
Braaakkk...
Henny membuka pintu kamar Fenty dengan keras. Dia benar-benar merasa marah kepada Fenty. Fenty benar-benar menghentikan pengobatan cahaya, hal inilah yang membuat Henny sangat marah.
" Lo bener-bener gak punya hati ya, harusnya keluarga Lo itu berterima kasih karena udah gue bantu dengan mengurus yayasan dan perusahaan bokap gue ya!!! "
Fenty yang melihat Henny marah marah, hanya menyunggingkan senyumnya.
" Hehh, Lo inget ya kalau bukan karena keluarga gue mungkin Lo sama adik Lo udah ngemper di jalanan " jawab Fenty sambil bersedekap dada, hal itu membuat Henny semakin marah.
Plakk...
Henny menampar Fenty, bukannya takut Fenty malah semakin terlihat seperti iblis.
" Lo bener bener gak punya hati ya, adik gue sekarat dan Lo masih manfaatin itu, gila Lo! " Bentak Henny.
" Hahahhh... iya gue gila kenapa? sekarang Lo udah tau gue gila jadi gue saranin buat hati hati " Fenty mengelus dagu Henny sebelum beranjak keluar kamarnya.
" Dasar Gila!! " Sebelum Fenty berhasil keluar kamar, Henny sudah mendorongnya hingga tersungkur ke lantai.
Hal itu membuat Fenty marah, dan terjadilah pertengkaran di antara mereka. Ratna Ibu Fenty yang berada di lantai bawah mendengar keributan langsung menaiki anak tangga.
" Apa apaan ini! " Sentak Ratna.
" Gara gara anak tante, hari ini Cahaya gak bisa kemoterapi " Adu Henny.
" Oh itu, tante yang bilang ke dokternya buat memberhentikan pengobatan Cahaya " jawab Ratna dengan santainya.
" Tante yang benar aja, cahaya butuh kemo kondisinya akan memburuk " ucap Henny frustasi.
" Itu bukan urusan tante" Fenty memasang senyum kemenangan karena dia jelas tahu kalau Ratna ada di pihaknya.
" Tapi tan, di wasiat papa bahwa pengobatan cahaya tidak boleh di hentikan " Henny masih berusaha meminta keadilan.
" Papa kamu sudah mati, jadi dia gak akan tahu, kalau Cahaya mati, berarti hambatan tante buat nguasain harta kamu tinggal kamu, jadi bersikap baiklah " Ratna menangkup wajah Henny yang merah padam menahan amarah.
Dengan susah payah Henny menahan air matanya, hatinya terasa sakit, bagaimana bisa dia kehilangan adiknya. Henny tidak akan membiarkan itu terjadi.
" Sudah tante gak mau denger kalian berantem lagi, kalau kamu mau pengobatan adik kamu di lanjutkan bersikap baiklah sama Fenty, atau lupakan masalah pengobatan " Ancam Ratna.
Henny mengepalkan tangannya, dan menatap Fenty tajam. Namun Fenty tersenyum penuh kemenangan. Henny langsung kembali ke kamarnya, Henny di buat terkejut oleh kehadiran cahaya yang sudah menangis di atas kasurnya.
" Cahaya... kamu ngapain? " Henny langsung membawa cahaya kedalam pelukkan nya.
" Kak hikksss...kenapa...hiksss..keluarga tante Ratna jahat sama kita hikkksss.., kenapa mereka mau Cahaya meninggal?hikksss..." ucap Cahaya tersedu.
Hati Henny terasa tersayat mendengar rintihan Cahaya. Henny tidak menyangka kehidupannya akan semenyedihkan ini.
" Siapa yang mau cahaya meninggal? Kita semua sayang cahaya " Ucap Henny berusaha menenangkan Cahaya.
" Kakak bohong! Cahaya denger suamanya! Tante Ratna dan keluarganya jahat! mereka selalu menekan kakak demi mendapatkan apa yang mereka mau! Cahaya tahu semuanya! " Sentak Cahaya berdiri dari duduknya.
" Cahaya sayang, kakak gak apa apa kok "
" Kakak bohong! Cahaya tahu kakak nangis setiap malam! " Cahaya menangis terisak.
Cahaya tahu jika Henny selalu menangis, karena setiap malam Cahaya kesulitan untuk tidur jadi dia selalu berjalan jalan dan sering mengintip ke kamar Henny.
Cahaya tahu Henny selalu bersikap seolah olah dia kuat padahal dirinya sangat lemah, Cahaya juga tahu Henny selalu berpura pura bahagia di hadapannya.
" Cahaya... Kakak... "
" Aaaaarrrrgggghhhh... " Cahaya berteriak saat tiba tiba kepala cahaya terasa sakit.
Henny yang melihat Cahaya kesakitan merasa khawatir.
" Dek... Cahaya kenapa... Dek... jangan buat kakak khawatir " Panik Henny dengan air mata yang mulai mengalir.
Henny langsung membawa Cahaya ke rumah sakit, dengan bantuan salah satu pembantunya yang kebetulan lewat di depan kamarnya.
...***...
Di rumah sakit, Sheyna baru saja selesai melakukan cek up di temani Iqbal dan Nani.
" Gimana mas hasilnya? " tanya Nani.
" Sedikit membaik, tapi Nana harus tetap jaga kesehatan, jangan lupa minum obat, dan harus rutin melakukan kemoterapi sebulan sekali " nasehat Nevan.
" Nana selalu jaga kesehatan kok " ucap Sheyna.
" Eeeh kutu, tempo hari di jadwal istirahat Lo malah kabur entah kemana, pulang pulang kepala Lo pusing kan " omel Iqbal yang kembali mengungkit kejadian malam itu.
Sejak kejadian itu, Iqbal lebih ketat menjaga nya. Semua pintu rumah dia yang pegang.
" Ya kan gue bosen di rumah mulu, boleh lah sekali sekali cari udara segar, Ya kan Om " Sheyna meminta persetujuan Nevan.
" Iya, Arsen kamu jangan terlalu posesif, Sheyna juga butuh kebebasan, dia gak boleh Stress ingat itu " Sheyna memeletkan lidahnya ketika Nevan membelanya.
" Tapi Pa... " Belum selesai Iqbal berucap Nani langsung memotong ucapannya untuk memberhentikan perdebatan yang akan terjadi.
" Sudah sudah, ayo pulang " ajak Nani.
" Mas kita pulang dulu ya " pamit Nani pada Nevan.
" Iya hati hati, sebentar lagi aku juga pulang " ucap Nevan mencium kening Nani.
Tampak Nani tersipu malu, karena Nevan menciumnya di depan anak anak mereka.
" Eghem... kita masih disini loh" ucap Sheyna dan Iqbal yang melihat adegan tersebut, membuat Nani semakin malu.
" Mas iiih jadi malu kan di liatin anak anak " Nani memukul bahu Nevan dengan pipi yang merona.
" Hehehh... maaf kelepasan" ucap Nevan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
" Ayo Sen kita keluar duluan, bisa bisa mata suci kita ternodai kalau lama lama di sini " ucap Iqbal meledek Nevan, Sheyna hanya terkekeh melihat Mama nya yang masih malu malu di samping Nevan.
Sheyna dan Iqbal pun keluar ruangan Nevan, dan menunggu di Loby rumah sakit.
" Bal Lo sama Alvaro masih marahan? " tanya Sheyna.
" Yang marahan siapa? " jawab Iqbal ketus.
" Ya kalian lah, Lo tahu gak kalau sebenarnya Billa itu sepupu tirinya " Iqbal tampak tidak percaya dengan penuturan Sheyna.
" Lo mau aja di begoin sama Alvaro, bisa aja dia bohong "
" Iiihh... dengerin dulu, kemarin gue ngilang itu ketemu Alvaro, Alvaro udah jelasin semuanya, kemarin di taman Billa juga bilang kalau kita salah paham " Sheyna mencoba menjelaskan semuanya pada Iqbal.
" Jadi sekarang Lo mau balikkan sama Alvaro? " tanya Iqbal sedikit sewot.
Sheyna hanya menaikkan bahunya tanda ia juga tidak tahu, tapi jauh di lubuk hatinya ia masih ingin berbalikkan dengan Alvaro.
" Terserah Lo Sendiri, gue cuma gak mau gara gara cowok kayak dia kondisi Lo memburuk lagi, kalau sampai itu terjadi lagi gue gak akan biarin Lo sama Alvaro ketemu lagi " tegas Iqbal membuat Sheyna menghela nafasnya.
" Belum sah jadi kakak gue udah posesif banget, gimana udah sah di penjara gue aaahh " Gumam Sheyna masih bisa di dengar Iqbal.
" Gue denger " Iqbal menjentik kening Sheyna.
" Iiiihhh... sakit tahu " Sheyna mengelus keningnya yang terasa nyeri.
Tak jauh dari tempat mereka berdiri, Iqbal melihat seorang gadis yang sedang menangis sambil mengikuti berangkar yang di bawa perawat. Iqbal merasa pernah melihat gadis tersebut, dan mencoba mengingat ingat dimana ia melihat gadis tersebut.
" Aaahh... Sen... itu bukannya temen Lo " tunjuk Iqbal pada gadis tersebut.
" Mana? " tanya Sheyna.
" Itu tuh... " Iqbal mengarahkan kepala Sheyna ke gadis tersebut, sontak Sheyna di buat terkejut melihat Henny menangis, Sheyna yakin yang ada di berangkar tersebut adalah Cahaya.
" Ada apa dengan cahaya? " tanya Sheyna langsung berlari mengejar Henny.
Nani yang baru saja tiba di Loby, melihat Sheyna berlari langsung menahan Iqbal yang akan mengejar Sheyna.
" Ada apa? Nana kenapa? " tanya Nani.
" Gak tahu ma, Mama pulang duluan aja nanti kita pulang naik taksi " ucap Iqbal langsung berlari mengejar Sheyna, meninggalkan Nani yang kebingungan melihat tingkah kedua anaknya.
...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...