BASRI

BASRI
Twins



"Arrrrggghhh...kemana sih Sense" teriak Alvaro frustasi.


Saat ini ia tengah berada di depan rumah Sheyna, namun sudah hampir satu jam dia menunggu namun tidak ada tanda-tanda penghuni rumah akan muncul.


Pesan Alvaro juga tidak mendapat balasan sehingga membuatnya semakin kesal. Harusnya tadi ia mengikuti Iqbal sepulang dari rumah Rania, mungkin saja tadi Iqbal akan menemui Sheyna.


"Aaahhh.. sudahlah nanti juga bakal nongol sendiri" ujar Alvaro kesal dan langsung menaiki motornya.


Ia melajukan motornya dengan kecepatan di tinggi, ia tidak perduli perasaannya kacau saat ini. Ia sering kali merasa di permainkan oleh Sheyna, dengan cara Sheyna yang sering menghilang tiba-tiba.


Baru kali ini Alvaro merasa dirinya di permainkan oleh gadis, padahal selama ini dialah yang sering mempermainkan hati para gadis.


Ia juga sering berpikir "apa mungkin ini karma " tapi kenapa harus Sheyna yang menjadi karmanya, gadis yang pertama kali bisa membuatnya benar benar jatuh hati, gadis pertama yang bisa memporak-porandakan hatinya setiap dia menghilang.


Entahlah Alvaro merasa ia lelah sekarang, ia lelah karena terus memikirkan Sheyna, namun yang di pikirkan tidak pernah memikirkannya dan suka menghilang tanpa kabar.


Alvaro merasa ada sesuatu yang Iqbal dan Sheyna rahasiakan, karena setiap Sheyna menghilang Iqbal akan ikut menghilangkan dan sulit di hubungi.


"Mulai besok gue harus cari tahu, apa yang sebenarnya mereka rahasiakan " Ujar Alvaro dan terus melajukan motornya menuju suatu tempat.


***


Lain tempat sedang terjadi perdebatan antar saudara. Tidak ada yang mau mengalah, mereka saling meninggikan suara, dan saling membentak. Barang barang di sekitar mereka sudah mulai berantakan karena amukan si adik.


"Gue gak mau tau pokoknya gue harus bisa dapetin Alvaro !" teriak gadis tersebut.


"Lo jangan gila Inggit ! Lo itu terobsesi bukan cinta ! karena cowok sialan itu Lo ngebunuh nyokap gue ! "


"Nyokap gue mati karena Lo Julian ! karena Lo gak mau bantuin Gue dapetin Alvaro! " teriak Inggit semakin histeris.


Ya dua bersaudara itu adalah Inggit dan Julian, mereka bersaudara lebih tepatnya kembar tak identik. Tidak ada yang tahu tentang status mereka sebagai saudara karena mereka selalu sekolah dan tinggal secara terpisah.


Julian selalu menolak untuk tinggal satu atap bersama Inggit karena Inggit memiliki kelainan mental sejak kecil, orang tua mereka juga tidak mengizinkan mereka tinggal satu atap karena saat umur mereka empat tahun Inggit hampir membunuh Julian dengan sebuah pisau namun beruntung orang tua mereka sigap dan menyelamatkan Julian, dan sejak saat itu mereka tahu jika Inggit memiliki kelainan mental.


Inggit banyak menjalani terapi dan berbagai pengobatan agar sembuh, dan kondisinya cukup membaik ia lebih bisa mengontrol dirinya, namun tak lepas dari itu Inggit masih sering kambuh, seperti saat mereka kelas 3 SMP.


Flashback on


Saat itu Julian tengah dekat dengan seorang gadis, yang memang memiliki kepribadian seperti sahabatnya Nana, gadis tersebut benar benar membuatnya tertarik, namun ketika ia semakin dekat dengan gadis tersebut, Inggit yang mengetahui kedekatan kami langsung mendatanginya dan mengamuk.


Julian yang bingung hanya bisa menghindar ketika Inggit terus memukulinya, karena bagaimanapun ia tidak akan tega balas memukul sang adik.


" Kenapa Lo deketin cewek sialan itu hahh "


"*Cewek siapa maksud Lo " ujar Julian ketika berhasil menahan tangan Inggit.


"Rania ! kenapa Lo deketin dia ?!" teriak Inggit membuat Julian sedikit ngeri.


"Itu hak gue dan gue suka sama dia, plisss jangan sakiti dia " mohon Julian berusaha menenangkan Inggit.


Namun bukannya tenang Inggit semakin tidak terkendali.


"Gue gak mau tau Lo harus jauhin cewek itu ! karena dia penghalang gue buat dapetin Alvaro !" teriak Inggit lalu pergi meninggalkan Julian yang masih bingung di dalam rumahnya.


Saat itu Julian belum mengenal Alvaro dan Iqbal, namun dalam pikirannya saat itu jika Alvaro adalah pria yang adiknya taksir.


Waktu terus berjalan, Julian dan Rania semakin dekat, Julian tidak memperdulikan ucapan Inggit saat itu, dan hari itu Julian berniat untuk menyatakan perasaannya kepada Rania.


Walaupun merasa sakit tapi Julian berusaha menerima keputusan Rania, karena ia sadar bahwa cinta tidak bisa di paksakan.


Sepulang dari menemui Rania, Julian mendapat pesan dari Inggit berupa ancaman*.


my twins


*Gue udah peringatan Lo, dan nampaknya Lo gak mau bantuin gue, kalau Lo mau nyokap aman Lo harus buat Rania menderita ! Gue benci cewek itu, dan Lo tau gue gak pernah main main sama ucapan gue !


Julian merasa panik ketika membaca pesan tersebut, karena selama ini Ibunya selalu tinggal bersama Inggit dan ayah bersamanya, namun walau begitu mereka saling menyayangi itu semua mereka lakukan demi kebaikan Julian dan Inggit.


Julian yakin bahwa Inggit tidak main main dengan ucapannya, namun di umurnya yang masih sangat kecil, ia tidak bisa berpikir jernih dan mengambil keputusan yang tepat.


Entah bagaimana akhirnya Julian mengambil keputusan untuk menculik Rania dan membuatnya membenci Julian.


Namun tanpa Julian sangka, keputusan yang ia ambil salah karena kejadian itu, Rania semakin dekat dengan Alvaro dan Iqbal. Oleh sebab itu Inggit menjadi sangat marah dan tidak mampu mengontrol dirinya, hingga terjadilah sesuatu yang sangat tidak mereka inginkan.


Niat hati Inggit hanya ingin mengancam Julian namun tanpa sengaja Inggit benar benar membunuh sang Ibu dengan cara mendorongnya dari lantai tiga rumah mereka.


Namun karena penyakitnya saat itu Inggit tidak merasa bersalah sama sekali, ia malah tertawa bahagia sedang Julian dan Sanjaya sang ayah, merasa sedih, kesal, semua bercampur aduk.


Dan karena alasan itu pulalah akhirnya Sanjaya memutuskan untuk menyekolahkan Julian di luar negeri agar kejadian seperti itu tidak terulang.


Jika kalian bertanya mengapa Inggit tidak masuk penjara ? maka jawabannya karena menjaga reputasi perusahaan yang di kelola Sanjaya, jika nama anaknya tercoreng bisa bisa semua investor akan kabur dan mereka akan bangkrut.


Dan status kematian Ibunya menjadi kecelakaan yang tidak di sengaja. Entahlah bagaimana cara Sanjaya mengatur semuanya, ia memiliki kuasa jadi hal seperti itu mudah baginya, walaupun sebenarnya ia sangat marah kepada Inggit dan sangat sedih di tinggal istri tercinta, namun ia rasa itu adalah keputusan yang tepat*.


Flashback off


"Dasar psiko ! gue pikir Lo udah sembuh ternyata penyakit psiko Lo masih melekat !" sarkas Julian mulai jengah dengan Inggit.


"Aaaarrrrggghhhh...gue gak psiko, tapi kalian yang buat gue kayak gini !!!" teriak Inggit sambil membanting barang barang di sekitarnya.


"Gue muak ngandepin Lo, gara gara Lo keluarga kita berantakan ! gara gara Lo nyokap meninggal dan gara gara Lo bokap jadi jarang pulang ! harusnya Lo bisa berpikir lebih jernih, dan ngalahin penyakit Lo, tapi gue rasa Lo emang menikmati diri Lo yang psikopat itu !" Sarkas Julian lalu beranjak karena ia tahu Inggit akan semakin menggila.


Ia keluar kamar Inggit dan tak lupa mengunci kamarnya dari luar. Di balik pintu Julian meneteskan air mata ia tidak bermaksud berkata kasar kepada adiknya, hanya saja ia sudah lelah dan bingung bagaimana membuat adiknya sembuh dari penyakitnya.


Ketika Inggit merasa benci dengan sesuatu dia akan berusaha melenyapkan kebenciannya tersebut, dan saat itulah jiwa psikopatnya akan muncul kembali, semakin banyak kebenciannya maka akan semakin sulit mengontrol dirinya.


Saat ini target Inggit adalah Sheyna, karena Sheyna adalah pacar Alvaro, dan ia masih sangat tergila gila dengan Alvaro, dan yang lebih membuat Inggit membenci Sheyna karena Alvaro memutuskan dia dan lebih memilih Sheyna.


Dan sekarang tugas Julian untuk melindungi Sheyna, namun semua itu sulit ia lakukan karena kejadian masa lalu yang membuat image nya buruk di mata Alvaro, Iqbal dan Rania.


Ia sulit menjangkau Sheyna karena Iqbal yang selalu menjauhkan dirinya dan Sheyna jadi ia sulit untuk memberitahu semuanya kepada Sheyna.


Brrraaakkk....


Buggghhh...


"Lo berani belain Sheyna sialan itu ?! Lo lihat aja gue gak akan tinggal diam, dan gue akan pastiin dia bakal lebih cepat ke surga, hahhahha !"


Suara gaduh,teriakan serta kalimat ancaman terdengar dari kamar Inggit membuat Julian semakin bingung harus berbuat apa.


" Gue harus nemuin Sheyna dan jelasin semuanya secepatnya, sebelum Inggit bertindak ".


Julian berniat menemui Sheyna di rumah sakit, karena ia tahu hari ini adalah jadwal pertama Sheyna kemoterapi.