
Beberapa hari telah berlalu, hubungan Sheyna dan Alvaro semakin membaik. Mereka juga menambah personil, Billa juga lebih sering bergabung dengan geng mereka.
Walaupun penampilan Billa sedikit mini tapi, sifat dan kepribadian Billa sangat baik, ia juga mudah berbaur.
Pelajaran pertama sudah berakhir hingga bel Istirahat telah berbunyi, Alvaro mengeluarkan ponselnya dan mengetikan sebuah pesan.
" Guys kantin yuk " ajak Rania.
" Kalian duluan aja, gue ada urusan sebentar " ucap Alvaro langsung berlari keluar kelas.
Melihat gelagat aneh Alvaro, Sheyna diam diam mengikutinya.
"Guys kalian duluan aja ya, gue mau ke toilet dulu" Ujar Sheyna berbohong.
Pikiran Alvaro kalang kabut, dia benar benar di buat resah, bisa bisanya Inggit melanggar janjinya. Tadi pagi saat dia baru tiba di sekolah tanpa sengaja ia melihat Inggit memasuki sekolahnya.
Alvaro berlari menuju rooftop dia harus berbicara kepada Inggit,ia juga sudah mengirim pesan kepada Inggit untuk menemuinya di rooftop sekolah.
Entah apa maksud dan tujuan Inggit berada di sekolahnya. Hubungan mereka jelas sudah berakhir sejak malam itu. Tak berselang lama Inggit pun menghampiri Alvaro.
" Alvaro " panggil Inggit menghampiri Alvaro yang memasang wajah datar.
" Ngapain Lo di sini " sentak Alvaro.
" Sekarang gue sekolah disini " jawab Inggit santai.
" Lo gila ya, gue udah nurutin semua kemauan Lo dan Lo ngelanggar janji! " bentak Alvaro.
" Al gue udah terlanjur bilang ke papa gue, kalau gue batalin yang ada gue kena marah Al " Inggit beralasan.
Alvaro benar benar emosi di buatnya, harusnya dia tidak perlu menuruti permintaan Inggit kemarin toh ujung ujungnya dia akan pindah.
Alvaro menatap tajam Inggit lalu memegang kuat bahu Inggit.
" Gue gak tahu apa tujuan Lo, dan gue harap Lo gak ngerusak kebahagiaan gue! "
Buggghhh....
Alvaro mengalihkan pandangannya saat mendengar suara orang terjatuh dan berlari ke arah tangga. Ia semakin di buat terkejut ketika mendapati Sheyna yang sedang meringis.
" Sensen " panggil Alvaro, Sheyna langsung buru buru berdiri.
" Sen tunggu dengerin aku dulu " Alvaro mengejar Sheyna dan berhasil menarik tangannya.
" Lepasin, gue udah liat semua, pembohong!! " Bentak Sheyna, membuat Alvaro terkejut, lagi lagi Sheyna salah faham.
" Sen... kamu salah paham dengerin penjelasan aku" Alvaro kembali mengejar Sheyna.
Alvaro di buat kalang kabut, Sheyna yang tidak mau mendengarkan penjelasannya membuat Alvaro merasakan sesak di dadanya.
Alvaro berhasil menangkap pergelangan tangan Sheyna lagi, namun kali ini ia di buat terkejut dengan tindakan Sheyna.
Plaaakkk....
Sheyna menampar Alvaro, Alvaro terdiam dia tidak mampu berkata apa apa lagi, sakit di pipinya tidak sesakit sakit hatinya.
" Stop ngikutin gue, gue benci sama cowok pembohong!!! " bentak Sheyna lagi membuat lidahnya semakin keluh untuk berucap.
Beberapa murid menatap heran ke arah mereka, pasalnya mereka selalu tampak dekat namun baru kali ini mereka melihat Sheyna marah, terutama kepada Alvaro yang notabene nya adalah sahabatnya sendiri.
Di lain sisi Inggit tersenyum licik, ia sengaja pindah ke sekolah Alvaro karena ia masih menginginkan Alvaro, jika dia tidak bisa mendapatkannya maka tidak ada yang bisa memilikinya.
...***...
Bel pulang sekolah sudah berbunyi beberapa waktu lalu, sekarang mereka tengah berada di sebuah kafe dekat sekolah mereka.
Rania dan Iqbal merasa aneh dengan situasi saat ini,sejak Istirahat pertama tadi Alvaro dan Sheyna saling diam tidak ada yang berniat membuka suara.
Iqbal menyenggol bahu Rania untuk menanyakan ada apa di antara mereka, jelas ini suatu hal yang langkah selama mereka bersahabat ini kali pertama Alvaro dan Sheyna saling diam.Rania yang takut malah mengode Iqbal untuk bertanya.
" Guys sorry gue balik duluan " ucap Sheyna langsung memakai tasnya dan beranjak.
Tak berselang lama Alvaro juga ikut berpamitan, dan menyusul Sheyna. Hal ini semakin membuat Rania dan Iqbal bingung.
" Mereka kenapa sih? " tanya Rania.
" Mana gue tempe, Lo di suruh nanya malah diem bae " ucap Iqbal sewot.
" Dih Lo kan cowok, harusnya Lo lah yang nanya masa gue " jawab Rania tidak terima di salahkan.
" Lo "
" Lo "
Mereka terus saling menyalahkan, entahlah tapi ya begitulah kedua orang ini. Ketika jauh saling kangen ketika berdekatan selalu bertengkar.
Di lain tempat Alvaro mengejar Sheyna yang sudah berlari jauh keluar kafe. Alvaro melihat ke kanan dan kiri mencari keberadaannya. Namun saat ketemu ia malah melihat Sheyna tengah menyetop taksi.
Alvaro berlari sekuat tenaga namun tetap saja ia terlambat, taksi yang di naiki Sheyna sudah berjalan. Alvaro berlari ke parkiran dan mengambil motornya.
Di dalam taksi Sheyna mencoba untuk mereda emosinya, kali ini dia benar benar marah dan kecewa pada Alvaro, bisa bisanya Alvaro membohonginya dua kali.
" Gak gue gak akan nangisin orang kayak Alvaro lagi " ucap Sheyna tapi air matanya sudah mengalir.
" Bodoh Lo Na, ngapain nangisin dia, Lo udah di bohongin Na " lagi lagi hati dan pikiran nya bertentangan.
Sheyna menatap langit yang mulai mendung seakan tahu akan kesedihannya. Tak berselang lama hujanpun turun, Sheyna menghela nafas berat lalu menghapus air matanya.
" Mbak sudah sampai " ucap Sopir taksi.
" Iya Pak, ini kembaliannya ambil aja "
" Terimakasih mbak " Sheyna langsung berlari memasuki rumahnya.
" Mbak nanti kalau ada yang nyariin Nana bilang, Nana gak mau ketemu siapa siapa " ucap Sheyna saat tidak sengaja berpapasan dengan mbak Siti di ruang tamu.
" Emang kenapa dek? " tanya mbak Siti penasaran.
" Udah, Nana capek mau istirahat " ucap Sheyna langsung menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Sheyna merebahkan tubuhnya di atas kasur, kepalanya kembali sakit. Sheyna langsung mengambil obat di laci meja kamarnya lalu meminum obatnya. Sebelum ia memejamkan mata ia mengganti seragam sekolahnya terlebih dahulu, dan mencuci wajahnya.
Setelah selesai barulah ia kembali ke kasurnya untuk tidur, dan berharap setelah bangun Kepalanya sudah tidak sakit seperti biasanya.
Sedangkan Alvaro terus menunggu Sheyna di teras rumahnya, mbak Siti sudah menyuruh Alvaro untuk pulang karena hujan tapi Alvaro bersih keras untuk menunggu Sheyna bangun tidur.
Suasa hujan dan petir tidak menggoyahkan tekad Alvaro untuk menjelaskan semuanya kepada Sheyna.
" Dek Al, nunggu di dalem aja di luar dingin " mbak Siti kembali lagi menawarkan Alvaro untuk menunggu di dalam.
" Gak mbak, aku nunggu di sini aja gak dingin kok " bohong Alvaro.
" Yakin gak mau masuk " tanya mbak Siti memastikan.
" Iya mbak aku nunggu di sini aja "
" Ya udah mbak buatin coklat hangat ya " tawar mbak Siti lagi.
"Eee gak jadi ding, tunggu di dalam aja mbak kalau ada coklat hangat, hehheh" ujar Alvaro tiba tiba membuat Mbak Siti terkekeh tidak habis pikir.
Hari sudah mulai sore, hujanpun sudah reda beberapa menit lalu, tapi Sheyna belum kunjung bangun. Tapi Alvaro akan tetap menunggu Sheyna sampai Sheyna mau menemuinya.
Mbak Siti yang merasa kasihan kepada Alvaro, berniat membangunkan Sheyna kebetulan ini juga sudah hampir maghrib.
Tok... tok...
" Dekk.... "
" Ssssttttttt.... " Sheyna langsung memberi kode untuk diam.
" Kenapa gak turun kalau udah bangun, Alvaro nungguin dari tadi tuh " ucap mbak Siti berbisik.
" Males aa mbak "
" Kenapa? berantem lagi? " mbak Siti mendekati Sheyna di kasurnya.
" Ya gitu deh "
" Temuin dulu sana, kasihan anak orang udah nungguin kamu sendirian hujan hujan sampai hujan aja bosan nungguin kamu bangun " ucap mbak Siti beranjak.
" Mbak.... "
" Al Nana udah bangun nih, tunggu sebentar katanya " teriak Mbak Siti saat keluar kamar Sheyna membuat Sheyna jadi kelabakan.
Memang terkadang mbak Siti senyebelin itu, Sheyna tampak mondar mandir memikirkan apa yang akan dia kata kan jika berhadapan langsung dengan Alvaro.
" Gak gak masalah ini harus selesai hari ini juga " ucap Sheyna pada dirinya sendiri.
Iya dia bertekad menyelesaikan permasalahan mereka hari ini juga. Sheyna tidak mau nanti mereka akan canggung jika bertemu, terlebih mereka akan lebih sering bertemu karena mereka satu kelas.
Sheyna akhirnya memutuskan untuk menemui Alvaro.
" Ngapain ke sini?pulang gih" ucap Sheyna bersedekap dada.
" Sen dengerin dulu penjelasan aku "
Sheyna melihat mbak Siti menguping di balik pintu,dia tidak ingin mbak Siti mengetahui permasalahan mereka.
" Ngomong di luar aja " ucap Sheyna, berjalan meninggalkan Alvaro.
Alvaro yang mengerti maksud Sheyna langsung mengikutinya. Mereka berjalan beriringan menuju taman komplek.
Tidak ramai orang hanya ada satu atau dua orang yang hanya sekedar lewat. Sheyna duduk di salah satu bangku taman begitupun Alvaro.
" Sen... "
" Cukup Al, gue gak mau denger apa apa, gue udah lihat dengan mata kepala gue sendiri " Sheyna memotong ucapan Alvaro.
" Tapi Sen... "
" Stop, Lo bilang Inggit gak akan pindah ke sekolah kita, tapi pada kenyataannya dia pindah, hehehh " Sheyna terkekeh hambar.
Alvaro terdiam, dia bingung harus berkata apa, bahkan Sheyna tidak ingin mendengar penjelasannya lagi.
Sheyna menarik nafas panjang dan menghebuskannya, dia sudah mengambil keputusan dan dia berharap keputusannya ini benar.
" Gue rasa kita memang di takdirkan untuk menjadi sahabat bukan sepasang kekasih "
" Maksudnya Sen? " tanya Alvaro.
" Gue mau putus "
...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...