.


"Woiii kutu ngapain Lo dari tadi nelponin gue? kangen! " Ucap Iqbal dengan santainya memasuki rumah Sheyna.


Jelas dia sewot dengan Iqbal pasalnya kemarin Iqbal sudah berjanji kepada Cahaya akan membawa mereka piknik hari ini namun Iqbal maupun Sheyna lupa akan janji tersebut, dan sekarang sudah pukul 17.15 mereka sudah sangat terlambat.


"Astaga gue lupa! kenapa baru ngingatin sekarang! " ucap Iqbal panik dan langsung berlari keluar rumah dan menaiki mobil yang di susul oleh Sheyna.


"Mau kemana udah sore ? " tanya mbak Siti yang baru saja pulang entah dari mana.


"Urgent mbak ntar di kasih tahu mau kemana " jawab Iqbal langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit tempat cahaya di rawat.


Iqbal benar benar merasa bersalah, karena Cahaya sudah lama menunggu mereka, Iqbal yakin Cahaya pasti akan merasa sangat sedih dan kecewa terhadap dirinya, dia akan meminta maaf kepada Cahaya karena telah melupakan janji yang ia buat. Iqbal juga berjanji pada dirinya akan menuruti semua permintaan Cahaya asalkan Cahaya mau memaafkannya kelak.


Iqbal mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi dan akhirnya Iqbal dan Sheyna bisa tiba di rumah sakit hanya dalam waktu 10 menit. Mereka langsung berlari menuju kamar rawat Cahaya.


Iqbal dan Sheyna menatap bingung ke arah kamar rawat Cahaya ketika Dokter dan beberapa perawat membawa brankar Cahaya keluar kamar dan tampak pula Henny yang menangis sambil mengikuti dari belakangnya.


"Bal... " panggil Sheyna.


"Jangan buat gue cemas Sen " wajah Iqbal langsung memucat seakan tahu kelanjutan ucapan Sheyna. Merekapun langsung berlari mengejar Henny.


"Hen Cahaya kenapa? " Tanya Iqbal saat berhasil mengejar Henny.


Henny langsung berhambur ke pelukan Iqbal sambil terisak. Iqbal merasakan firasat yang tidak mengenakkan.


"Hikkkss... gue gak tahu hikksss... tiba tiba dia kejang kejang hiksss... " Jawab Henny terus terisak.


"Lo yang sabar ya, Cahaya kuat kok " ucap Iqbal berusaha menenangkan Henny, dengan menggandeng Henny, mereka kembali menyusul brankar Cahaya.


Sheyna hanya bisa terdiam dan membayangkan dirinya yang mungkin suatu saat akan mengalami hal yang sama seperti Cahaya. Hingga tibalah mereka di depan ruang ICU, mereka tidak di perbolehkan untuk masuk, jadilah mereka menunggu di depan ruangan.


"Cahaya jangan tinggalin kakak hikksss.... "


Sheyna menatap ke arah kaca yang menampilkan tubuh mungil Cahaya yang tengah di pasangi alat alat dan di suntikkan berbagai macam cairan yang entah Sheyna juga tidak tahu.


Sheyna beralih menatap Henny, hatinya merasa tersayat melihat Henny yang begitu sedih dan takut kehilangan Cahaya. Sheyna jadi membayangkan bagaimana kesedihan Nani dan orang orang terdekatnya kelak, jika ia mengalami hal serupa dengan Cahaya.


Sheyna menarik nafas kasar, ia tidak sanggup lagi menahan air matanya , Sheyna langsung menghapus air matanya dan pergi menjauh dari ruang ICU.


Iqbal yang melihat Sheyna pergi menjauh merasa khawatir dengan Sheyna. Namun ia tidak bisa berbuat apa apa karena Henny juga membutuhkannya. Dengan bimbang akhirnya Iqbal memutuskan untuk menghubungi Alvaro untuk menghibur Sheyna.


Beralih lagi ke Sheyna yang duduk termenung di taman rumah sakit, taman di mana pertama kali ia bertemu dengan Cahaya.


Sheyna tersenyum getir, hatinya terasa sakit, dadanya mulai sesak, air mata sudah membasahi wajah cantiknya. Banyak yang menatap aneh ke arah Sheyna namun Sheyna tidak memperdulikan mereka.


Sheyna mencoba mengatur nafasnya menetralkan sesak di dadanya, tiba tiba sebuah tangan mengulurkan sapu tangan di depannya. Sheyna langsung menengadah kan kepalanya untuk melihat siapa pelakunya.


Sungguh Sheyna di buat terkejut saat melihat kekasihnya berada di hadapan nya saat ini.


"Alvaro.... "


Air matanya seketika berhenti, jantungnya berdegup kencang.


"Kenapa Alvaro di sini?" batin Sheyna.


Sheyna mulai khawatir, ia khawatir jika Alvaro akan mengetahui tentang penyakitnya. Terlebih sekarang mereka bertemu di rumah sakit, "Apa Alvaro mencaritahu tentang dirinya, mengapa dia bisa ada di sini? " berbagai macam pertanyaan berkeliaran di otaknya sehingga membuat Sheyna semakin cemas.


...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...