
Dalam suatu hubungan hal yang paling harus di perhatikan adalah kepercayaan dan komunikasi yang baik, tanpa komunikasi makan akan banyak kesalah pahaman yang akan terjadi.
Sama halnya dengan hubungan Sheyna dan Alvaro saat ini, semakin hari hubungan mereka semakin menjauh. Sheyna tidak tahan dengan kedekatan Alvaro dan Billa memilih untuk menjaga jarak dari mereka.
Ia lebih sering bersama Iqbal dan Rania, namun karena Rania sibuk dengan organisasi sekolah jadilah ia kemana-mana dengan Iqbal.
Fenty yang melihat kerenggangan hubungan mereka, mencari cara untuk membuat Sheyna di jauhi oleh teman temannya.
" Kita harus cari cara buat Sheyna lebih di jauhi lagi, sampai dia menyendiri lagi seperti dulu " ucap Fenty kepada kedua temannya dengan tatapan iblisnya.
"Kali ini apa lagi Fen, Lo gak takut berurusan sama Rania " ucap Celin takut takut.
" Cemen banget Lo Lin " timpal Ica.
" Bukannya gitu tapi kan kalian tahu sendiri Rania gimana "
" Sudah sudah gue ada ide yang lebih efisien, setahu gue Rania suka sama Iqbal sejak SMP " timpal seseorang dari belakang mereka.
Fenty tampak sedikit terkejut, lalu menoleh ke arah belakangnya di ikuti oleh Ica dan Celin.
"Lo siapa ?" tanya Fenty.
"Kenalin gue Inggit, gue dulu satu SMP sama Rania dkk." Inggit memperkenalkan dirinya dan duduk di samping Fenty.
Sejak pindah sekolah Inggit belum beraksi karena, belum ada kesempatan dan hari ini sepertinya ia menemukan partner yang tepat.
Tidak jauh dari tempat yang mereka duduki, tampak Sheyna dan Iqbal yang duduk di pojok kantin sedangkan Alvaro dan Billa di tengah tengah kantin.
"Good, kita bisa manfaatin perasaan Rania " Fenty tersenyum licik.
"Gue juga gak suka sama cewek pucat itu " tunjuk Inggit ke arah Sheyna
"karena dia Alvaro mutusin gue, dan sekarang cewek sok cantik itu yang deketin Alvaro,kalau gue gak bisa dapatin Alvaro maka gak ada yang boleh dapetin Alvaro " Sambung Inggit membuat Fenty yang notabene nya sebagai fans Alvaro bergidik ngeri, namun ia hanya terkekeh canggung.
"Oke mulai sekarang kita partner" Inggit mengulurkan tangan yang di terima oleh Fenty.
Walaupun Inggit tampak mengerikan, tapi Inggit memiliki banyak informasi tentang Alvaro dkk.
Isu tentang pertengkaran mereka cepat tersebar, bagaimana tidak mereka yang selalu kemana mana berlima sekarang berpencar.
" Al sebenarnya Lo sama Iqbal dan Sheyna ada apa sih? " tanya Billa yang mulai merasa tidak nyaman dengan persahabatan mereka.
" Gak ngerti gue, sampai saat ini Sensen belum ngasih jawaban, dan dia semakin dekat sama Iqbal " Jawab Alvaro lesu.
" Lo udah sempat ngobrol sama Sensen? " tanya Billa.
" Belum sih, gimana gue mau ngobrol orang dianya bareng Iqbal mulu "
" Iya sih " Billa tampak berpikir, beberapa detik kemudian ia menjentikkan jarinya.
" Gimana kalau Lo coba kirim pesan aja ajakin ketemuan terus kalian ngobrol deh, gue rasa ada salah paham di antara kalian " Billa mengutarakan argumennya.
Jujur Billa merasa seakan dialah yang menjadi penghancur keharmonisan persahabatan mereka, dan Billa ingin berusaha memperbaikinya.
" Udah tapi gak pernah ada jawaban, tapi setelah gue perhatiin semenjak dia menghilang gue gak pernah ngeliat dia main HP lagi deh " tutur Alvaro.
Tapi yang di katakan Alvaro benar, semenjak sakit Sheyna belum pernah menggunakan ponselnya lagi, entahlah dia lupa atau memang sengaja.
" Kalau gitu gimana kalau gue yang ngajakin dia ketemuan, tapi nanti Lo yang nemuin dia ? " Usul Billa.
" Wahhh ide bagus tuh, kenapa gak dari kemarin kemarin sih " Alvaro mengacak rambut Billa gemas lalu mereka tertawa bersama.
Tanpa Alvaro sadari sejak tadi Sheyna memperhatikan mereka. Hatinya terasa sakit tapi dia tidak bisa berbuat apa apa.
" Semakin hari mereka semakin deket ya, apa mereka udah jadian " Gumam Sheyna tanpa sadar.
Iqbal yang mendengar itu langsung mengikuti arah pandangan Sheyna.
Pltakkk...
Sheyna meringis merasakan perih di keningnya karena di jentik oleh Iqbal.
" Iiihhh... sakit tau "
" Ngapain sih ngeliatin mereka mulu, Lo iri?" Ucap Iqbal dengan kesal.
" Ngeliatin siapa sih Bal " Sheyna berusaha menyangkal.
Iqbal memegang kedua bahu Sheyna dan berkata " Dengerin kata kata gue, kalau dia beneran sayang sama Lo dia bakal nyari cara buat jelasin ke Lo kalau memang ini hanya salah paham "
Ya setelah pulang dari acara pertunangan Alfian, Sheyna berasumsi bahwa apa yang ia lihat tentang Alvaro dan Billa hanyalah sebuah kesalah pahaman.
" Tapi gimana dia mau jelasin di sekolah jauh jauhan, di rumah ponsel gue Lo tahan gimana dong cara dia mau menghubungin gue " Sheyna memanyunkan bibirnya.
Ponsel Sheyna memang Iqbal tahan sejak ia mengetahui tentang kondisi Sheyna, Iqbal yang posesif tidak ingin Sheyna sibuk dengan ponselnya. Memang tampak sedikit berlebihan tapi dengan tidak ada ponsel Sheyna bisa Istirahat dengan teratur.
" Itukan demi kebaikan Lo juga " Sheyna memanyunkan bibirnya.
" Ya udah nanti gue balikin HP Lo setelah kemo kedua gimana? " tawar Iqbal.
" Janji ya " Sheyna menyodorkan jari kelingking nya.
" Iya janji " Iqbal tersenyum,menyambut jari Sheyna dengan jarinya. Lalu mengelus kepala Sheyna sayang.
...***...
Di dalam sebuah rumah mewah, tampak dua orang gadis sedang berbincang di sebuah kamar.
" Gak gue gak mau " teriak seorang gadis.
" Lo yakin gak mau Hen " gadis yang satunya tersenyum smirk.
" Kenapa harus gue Fenty, Lo punya dua teman, gue gak mau berurusan sama mereka "
" Ya udah kalau Lo gak mau, gue tinggal bilang ke bokap buat berhentiin pengobatan adik Lo " ancam Fenty.
Ya gadis tersebut adalah Fenty dan Henny, Fenty dan Heny merupakan saudara sepupu yang tidak pernah akur. Keluarga mereka pun tidak pernah akur. Namun beberapa tahun lalu kedua orang tua Henny meninggal karena kecelakaan.
Karena masih belum cukup umur dan belum mengerti dunia perbisnisan, hal itu dimanfaatkan oleh keluarga Fenty yang dulunya miskin. Mereka mengatas namakan keluarga untuk membantu Henny, namun pada kenyataannya mereka hanya ingin menguasai harta warisan keluarga Henny.
Karena memang hanya ayah Fenty keluarga satu satunya yang Henny miliki ,jadi dengan bodohnya Henny percaya dengan mereka dan membiarkan mereka mengelola yayasan dan usaha lainnya.
" Lo gila ya, semua uang yang Lo nikmati itu milik gue sama adik gue dan Lo gak ada hak buat menghentikan pengobatan cahaya ! " Gertak Henny.
" Hahhah... Lo lupa Lo itu cuma anak kecil yang gak tau apa apa, kita lihat aja nanti " ancam Fenty lalu keluar dari kamar Henny.
Dengan perasaan campur aduk Henny meninju ninju udara berusaha meluapkan semua amarahnya.
" Dasar keluarga gila, liat aja gue gak akan biarin keluarga kalian mengambil semua hak gue " ucap Henny mengepalkan tangannya.
Cklek...
Pintu kamar Henny kembali terbuka namun, Henny langsung merubah raut wajahnya yang kesal menjadi senyuman.
" Kakak berantem lagi sama nenek lampir? " tanya cahaya dengan kursi rodanya.
" Hahahh... kamu tahu aja " Henny memanyunkan bibir nya sejenak lalu kembali tersenyum.
" Tapi tenang kakak selalu jadi pemenangnya " Henny mengelus surai hitam cahaya sayang.
" Kak emang pengobatan cahaya bakal di berhentiin ? " tanya cahaya dengan raut sedih.
Henny terkejut mendengar penuturan Cahaya, dari mana ia mengetahui percakapan nya dan Fenty tadi padahal kamarnya di setting kedap suara.
" Tadi nenek lampir bilang ke mamanya, Cahaya gak sengaja denger " jelas Cahaya melihat raut kebingungan Henny.
" Cahaya tenang aja ya, Cahaya akan terus berobat mereka gak punya hak " Henny berusaha menenangkan Cahaya.
" Cahaya percaya kakak, Cahaya pasti sembuhkan kak " Cahaya tersenyum, membuat Henny ikut tersenyum.
" Iya sayang kamu pasti sembuh " Henny memeluk Cahaya berusaha menyembunyikan air matanya yang akan terjatuh.
" Kak... Cahaya mau main sama kak Nana lagi dong " pinta Cahaya, Henny langsung buru buru menghapus air matanya dan menatap Cahaya.
" Iya nanti kakak hubungi kak Nana ya, kalau dia gak sibuk kita main bareng " Henny mencoba menghibur Cahaya.
Henny merasa bersyukur bisa bertemu orang seperti Sheyna, dan ia bersyukur Sheyna menjadi teman adiknya juga. Semenjak bertemu Sheyna semangat Cahaya ingin sembuh semakin meningkat, karena Cahaya bercita cita ingin menjadi cantik seperti Sheyna ketika besar kelak.
Jelas mereka dua orang yang berbeda, dan kecantikan mereka akan berbeda pula. Tapi setidaknya dengan kecantikan Sheyna bisa memotivasi Cahaya untuk hidup lebih lama.
...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...