
Setibanya di rumah Sheyna langsung mengurung dirinya di kamar. Pikirannya kacau, ia tidak bisa berpikir jernih. Air matanya terus mengalir deras.
Ia tidak tahu harus bagaimana, Sheyna tidak tahu jika dirinya lah penyebab Rania di teror, dan dia tidak menyangka jika Julian terobsesi kepadanya, karena selama mereka saling kenal Julian selalu bersikap baik.
Memang kemarin dia menyatakan perasaannya, tapi Julian tidak memaksanya untuk memutuskan Alvaro.
Jika Julian benar benar terobsesi kepadanya seharusnya Julian akan terus menerornya dan mengejar ngejar dirinya, tapi Julian tidak melakukan itu.
Namun jika Alvaro, Rania dan Iqbal berbohong, Rania tidak akan mengalami trauma seperti itu.
Banyak pertanyaan yang menggantung di kepalanya, Sheyna tidak tahu harus mencari jawaban kepada siapa. Ia benar benar membenci dirinya sekarang, andai ia tidak bertemu Alvaro dkk mungkin semua ini tidak akan terjadi, andai ia tidak bersahabat dengan Julian mungkin Julian tidak akan melakukan hal seperti itu, banyak andai andai yang berkeliaran di kepalanya yang membuatnya menjadi pusing.
***
Karena kebanyakan menangis tanpa sadar Sheyna tertidur, ia melihat jam dinding di kamarnya menunjukkan pukul 18.05.
Sheyna beranjak dari kasur dan mengambil handuk yang tergantung di depan pintu kamar mandi. Ia membersihkan tubuhnya.
Tak berselang lama ia selesai dengan rutinitasnya, Sheyna berniat menemui Iqbal untuk menjelaskan semuanya. Bagaimanapun ia tidak ingin mereka menjauhinya, karena hanya merekalah semangat Sheyna untuk berjuang melawan penyakitnya.
Sheyna turun ke lantai bawah, dan menemui mbak Siti.
"Haii mbak " sapa Sheyna mengambil gelas di meja makan.
"Dek mata kamu kenapa ? Sakit ?" tanya mbak Siti khawatir.
"Eee gak...cuma kebanyakan tidur mbak " bohong Sheyna sambil mengisi gelasnya dengan air.
"Jangan bohong"
"Beneran mbak, oh ya Iqbal belum pulang ya mbak ?"tanya Sheyna mengalihkan pembicaraan.
"Hemmm, belum dek " Sheyna hanya mengangguk.
"Dek jangan lupa besok jadwal kemo pertama kamu ya " peringat Siti.
"Iya mbak, Nana ke atas lagi ya " jawab Sheyna lesu.
Siti merasakan sesuatu telah terjadi kepada Sheyna, Siti jadi teringat ketika pertama kali Sheyna mengetahui penyakitnya dan sikapnya berubah murung, dan Siti khawatir hal itu akan terulang kembali.
"Ya Allah lindungilah Nana, jagalah kesehatannya, dan kembalikanlah semangatnya untuk sembuh " Do'a Siti dalam hati.
***
Keesokan harinya sesuai jadwal Sheyna, Nani dan Siti menuju rumah sakit untuk melakukan kemo, kali ini Iqbal tidak menemani Sheyna karena sejak kemarin ia tidak pulang dan tidak bisa di hubungi, Sheyna tahu apa penyebab Iqbal menghindar.
"Sayang kamu siap ?" Tanya Nani ketika Sheyna memasuki ruangan.
Sheyna berusaha tersenyum "Nana siap mama jangan khawatir, kan ada om Nevan " Sheyna menatap Nevan.
"Anak kuat, kita semua yakin kamu pasti bisa melalui ini semua " Nevan mengelus pucuk kepala Sheyna sayang, Sheyna hanya memaksakan senyumnya.
Moodnya sangat tidak baik, rasa takut, sedih semuanya bercampur aduk, tapi ia tidak ingin menambah kekhawatiran Nani, jadi ia berusaha untuk tetap tersenyum dan menguatkan dirinya sendiri.
Ini kemoterapi pertamanya, setelah ini dunianya mungkin akan berubah tubuhnya akan semakin lemah, rambutnya yang indah akan berguguran, namun Sheyna sudah siap dengan semua resikonya.
"Mama, mbak temenin Nana di sini ya " mohon Sheyna.
"Iya sayang mama akan selalu ada di sini" Nani mengelus kepala Sheyna.
"Mbak juga akan selalu ada buat Nana " Siti memeluk tubuh Sheyna yang sudah terbaring.
Nani dan Siti tahu jika Sheyna berusaha terlihat kuat, namun jauh di dalam dirinya, ia merasa sangat ketakutan terlebih ini pertama kali baginya.
Selang infus telah terpasang, Sheyna menelan salivanya ketika Nevan siap menyuntikkan obat kemo kedalam tubuhnya.
Tangan Sheyna tidak lepas dari genggaman Nani. Saat obat tersebut masuk ke dalam tubuhnya Sheyna merasakan sakit yang luar biasa, ia mencoba menahannya agar Nani dan Siti tidak khawatir.
Namun raut wajah Sheyna tidak bisa membohongi bahwa ia benar benar kesakitan.
"Kamu kuat sayang, kamu pasti bisa " ujar Nani, Sheyna memaksakan senyumnya namun air matanya mengalir karena tidak sanggup menahan sakitnya.
Proses demi proses telah di lalui, Sheyna tidak bisa lagi menahan sakit di tubuhnya, ia merintih, perutnya terasa bergejolak, tenggorokannya terasa sakit, tubuhnya terasa lemas.
Beberapa kali Sheyna muntah, berharap gejolak di perutnya menghilang, ini benar benar menyakitkan namun Sheyna berusaha tetap kuat demi Nani dan Siti.
"Hueeekkk...."
"Gak apa apa sayang kamu pasti sembuh" Nani berusaha menyemangati Sheyna.
Sheyna benar benar merasa lelah, tenaganya terkuras habis, sekarang Sheyna tahu apa yang di rasakan oleh cahaya. Sheyna tersenyum getir, ia tidak percaya bagaimana Cahaya bisa melewati semua ini tanpa orang tua.
***
Di rumah Rania, Iqbal, Alvaro dan Billa berkumpul, mereka selalu menemani Rania agar Julian tidak berani mengganggunya lagi.
Namun Alvaro terus merasa gelisah karena hari ini Sheyna tidak masuk sekolah, dan nomornya juga tidak aktif.
"Bal Lo tau Sensen dimana ? " tanya Alvaro.
"Gak, gue gak pulang ke rumahnya semalem" ujar Iqbal seadanya.
Entahlah Iqbal sengaja melupakan Sheyna atau karena Rania ia melupakan jadwal kemoterapi Sheyna, atau bahkan ia lupa kalau Sheyna sakit.
"Ngapain sih nyariin dia, dia tuh batu gak bisa di bilangin " sarkas Rania, tidak suka tentang pembahasan mereka.
"Tapi Ran..." Billa menepuk bahu Alvaro memberi isyarat untuk tidak membahas Sheyna sekarang.
Alvaro menghembuskan nafas pasrah, ia berniat untuk menemui Sheyna setelah pulang dari sana.
***
Iqbal sengaja tidak pulang ke rumah Sheyna karena ia masih kesal kepada Sheyna yang tidak mau mendengarkan dirinya.
Ia hanya tidak ingin kejadian Rania terulang kepada Sheyna, tapi Sheyna terlalu keras kepala ketika di nasehati.
Iqbal sengaja memblokir kontak Sheyna karena ia tahu pasti Sheyna menghubunginya. Tapi jauh di lubuk hati Iqbal ia sangat khawatir dengan kondisi Sheyna, ia tidak lupa dengan kesehatan Sheyna ia juga tidak lupa jika hari ini adalah kemoterapi pertama untuk Sheyna.
Setelah pulang dari rumah Rania, Iqbal langsung menuju rumah sakit, dan melihat kondisi Sheyna di balik kaca ruangan.
Hatinya terasa teriris ketika melihat wajah pucat Sheyna, ia tampak lemah ketika memuntahkan semua isi perutnya, Iqbal mengusap air mata di wajahnya.
Ia tidak tega namun ia harus bersikap keras agar Sheyna mau mendengarkannya.
"Gue tau Lo kuat Sen, gue akan selalu ada di dekat Lo "
Setelah melihat Sheyna tertidur, Iqbal memberanikan diri untuk masuk ke ruangan.
"Kemana aja Lo !" sentak mbak Siti.
"Ssstttt...jangan berisik Nana baru tidur "Tegur Nani pada Siti.
"Gue gak tau kalian ada masalah apa, tapi please tolong jaga mood Nana, Lo sekarang bukan cuma sekedar sahabat Nana tapi Lo calon kakak Nana" Ujar Siti sarkas, sebelum ia keluar ruangan.
"Ma, maafin Iqbal ya, tadi Iqbal lupa kalau hari ini kemo pertama Sensen " Ujar Iqbal duduk di samping Nani.
"Iya gak apa apa" Nani tersenyum dan menepuk pundak Iqbal.
Iqbal mendekati Sheyna, dan mengelus kepala Sheyna sayang.
"Gue tau Lo kuat, Lo bakal sembuh, maaf gue jahat sama Lo tapi gue ngelakuin ini demi Lo Sen " Iqbal tersenyum getir melihat wajah tenang Sheyna yang tengah tertidur.
Iqbal tidak kuat menahan air matanya, ia memilih untuk keluar ruangan, dan mencoba menenangkan hatinya yang terasa sakit.
Iqbal duduk di bangku taman, menatap kosong ke arah depan. Sepertinya ia telah salah mengambil langkah, ia merasa bersalah karena tidak membela Sheyna, dan tidak menemaninya di saat ia membutuhkan dukungan darinya.
Harusnya ia bisa berlaku adil, ia bisa menemani Sheyna dan bisa melindungi Rania, tapi emosinya telah mengacaukan semuanya.
"Haiii..." tiba tiba seseorang menepuk bahunya.
"Ohh...haii..." balas sapa Iqbal.
"Ngapain disini ? Gue denger Sheyna hari ini kemo pertama ? " tanya orang tersebut.
"Iya Hen, sekarang dia lagi istirahat "
Ya orang tersebut adalah Henny, ia sudah beberapa hari ini bolak balik rumah sakit karena kondisi Cahaya memburuk.
"Lo pasti sedih ya, ngelihat Sheyna kesakitan " Iqbal hanya tersenyum getir.
"Gue tau perasaan Lo Bal" Henny menepuk bahu Iqbal berusaha menyemangatinya.
"Gue juga denger kalian berantem karena anak baru di sekolah kita " tanya Henny lagi, lagi lagi Iqbal mengangguk.
"Bal saran gue, lebih baik kalian selesain masalah kalian secepatnya, mood Sheyna bakal mempengaruhi kesehatannya" saran Henny.
"Gue paham, tapi anak baru yang Lo maksud itu jahat dan dia deket sama Sensen, dan Sensen gak mau dengerin gue Hen, gue bingung harus gimana Hen " curhat Iqbal.
"Semua masalah akan ada jalan keluarnya Bal, gue cuma gak mau kalian nyesel nantinya " Henny berusaha menasehati Iqbal.
Henny tau bagaimana perasaan Iqbal sekarang karena ia sudah melaluinya, hanya saja masalah Henny sekedar antara dia dan Fenty, sedangkan Iqbal antara sahabat, pacar, dan musuhnya.