BASRI

BASRI
Bahagia



Pelajaran sejarah sangat membosankan bagi Rania, beberapa kali ia menguap.


" Al... Al... Sheyna manis juga ya, sa aee Lo nyari cewek "Terdengar Iqbal menggoda Alvaro.


" Iya dia manis, apa lagi senyumnya " timpal Alvaro.


Ya Rania akui Sheyna memang manis, rambutnya yang panjang dan lurus, ditambah hidung mancung dan putih, hanya saja dia sedikit pucat, andai ia bisa sedikit berdandan pasti akan banyak laki laki mata keranjang seperti Alvaro yang mendekatinya.


" Eekhemmm cieee Lo naksir dia " sambung Rania menoleh kebangku belakang tempat Alvaro dan Iqbal berada.


" Apaan sih Ran, sana ngadep depan " Alvaro mendorong kepala Rania agar menghadap depan lagi.


" Tahu nih ikut ikutan bae... " tambah Iqbal.


" Cieee salting " goda Rania lagi.


Tukk...


Sebuah spidol mengenai kepala Rania.


" Aiiissshhh... " Rania mengelus kepalanya yang terasa nyeri.


" Rania kamu ngapain ngadep belakang? emang guru kamu di belakang?!! " ucap guru sejarah yang mengajar di kelas mereka. Panggil saja pak Tono.


" Mampus " ledek Alvaro dan Iqbal berbisik, Rania hanya menatap tajam.


" Eehh enggak anu...itu tadi Alvaro ngajakin saya ngobrol pak " Fitnah Rania, Alvaro membelalakkan matanya mendengar penuturan Rania.


" Bapak tidak mau tau alasan kamu, sekarang kamu ke perpustakaan dan merangkum apapun yang berhubungan dengan sejarah minimal 50 lembar " Ucap pak Tono tegas.


" Pak... masa 50 lem... " baru saja Rania akan berkomentar, tiba tiba pak Tono menyela membuat Rania harus pasrah.


" Atau saya tambah jadi 100 lembar! "


" Enggak pak 50 cukup " ucap Rania langsung mengambil alat tulisnya dan keluar kelas.


Alvaro dan Iqbal malah memasang wajah mengejek membuat Rania harus menahan amarahnya, jika tidak ada pak Tono sudah Rania ratakan kedua laki laki mata keranjang itu.


" Aaaa... sukur deh di suruh keluar bisa ke kantin dulu gue, laper... " gumam Rania.


Rania terus berjalan, namun saat melewati kelas Sheyna tidak sengaja Rania mendengar teriakan.


" Stopp!!! " Rania langsung berhenti dan memperhatikan seisi kelas.


Rania melihat Sheyna tengah berdiri di antara siswi yang sedang mengerumuninya.


" Itukan Sheyna " Rania berjalan mendekati kerumunan.


" Wooowww... udah berani dia teriak guys " ucap Fenty yang sudah terkenal seantero sekolah sebagai gadis sok penguasa hanya karena ayahnya pemilik sekolah.


" Ya gue berani, selama tiga bulan ini gue diem aja, tapi sekarang kalian udah keterlaluan!!! " bentak Sheyna dengan dada yang naik turun karena emosi.


" Berani Lo ya!!! " Fenty mengangkat tangannya bersiap menampar Sheyna, namun dengan sigap Rania menahan tangan Fenty dari belakang.


" Ada pertunjukan apa nih, kok gue gak di ajak " Rania tersenyum smirk.


" Rania " ucap Fenty sedikit gugup, sedangkan yang lainnya sudah ketakutan.


" Ngapain Lo? " tanya Rania sambil menghempaskan tangan Fenty kasar.


" Gak usah ikut campur Lo " bentak Fenty.


" Hufffttt... kalian semua denger ya mulai hari ini Sheyna bagian dari kami ( kami yang di maksud adalah Rania, Alvaro, dan Iqbal), kalau kalian berani gangguin dia, berurusan sama gue, Alvaro dan Iqbal, paham! " ancam Rania menarik tangan Sheyna untuk ikut dengannya.


" Oh ya satu lagi, Lo " tunjuk Rania pada Henny.


" Kalau mereka berani macam macam sama Sheyna, laporin ke gue " ucap Rania, Henny hanya mengangguk.


Aura Rania sangat horor ketika marah membuat hampir semua orang bergidik ngeri. Rania bukan tipikal orang yang suka membully tapi sebaliknya, dia akan membela siapapun yang tertindas, itulah yang membuat orang segan kepadanya.


Sementara Rania membawa Sheyna pergi, Fenty menatap mereka dengan penuh amarah. Dia akan membalas perbuatan Rania hari ini karena telah mempermalukan nya.


" Assalamu'alaikum " Sheyna mengucap salam ketika memasuki rumahnya.


Sheyna memasuki rumah dengan raut wajah bahagia, sambil tersenyum sendiri. Hari ini adalah hari yang paling membahagiakan baginya setelah tiga bulan ia murung dengan keadaannya.


" Waalaikumsalam... Eeehh tumben kok pulang senyum senyum gitu " tanya Nani heran.


Semenjak dia di vonis dan kepergian papanya Sheyna belum pernah tampak sebahagia ini, jelas itu membuat Nani keheranan.


" Iiihhh... siapa yang senyum ma, orang biasa aja " Sheyna berusaha mengelak.


" Ayo sini cerita ke mama ada apa? " Nani meminta Sheyna untuk duduk bersamanya di sofa ruang TV.


" Hehehhh mama bisa aja, jadi hari ini Nana punya temen baru..... " Sheyna menceritakan semuanya.


Nani tersenyum, ia ikut bahagia melihat Sheyna begitu bahagia. Nani berharap agar Sheyna bisa kembali ceria seperti dulu lagi.


" Mama ikut seneng, kapan kapan temennya ajakin ke sini ya, biar mama kenal gitu " Nani memeluk Sheyna.


" Iya ma, nanti kapan kapan Sheyna ajak main ke sini " Sheyna membalas pelukan Nani.


" Udah sekarang mandi gih, bau asem " ucap Nani, sambil menutup hidungnya.


" Iiihh mama lebay orang Nana masih wangi gini kok " protes Sheyna.


" Canda sayang, udah gih bersih bersih habis itu makan, minum obat terus istirahat ya " ucap Nani lagi.


" Mama mau kemana, kok rapi banget " tanya Sheyna penuh curiga.


" Mama ada urusan sebentar, kamu sama Mbak Siti dulu ya " ucap Nani lagi, lalu berpamitan dengan Sheyna.


Setelah Nani keluar rumah barulah Sheyna kembali ke kamarnya, ia langsung melaksanakan rutinitas sepulang sekolah. Setelah selesai Sheyna membaringkan tubuhnya di kasur.


Tok... tok... tok...


" Masuk " Sheyna mempersilahkan.


" Ini buahnya Na " ucap Mbak Siti meletakkan sepiring buah ke atas nakas.


" Iya mbak, terimakasih ya " ucap Sheyna tersenyum.


"Nana sudah minum obat? " tanya mbak Siti.


" Udah tenang aja mbak.,oh ya mbak temani Nana nonton yok " ucap Nana meminta mbak Siti untuk menemaninya menonton di kamarnya.


" Hayooo , dengan senang hati " balas mbak Siti penuh semangat.


mbak Siti adalah anak yatim piatu, dia di bawa ke rumah Sheyna saat Alm. Papanya tidak sengaja menemukannya pingsan di depan kantor papanya karena berhari hari tidak makan. Karena kasihan akhirnya papanya membawanya ke rumah Sheyna. Awalnya mereka ingin mengadopsi mbak Siti, tapi mbak Siti menolak keras, dan memilih untuk menjadi pembantu mereka saja.


Namun walaupun dia menjadi pembantu, tapi mereka tidak pernah memperlakukan mbak Siti benar benar seperti pembantu.Mbak Siti tetap mendapatkan haknya, dia boleh melakukan apapun asal itu tetap positif. Tapi ya mbak Siti bukan orang yang tidak berterima kasih dia tetap mengerjakan semua pekerjaan rumah tanpa di suruh sebagai tanda terimakasih nya. Mbak Siti sudah seperti kakak bagi Sheyna, terlebih mbak Siti hanya terpaut 3 tahun lebih tua darinya.


" Mau nonton apa Na? " tanya mbak Siti.


" Ada deh, nanti mbak tahu sendiri " ucap Sheyna sok misterius.


Mbak Siti hanya mengangguk, lalu naik ke atas kasur Sheyna. Sheyna mengeluarkan laptopnya, dan memutar sebuah Film. Mereka pun menonton dengan khusyuk, sesekali mereka tertawa saat adegan komedi, terkadang mereka terharu saat adegan mengharukan.


" Ya habis " protes mbak Siti ketika filmnya berakhir.


" Mbak, terimakasih ya udah selalu ada buat Nana " ucap Sheyna tiba tiba membuat Mbak Siti tertegun.


" Na, sudah seharusnya mbak selalu ada buat Nana, coba kalau Om Seno gak nolongin mbak, mbak gak bisa bayangin apa jadinya waktu itu " Mbak Siti memeluk Sheyna.


" Mbak nanti kalau nikah, tinggal di sini aja ya, supaya Nana gak kesepian " ucap Sheyna lagi.


" Apaan sih Na, kamu kenapa deh jadi melow gini, gak kamu banget "


" Hehehh... efek film tadi kali mbak " ucap Sheyna seadanya, lalu mereka tertawa dan saling berpelukan.


...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...