
Sekitar pukul 6.00 pagi, bundanya April sudah disibukkan dengan segala hal, mulai dari memasak, membuat kue, dan lain lain. April yang melihat bundanya sibuk pun merasa keheranan "Hay bunda sayaang good morning." Ucap April sambil mencium pipi bundanya.
"Hay baby, good morning too." Ucap bunda sambil mencium pipi April juga.
"Bunda kok sibuk banget sih?." Tanya April sambil membantu bundanya.
"Fauzi sama mami akan segera datang nak, mereka ingin meminta maaf padamu." Ucap bunda menjelaskan pada anaknya.
"Hah? apa bunda? kapan mereka akan sampai? April belum mandi, apa april terlihat seperti preman urakan?." Tanya April panik. Memang dia anak yang tomboy, sulit diatur, tetapi di depan calon mertuanya ia ingin selalu tampil perfect.
"Paling sebentar la..." Baru saja bunda akan memberi tahu April, bel pintu sudah bunyi, dan sudah dibukakan bibi. Yang datang itu? Ya fauzi lah.
"Hai jeng besan." Sapa mami pada bunda sambil cepika cepiki.
"Hai besan." Balas bunda dan melakukan hal yang sama. Tak lama dari situ perhatian mami segera tertuju pada April, yang sedang pura pura cuci piring.
"Aduh calon mantu mami rajin banget sih, saking asyiknya maminya ga disalamin nih?." Goda mami pada april. April pun segera menyalami mami, dengan tertunduk, karena dia merasa malu, belum mandi.
"Ini mas sayang nya ga akan disalamin ni?." Goda mami pada April. April yang mendengar hal itu hanya menjabat tangan fauzi.
"Apa menantu ku sangat marah pada anak ku?." Batin mami fauzi.
Bunda April pun segera memotong keheningan diantara mereka, bunda mengajak mereka ke ruang tamu "Ayo kita ke ruang makan, dapurnya malu masih acak acakan, kita makan saja." Ucap bunda mengajak.
Dengan terpaksa ia mengikuti keinginan bundanya, jalan di sebelah Fauzi, dengan wajah tertunduk.
Di ruang makan, mereka makan tanpa ada obrolan, April malu dengan kondisinya yang belum mandi, Mami fauzi yang canggung dengan keadaan salah anaknya, kalo bunda memang cenderung tidak ingin bicara, dengan alasan menghormati makanan. Setelah makan selesai, bunda membuka suara "Jadi gimana? calon mantu bunda, sama jeng besan apa ada yang ingin disampaikan?." Tanya bunda ramah.
"Jadi gini jeng, anakku ingin menyampaikan sesuatu." Ucap mami sambil melirik Fauzi.
"Mmm anu bunda, April, saya ingin minta maaf, maaf jika kemarin saya menyakiti hati April, saya tidak bermaksud seperti itu, dan saya benar bener mencintai April." Ucap Fauzi dengan gugup. April yang mendengar itu semua menahan tawa, karena dia baru pertama kali melihat calon suaminya sangat gugup, dan juga bahasa yang digunakannya sangat formal. Karena April sudah tidak sanggup menahan tawa, ia izin untuk ke kamar mandi "Maaf April mau ke belakang dulu." Ucapnya.
Fauzi yang melihat itu sangat merasa kaget, dia tak menyangka jika April memang sangat marah padanya.
"Mmm anak itu." Ucap bunda sambil melihat April yang sudah berlalu.
"Gini ya fauzi, April memang tidak biasa dengan bentakan sejak kecil, kami tidak pernah membentaknya keras, kami hanya memperingati nya saja, karena ketika April kecil, ada bentakan dari seseorang yang melukai hatinya, sehingga dia selalu merasa trauma jika mendengar bentakan." Jelas bunda ramah.
"Maaf bunda, siapa orang yang berani seperti itu?." Tanya Fauzi yang sudah mulai emosi. "Kamu bisa tanyain ke April nanti, ketika kalian sudah menikah, sekarang kamu susul April aja ke belakang." Ucap bunda. Fauzi yang mendengar hanya mengangguk ngerti, dan segera menyusul April.
Sementara di dalam WC april tertawa terbahak bahak "HAHAHAHA katanya guru keren, ga takut sama apa apa baru aja minta maaf sama bunda udah kek anak sd disuruh ke depan sama gurunya." Dia terus terusan mengatai kekasih nya, tanpa dia tahu, fauzi sudah berdiri depan pintu kamar mandi dan mendengar semuanya "Dasar anak nakal, akan kuberi hukuman kau." Batin Fauzi. Fauzi pun mengetok pintu kamar mandi, April yang keluar melihat Fauzi merasa terkaget.
"Mas? kok disini?." Tanya April. Tanpa aba aba Fauzi segera mencium bibir April, dan ciuman itu lama lama menjadi lumatan, Fauzi yang merasa April kehabisan nafas, segera melepaskannya. "Itu hukumanmu karena telah menertawakan gurumu yang keren ini." Ucap Fauzi. April pun hanya bisa terdiam, dengan wajah seperti kepiting. "Segeralah maafkan gurumu ini, jika tidak aku bisa membuatmu tak bisa berjalan 1 minggu." Ucap Fauzi yang pergi meninggalkan April.