
" Gue mau putus "
" Gue rasa kita lebih baik sahabatan aja Al, gue gak mau kita saling nyakitin dan saling menjauh nantinya, dan selagi kita belum melangkah jauh Al "
Kalimat kalimat itu terus terngiang di kepala Alvaro, sudah tiga hari mereka resmi putus.Alvaro masih terus memikirkan Sheyna.
Sebenarnya Alvaro tidak setuju untuk mengakhiri hubungan mereka, namun apa yang di ucapkan Sheyna ada benarnya sehingga membuat Alvaro mau tidak mau harus setuju.
Dia tidak punya alasan untuk terus memaksakan hubungan mereka. Jelas Sheyna merasa tersakiti ketika mereka berpacaran. Dan akhirnya mereka sepakat untuk mengakhiri hubungan mereka.
Jika di sekolah mereka kembali bertegur sapa seperti sebelumnya. Sheyna juga sepertinya benar benar melupakan tentang mereka yang pernah memiliki hubungan.
Terlihat dari cara Sheyna yang tidak pernah gugup ketika berbincang dan bercanda dengan Alvaro.
Tok... tok...
Terdengar seseorang mengetuk pintu kamar Alvaro. Alvaro beranjak dari meja belajarnya dan membukakan pintu.
" Lagi belajar? " tanya seorang pria dewasa.
" Iya nih Yah, ayah tumben sudah pulang " ucap Alvaro.
Ya pria dewasa tersebut ayahnya Alvaro.
" Capek mau Istirahat " ucap Ayah Alvaro mengacak rambut Alvaro sayang.
" Ayah mau masuk? " tanya Alvaro.
" Enggak, ayah mau ngajak kamu makan malam bareng, udah lama kita gak makan malam bareng, ayo " ajak ayah Alvaro.
" Eleh... sok so sweet " ledek Alvaro, namun mengambil jaketnya.
Merekapun berjalan beriringan, Alvaro hanya mengikuti langkah kaki ayahnya. Namun Alvaro mengernyitkan dahinya ketika ayahnya membawanya ke ruang makan.
" Yah... jangan bilang makan di rumah " ucap Alvaro menatap ayahnya dengan tatapan yang sulit di artikan ketika melihat banyak makanan di atas meja makan.
" Emang tadi ayah bilang mau makan di luar? " tanya ayahnya membuat Alvaro cemberut.
" Kalau tau gitu ngapain bawa jaket " Alvaro melempar jaketnya asal.
" Hehehh kamu mau makan di luar, besok besok deh " bujuk ayah Alvaro.
" Terserah ayah aja deh " Rajuk Alvaro layaknya anak kecil merajuk karena keinginannya tidak terpenuhi.
Sisi lain Alvaro yang tidak pernah orang tahu di baling sikap bad boy nya ternyata Alvaro memiliki sisi manja ketika bertemu ayahnya.
" Yuk makan, ada yang mau ayah bicarakan " ajak ayahnya sambil meletakkan beberapa lauk di atas piring Alvaro.
Mereka pun makan dengan khidmat, sesekali Alvaro tertawa ketika sang ayah melemparkan lelucon receh begitupun sebaliknya. Mereka tampak akrab walaupun ayahnya jarang berada di rumah.
Ketika selesai makan mereka duduk di ruang TV untuk nonton bersama.
" Yah... " panggil Alvaro.
" Hmmm "
" Tadi kata ayah ada yang mau ayah bicarakan? " tiba tiba Alvaro teringat ucapan ayahnya tadi.
" Oh iya ayah sampai lupa " Alvaro menatap ayahnya intens ketika melihat wajah ayahnya yang tiba tiba tersipu.
" Ayah lagi jatuh cinta? " tanya Alvaro curiga.
" Yah gitu... " jawabnya santai.
" Sama siapa? Al jadi punya Ibu baru dong? " tanya Alvaro lagi.
" Tapi kamu mau gak? " ayahnya menanyai Alvaro balik.
Alvaro tampak berpikir dengan menaruh jari telunjuk di dagunya.
" Cantik gak? "
" Cantik "
" Baik gak? "
" Baik "
" Kaya gak "
Pletak
Pria tersebut menjitak kepala Alvaro.
" Nanya tu yang baik baik, buat apa kamu Ibu yang kaya? emang uang ayah kurang? " ucap ayahnya tersulut emosi mendengar pertanyaan anaknya.
" Yeeee becanda kali Yah " ucap Alvaro sambil mengelus kepalanya.
" Dia tuh, cantik, baik, wanita karir, punya anak satu " jelas ayah Alvaro membuat Alvaro hanya mengangguk.
" Nantilah tunggu ayah ada waktu luang ayah ajak ketemu dia " ucap ayah Alvaro.
" Hm ya udah Al sih setuju setuju aja, asal ayah bahagia, lagian Al kasihan sama ayah selama 16 tahun gak ada yang ngurusin, liat nih " menujuk tubuh ayahnya yang mengurus.
" Udah kurus banget, kayak gak di kasih makan keasikan kerja sih " omel Alvaro.
" Hahahha... bisa aja anak ayah " Ayahnya menarik Alvaro kedalam pelukkan nya.
Ia bangga anak nya sudah besar, dan bisa berpikir dewasa. Dulu saat Alvaro masih kelas 6 SD ayahnya pernah ingin menikah dengan teman kerjanya. Namun Alvaro menentang keras sampai sampai dia kabur kerumah neneknya, dan mogok sekolah selama satu bulan.
...***...
Suasana sekolah sangat ramai, 5 menit lagi bel masuk akan berbunyi. Alvaro masih setia berdiri di depan kelas sambil melirik lirik mencari tahu siapa kira kira anak dari calon ibu barunya.
Sudah 1 jam Alvaro mengamati, tapi dia tidak melihat tanda tanda atau mendengar seseorang curhat tentang Ibunya yang akan menikah lagi.
" Woiii.... Lo ngapain sih dari tadi celingak celinguk kayak orang bego " ucap Iqbal yang jengah melihat tingkah aneh Alvaro.
" Apa sih Bal ganggu aja " protes Alvaro.
" Lo ngapain? nyari mangsa berikutnya? Noh Inggit dari tadi ngeliatin Lo " Iqbal memutar kepala Alvaro untuk melihat ke arah Inggit.
Inggit mengedipkan sebelah matanya membuat Alvaro begidik ngeri.
" Iiisss najisss, masuk Bal masuk " ajak Alvaro memasuki kelasnya.
Mereka kembali ke tempat duduknya. Rania, Sheyna dan Billa asik bercerita tentang alat alat kecantikan. Lebih tepatnya Rania dan Billa yang bercerita Sheyna hanya mendengarkan.
Alvaro menatap Sheyna, yang fokus mendengarkan mereka bercerita.
" Cantik tapi sayang bukan buat gue " gumam Alvaro tanpa sadar.
" Apa? siapa yang cantik? " tanya Iqbal heran. Alvaro malah menggenggam tangan Iqbal. Membuat Iqbal merasa geli.
" Senyumnya, tawanya, tatapannya " Alvaro terus menatap Sheyna yang sekarang menatap ke arah Alvaro.
Tidak bukan hanya Sheyna melainkan Rania dan Billa juga.
" Al... Kalian Homo " ucap Rania. Tanpa sadar Alvaro mengangguk.
Seketika Iqbal langsung memukul kepala Alvaro.
" Wah... gila Lo Al... sadar Al gue masih suka cewek ya " protes Iqbal langsung berdiri.
Alvaro yang merasakan sakit di kepalanya tersadar akan lamunannya.
" Lo kenapa deh Bal, sakit nih kepala gue " protes Alvaro.
" Wah bener bener sengklek nih anak " Iqbal bergidik ngeri.
Lain halnya dengan Sheyna, Rania dan Billa yang sudah menertawakan Alvaro dan Iqbal.
" Yakin gue Alvaro Homo, gara gara banyak di kelilingin cewek " ledek Rania sambil tertawa.
" Eeehh Ran jangan Fitnah ya, gue normal gue masih suka cewek " protes Alvaro.
" Tadi Lo sendiri yang bilang kalian Homo kok " tambah Billa.
" Jangan ngasal Bil, wah parah kalian pada fitnah gue " kesal Alvaro.
" Gara gara Lo nih " ucap Alvaro menyalahkan Iqbal.
" Kok gue Lo tuh yang megang megang tangan gue " protes Iqbal.
Dan terjadilah aksi saling ledek di antara mereka. Teman teman kelas yang lainnya hanya menikmati tontonan gratis. Kapan lagi mereka bisa melihat Alvaro di ledekin sahabatnya.
" Tau aaa ngambek gue sama kalian, jahat banget fitnahnya " kesal Alvaro bersiap beranjak.
Namun langkahnya terhenti ketika seorang guru memasuki kelasnya.
" Mau kemana kamu Alvaro? Bolos lagi? " tanya Bu Sinta.
" Hehehhh ibu, gak bu ini mau duduk " jawab Alvaro terkekeh, kembali ke tempat duduknya.
Hal itu membuat Sheyna dkk tersenyum puas sudah membuat Alvaro kesal.
" Gak apa apa deh di fitnah Homo, asal bisa ngeliat Lo senyum selebar itu Sensen " batin Alvaro.
"Jangan ngelamun lagi, entar kumat lagi, gue lagi yang jadi sasaran" ucap Iqbal mengingatkan Alvaro.
" Berisik Lo " Alvaro meraup wajah Iqbal.
" Sinting memang nih anak semenjak putus sama Inggit " gumam Iqbal, yang masih bisa di dengar oleh Alvaro.
" Iya sinting gue tapi bukan karena putus sama Inggit, tapi karena putus sama Sensen " batin Alvaro lalu menelungkupkan wajahnya di atas meja.
...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...