
POV April
Aku menunggunya lama sekali di parkiran,
"Pasti lupa taruh kunci mobil ni guru." batinku
Tak lama kemudian, datanglah seseorang dengan menggunakan helm full face, dan membawa helm satu lagi di tangannya
"Wah siapa nih cool bgt, daripada diantar guru itu, lebih baik aku diantar dia, walaupun ga kenal hehe." batinku sekali lagi
Dia jalan mendekatiku, lalu memberikan helmnya padaku, aku pun semakin bertanya tanya
"Ini ayo pakai." kata lelaki itu
"Hah bentar suaranya? seperti aku kenal." Batinku. Tapi mungkin suara hatiku terlalu keras sehingga dia bisa mendengar
"Ini saya wali kelas kamu." Katanya sambil membuka kaca helm
"Eh tidak usah pak saya naik angkot saja." Kataku berusaha menolaknya.
"Tolong, saya wali kelas kamu, hanya ingin memastikan kamu pulang dengan aman." Katanya sambil memelas.
Aku pun yang tak tega melihatnya, ikut naik saja ke motornya. Siall akupun tak bisa naik motornya karena terlalu tinggi. Jujur saja aku memang tinggi, tapi aku takut jatuh ini naik motor setinggi ini.
"Sini saya bantu." Katanya sambil mengulurkan tangannya.
Mau tidak mau aku pun menyambut tangannya dan kita pun mulai menyusuri jalanan.Diantara kita pun tak ada pembicaraan hingga
POV LUTFI
"Kamu kenapa baru pulang?."Tanyaku
"Karena tugas dari bapak yang sulit itu."Katanya.
Aku pun tertawa, tak sangka muka badmoodnya sangat gemas dilihat dari spion.
Setelah itu kita saling diam, ntah tak mengerti apa yang harus kita bicarakan
"Kamu bercita cita jadi apa?." Tanyaku
"Jadi peneliti paak." Jawabnya
"Kamu mau kuliah jurusan apa? dimana?." Tanyaku.
"Aku mau kuliah di ITB pak, jurusan teknik kimia, ya walaupun aku ga pintar pintar amat urusan kimia tapi aku akan mencobanya." Jawabnya dengan sangat detail.
"Hah? dia berkata aku? sungguh hati ku berdebar debar." Batinku
"Bapak kenapa diam? apa aku tidak cocok di jurusan itu?." Tanya nya dengan agak sedih
"Cocok, cocok sekali, kamu yang semangat ya belajarnya, pasti saya akan senang bila kamu bisa menggapai mimpi kamu." Jawabku
"Terimakasih pak, terus bapak kuliah jurusan apa? kenapa bisa jadi guru di umur semuda ini?." Tanya nya dengan semangat
"Wah bapak hebat sekali, apa bapak tidak ingin mengambil S2?." Tanyanya pada ku.
"Saya ingin mengambilnya, tapi saya ragu untuk meninggalkan orang yang saya cintai, dan mungkin saya juga akan mengambil bisnis ke Australia, karena orang tua saya menyuruh itu." Jawabku
"Wah sayang sekali pak, padahal bapak sangat beruntung. Lihat orang diluar sana banyak yang ingin sekolah seperti bapak tapi tak bisa, lagian seharusnya pacar bapak bisa mengerti." Jawabnya.
Aku hanya terdiam dan tersenyum, sungguh anak ini masih muda tapi berpikiran dewasa.
Tak lama di handphone April terdapat pesan dari Ziyah
Ziyah: "Aprill lu dimana? lu naik angkot? nekad banget lu."
April: "Apa sih zii, orang gue dianter balik."
Ziyah: "Hah? sama siapa? jangan jangan lu punya bucinan lagi ya?."
April: "Kagak, sejak kapan gue bucin, ini ada guru yang rumahnya searah yaudah gue nebeng aja."
Ziyah: "Hah? siapa? jangan jangan pak lutfi? wah lu nikung bu Rista si guru bio galak."
April: "Kagak gue kagak nikung, orang bu Rista sendiri yang nyuruh gue ikut?"
Ziyah: "Oh yaudah hati hati ya lu, kalo pa lutfi ngelakuin sesuatu ikhlasin aja siapa coba yang mau nolak diapa apain sama guru ganteng? lagian kalian cocok ko😘."
April: "Sialan woy."
"Kamu sudah mengabari orang tua kamu? kamu sedang berpesan dengan siapa?." Tanyaku.
"Belum pak, lagian ayah bunda sibuk kok, terus mereka juga udah tau aku pulang sendiri." Jawabnya dengan raut sedih
"Mmm maafkan saya, saya gatau kalo orang tua kamu sangat sibuk." Kataku
"Iya tidak apa apa pa." Jawabnya
Aku teringat jika besok ada rapat penting di sekolah, yang mengharuskan semua guru menggunakan kemeja putih. Kemeja ku yang di rumah sudah lama tak terpakai aku takut sudah rusak bagaimana ini?
"Bapak kenapa melamun? saya menjadi canggung jika bapak tidak bicara." Kata April yang mematahkan lamunanku.
"Gini, saya besok ada rapat di sekolah, tapi semua guru harus menggunakan kemeja putih, karena ini rapat bersama kepala yayasan." Jawabku menggantung
"Terus bagaimana pak?." Tanyanya
"Bisakah kita pergi ke mall sebentar? kamu tenang saja saya tidak akan macam macam." Tanyaku sambil meyakinkannya.
"Mmm, tapi bapak tidak malu mengajak saya?." Tanyanya dengan ragu
"Tidak, selama kamu tidak memanggil saya dengan bapak, karena saya bukan bapak kamu." jawabku sambil tertawa.
"Hiss dasar, yaudah pak saya temenin, tapi gak lama ya pak." Jawabnya
yang penasaran jan lupa dilike ya biar author semangat:)